
Arika menarik nafasnya dalam-dalam dan langsung emosi saat melihat ada Bian di hadapannya
Hah kenapa harus ada dia dihadapanku saat ini, benar-benar pengacau sekali dia
"Kenapa menatapku seperti itu ha? kau tidak suka?!"
"Terserah aku dong, mau menatap seperti apa juga, bukan urusanmu juga, lagi pula kau juga tak terlalu penting untukku!"
Arika berkacak pinggang
"Nggak usah sok tegas kenapa?"
"Terserah... terserah aku yang punya mata memangnya kenapa sih kau sibuk terus ngurusin urusan orang, tidak punya kerjaan lain ya, lagi pula kenapa kau menyuruh tukang ojek itu pergi, kau tau aku mau pulang kerumah, lalu bagaimana mungkin aku bisa pulang jika kau mengusir tukang ojek itu" menunjuk-nunjuk wajah Bian.
"Ya kau akan pulang, santai saja aku akan mengantarkanmu pulang, tapi aku ingin berbicara empat mata denganmu, saat ini juga kerena benar -benar sangat penting sekali, menyangkut hidup dan mati kita!"
"Oh ya kita? kamu aja kali!"
Arika masih terbawa emosi karena mengingat hal yang tadi ia lihat,saat Bian berada di bandara tadi
Dasar buaya aku tau jika ia ini adalah buaya yang licik, ntah apa yang ingin ia bicarakan padaku
Menatap Bian dengan sangat berapi-api sekali
"Hei Arika, kenapa kau diam saja, apa kau tak dengar apa yang akan aku katakan ini ha? cobalah sopan terhadap lawan bicara, sama sekali tak ada tata Krama, kau tau aku ini lebih tua darimu!"
"Ya ... ya ... tapi aku lebih muda darimu, seharusnya kau tau bagaimana caranya menghormati yang muda. agar yang muda bisa menghormati yang tua apa kau paham!"
Efek yang ditimbulkan karena melihat kemesraan Bian dengan sahabatnya. sungguh Arika benar-benar telah salah sangka
"Baiklah kalau itu yang kau mau aku akan menyayangimu"
ungkap Bian
Tapi Arika rupanya masih emosi karena perkataan Bian tentang tata Krama tadi.namanya juga perempuan ada saja jawabannya kalau ia sudah mengingat satu kata yang menyakitkan hati
"Hei Bian jaga sikapmu ya, jangan sembarangan berbicara, kau membicarakan tata Krama denganku. apa harus memiliki tata Krama jika aku berhadapan dengan orang yang tak sopan sama sekali itu, lagi pula apa sih yang mau, dibicarakan ha? sama sekali tidak penting"membuang wajahnya
"Tidak penting apanya, apa kau tau jika kita akan segera menikah dan kau katakan ini adalah hal yang tidak penting? apa kau pikir ini waras?"
Bian berjalan mendekati Arika yang sedang emosi
Hmm ya aku tau, kenapa dia begitu emosi sekali.karena diam-diam ia memiliki kekasih kan...dasar buaya? kau pikir aku mau apa menikah dengan buaya sepertimu
Kau takut kehilangan belangmu bukan, kau takut kan?"
Arika menatap Bian dengan sinis sekali
"Terus tinggal batalkan saja, kenapa? lagi pula ini juga bukan keinginan kita berdua kan? apa yang harus di khawatirkan kita tinggal jujur saja mengatakan kepada kedua orang tua kita jika kita sama sekali tak saling menyukai, aku rasa Semuanya sudah beres!"
ucap Arika dengan santai
Bian langsung menarik tangan Arika untuk segera masuk kedalam mobil
"Hah, kau pikir semudah itu untuk membuat kedua orangtua kita percaya, tolong kau pahami jika orang tua kita tak semudah itu percaya dengan kita"
"Tapi saranku ini memang benar kan? satu-satunya cara ya itu. kita harus jujur pada kedua orang tua kita jika sebenarnya apa yang terjadi itu tak sama dengan yang mereka lihat"
"Hadeh ... sebaiknya kita bicarakan didalam mobil saja, kalau diluar kita akan menjadi perbincangan mereka semua,lihat itu?"
