
"Jadi kau sudah lama kembali kemari "
Arya mulai memberanikan diri untuk bertanya
"Baru satu tahun , semenjak pak kumis meninggal ,mami seorang diri , aku pun akhirnya memutuskan untuk kembali merawat mami dan memboyong Arika bersama ku ,lalu bagaimana kabar Keluarga kecilmu ?"
"Hmm mungkin Tuhan masih ingin menguji ku , setelah Alea lahir Alena langsung pergi menghadap sang pencipta , dia diam-diam mengidap penyakit yang sudah stadium akhir "
Mereka berbicara dengan malu-malu tak sadar dari tadi Dimas ,Rima , Aditya dan Ana memperhatikan mereka dari tadi sudah seperti sedang menonton layar tancap saja
"Dit ,apa mereka tidak capek ya. berbicara sambil berdiri seperti itu ?"
bisik Dimas
"Benar aku juga heran kalau aku bisa remuk tulangku karena kelelahan , kau lihat saja mereka hampir setengah jam ,dan Arya masih sanggup berdiri "
"Kalian ini seperti tidak pernah jatuh cinta saja , bagaimana rasanya , pernah dengar pepatah yang mengatakan jika cinta sudah melekat T*i kucing rasa coklat "
Ana memarahi keduanya
Dimas dan Aditya menggaruk kepalanya
"Benar juga apa yang kau katakan Sayang , mereka bahkan tak menyadari keberadaan kita "
"Tunggu dulu Dit aku ada ide , ayo kita mengambil kursi dan menaruhnya dibelakang mereka "
"Boleh juga idemu, ayo cepat kita lakukan ,aku kasihan melihat Arya berdiri dari tadi , takutnya nanti setelah mereka menikah Arya tak ada tenaganya karena terlalu lama berdiri "
Ana dan Rima langsung senyum-senyum mendengar ucapan Dimas
"Kalau soal berdiri aku yakin Arya tidak ada duanya dia jagonya soal berdiri "
"Halah modal berdiri lama tak diasah juga tumpul "
"Tumpul ?"
Aditya dan Dimas tertawa cekikikan membicarakan Arya yang sudah lama menduda
Giliran Ana dan Rima yang melotot
"Jangan banyak bicara , cepat kerjakan saja!"
"Iya ini bapak-bapak malah sibuk ngegosip , Padahal umur sudah uzur , kalian itu bakal jadi kakek sebentar lagi "
melotot kearah Aditya
"Dit ,ayo "
"Iya kau duluan yang berdiri "
Mereka pun langsung berdiri dengan mengendap-endap mengambil kursi dan menaruhnya dibelakang Arya dan Siska ,
dan benar saja Arya dan Siska sama sekali tak menyadari kehadiran Aditya dan Dimas
Padahal Aditya dan Dimas sudah sangat cemas sekali , jika ia sampai ketahuan , mereka sampai merayap didinding , dan merangkak di lantai takut ketahuan oleh Arya , namun seperti pepatah saat dua orang yang saling mencintai berbicara dan mengobrol mereka sama sekali tak memperdulikan orang-orang disekitarnya , bahkan terlihat benar-benar semua orang hanya mengontrak saja dunia ini serasa milik mereka berdua saja
"Jadi bagaimana kabar Arjuna apa dia mau melepaskanmu "
Siska menarik nafas
"Sebenarnya aku malas membahas ini ,tapi karena kak Arya yang menjawab baiklah aku akan mengatakannya dan menceritakan semuanya "
Arya tak sengaja mundur kebelakang dan ia mendapatkan ada kursi dibelakangnya "Ada kursi , ayo Siska duduk lah dulu "
Arya langsung mengambil kursi dan menyuruh Siska untuk duduk disampingnya
"Ini kursi silahkan duduk ,nanti kakimu pegal-pegal ,bisa repot nanti "
Aditya dan kawan-kawan langsung memasang muka masam "Kau dengar Dit , kakimu nanti bisa pegal-pegal kalau kelamaan berdiri "
"Iya Dim,aku tau kau juga jangan kebanyakan bengong kasian wajah mu bisa pegal"
Ana dan Rima berbeda dengan Aditya dan Dimas mereka justru sangat memahami perasaan Siska
"Aku melihat Siska kembali percaya diri lagi ,kau lihat sepanjang mereka duduk dan mengobrol aku sama sekali tak melihat jika ia pernah mengalami luka batin "
"Mungkin iya luka batin itu masih ada tapi Arya adalah obat dari segala derita yang ada dihati Siska "
"Rima..kau sweet sekali ternyata !"
