Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 205


__ADS_3

Silvi menangis tersedu-sedu , mereka berdua berbicara di sebuah lorong rumah tersebut untunglah tak ada kerabat yang berada disana hanya mereka berdua saja


"Mama bingung apa lagi yang harus mama lakukan agar Mbak Siska bisa kembali bersama kamu lagi disini , seharusnya aku bahagia karena menjadi istri satu-satunya papamu , namun perasaan tak bisa dibohongi aku tak akan pernah bisa menggantikan posisi mbak siska di hati papamu Nak, takdir . percintaan ini memang sangat kejam sekali bagaimana caranya untuk mengembalikan semuanya lagi , sangat mustahil , Mama tau pasti hati mbak Siska sangat sakit sekali , mama juga tak mau ini terjadi Nak "


Arika juga ikutan menangis tersedu-sedu Sepertinya dirumah ini hanya ada tangisan air mata saja yang terasa


Mama berhentilah menyalahkan diri Mama


Arika tau semuanya , Arika mengerti bagaimana menjadi mama, dan juga Papa, jika saja nanti Panji bisa mengubah tradisi keluarga kita , agar tak ada lagi perbedaan Antara anak laki-laki dan perempuan , semuanya ada ditangan Panji


Perlahan namun pasti semuanya harus dikatakan juga , Arika harus segera pulang untuk menghadiri pernikahan Siska , jika tidak hadir maka pasti mamanya akan curiga dengan apa yang terjadi nantinya


namun ia takut jika Silvi merasa tersinggung


Bagaimana caranya agar aku mengatakan ini pada Mama, tapi nanti jika tidak aku katakan pada mama ,haduh ...ribet tapi baiklah aku akan mengatakan ini pada mama ,saat ini juga


Dengan perlahan-lahan Arika mulai berbicara dengan lembut sekali pada Silvi


"Ma, Arika harus pulang besok pagi , Arika takut jika mama Siska sampai berpikiran yang tidak-tidak nantinya , setelah itu Arika akan kembali lagi kesini "


"Arika tidak memberi tau apa yang terjadi disini , mengenai Papa dan nenek ?"


Ia langsung menggelengkan kepalanya dan menundukkan wajahnya


"Sepertinya tak ada yang harus diberi tau kan Ma, nanti bisa merusak kebahagiaan mama "


Silvi langsung kaget ia merasa curiga


"Ada apa Nak , memangnya kenapa , apa mbak Siska dan Arya akan segera menikah "


Arika terdiam ia tak mungkin menceritakan semuanya , itupun karena ia yang meminta mereka untuk segera menikah


Mama Silvi ,mamaku dan om Arya akan segera menikah , mereka tinggal menunggu saja aku untuk pulang kerumah , aku tak mungkin mengatakan pada kalian soal ini kan Ma ,iya mama Siska akan segera menikah dengan om Arya , aku harus segera pulang besok pagi


Karena papa Arjuna ada mama disisinya , sedangkan mama Siska dan om Arya sama sekali belum pernah merasakan kebahagiaan yang dalam Ma, maafkan Arika soal ini


"Ma, maafkan Arika harus kembali besok, setelah itu Arika akan kembali kemari , Arika janji ,ya Ma "


Silvi nampak cemas ia takut jika Arika tak akan kembali lagi " Nak tapi kau akan kembali kemari lagi kan Nak , Arika tak akan meninggalkan mama dan Panji hanya berdua saja kan dalam menjaga papa Arjuna Nak ?"


Tanya Silvi dengan cemas tangannya terasa dingin , Arika sangat paham betul apa yang sedang di rasakan oleh Silvi , ditinggalkan oleh mamanya ,suami sedang sakit dan cinta yang tak kunjung ia dapatkan


Arika berusaha untuk untuk menghibur Silvi setidaknya dengan kehadirannya ia dan juga Panji akan membuat semuanya menjadi bahagia kembali


"Iya Ma , jangan khawatirkan itu , Arika hanya pergi sebentar saja setelah itu akan kembali lagi kemari untuk menemani mama dan papa jangan cemas Ma"