Menunjuk beberapa orang yang sedang melirik kearah mereka berdua
Bian masih memegang tangan Arika.
tersadar tangannya masih di pegang oleh Bian
Arika langsung melepaskan tangannya
"Lepaskan tanganku, dasar buaya!"
Bian langsung emosi "Apa yang kau katakan barusan? buaya?"
"Buaya ... buaya... buaya...."
ucap Arika dengan berulang kali
Bian langsung emosi, ia langsung membuka pintu mobilnya dan langsung mendorong Arika masuk kedalam mobilnya
"Masuk! kita akan berbicara di tempat lain"
Arika tak bisa berkutik lagi karena sekarang sudah duduk didalam mobil bersama Arika
"Kita akan kemana? kenapa kau emosi sekali Pak buaya?"
"Kemana saja yang aku suka!, tolong ralat ucapanmu itu aku bukan Buaya"
"Baiklah kau bukan buaya tapi buaya darat!"
"Jika aku pak buaya maka kau adalah induk buaya. atau kau ingin aku tunjukkan bagaimana jika buaya sedang marah ha?!
Arika langsung ketakutan "Kau jangan macam-macam buaya, aku bisa berteriak didalam mobil ini agar orang-orang menghajarmu"
"Hei Nona, berhentilah memanggil ku buaya, aku memiliki nama!"
tegas Bian
Arika sama sekali tak perduli ia terus -menerus memanggil Bian dengan sebutan Buaya
"Buaya.... buaya...."
Kesabaran Bian akhirnya kembali di uji
"Kau ini! "
untunglah lampu merah , jadi Bian langsung memegang tangan Arika
"Jika kau tak bisa berhenti mengatakan hal itu, maka kau lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu, ingat mulutmu harimaumu!"
mulai mengancam
Mobil langsung dikunci oleh Bian
Wajah Arika langsung berubah cemas
"Hei, apa yang sedang kau lakukan ha?
jangan macam-macam aku bisa saja Berteriak dari dalam mobil ini lihatlah, aku akan membuat wajahmu babak belur juga.jika kau berani melakukan sesuatu padaku!"
ancam Arika
Bian yang kesal karena ulah Arika yang berteriak-teriak memanggilnya dengan panggilan buaya langsung saja mendekati wajahnya.
"Kau lihat buaya yang kau maksud itu ya!"
Sebenarnya Bian hanya berniat untuk menakut-nakuti Arika saja. namun Arika yang terlanjur panik langsung berteriak dan keluar dari dalam mobil
Gawat apa yang akan ia lakukan padaku, dia ini laki-laki gila bisa kacau jika ia melakukan hal bodoh ini padaku, tidak aku tak mau sampai sesuatu yang bodoh terjadi padaku. aku tidak mau tau .
"Sekarang cepat katakan padaku apa yang bisa kau lakukan ha, didalam mobil ini hanya ada kau dan aku saja"
Arika langsung membuka pintu mobil ia hendak kabur " Arika kau mau kemana hei ...."
Bian syok ternyata gadis ini tak selembut yang ia pikirkan ia benar-benar gesit, tapi karena terburu-buru baju nya tersangkut di dekat besi yang ada ditempat duduknya, bajunya langsung robek di belakang.
Krekk.....
"Astaga baju ku robek!"Arika langsung tambah panik karena belahan punggungnya terlihat sangat jelas sekali!"
__ADS_1
Arika yang sudah keluar dengan berteriak-teriak minta tolong dilampu merah tersebut membuat banyak orang melihat kearah mereka berdua.
Bian pun langsung panik dan berusaha menarik pakaian Arika,
tapi malah tambah robek
"Arika, apa yang kau lakukan, cepat masuk. lihatlah semua orang memandang kearah kita!"
