
"Alea!"
Gadis manis yang mencuri hatinya itu sedang berdiri dihadapannya, dengan wajah yang sangat cantik sekali baginya, apa lagi saat itu Alea memakai baju yang membuat warna kulitnya semakin terlihat dengan jelas
"Aku belum sanggup bertemu dengannya saat ini, sebaiknya besok saja aku bertemu dengannya, aku tak siap"
Raja langsung panik sekali, karena terlalu panik ia pun langsung banting setir, ia benar-benar belum siap untuk bertemu dengan Alea setelah kejadian malam itu di telpon.
apa lagi, didalam pikirannya saat ini Alea sudah tak suci lagi seperti yang ia pikirkan
pikiran negatif itu muncul karena ulah Arya yang mengerjainya
"Apa yang sedang dilakukan Alea dirumah ini, apa dia gak pulang kerumahnya saja, bukankah arika tidak ada, tapi sebaiknya aku segera pergi saja dari tempat ini dulu"
Dengan bakat mengemudinya yang membahana sangat mudah sekali bagi Raja untuk meninggalkan tempat itu dengan satu kali sentuhan yang halus sekali, ia langsung tancap gas dan bye...
Brumm...
brumm....
Mobil menghilang seketika
Alea kebingungan,
"Lah itu Arika kenapa malah menghindar pula, mau kemana dia, hei Arika, hei...kau mau kemana?"
Alea terus melambaikan tangannya agar mobil tersebut berhenti, tapi hanya sia-sia saja Raja sudah pergi jauh dari bayangan Alea,
"Huh untunglah ia tak mengejarku sampai keluar, sebaiknya aku berkeliling kompleks ini saja dulu, setelah lima menit baru kembali lagi pulang, sebaiknya mobil Arika di rumahku saja dulu, sampai kondisi aman dan terkendali"
Alea langsung berkacak pinggang
"Astaga anak itu mau kemana sih dia, perasaan dari tadi aneh-aneh terus saja tingkahnya, ya sudahlah aku sangat capek, lebih baik aku tidur siang saja dulu, setelah itu terserahlah nanti, hoammm...."
Alea menggaruk kepalanya dan langsung kembali masuk kedalam rumah
"Hmm, aku sungguh sangat lelah sekali, ingin segera istirahat, tapi sebaiknya dikamarnya mama Siska saja, karena kamar Arika lagi berantakan seperti kapal pecah "
Alea langsung berlari masuk kedalam kamarnya Siska karena ia kelelahan seharian ini
Cekrek ...
"Kamar mama bersih,rapi dan wangi aku suka, benar-benar mama Siska grilly sekali"
Memegang kasur Siska "Lembut sekali"
Alea langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur
"Bisa mimpi indah aku siang ini, selamat tidur semuanya, bidadari cantik mau istirahat dulu
Tapi baru saja ia mau tidur, ia malah kaget saat melihat Poto yang menempel didinding kamarnya Siska
"Cantik sekali siapa itu?"
Alea langsung berdiri dan melihat Poto Siska, Ana dan Rima yang tertempel disamping kaca
"Ya ampun Tante Ana dan mama Siska sungguh cantik sekali ternyata,dan sama sekali tak ada yang berubah dari mereka"
Alea sampai ternganga
"Apa nanti aku dan Arika akan secantik itu juga ya?"
memperhatikan wajah mereka semua
"Eh tapi tunggu dulu, yang gendut ini siapa ya? malah merusak pemandangan saja, udah gendut pake kacamata, ditengah-tengah pula, untung saja Tante Ana dan mama Siska orangnya tak suka pilih-pilih teman"
Alea tertawa
"Upss bukannya Tante Rima juga teman mereka? tapi kenapa tak ada Potonya dikamar mama Siska?"
Alea melihat sekeliling jika ada Poto-poto yang tertempel sekali, tapi tidak ditemukannya
"Hmm sebaiknya aku istirahat saja, nantilah aku tanyakan langsung dengan mama Siska mana Poto Tante Rima, tak mungkin juga aku ngacak- ngacak kamar ini buat nyariin Poto mereka semua"
Alea langsung kembali merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya
"Hoamm..."
