Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 235


__ADS_3

"Mana Siska ?"


Arya yang sudah lama mengobrol baru menyadari jika Siska sudah lama tak kembali kesisinya.


Menoleh kekiri dan kekanan tapi tak juga menemukan Siska dan yang lainnya


"Permisi, saya ingin mencari istri saya dulu"


ucap Arya saat meninggalkan orang-orang yang sedang mengobrol dengannya tersebut


"Baiklah Mas Arya"


Rupanya saat Arya meninggalkan tempat itu para ibu-ibu yang suka bergosip langsung membicarakannya


"Tampan sekali ya ternyata suami barunya Mbak Siska"


"Iya, benar. tak kalah tampan sama Papanya Arika ya"


"Iya wajar saja, Mbak Siska juga masih muda dan cantik, tak kalah sama putrinya, wajar saja kan"


Mereka kembali melanjutkan obrolannya mengenai Siska dan gosip-gosip yang lainnya, ternyata sama saja dimana-mana jika ada orang yang meninggal masih saja suka membicarakan orang lain, dasar manusia ...


"Ah, mungkin mereka disana"


Berjalan kearah samping, dan benar saja saat ia berjalan beberapa langkah,ia di kagetkan dengan Siska dan Silvi yang sedang duduk dilantai sampai menangis tersedu-sedu


"Aduh ... ternyata kalian semua sedang bermain drama, ehemm, kalau begitu kedatanganku ini hanya menganggu saja, baik lah kalau begitu, aku akan segera pergi saja"


Arya berbicara dengan nada bercanda, agar semuanya tidak terlalu sungkan padanya


"Kak Arya, tidak apa-apa, jangan kemana-mana" Siska berdiri dan langsung memeluk Arya dengan erat sekali


"Aku sangat rapuh, karena ternyata Panji adalah anakku juga kak, apa kau mau menerima ia menjadi anakmu juga?".


Arya langsung tertawa terkekeh-kekeh


"Pertanyaan macam apa itu, hem... tentu saja aku akan menerima semua yang ada didalam kehidupanmu."


"Papa Arya ..."


Arika langsung memeluk Silvi.


"Mbak Siska beruntung sekali, karena ternyata ia memiliki suami yang mencintai ia dengan segala yang ada pada dirinya".


"Iya Ma, Mama memang benar, Papa Arya itu hadir dengan segala pesona yang ada pada dirinya"


"Panji beruntung, karena telah dianugerahi double kebahagiaan, dua mama dan dya papa dan juga dua orang kakak perempuan sekaligus"


Panji berusaha untuk menghibur hatinya


"Bagaimana sudah selesai semuanya, apa ada lagi yang ingin kau katakan padaku sayang?"


mengelus kepala Siska dengan sangat lembut sekali.


Siska langsung mengangguk perlahan.


"Iya kak, kau adalah alasan untuk aku selalu bersikap tenang"


Mereka tersenyum bahagia.


Silvi, Panji dan Arika saling berpelukan satu sama lain, untuk saling menguatkan satu sama lainnya.


"Berjanjilah Siska, aku tak mau melihat air mata ini lagi. cukup ini menjadi air mata terakhir yang menetes dari pelupuk mata indahmu ini, karena setelah hari ini akan ada lembaran baru,


aku hanya ingin mengisi hari-hari bahagia bersamamu, dan jangan pernah lagi melihat apapun yang ada dibelakang. sekarang hanya ada aku, kamu dan anak-anak kita yang harus di bahagiakan, itu saja"


"Terimakasih kak Arya, tapi jangan lupa kita juga masih ada orang tua, dan saudara yang juga harus dibahagiakan"


ucap Siska


Arika dan Panji langsung tertawa


"Nah itu Pa, jangan lupa. jangan sampai Papa dan Mama nanti di cap anak durhaka karena telah mengabaikan orang tua, tak terbayangkan jika Papa dan Mama kena sumpahin nenek dan Oma"


Arya langsung menggaruk kepalanya


"Astaga, Arika. Papa sampai lupa, habis Papa pikir dunia ini hanya milik Papa dan Mama saja, yang lainnya ngontrak"


Suasana kembali ceria karena candaan yang dilontarkan oleh Papa Arya pada mereka semua