"Aku tak perduli dari pada kau macam-macam denganku lebih baik aku kabur saja, tak bisa segampang itu kau membuat aku tunduk di hadapanmu buaya darat"
Di saat yang bersamaan Aditya dan Ana, dan juga Siska sedang berada didalam satu mobil yang sama, mereka berencana untuk makan siang bersama-sama. Dan juga untuk membicarakan masalah pernikahan Bian dan Arika
"Aku yakin anak-anak kita akan sangat nyaman satu sama lainnya. apa lagi pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral. Bian dan Arika sangat serasi sekali"
"Kau benar Ana, apa lagi mereka tampan dan juga cantik ya, aku sudah tak sabar ingin melihat cucu-cucuku yang lahir dengan lucu-lucu"
Aditya dan Arya tertawa
"Kau lihat itu Dit para nenek-nenek dibelakang sudah berekspektasi terlalu tinggi soal cucu"
"Biarkanlah Arya, karena itu yang membuat mereka senang"
"Hei lihat itu lampu merah didepan berhentilah jangan langsung menerobos, kalian harus banyak-banyak tau diri karena sudah tua"
"Lah memangnya kalau masih muda, bisa seenaknya melanggar rambu-rambu lalu lintas gitu?"
"Bukan begitu Aditya"
ucap Ana
"Haduh .... kalian masih saja ya "
Arya dan Siska tertawa
"Nah itulah seninya berumah tangga, kalian nanti juga akan merasakannya lihat saja"
"Kami cukup merasakan sensasi anak muda saja"
Wajah Siska langsung merah, Arya memang keterlaluan sekali. ia hebat membuat Siska menjadi malu.
"Udah ... udah itu lampunya udah hijau!"
Namun mereka sangat terkejut saat melihat lampu hijau, tapi malah terjadi kemacetan panjang
"Iya sudah hijau lampunya"
"Kenapa itu mobil di depan nggak jalan-jalan ya ada apa?"
berusaha untuk melihat dari dalam mobil
"iya, kenapa ya?"
Para pengendara lainnya sibuk membunyikan klakson mobil namun tetap saja kemacetan tak bisa dielakkan.
"Macet karena apa sih?"
seorang pedagang asongan lewat.Aditya pun langsung bertanya pada pedagang yang lewat itu
"Itu didepan kenapa macet ya Bu?"
"Oh itu ada sepasang muda-mudi yang sedang bertengkar sampai bajunya yang perempuan robek"
"Astaga ... terimakasih ya infonya Bu"
"Sama-sama Pak"
Ana dan Siska langsung mengurut dada
"Kau lihat itu Pa. pergaulan anak sekarang mengerikan sekali, bisa-bisanya bertengkar di lampu merah, bikin macet saja"
"Iya anak-anak zaman sekarang sungguh etikanya sudah kurang. tak bisa aku bayangkan pasti malu sekali orang tuanya jika tau anaknya seperti itu ya ampun"
"Kau benar Ana"
mereka saling berpelukan
"Tapi aku penasaran seperti apa wajah mereka yang sudah membuat macet ini"
Mata Ana yang jeli langsung melihat dari kejauhan
"Tunggu dulu, bukannya itu mobil Bian?"
mereka semua langsung kaget
"Bian? astaga dengan siapa?"
mobil mulai berangsur berjalan disebelah mereka dan mereka sangat kaget saat melihat plat mobil B 1 AN itu.
"Hah iya itu mobil Bian!"
jawab Aditya
"Lalu perempuan yang bersamanya?"
Mereka melihat Arika yang sedang berusaha untuk kabur
mereka saling berpandangan dan berucap dengan serentak
"Arika !"
Mereka semua langsung kaget dan segera keluar dari dalam mobil menghampiri Arika dan Bian, macet panjang sekali karena mereka yang berhenti ditengah jalan
"Pak cepat bawa mobil ini minggir dulu, kami akan turun!"
untunglah sang sopir yang duduk dibelakang langsung disuruh untuk berpindah posisi kedepan
"Ya ampun apa yang sedang mereka berdua lakukan?"