Dalam beberapa menit Alea sudah kembali berlayar ke pulau kapuk.
.....
Di Hotel
Setelah Arya bertanya dimana letak kamar hotelnya, ia langsung saja naik keatas
meski wajahnya sudah sangat merah sekali karena ditertawakan para staf dan petugas hotelnya
Hmm aku tak perduli apa yang sedang kalian pikirkan yang terpenting aku saat ini akan segera mendapatkan apa yang aku inginkan, yaitu cinta Siska seutuhnya dengan segala jiwa dan raganya
"Aku langsung keatas saja ya"
meninggalkan Siska yang masih mengobrol dibawah, kebetulan juga salah satu staf adalah temannya waktu kuliah dibelanda dulu
"Jadi itu suamimu Siska?"
__ADS_1
tanya temannya dengan mengedipkan matanya
"Ya begitulah, dia adalah cinta yang telah lama hilang tapi dipertemukan kembali"
Siska tertawa
"Are you sure, oh manis sekali Siska, mm baiklah. Aku harap kalian selalu berbahagia ya"
Sambil tertawa
"Kau sendiri sudah berkeluarga?"
tanya Siska, Karena Siska yakin ia sudah berkeluarga apa lagi dulu ia termasuk salah satu gadis cantik di kampusnya, banyak sekali bule-bule disana yang mengaguminya karena warna kulitnya yang eksotis itu
"Sudah, aku sudah memiliki sepasang anak kembar, tapi itu tadi , aku memutuskan untuk berpisah dengan Suamiku karena tidak cocok, biasalah orang bule tidak betah tinggal di negara kita, dari pada aku harus kembali kesana,ya akhirnya kita memutuskan untuk berpisah baik-baik saja"
Mereka pun berbincang cukup lama sekali, sambil bercerita tentang kehidupan teman-teman yang lainnya, hingga lupa waktu jika ada Arya yang sudah tak sabar lagi menunggunya naik keatas
"Siska belum juga naik?"
Arya nampak mondar-mandir dari tadi, sudah seperti gosokkan saja, bolak-balik, sampai kepalanya pusing karena sudah mondar-mandir berkali-kali , "Kemana nyangkutnya "
Sudah cukup lama sekali Siska tak muncul dari tadi ada sekitar tiga puluh menit, namanya juga wanita. apa lagi kalau sudah mengobrol bersama dengan teman-temannya maka semuanya akan terlupa begitu saja.
"Siska, oh lama sekali ia mengobrolnya ini yang aku takutkan ia asik mengobrol dan bercerita, sampai lupa jika sekarang ia sudah berkeluarga, ahh..Siska lama sekali"
Padahal ia sudah bertegangan tinggi dan sudah siap untuk memberikan penyerangan berkali-kali,
"Sudah sangat gerah sekali aku"
ia langsung membuka pakaiannya karena gerah, Jas yang ia kenakan sudah dilemparkannya kesembarang arah, setelah lelah berdiri ia pun langsung duduk disamping sofa, "Semuanya jadi gerah sekali,padahal AC nya sudah sangat dingin" tempat itu justru membuat ia semakin gerah, tapi kali ini yang ia rasakan adalah gerah-gerah gimana gitu, mungkin karena efek cinta yang menggelora di dada juga makanya hawa AC di kamar itu sama sekali tak bisa ia rasakan wkwkwkw
"Tenang Arya tenang, paling sebentar lagi ia datang juga, bersabarlah karena Siska juga pasti sudah tak sabar ingin merasakan sensasi serangan dari kang mas Arya "
ucap Arya menghibur dirinya
Arya jungkir balik diatas kasur, membalikkan badannya berkali-kali kekiri dan kekanan tapi tak kunjung muncul juga Siska didepan pintu nya, ia sudah benar-benar sudah tak sanggup lagi menahannya, apa lagi telah lama sekali ia melakukan serangan manja ini
ia melihat jam berkali-kali
"Ya ampun kemana dia lama sekali sih"
Arya yang sudah hanya menggunakan handuk saja langsung membuka pintu kamarnya dan mengintip dari celah pintu untuk melihat Siska
"belum muncul juga argghhhhhhhh Siska, kau membuat aku semakin emosional saja ya!"