Silvi kembali mengiba,bukannya egois tapi ia memang tak tau lagi dengan siapa ia akan bercerita dan bergantung hidup


"Kau tidak berbohong kan Nak "


Silvi sangat takut jika Arika tak akan menepati janjinya karena melihat dari gerak-geriknya sebelum Siska dan Arika pergi ,ia takut jika ia akan ditinggikan seorang diri , sedangkan Kirana adik Arjuna ia sejak menikah ikut tinggal dengan suaminya di luar negeri , seperti hari ini saja , ia hanya bisa menghadiri acara pemakaman Sebentar saja setelah itu ia langsung pergi meninggalkan rumah mereka ,sesaat setelah berpamitan dengan Arjuna yang sedang terbaring lemah tak berdaya


"Maafkan Kirana harus segera pergi Mas, sudah menjadi tugas seorang istri untuk patuh pada suaminya , walaupun mas Arjuna saat ini terbaring lemah seperti yang dialami oleh Mama saat itu , tapi Kirana tau apa yang terjadi didunia ini semuanya adalah atas izin Tuhan yang maha kuasa"


Kirana menghapus air matanya


Wajah Kirana sudah memerah karena menangis dari tadi namun tak ada alasan untuk ia tinggal lebih lama disana ,ia adalah seorang istri yang memiliki suami ,anak dan bisnis yang harus ia kerjakan


"Tante papa pasti akan baik-baik saja "


"Apa mbak Siska dan Arika juga ada disini ?"


Panji berusaha menjawab pertanyaan yang tidak akan mengundang pertanyaan buruk dari Kirana


"Kak arika saat ini sedang berada diluar bersama Mama, kalau mama Siska sengaja tak kami beritahukan jika Nenek meninggal karena kasihan juga nanti kalau mama harus bolak-balik "


Kirana kembali menangis dan duduk kembali disampingnya Arjuna


dan memegang kepalanya Arjuna


"Panji Tante sangat paham sekali bagaimana cintanya papamu dengan Mama Siska , ia melakukan segalanya untuk mendapatkan hati mbak Siska ,tapi ya sudahlah apa lagi yang hendak dikatakan lagi , karena ini semua sudah menjadi takdir "


Panji berucap singkat "Sebuah takdir yang dibuat oleh tradisi ,"


Kirana mengangguk "Kau yang akan memikul semuanya setelah papamu , kau yang akan memikirkan takdir dan nasib keluarga kita "


Panji Tersenyum bijak


"Panji tau Tante apa yang harus Panji lakukan jangan khawatir "


Kirana berdiri dan menghapus air matanya

__ADS_1


"Aku tak bisa lama-lama ditempat ini aku akan teringat dengan Mama dan tak akan bisa meninggalkan mas Arjuna nanti "


"Tante jangan menangis lagi ,hilangkan semuanya kesedihan ini "


Panji mendekati Kirana


"Panji jaga baik-baik mama mu Nak, sekarang hanya engkau saja yang menjadi tempat ia berbagi , lihatlah keadaan papamu tak akan mungkin bisa .. ntahlah ..."


Kirana tak sanggup lagi untuk berkata apapun


Hingga ia akhirnya memutuskan untuk segera pergi


"Mas .... Kirana pamit dulu ya ,mas yang kuat ya bertahan ,harus kuat mau lihat cucu kan , Arika belum menikah harus kuat ya ... lihat Arika menikah dulu , jangan nyerah Mas "


Kirana tak kuasa menahan tangisannya,tak ada respon apapun dari Arjunq


"Baiklah Nak , Tante pamit dulu ya , jangan sampai karena hal ini kau juga lemah , ingat jangan pernah tunjukkan air matamu dihadapan keluarga besar kita ,tugas anak lelaki itu sangatlah berat sekali "


Panji mengangguk mengerti setelah Kirana memberikan wejangan padanya ia pun langsung mencium tangan Kirana


"Tante hati-hati , terimakasih untuk semua wejangannya "


"Ya Nak jaga papamu baik-baik ya "


Kirana langsung memasang kacamatanya kembali dan setelah itu ia langsung keluar dari dalam kamar Arjuna


Sedangkan diluar ruangan Arika semakin bingung bagaimana caranya untuk menyakinkan Silvi yang benar-benar tampak khawatir sekali jika ia tak kembali lagi


saat ia galau Kirana muncul dari dalam kamar Arjuna dengan kacamata hitam yang sejak tadi tak dilepaskannya


"Tante Kirana ?"