"Ana "
mata mereka berdua terlihat berkaca-kaca ,
Aditya dan Dimas langsung berbisik dibelakang mereka
"Dasar wanita !"
menggelengkan kepalanya
"Ya benar dasar wanita "
Ana dan Rima saling berpelukan , mereka pun kembali memerhatikan Arya dan Siska , tapi karena faktor usia mereka sampai tertidur pulas diatas sofa tersebut
Karena Arya dan Siska sama sekali tak memperdulikan mereka
Rupanya dibelakang Arika dan Alea sangat bahagia sekali karena mereka saling bertemu satu sama lain di tempat itu
"Ya ampun Arika ,aku tak menyangka kau juga ada disini !"
"Sumpah aku juga tak menyangka kau ada disini"
"Jika aku tau kau juga akan kemari aku akan menelpon mu dan merencanakan sesuatu untuk mereka berdua "
Karena mereka terlalu asik berbincang ,Karin pun langsung berpamitan untuk memanggil Bian kakaknya
"Kak Arika dan kak Alea , Karin mau memanggil kak Bian dulu ya , biar kita saling mengenal satu sama lainnya , apa lagi kan orang tua kita adalah sahabat baik ya kan kak "
"Baiklah Karin kakak tunggu disini saja ya "
__ADS_1
Karin tersenyum dan meninggalkan mereka berdua ,
Alea langsung syok mendengar nama tersebut "Arika , namanya Bian ? jangan-jangan itu Bian yang dikampus "
Arika langsung tertawa melihat wajah Alea yang sangat aneh itu
"Aduh Alea kau jangan khawatir , tenang saja didunia ini banyak sekali yang namanya sama , jadi kau tak perlu takut Bian yang ini berbanding terbalik dengan Bian yang di kampus kita ,kalau bian yang dikampus itu , makhluk mengerikan yang harus dibasmi , nah kalau Bian yang ini Alea kau tau suaranya dalam melantunkan ayat suci Al-Qur'an saja bikin badanku panas dingin "
Arika memejamkan kedua matanya
Alea langsung menyeletuk "Jadi karena mendengar suaranya mengaji badanmu langsung panas dingin ? hmm baiklah aku curiga jangan-jangan setan yang berada didalam tubuh mu sudah mulai kepanasan ya kan ?"
Arika memandangi wajah Arika yang tampak sangat bahagia sekali
"Arika apa kau sedang jatuh cinta ?"
"Ntahlah Alea aku tak tau tapi sejak tadi aku menginjakkan kaki dirumah ini aku merasakan ketenangan yang sangat amat nyata , kau tau tidak tadi Karin bercerita karena hatinya terlalu halus ,ia bahkan sampai menangis saat menyembelih Seekor sapi dan tak tega memakan ayam yang ia potong sendiri"
menggenggam tangannya dan menaruh diwajahnya
"Wah...wah .. benarkah Arika , aku tak percaya jika ada jenis manusia langka seperti itu didunia ini "
Alea langsung tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arika
"Arika kau jangan terlalu berlebihan Begitu ,apa kau sudah bertemu langsung dengan orangnya ? jangan terlalu berlebihan memujinya karena zaman sekarang kebanyakan manusia hanya bagus luarnya saja
tapi dalamnya mengerikan sekali "
"Aku memang belum bertemu secara langsung Alea tapi aku yakin ia benar-benar sama seperti yang aku pikirkan "
"Baiklah aku ingin melihat laki-laki yang kau maksud tersebut , walaupun sebenarnya perasaanku sedang tidak baik-baik saja,apa lagi jika sudah berbicara tentang manusia yang kelihatannya terlalu sempurna sekali itu "
Arika masih tersenyum-senyum sendiri
"Sekarang mana dia aku sudah tak sabar ingin melihatnya "
ucap Alea
"Hayoo kenapa kau ingin sekali melihatnya , atau jangan-jangan kau juga tertarik dengannya ya ?" Arika mulai cemburu pada Alea
"Ayo cepat katakan saja Alea ,apa kau diam-diam juga ingin menjadi calon istrinya !"