Arika dan Panji pun saling berpandangan, seolah-olah mereka paham pikiran satu sama lainnya


"aku sangat yakin sekali, jika Mama Siska dan Papa Arya akan hidup bahagia, aku tak pernah melihat Mama sebahagia ini, tertawa dengan ceria, padahal jelas-jelas Mama habis menangis, karena kisah yang baru saja terungkap ini"


Arika ikut merasakan kebahagiaan yang ada pada hati Siska


"Bisakah kau memanggilku sayang"


Canda Arya Kembali, ditengah-tengah mereka semuanya


"Ehem, sebaiknya kita segera tutup mata saja Panji, dan mama Silvi. karena Papa Arya sedang mengeluarkan jurus mautnya"


Arya tertawa terkekeh-kekeh ia memang sengaja memancing reaksi Arika, Karena ia melihat matanya sudah bengkak karena menangis.


Siska langsung tersipu malu "Boleh saja, asal kau tak malu didepan anak-anak kita, kelak kita akan menjadi seorang kakek dan nenek, dan ia akan mengikuti semua ucapan kita, apa kau tak mau malu nantinya?"


jawab Siska


"Ya tidak masalah,bukannnya bagus jika mereka mengikuti panggilan tersebut"


Siska tertawa mendapatkan suaminya yang tersenyum manis tersebut


Sudah bertahun-tahun lamanya akhirnya senyuman yang ia nantikan tersebut nampak muncul dengan merona. memang pada saat masih berstatus istri Arjuna,Siska sudah benar-benar berusaha untuk melupakan Arya , dengan ikut menetap di Jogja,tapi Tuhan malah membalikkan keadaan hingga rasa yang ada dihatinya Siska berubah menjadi biasa saja, berteman dengan rasa sakit sepanjang hari sudah membuat ia terbiasa dan rasa cinta yang sempat tumbuh dihatinya untuk Arjuna, terkikis dengan sempurna sepanjang harinya.


"Ehemmmm..."


ucap Arika dari belakang mereka"


"Ehem..." balas Arya kembali


"Batuk, di komik aja" iklan


Arya yang hobi becanda, dari tadi terlihat terus-menerus menggoda mereka semua, dengan Siska sebagai sasarannya


"Ehemmm... santai saja Papa mama, jangan terlalu dipikirkan, Arika hanya ingin mengatakan jika nanti Arika akan bertahan beberapa hari disini sampai tujuh hari Papa, setelah itu akan kembali kerumah kita"


"Ya memang itu harus Nak, kasihan Mama dan adikmu, tinggallah disini dulu sampai beberapa hari, setelah itu baru pulang"


"Iya Pa, memang begitu rencana Arika"


"Baiklah kalau begitu Mama jadi lega juga,nanti sekalian nanti mama juga akan segera mengurus acara lamaran kamu dan Bian, tapi nanti saja lah, dibicarakan"


ucap Siska, sempat-sempatnya juga membicarakan hal itu


Arika langsung kaget


"Maksudnya Ma?apa?"


"Nanti saja kita bicarakan, mama dan papa harus pulang dulu"


"Maksudnya Mama apa sih?"untunglah Arika tak terlalu mendengarkan dengan jelas ucapan Siska yang cepat sekali itu

__ADS_1


Tapi Silvi langsung buru-buru mendekati mereka berdua


"Mbak, aku mohon bermalamlah dulu.


besok pagi-pagi sekali tidak apa -apa kalian kembali, masa iya buru-buru sekali. Please ya Mbak,Mas Arya,malam ini saja menginap lah disini dulu, lagian ini sudah jam sembilan malam"


Silvi memohon dengan bersungguh-sungguh sekali


Membuat Arya dan Siska pun saling berpandangan satu sama lainnya.


"Bagaimana Mas?" Siska sebenarnya mau saja, tapi balik lagi bagaimana dengan Arya, jika ia setuju maka Siska akan senang-senang saja, jika tidak pun juga bukan masalah besar baginya


"Pa, Panji mohon ..."