Arya berjalan mendekati lift
tapi kemudian ia langsung kembali lagi, untuk segera masuk kedalam kamar, ia baru sadar jika ia hanya menggunakan handuk saja.
Siska yang belum muncul membuat emosi Arya kembali memuncak ,aku sudah gerah sekali ini setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya aku akan ..."
"Kak Arya "
terdengar suara dari atas kepalanya dari arah yang berlawanan , membuat Arya langsung kaget, rupanya Siska sudah muncul, tapi ia tak mendengar sama sekali suara pintu kamar dibuka.
"Siska?!" Arya kaget dan ia langsung melihat Siska berada di atas kepalanya ia yang awalnya menggebu-gebu langsung kembali ciut sendiri nyalinya, karena saat ini hanya ada dia dan Siska saja dikamar itu
Duh, kenapa jadi deg-degan begini sih, padahal aku ingin sekali segera memeluknya, ternyata Arya nyalimu tak sekuat tenaga dalammu
"aku ingin ganti baju dulu ya kak"
Siska bersikap biasa saja dan ia langsung membuka pakaiannya dihadapan Arya
"Membuka baju?"
Arya belum siap untuk melihatnya setelah belasan tahun lamanya
Hari ini akan tiba, apa aku bisa melihat semuanya dengan jelas? lalu bagaimana jadinya jika nanti ia duluan yang meminta ya? sepertinya Siska akan menjadi penyerang utama?
"Gerah sekali pakaian ini"
Siska membuka sanggulnya dan juga mulai melepaskan pakaiannya
"Upps kak tolong bantu buka resletingnya aku tidak sampai"
Saat ini Siska hanya memakai kemben saja
"Iya baiklah"
Gugup sekali, dan tegangan jelas semakin tinggi, seperti bendera yang berkibar
anehnya Siska tak bertanya kenapa Arya hanya memakai handuk saja, mungkin karena Siska merasa mereka sudah sama-sama dewasa dan itu adalah suatu kewajiban jadi ya santai saja, justru Arya yang malah kelihatan sangat malu-malu sekali
Masih mulus sekali, bahkan aromanya masih sama , benar-benar menggugah selera, seperti nasi Padang saja
"Kak Arya terimakasih aku mau mandi dulu ya?"
Siska sudah tak mengenakan busana ia bahkan sungguh santai saja, langsung masuk kedalam kamar mandi, jangan ditanya bagaimana bentuk wajah Arya saat ini, mata melotot, tegangan tinggi dan juga air liur yang hampir jatuh meleleh karena melihat kerumunan hutan belantara yang masih sangat hijau dan rindang
Deg ...
deg...
jantung nya berdetak lebih kencang sekali saat melihat Siska yang berdiri dihadapannya
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya suamiku, aku harus mandi dulu, cantik dan wangi adalah prinsip hidupku untuk membahagiakan suami".
Bug ..
pintu tertutup dan terdengar suara air
"Amboyy mulus seperti jalan tol, Siska sebenarnya aku tak perlu kau mandi dulu, kenapa tak nanti saja kita mandi berdua,kan lebih romantis juga"
mengusap wajahnya dan memaki mundurkan tubuhnya seperti sedang menarik sesuatu
Tapi kemudian kepala Siska kembali keluar dari kamar mandi, dan memanggil Arya dengan sangat lembut sekali
"Kak, aku lupa sesuatu, tolong ambilkan handuk itu disana?"
"Oh handuk"
Arya langsung membuka handuknya dan memberikan pada Siska
"Ini pakai handukku saja?"
Tuwiwww....
