
"Pa, ini Panji, kak Arika dan mama Siska"
mendekati Arjuna.
Panji selalu ingat nasehat yang diberikan oleh Arjuna padanya "Nak, ingatlah jadilah laki-laki yang bijak, jangan menangis disaat yang lain terluka, kau adalah laki-laki. ingatlah bagaimana tugas laki-laki ia harus kuat dari yang lainnya, Panji tau kan, kenapa Tuhan mengizinkan Panji lahir kedunia, Panji lah nanti yang akan menggantikan posisi Papa untuk memimpin keluarga kita, jadilah laki-laki yang kuat, karena Papa tidak suka melihat air mata jatuh di pipinya anak Papa, apa Panji pernah melihat Papa menangis?" Panji terdiam.
Jawabannya adalah ia sama sekali tidak pernah melihat air mata tumpah dipipinya Arjuna, seberapa besar konflik batin yang terjadi didalam hidupnya, Arjuna selalu menunjukkan sikap ksatria, jika ia selalu baik-baik saja.
Tapi baru kali ini ia melihat Papanya mengeluarkan air mata.saat berbicara dengan Siska, ia juga berusaha untuk melepaskan tutup oksigen yang terpasang di mulutnya tersebut
Terlihat jelas jika ia benar-benar jatuh terpuruk saat Siska pergi dari sisinya, sungguh sebuah tradisi keluarga kaya yang merenggut segalanya, itulah seorang ksatria, Arjuna tak pernah menunjukkan bagaimana sebenarnya ia begitu sakit sekali menjalankan semuanya, tapi demi harga diri keluarga besarnya ia harus merelakan kisah cinta dan hidupnya
" Siska ..."
"Arjuna iya, aku disini, katakanlah apa yang ingin kau katakan?"
Siska memegang tangannya Arjuna dengan lembut sekali
air matanya tak henti-hentinya terjatuh
sebenarnya ia ingin bertanya tentang berkas yang ia bawa itu pada Arjuna, namun melihat kondisi Arjuna yang tidak memungkinkan untuk diajak bicara, ia simpan saja dulu, karena Silvi masih ada untuk menjelaskan semuanya..
Tapi masih untung juga Silvi masih ada, bayangkan saja jika Silvi, Arjuna dan neneknya Panji sudah tidak ada lagi didunia ini,dan tidak sempat memberitahukan kepada Arika ataupun Panji, maka rasa sakit Siska dan Arika akan berlanjut hingga kapanpun.
tapi itulah kuasanya Tuhan, semuanya di buka saat detik-detik terakhir kehidupan mereka semua.
"Ma..a.f.."
ucap Arjuna perlahan. Siska pun langsung mengangggukkan kepalanya, dengan air mata yang masih sama. deras sekali keluarnya
"Iya aku maafkan semuanya, bertahanlah demi anak-anak. lihatklah ada Silvi yang selalu ada untukmu dalam kondisi apapun, bertahanlah aku mohon!"
Panji, Siska dan Silvi langsung mendekat, benar-benar sebuah kuasa Tuhan saat ini, diluar nalar manusia.Arjuna bisa sadar dan berbicara sepatah dua patah kata pada mereka"Jaga mama Nak"
Arjuna berbicara perlahan dengan Panji mengisyaratkan untuk menjaga Silvi sepertinya
Karena ia menatap Silvi, istri sekaligus adik sepupunya.
Panji berusaha tegar tapi ia juga tetaplah manusia biasa, air matanya akhirnya mengalir deras juga didepan Arjuna, ia yang paling menyedihkan sebenarnya, lahir kedunia dengan proses yang cukup panjang
"Iya Pa,"
"Arika sayangi adikmu Nak, dan juga sayangi Tante silvi "
Dengan terbata-bata
"Aku minta maaf padamu Silvi, aku izinkan kau untuk menikah lagi, Tapi aku mohon jangan pernah lupakan Panji, dan Siska maaf untuk semua luka ini, sampai akhir hayat kau telah banyak menahan rasa sakit yang amat dalam, maafkan aku telah menyakitimu. tapi sungguh aku sangat bersyukur bisa menjadi suamimu"
ucapan terakhir Arjuna pada Silvi, yang membuat matanya berkaca-kaca, ntah itu tulus dari hatinya atau bagaimana tapi kalimat tersebut membuat Silvi semakin yakin jika setelah Arjuna ia tak akan pernah menikah lagi, ia akan mengabdikan hidupnya untuk orang-orang yang kurang beruntung disekitarnya.
Matanya langsung terpejam ia pun kembali langsung tak sadarkan diri. terlihat dengan jelas garis di layar Monitor pun sudah lurus saja,tanda sudah tak ada lagi nyawa kehidupan di dalam tubuhnya.
"Papaaaaa!"
teriak Arika seketika, setelah menyadari jika Arjuna sudah tidak ada lagi
"Papa, bangunlah Papa jahat sekali pergi dengan cara seperti ini, Arika masih ingin bersama Papa".
"Cepat panggilkan dokter, mana Dokternya, tolonglah , lihatlah Papa saya ini!"
Teriak Arika berkali-kali.