"Bukannya Arika masih di Jogja Siska?"
"Iya bener, dan dia juga tak mengabarkan aku akan pulang kapan, sungguh aku menjadi emosi sekali!"
Kedua orang tua mereka sangat kaget saat melihat Bian dan Arika yang sedang dalam keadaan seperti itu
"Ayo cepat kita turun dulu semuanya"
dengan cepat mereka semua menghampiri kedua anak mereka
"Bian!"
"Arika"
Bian dan Arika langsung panik saat melihat kedua orangtua mereka berdiri dihadapannya
"Papa, Mama!"
"Ya Tuhan gawat, habislah kita kalau begini terus!"
Bian panik sekali
"Pa, ini tak seperti yang Papa dan Mama pikirkan" Bian masih memegang baju Arika yang robek tersebut untuk menenangkan dirinya
Arika juga panik
"Iya Ma,Pa ini tak seperti yang kalian lihat"
Arika langsung berhenti berteriak
__ADS_1
Kedua orang tua mereka saling berpandangan
"Kami semua,tidak perlu penjelasan apapun dari kalian mata ini tidak bisa bohong, sungguh mama dan Papa tidak menyangka jika kalian ...."
"Ma,ini sama sekali tak benar!"
teriak Bian
"Iya benar Ma"
"Tak ada solusi lain , Sebaiknya pernikahan mereka harus segera dipercepat!"
titt...
tit...
bunyi klakson para pengendara dibelakang sudah bersahutan
"Ayo nanti saja ngobrolnya.lihatlah dibelakang Antrian sudah sangat panjang sekali"
"Ayo masuk kedalam mobil dulu semuanya!"
Arya langsung mengambil alih kemudi mobil tersebut dan Arika langsung duduk dibelakang bersama yang lainnya dengan Bian,Siska,Ana dan juga Arika
"Ma, tolong dengarkan Bian dulu"
Arika nampak mengusap wajahnya
Ya Tuhan kenapa jadi begini sih, aku hanya ingin bahagia.tapi kenapa harus bertemu dengan orang ini dengan cara seperti ini
"Sudahlah Bian jangan banyak bicara. mama tak butuh penjelasan, Karena kedua mata mama ini tak mungkin bisa bohong!"
Ana benar-benar marah
"Bikin malu orang tua saja.ya ampun Bian!"
Sama halnya dengan Ana, Siska pun juga langsung mengusap wajahnya
"Astaga Arika, mama tak menyangka kau bisa seperti ini, bukankah kau mengatakan pada mama akan kembali setelah beberapa hari,lalu kenapa pulang hari ini? kalian mau kemana? lihatlah baju mu sampai robek begini astaga Arika, mama sungguh benar-benar sangat kecewa sekali!"
Ana mengelus punggung Siska
"Sabar Siska, anak-anak sekarang memang berbeda dengan kita dulu. aku rasa keputusan kita sudah tepat, mereka akan kita nikahkan hari ini juga, agar tak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan"
"Ya aku setuju sekali, "
ucap Aditya
"Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik kita nikahkan saja! mereka, tugas kita nanti akan diminta pertanggungjawaban sampai hari akhir, tak bisa macam-macam dengan ini semua"
"Ya aku setuju sekali"
Bian langsung menghela nafas panjang
Percuma saja aku menjelaskan semuanya pada mereka karena mata lebih dipercaya dari pada sekedar ucapan, ini semua gara-gara Arika yang membuat keributan dijalan raya
Arika dan Bian tak bisa berkata apapun lagi
mereka terlihat pasrah dengan keadaan, melawan juga percuma mereka lebih takut di cap anak durhaka
Ya Tuhan, kenapa jadi begini semuanya aku bahkan sama sekali tak berniat untuk menikah, tapi kenapa semuanya harus begini
bukan pernikahan impian, Arika kau sungguh menyedihkan
Arika memandang Bian dengan marah sekali
Sial! kenapa jadi berantakan begini sih, ini semua karena ulah perempuan itu, kenapa dia malah kabur dan berteriak-teriak, jadi berantakan semuanya
Bian dan Arika sama-sama kesal , terlihat dari tatapan mata keduanya yang sungguh-sungguh kesal
Siska langsung memegang punggung Siska yang kelihatan karena pakaiannya yang robek
"Ya ampun sampai robek begini!"