Arika buru-buru berdiri dan langsung menghindar ia tak mau jika Kirana akan bertanya panjang lebar dengannya apa lagi selama ini Kirana sama sekali tak pernah ikut campur kehidupan didalam rumah tangga kakaknya yang ia tau setelah ia menikah ia melakukan tugasnya sebagai seorang istri yang baik


Untunglah Kirana melewati jalan yang berbeda


Tante Kirana ? hah untunglah ia tak melewati jalanan yang sama ,


Namun saat arika sedang bersembunyi , Kirana berhenti berjalan dan langsung berjalan beberapa langkah mendekati arah ia bersembunyi


"Jangan pernah lari atau sembunyi dari masalah, Karena sejatinya seorang yang lari ataupun bersembunyi adalah orang-orang yang sangat lemah yang tak bisa bertahan hidup ditengah keramaian "


Ucapan Kirana membuat Arika terdiam , karena apa yang diucapkan Tantenya Itu memang benar sekali ,


"Tante..."


"Cah ayu, apa yang kau lakukan itu , jangan pernah bersembunyi dari apapun Nduk , Tante sangat ingin melihat Arika tumbuh menjadi gadis yang kuat , karena didalam keturunan keluarga kita sama sekali tak pernah ada perempuan yang lemah ,lihatlah mamanya Panji , Tante dan eyang Putri mu , mereka memilih untuk menghadapi kenyataan hidup bukan lari dari masalah "


Arika hanya menagngguk saja ,tak mau membantah apa yang dikatakan oleh Kirana tersebut


"Ya sudah Tante mau pulang dulu, jaga kedua mamamu baik-baik ya Nduk "


memeluk Arika


"Baik Tante "


Menatap kepergian Kirana hingga menghilang dari bayangannya ,


ia pun langsung berjalan menuju Silvi yang masih duduk diatas kursi sambil menangis dengan tatapan kosong


Arika kembali memikirkan perasaan Silvi yang dari tadi terus menerus berpikir untuk mencari kata-kata yang pas untuk menenangkan pikiran Silvi


"Bagaimana ini , aku tak mungkin juga meninggalkan mama Silvi seorang diri dalam keadaan yang sedih seperti ini , namun jika tidak pulang mama akan semakin curiga karena aku hanya berjanji satu hari saja "


Kemudian sebuah ide yang sedikit gila muncul diotaknya


"Yah benar, aku ada ide bagaimana kalau mas Raja saja yang aku tinggalkan , nanti aku akan menyuruh Panji untuk mengantarkannya keliling kota apa lagi mas Raja kan suka jalan-jalan , lagi pula libur kuliah nanti bisa diatur juga sama mama . kan Tante Ana yang punya gedung kampus tersebut nanti bisa gampang lah "


Arika pun tersenyum bahagia karena ia mendapatkan ide secemerlang itu menjadikan Raja sebagai jaminannya kembali


meski terkesan kurang ajar tapi hanya itu satu-satunya cara agar membuat Silvi menjadi tenang kembali


Arika menarik nafasnya dalam-dalam


"Mama jangan khawatir ,nanti mas Raja anaknya om Dimas akan tinggal disini ,sampai Arika kembali , ya Ma .


jangan khawatir ,Arika ini sama seperti mama


akan selalu menepati janji "


Silvi mengangguk perlahan raut wajahnya nampak berubah menjadi sangat lega sekali karena mendengarkan Raja akan tinggal disana sebagai jaminannya

__ADS_1


"Baiklah mama percaya Nak, apa lagi kamu meninggalkan Masmu itu , nanti biar mama suruh Panji menyuruh orang untuk mengajaknya keliling tempat ini , karena mama tau dari bentuknya saja ia sepertinya betah di sini , kota ini sangat indah mama akan membuat ia betah disini "