Arika mendekatkan wajahnya pada Alea
Alea langsung memasang wajah jeleknya dengan mengembangkan lubang hidungnya
dan menatap balik
"Uwekkkssss aku sama sekali tak tertarik dengan laki-laki terlalu sempurna seperti itu , justru aku takut jika ia tak ada celah sedikitpun bisa jadi ia menyimpan sesuatu yang mengerikan , aku sudah memiliki tambatan hati yang lain , dan aku tidak selera dengan dia ,hah ..."
Alea langsung duduk
"Oh syukurlah Karena aku tak mau bersaing dengan saudara sendiri , ingat ya Alea kau jangan sampai jatuh cinta padanya karena dia adalah milikku , titik "
"Ya..ya..ya jangan khawatir mau titik,koma,tanda tanya atau apapun saja aku tak tertarik sama sekali, karena aku sudah memiliki seseorang yang aku sukai "
"Baguslah kalau begitu , Alea"
Bian yang dari tadi sibuk memilih beberapa baju, sama sekali tak fokus mau memakai pakaian apa " Aduh kenapa jadi gugup begini ya , baju yang mana yang cocok aku jadi bingung begini "
Biasanya perempuan yang sibuk menggonta-ganti pakaian tapi berbeda dengan Bian malah ia yang justru tampak sibuk mau memilih pakaian yang mana
"Ehemmmm "
Bian kaget saat mendengar suara berdehem diluar kamarnya
"Karin kau mengagetkan kakak saja "
mengelus dadanya
"Ayo kak kebawah , Semua teman-teman mama dan papa sudah berkumpul dibawah ayo kita turun "
"Iya Sebentar kakak ganti pakaian dulu "
Karin langsung mendekat dan mengambilkan satu pakaian dari semua tumpukan tersebut
"Pakai yang ini saja Kak "
Karin sengaja mengambilkan pakaian yang warnanya senada dengan warna pakaian yang dikenakan oleh Arika
"Mana berikan ?"
Blouse berwarna biru langit "Nah ini saja , santai tapi elegan "
Bian mencobanya "Sudah kak ayo cepat pakai yang itu saja , jangan khawatir kakak sangat cocok sekali memakai pakaian apapun ,kakakku kan sangat tampan sekali "
ucap Karin
"Baiklah adikku tersayang kalau begitu aku akan segera mengganti pakaian dulu ,ayo cepat keluar "
"Aku tunggu kakak saja dulu diluar "
mendorong Karin
"Sudah kau turun saja dulu dibawah nanti , kakak akan turun menyusulmu "
"Baiklah , jangan lama-lama kak aku tunggu kakak ditanam bawah ya "
"Oke "
Bian pun langsung memakai pakaiannya tidak lupa merapikan rambut dan juga memakai parfum yang banyak sekali
"Bian kau sungguh sangat tampan sekali ,aku yakin anak Tante Siska pasti langsung jatuh cinta padaku "
Bian bersiap-siap untuk turun kebawah ,
Karin yang sudah sampai dibawah pun langsung menghampiri Arika dan Alea
"Halo kakak semua , sebentar lagi kak Bian akan turun "
__ADS_1
Wajah Arika langsung tersipu malu
"Siap-siap Arika calon suamimu akan turun , oh indahnya hidup dijodohkan dengan laki-laki sempurna sesuai impian mu "
"Ingat kau tak boleh jatuh cinta padanya ,dia itu milikku "
Alea langsung mengangguk mengerti
"Hah sudah aku katakan berulang kali , aku tak menyukai laki-laki tipemu itu "
Tangan Arika panas dingin , tak lama terlihat kaki yang turun kebawah
Alea yang langsung melihatnya
"Arika itu kakinya sudah turun kebawah !"