Ana sampai geleng-geleng kepala melihat baju Arika yang robek
"Seharusnya kalian berdua bisa sabar, karena sebentar lagi kalian akan sah menjadi pasangan suami istri,bukan begini caranya ya ampun Bian!"
Siska dan Ana geleng-geleng kepala
"Ini bukan sepenuhnya salah Bian. tapi juga Arika, bayangkan saja jika pihak perempuan tidak mau tidak akan terjadi juga kan"
Menghela nafas panjang
"Memang anak-anak zaman sekarang berbeda dengan kita dulu yang bisa menahan diri"
"Sudahlah jangan saling menyalahkan mereka, yang jelas tugas kita sekarang segera siapkan pernikahan mereka"
ucap Arya dengan bijak
"Benar, mau diapakan lagi sebelum terlambat mereka berdua harus sesegera mungkin untuk dinikahkan!"
Aditya menimpali
"Cepat buka jaketmu Bian, berikan pada Arika, lihatlah ia sudah seperti memakai bikini saja ini"
Itu salah dia, bukan aku yang membuat pakaiannya terbuka seperti itu, huh ...
Dengan terpaksa Bian membuka jaketnya,lalu memberikan pada Arika
"Ini sayang pakailah, kan mama sudah mengatakan akan segera mengurus pernikahan kalian tapi tunggu Arika pulang, mama tau jika Arika dan Bian memang sangat cocok sekali"
Siska mulai melembutkan ucapannya karena Arya sudah menyuruhnya untuk berhenti menyalahkan Arika
"Jadi kita akan kemana sekarang ini ?"
tanya Arya karena dari tadi mereka hanya berada didalam mobil tak tau mau kemana
"Sebaiknya kita kembali pulang kerumah kita dulu, setelah ini kita akan menyiapkan pernikahan mereka, kalau bisa hari ini juga mereka harus di nikahkan, takutnya mereka akan melakukan hal-hal yang tidak-tidak di luar pengawasan kita, tak sanggup kita akan menanggung dosanya kan?"
Jawab Aditya
"Tapi Ma, tadi itu Arika dan kak Bian itu tidak melakukan apapun juga, hanya salah paham saja!"
"Iya benar Pa, semuanya salah paham"
Arika dan Bian terlihat sangat kompak sekali menjawab semuanya
"Lagi pula pernikahan itu kan tak bisa sembarangan harus benar-benar ikhlas Pa"
"Tapi kami ini orang tua kalian memiliki tanggung jawab bukan hanya di dunia tapi di akhirat, kalian tau wajib menikahkan anak-anaknya"
"Halah kalian berdua jangan beralibi, Papa ini juga pernah muda. kalian pikir kami tidak bisa melihat dengan kedua mata kami, apa yang terjadi didepan mata, jelas-jelas kalian... ah sudahlah"
"Tidak ada komentar apapun hari ini juga kalian akan segera menikah titik!"
Arika langsung menghela nafas panjang ia ingin sekali berteriak dan menangis tapi semuanya percuma saja
"Tapi pa... tidak semua yang di lihat itu benar, karena kalian kan melihat dari sisi yang berbeda"
"Bian hentikan pembelaan mu, bagaimana mungkin kami percaya dengan kalian berdua, dari semuanya sudah cukup menjelaskan sudah sejauh mana hubungan kalian berdua, pokoknya tidak ada jawaban apapun kami tak mau mendengarkan apapun ocehan kalian"
Arika langsung menoleh kebelakang wajahnya tampak sangat cemas
Bian sekarang bagaimana kenapa jadi begini sih...
Dengan bahasa batin mereka saling melemparkan keluh kesah
__ADS_1
"aku juga Arika bagaimana sekarang!"