Panji melipat kedua tangannya


Arya langsung membentak dengan suara keras " Tidak!"


semuanya kaget dan tampak syok


"Kak arya ... "


Melihat Wajah-wajah yang tegang begitu Arya langsung melanjutkan ucapannya


"Tidak masalah, ayo kita segera tidur. dimana kamarnya?"


langsung semuanya lega "Ya ampun Papa, bercandanya keterlaluan sekali"


"Hah .. hampir saja jantungku mau copot Mas Arya, ya ampun mbak Siska suami mu ini hobi sekali bercanda, hampir saja aku mau copot jantung ne ..."


"Hehe Maaf.. maaf. tapi dalam situasi seperti ini kita harus banyak-banyak tertawa agar tak menjadi gila dengan beban yang ada di pundak, dan kepala kita "


Arya yang sudah menyetujui permintaan Silvi


langsung kembali tertawa.ia benar-benar menjelma sebagai badut yang membuat orang-orang yang sedang terluka menjadi tertawa bahagia.


"Baiklah kita akan menginap disini malam ini"


Wajah Silvi langsung sumringah saat mendengarkan ucapan Arya. sekali lagi dengan begitu tegas itu, apa lagi ia tau jika Siska adalah istri yang sangat taat dengan suaminya


"Terimakasih Pa"


Panji langsung tersenyum bahagia, tapi ia tak terlalu menunjukkan sikap berlebihan pada Siska, untuk menjaga hati Silvi juga yang sedang terluka karena ditinggalkan oleh Arjuna


karena kalau Siska sudah ada Arya yang menghiburnya.


"Mama, nanti bisa tidur dikamarnya Papa Arjuna ya" ucap Panji


"Baik Nak ... "


Siska langsung setuju, kerena sudah lama sekali ia tak melihat kamar tersebut


Tapi diam-diam Arya kembali merinding, karena ia yang sangat penakut sekali orangnya itu justru malah sebenarnya ingin menolak untuk tidak tidur dikamar itu


*Apa? kamarnya Arjuna? ya Tuhan. apa aku bisa meminta kamar yang lain saja. bukan karena aku takut, tapi untuk menghargai Arjuna saja , jika nanti ia ingin pulang dan melihat kamarnya ia malah kaget saat melihat ada aku dan Siska di atas tempat tidurnya.


A*pa lagi Arya sebenarnya sangat penakut sekali orangnya.


"Malam ini kita akan melakukan pengajian seperti biasa"


setelah jam sembilan masih juga dilakukan pengajian khusus lagi untuk Arjuna, dengan anak-anak santri yang memang sudah ditugaskan untuk berjaga malam ini.


Setelah selesai acara tahlilan, mereka semua langsung beristirahat dikamar masing-masing. tapi ntah mengapa malam ini jagoan Arya sama sekali tak bisa bangun, Karena mau tidak mau ia terpaksa berpikiran horor lagi


"Ayo Kak kita istirahat, aku ngantuk sekali"


"Apa kau benar-benar sudah ngantuk Siska?"


suara Siska terdengar begitu berat


"Oh ya sayang, tenang saja"


Padahal Siska sudah memakai pakaian tidur seperti biasanya" Selamat malam kak Arya"


Siska beralih dengan membelakangi punggungnya.


"Siska!"Arya langsung panik, namun ia tak mungkin membangunkan Siska dan mengatakan jika ia takut berada disana, bisa hilang semua harga dirinya nanti"


Malam ini benar-benar mencekam, tak ada suara yang terdengar, padahal anak-anak santri yang mengaji tak henti-hentinya dari tadi, namun Arya benar-benar tak bisa berkonsentrasi lagi. ia lebih memilih untuk menutupi wajahnya dengan selimut


"Baiklah selamat malam Siska "


Siska melihat kearah suaminya sebentar. lalu tersenyum, ia mengira Arya sedang kelelahan dan juga kedinginan


Haduh, kenapa harus tidur dikamarnya Arjuna sih, bukan apa-apa ya, bukan karena aku penakut ya , tapi aku merasa jika Arjuna masih berdiri dan berada di hadapanku saat ini . Hiii....