"Mana ?"
"Itu disana ?"
Arika langsung tertawa geli dan memejamkan matanya , tangannya sudah dingin
"Alea tolong kau pegang tanganku , nanti jika ia sudah mendekat tolong katakan saja biar aku membuka mataku "
"Baiklah ,tapi Arika apa aku juga perlu membuka mataku juga ?"
Arika langsung marah "Tidak perlu sama sekali ,hadeh..apa hubungannya kau membuka mata atau tidak ,dia kan lelaki ku "
"Hah iya..iya..."
"Nah itu kak Bian sudah turun "
Bian menutup wajahnya
"Arika ia sudah turun , dan kau tau dia memakai pakaian yang sama dengan mu "
Namun Alea merasa tak asing dengan lelaki tersebut
Sama halnya seperti Arika ,Bian juga merasakan hal yang sama ia terlihat deg-degan sekali "Aku sudah tak sabar ingin melihat masa depanku "
Bian pun semakin mendekat dan sekarang justru tangan Alea yang menjadi dingin sekali, keringat mulai bercucuran dari dahinya
Arika langsung menyadarinya ,ia masih memejamkan kedua matanya
"Alea kenapa dengan tangan mu ,dingin sekali "
Alea tak berani berkata apapun lagi , akhirnya Karin langsung berbicara
"Nah ini dia kak Bian , kak.Bian ini kak Arika dan Kak Alea"
"Arika cepat buka matamu sekarang !"
sambil berbisik dengan terbata-bata
"Baiklah "
Perlahan Arika membuka matanya ,
jreng....
Sama halnya seperti Bian ,Arika langsung kaget setengah mati
mata mereka saling melotot
"Kau !"
Karin langsung mengenalkan keduanya
"Nah kak Bian ini kak Arika yang diceritakan Mama , anakny Tante Siska ,dan kak Alea anaknya om Arya "
Alea langsung menutup mulutnya menahan tawa , melihat wajah Arika dan Bian yang benar-benar seperti orang tolol
Karin yang tak mengerti dengan situasi itu langsung menarik tangan Arika dan Bian
yang sama-sama terasa dingin seperti es tersebut
"Bian "ucap Bian berusaha untuk menenangkan dirinya
"Arika "ucap Arika dengan menggenggam erat tangan Bian
ntah apa yang ada dipikiran Arika namun sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu
Cuihhh Sungguh aku sangat menyesal telah memuji dirimu , ternyata nama Bian hanya satu-satunya orang dikota ini dan kau !
aku tak menyangka ternyata kelakuanmu dirumah berbeda sekali di luar ,ya ..hmmm aku sudah tak sabar ingin mengatakan semuanya pada Tante Ana ,
Bian langsung cemas
"Ya Tuhan apa.yang akan dilakukan perempuan ini padaku , bagaimana jika ia mengadukan semua kelakuanku pada Mama dan papa,kacau semuanya ,habislah aku "
Arika langsung melipat kedua tangannya
"Oh ya kak ,Karin tinggal dulu ya , kak Alea ayo temani Karin sebentar "
Karin menarik tangan Alea dengan paksa
Sekarang tinggal Arika dan Bian saja
Arika langsung bertepuk tangan dihadapan Bian
"Oh jadi ini rumah mu ya , mmm baguslah aku sudah datang kemari , dan hebatnya ternyata kau adalah anaknya Tante Ana , kebetulan sekali bukan , aku rasa ini saat yang tepat untuk aku dan Tante Ana berbicara , sekaligus untuk meminta maaf pada Tante ana karena tidak sengaja menyentuh dada putra kesayangannya , agar aku terbebas dari hukuman yang diberikan padaku oleh anaknya "
Arika langsung melewati Bian ,
Bian yang cemas langsung menarik tangan Arika dan tak sengaja membuat Arika terlempar kedalam pelukannya ,dada Bian yang bidang membuat tubuh Arika yang kecil pas sekali masuk kedalam pelukannya
Mereka berdua pun saling berpandangan
"Jangan lakukan apapun aku mohon "ucap Bian penuh harap
__ADS_1