Hmm mama kenapa harus berbohong ,dari bentuknya ? hadeh . Mas Raja kan bentuk bandit , meski ia bukan bandit berdasi


tapi asal mama tau hatinya sangat baik , semoga saja ia betah , karena ia tak akan pernah bisa marah padaku , padahal ia bukan sepupu kandung ku


"Ayo Nak sebelum kamu berangkat besok pagi , sebaiknya Arika tidur dikamar papa saja ,ada kasur juga di sana"


"Iya Ma , tapi bukannya malam ini akan diadakan pembacaan doa dan sedekah untuk Nenek , arika harus segera berangkat sore ini Ma "


"Iya Nak ,tapi jangan khawatir , acara doa. Nenek akan dilakukan didepan "


Arika langsung memeluk Silvi


"Terimakasih Ma, untuk semuanya ,Arika sangat menyayangi Mama dan Panji , terimakasih untuk semuanya Ma "


"Terimakasih untuk apa Nak ,mama lah yang sudah membuat kalian semua harus terpisah begini Nak "


"Ma berhentilah membicarakan takdir karena semua adalah kehendak Tuhan jika ia tak mengizinkan semuanya tak akan pernah terjadi"


Silvi yang tak tau menahu jika sebelum kepergian mamanya , Arika sudah mengetahui apa yang sebenarnya mereka simpan dan tutup rapat-rapat selama ini tentang rahasia mereka


Arika langsung mencium tangan Silvi berkali-kali biar bagaimanapun ia adalah ibu kandung Panji yang telah melahirkan adik laki-lakinya , dan juga istri papanya


"Nak sebelum kau pergi ,mama ingin mengajukan pertanyaan padamu "


"Ya Ma tanyakanlah apa yang ingin mama tanyakan ?"


Silvi menatap wajah Arika "Kenapa kau berubah menjadi baik begini dengan Mama nak?"


Deg..


Pertanyaan dari Silvi langsung membuat Arika menjadi sangat galau sekali


"Kenapa mama malah bertanya seperti ini apa ia tak melihat sebuah ketulusan dari mataku atau ia mulai mencurigai rahasia yang ada pada nenek "


Ingatan Silvi terkenang pada beberapa belas tahun silam mengenai rahasia itu


apa lagi kepergian ibunya yang secara mendadak tersebut


Berjanjilah ibu tak akan memberi tau siapapun rahasia besar ini


Tangan ibunya naik keatas


"Ibu bersumpah tak akan memberitahukan rahasia ini pada siapapun , jika sampai hal ini terjadi maka ibu akan meninggal dunia hari itu juga saat ibu membuka rahasia ini "


Deg ...


Silvi terdiam ,meski tak ada hubungannya sama sekali antara kematian dan rahasia itu ,namun tetap saja Silvi curiga


Arika langsung tersenyum manis


"Mama jangan khawatir bukankah tidak ada kata terlambat untuk berbakti kepada orang tua "


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arika Silvi langsung memeluk Arika dengan erat


"Terimakasih anakku aku sangat bahagia sekali mendengarnya ,kau juga ingin berbakti kepadaku ternyata ,mama sangat bahagia Nak "


mengecup kening Arika berkali-kali


Sementara itu didalam kamarnya Arjuna


Arjuna yang terbaring dengan lemah sayup-sayup memanggil nama Siska dan Arjuna dengan terbata-bata dan perlahan


"Arika... Arika...,Siska ..."


Suara Arjuna Terdengar sangat jelas sekali seperti sebuah mukjizat yang didengar oleh Panji dengan sangat jelas sekali "Papa..papaa..."


Tangan Arjuna naik keatas seolah-olah meminta untuk didudukkan"


"Paapaaa , kenapa Pa ?"


Panji langsung mendekatinya dan sangat takjub sekali dengan apa yang ia lihat


Wajah Panji langsung panik namun juga bahagia karena papanya menunjukkan kemampuan yang sangat luar biasa sekali dengan kondisi yang sangat lemah ia masih semangat untuk


Arjuna perlahan melepaskan tutup oksigennya


"Pa , jangan Pa "


Arjuna langsung berbicara dengan perlahan

__ADS_1


"Mana Arika ?"


__ADS_2