Berbeda dengan Arjuna, Siska malah sangat berharap sekali jika malam ini ia bisa bermimpi bertemu Arjuna.Ia menatap setiap sudut ruangan kamar tersebut dan teringat dengan jelas bagaimana Arjuna yang dulu sekali pernah memperlakukan ia seperti seorang ratu


Terimakasih karena pernah memberikan aku bagaimana merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dan juga rasa sakit teramat dalam, tapi aku sudah benar-benar ikhlas sekali


memaafkanmu


Siska pun memejamkan matanya .


....


Keesokan paginya


Siska bangun untuk siap-siap sholat subuh, tapi ia tak menemukan Arya berada disampingnya


"Kak Arya? kemana dia ?"


mengucek matanya


Siska langsung berdiri dan berjalan keluar.


rupanya ia melihat Arya yang sedang duduk di depan pintu lagi mengobrol dengan Panji hanya berdua saja,soalnya memang mereka memang akan berangkat pagi-pagi sekali dengan penerbangan pertama pagi ini.


"Mm, baiklah. tenyata kak Arya sedang bersama Panji"


Siska kembali masuk kedalam kamar untuk melanjutkan sholat subuh


"Syukurlah, malam tadi aku bermimpi dengan mu Arjuna, kau begitu tampan sekali dan tersenyum padaku. terimakasih karena telah memberikan aku senyuman terindah itu untukku, aku berharap Silvi akan menjadi bidadari terakhir yang akan menemanimu di keabadian, terimakasih karena telah memberikan aku putra dan putri yang sangat baik dan rupawan".


Pagi itu semuanya saling berpelukan, sebelum berangkat pulang ketempat masing-masing


"Baiklah, kami pamit dulu ya"


Arika langsung mengangguk"Dagh, Mama Papa".


"Nanti Arika, Mama dan Papa belum berangkat"


canda Arya, dengan mata yang nampak sangat ngantuk sekali


"Ah Papa, bercanda terus"


Arika menggaruk kepalanya


"Silvi, kapanpun kalian ingin ketempat kami, jangan lupa langsung istirahat dirumah saja, jangan lupa. jangan lupa Panji ajak mama silvi kerumah Mama, karena sebentar lagi akan ada perayaan lagi dirumah kita,kali ini Panji dan Mama Silvi harus datang ya Nak"


Arika dan Panji saling tersenyum karena sebenarnya Panji juga datang saat Siska menikah kemarin

__ADS_1


Hmm pasti mama mau merayakan resepsi pernikahan mereka, haduh Mama, Panji itu sudah datang kemarin tanpa Mama ketahui, kasihan sekali Mama, tidak tau


Arika menahan suaranya agar tak tersenyum


"Perayaan apa lagi memangnya kak?"


tanya Panji penasaran


"Itu loh, papa dan mama belum resepsi pernikahan jadi ya acara besok"


tersenyum manis


Arika tak tau jika sebenarnya Siska dan Ana sudah sepakat untuk menikahkan Bian dan juga Arika secepatnya, bukan apa-apa karena takut jika Arika dan Bian nanti malah jatuh cinta dengan orang lain, apa lagi mereka tau jika keduanya sama-sama memiliki wajah yang rupawan


"Baiklah Mama dan papa pulang dulu ya Nak, Panji jangan lupa kalau ada apa-apa telpon Papa, nanti papa akan mengajarkan mu tips dan trik untuk mendapatkan cewek-cewek kece diluaran sana "Mengedipkan matanya pada panji


langsung Siska mencubit Arya "Jangan macam-macam"


"Awww... sakit"


Semuanya kembali tertawa karena ulah Arya yang tak henti-hentinya menggoda mereka semua


Arya langsung menatap Siska


"Berani sekali kau mencubitku ya, lihat saja nanti malam kau akan merasakan bagaimana sengatan listrik dariku, aummm...."


bisik Arya perlahan.


Mereka semuanya tertawa, ya meski Arjuna baru saja meninggal dunia, tapi kita tak perlu meratap terlalu lama. itu justru akan menyiksa mereka yang telah pergi,


saat ini hanya akan ada kebahagiaan kedepannya dalam hidup Siska dan juga Arya.


Mobil yang mengantarkan Arya dan Siska menuju bandara pun melaju dengan kencang lalu menghilang dihadapan mereka


"Semuanya akan baik-baik saja"


ucap Siska saat meninggalkan rumah tersebut .