Sekarang giliran Siska yang kaget melihat bendera yang tegak berdiri
Astaga, ya ampun ...
baiklah Siska siap-siap saja kalau begitu
Siska juga kaget saat melihat senjata tua yang masih berdiri dengan kokohnya tersebut, setidaknya ia tau jika bentuk senjata yang akan menyerangnya nanti
"Ada lagi yang ingin kau sampaikan istriku tercinta?" tanya Arya
"Iya nanti kalau handphone ku berbunyi tolong angkat saja, kalau ada yang menelpon takutnya klien,tak enak pula kan, mereka juga tak ada yang tau jika aku melangsungkan pernikahan hari ini"
"Siap"
Arya berbicara dengan biasa tapi dengan senjata yang sudah memberonta-ronta dan Siska melihatnya dengan jelas
"Sabar ya sabar sebentar lagi"
Arya mengelus senjata tuanya itu saat Siska sudah kembali masuk kedalam kamarnya
Untuk menunggu Siska selesai mandi, Arya pun langsung berguling-guling diatas kasur, tiba-tiba suara handponenya Siska berbunyi
Kring...
kring...
"Kacau siapa yang menelepon disaat seperti ini malah menganggu saja, aku akan memberi tahunya jika kami sedang berbulan madu"
Arya melihat nomor yang tak dikenal menelpon Siska yang telah sah menjadi istrinya itu, tentu saja rasa cemburunya pada Siska masih sama besarnya dengan rasa cinta yang ada pada dirinya saat ini, apa lagi Siska adalah janda cantik dengan sejuta pesonanya
"Siapa ini ?"
langsung mengangkat handponenya Siska dengan suara yang keras dan tidak menyenangkan
"Halo..."
"Maaf menganggu Om,apa saya bisa berbicara dengan Mama Siska ?"
Arya langsung kaget karena ada suara lelaki yang memanggil istrinya dengan panggilan Mama "Mama Siska, sejak kapan ada laki-laki yang memanggil Siska Mama?"
hati Arya langsung bertanya-tanya, dan ia kembali curiga
Apa dia berondong piaraan Siska? atau sebenarnya Siska memiliki anak yang lebih dari satu, tinggal bersama Arjuna?
Tapi untunglah Siska cepat keluar dari kamar mandi, jadi pikiran Arya tak sempat berkembang biak terlalu dalam lagi
Siska melihat Arya sudah memegang handphonenya
"Ini ada yang menelpon"
menunjukkan handphone ditangannya
"Siapa yang menelepon kak ?"
sahut Siska dengan wajah sangat manis sekali
membuat Arya semakin berbunga-bunga saja, rasa kesalnya dan tanda tanya yang besar langsung sirna seketika
"Tidak tau katanya ingin berbicara denganmu?
Meski wajah Arya berubah menjadi kecut, karena ada laki-laki yang memanggil istrinya dengan sebutan Mama, karena yang ia tau hanya Arika saja anak Siska, meski ia tak mau mempermasalahkan sedikitpun tentang masa lalunya Siska, apapun itu bentuknya, rap tetap saja rasa cemburu di dada Arya benar-benar sungguh membara, apa lagi belum ada pertarungan sama sekali
"Ini ambillah jawab saja telponnya"
memberikan handphonenya pada Siska
"Kakak saja yang tanya ada perlu apa, lihat aku belum memakai apa-apa"
"Halah nggak usah pakai apa-apa lebih bagus, lebih nampak semuanya, dan aku bisa memandang dengan bahagia"ungkapnya dalam hati
"Sudah ini angkat saja dulu, beri tahu yang menelpon kalau kau sedang berada bersama suamimu, biar nggak menelpon lagi"
Panji deg-degan meninggu jawaban telpon dari Siska "Ya Tuhan, semoga saja mama, mau mengerti dan bisa datang kemari dulu, hanya sekali ini saja, takutnya Papa akan pergi dan memang sengaja mau menunggu kehadiran mama"
__ADS_1
Ucapnya dalam doa,ia benar-benar sangat kacau sekali.