Di dalam pesawat.


"Kita langsung pulang?"


tanya Arya didalam pesawat


"Iya "


jawab Siska singkat, dan menoleh kearah Arya


lalu ia merasakan ada yang aneh pada suaminya itu


"Kak, kenapa kau seperti kelelahan sekali itu matamu?"


memegang bagian bawah mata Arya yang menghitam.


"Ah, itu hanya perasaan dek Siska aja, karena kang Arya masih menyala 24 jam"


membuka lebar-lebar kedua bola matanya


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Arya semalam tidak bisa tidur karena ketakutan


yang disebabkan oleh pikirannya sendiri


"Sayang, tapi aku tak ingin langsung pulang kerumah ya ..."


memasang wajah yang sangat memelas seperti seorang anak kecil yang polos ingin dibelikan sebuah permen


Siska langsung menatap Arya, dengan tatapan cinta, ia tau apa yang ada dipikiran nakal suaminya itu


"Lalu kita akan kemana ha?"


Arya tersenyum manis mendapatkan pertanyaan dari Siska, dengan menunjukkan dua jari telunjuknya yang sedang beradu dan menggoyangkan keduanya


"Kita akan menginap di hotel yang tidak diketahui oleh Aditya, karena bisa-bisa ia akan menganggu saja "


Mode berbicara dengan perlahan dan berbisik


Siska langsung tertawa dengan menutup mulutnya, mendapatkan permintaan Arya yang sudah ditebaknya itu


"Kehotel? tapi di rumah juga lebih aman, tak mungkin juga Aditya akan menganggu kita kan."


"Hah,kau tidak tau bagaimana hebatnya Aditya, melalui lubang pintu saja ia bisa muncul, tidak ... pokoknya tidak bisa"


Arya mulai menunjukkan kemarahannya


"Iya, aku paham. Jangan khawatir,kita berdua akan menghabiskan hari ini dengan sangat indah" menggenggam tangan Arya yang baru saja ia lepaskan dari tangan Siska


"Nah begitu kan Enak, karena aku sudah tidak sabar ingin memberikan yang enak-enak untukmu "


Menaik turunkan kedua alisnya


Arya terlalu bersemangat hingga penumpang disebelahnya terlihat berdehem-dehem beberapa kali karena tak sengaja mendengarkan obrolan kedua pengantin yang sudah tak muda lagi itu


"Ehemmm.....ehemmmm"


Siska langsung kembali tertawa geli


"Iya sudah, nanti saja. jangan dibicarakan ditempat umum, nanti kita akan menginap di hotel dulu besok baru pulang kan?"


"Baiklah istriku aku mencintaimu"


bisiknya perlahan, sambil mencubit hidung Siska yang mancung itu


Arggh hidungnya saja sudah membuat aku bergetar-getar apa lagi yang lainnya, efek sudah tidak lama bersentuhan dengan manusia yang diciptakan dari tulang rusukku ini


"Maaf ya Bu, karena telah menganggu kenyamanan anda karena berada disebelah saya"


Ibu-ibu tersebut langsung membuka kacamatanya"Saya ini bukan ibu-ibu tapi masih remaja"ucapnya


Arya terdiam langsung kaget, Karena dari penampilannya kelihatan ia begitu tua sekali


"Ini lihat"


menunjukkan tanda pengenalnya


"Wah, ia benar. ternyata ia seumuran Alea"


"Makanya jangan sembarangan bapak tua"


Balasnya pada Arya


Siska menutup mulutnya menahan tawa,


Arya langsung menempelkan tubuhnya dikursi tersebut dan berbicara kecil-kecil dengan melirik kearah Siska "Anak sekarang, sungguh mengerikan usia masih muda tapi bentuk sudah seperti orang tua, make up-nya ampun sekali!"


menggelengkan kepalanya bekali-kali.


"Sebaiknya anda diam saja bapak tua"


goda Siska, menirukan ucapan perempuan muda yang bentuknya tua tersebut.


Ketegangan kembali tinggi, setinggi terbang nya burung besi tersebut membawa mereka kembali.

__ADS_1


__ADS_2