Arya yang sedang duduk diluar, langsung masuk kedalam karena terdengar suara jerit Tangis yang sangat ribut sekali dari dalam
"Arjuna!"
apa yang ia takutkan benar-benar terjadi, Jika kesadaran Arjuna hanyalah sebagai pertanda, saja untuk Arjuna berpamitan pada Siska,dan yang lainnya
"Ada apa?"
teriak Arya dengan panik
"Papaaa!"
Arika sudah tak terkontrol lagi.
Saat bersamaan tim dokter masuk dan memeriksa Arjuna
"Dokter cepat tolong lihat kondisi Papa saya ?"
Arika sangat histeris sekali, ia belum bisa menerima kenyataan jika Arjuna telah tiada.
__ADS_1
"Baik, tenangkan diri anda dulu,Nona kami akan memeriksa Papa anda"
"Cepat dokter, cepat lakukan yang terbaik untuk Papa saya"
"Sebentar Nona, sebaiknya anda tenang dulu"
Tim dokter pun langsung mengeluarkan alat pengejut jantung, tapi hasilnya nihil,Arjuna sudah tidak ada lagi didunia ini
Wajah mereka nampak sangat sedih sekali, melihat keadaannya, tapi mereka hanya manusia biasa, saat semuanya sudah pergi dan tak akan kembali, apa lagi yang mau di kata, takdir kehidupan Arjuna sudah sampai disini
"Maafkan kami, kamu sudah berupaya semaksimal mungkin tapi Tuan Arjuna sudah tidak ada lagi, kami semuanya turut berdukacita atas kematian Tuan Arjuna"
"Paapaaaaaaa!"
Arika sampai jatuh pingsan, karena ia sangat menyesal telah berpikiran buruk selama ini tentang Papanya.
"Kak Arika!"
Panji langsung menggeser tubuhnya Arika
"Kak ... bangun kak, kakak harus kuat kak,jangan begini Kak, Panji ingin kakak kuat seperti Panji kak, jangan membuat Panji sedih kak"
Silvi hanya tersandar dengan tatapan kosong menatap tubuh yang sudah tak ada jiwa tersebut.
"Baru saja ibu meninggalkan aku, dan sekarang kau juga pergi Mas, apa sebatas ini saja pengabdianku pada suamiku, apa sudah jadi takdirku jika aku tak bisa lagi melihat wajahmu Mas, hanya sekedar melihat wajahmu saja, dan tak akan bisa memiliki jiwanya, kau begitu tenang dan bahagia saat melihat Mbak Siska yang telah tiba disampingmu, Mas, apa kau tak ingin lebih lama hidup bersamaku"
Arya langsung memeluk Siska,
"Kak Arya!"
Siska menangis sejadi-jadinya dipelukan Arya
tak menampik, jika ia juga terluka dengan keadaan ini, hanya saja ia sekarang sudah menjadi istrinya Arya, tak mungkin ia menunjukkan sikap yang berlebihan atas kehilangan Arjuna, karena banyak hati yang harus di jaga.
"Sudah tenangkan dirimu, Arjuna sudah tenang sekarang, ia tak perlu menanggung rasa sakitnya lagi, sudah ya, ia tak lagi menderita karena rasa sakitnya, yang tenang ya"
mengusap kepala Siska
"Aku tidak tau jika ia sakit seperti ini kak"
menangis tersedu-sedu
Panji langsung memeluk Silvi yang juga sangat rapuh sekali, bayangkan saja cinta yang tak ia dapatkan dari Arjuna, tapi ia tumbuh menjadi istri dan ibu yang sangat baik sekali
"Mama yang kuat Ma. Panji tak akan membiarkan Mama seorang diri didunia ini, Panji akan selalu menjaga Mama sampai kapanpun, Mama tak akan sendirian ada Panji Ma,"
"Mama seorang diri, menghadapi semua ini Nak"
Sebenarnya Silvi menyimpan beban atas banyaknya rahasia didalam pernikahan mereka. yang hanya di ketahui Arjuna dan ibunya saja
itulah yang membuat ia benar-benar merasa kehilangan.
"Arika, bangunlah Nak"
Silvi mengelus kepala Arika
Arika masih tak sadarkan diri, tim dokter dan perawat pun langsung melepaskan alat-alat yang masih terpasang di tubuh Arjuna.
"Permisi Bu, kita akan. melepaskan alat-alat yang terpasang ditubuhnya Tuan Arjuna dulu'
Siska langsung melihat kearah Arya, ia seperti sedang memohon untuk melepaskan Arjuna untuk terakhir kalinya
"Kak .... "
"Apa bolehkah aku mencium dan memeluk Arjuna untuk terakhir kalinya, karena nanti di akhirat aku juga tak akan mencarinya lagi karena ia bukanlah imamku lagi"
sambil menangis tersedu-sedu
Arya langsung mengerti dan tersenyum "Lakukanlah tak masalah bagiku, kau melakukan itu. ia adalah laki -laki yang selama belasan tahun menjadi suamimu, dan juga ayah dari anak kandungmu, jangan khawatir aku baik-baik saja"
"Terimakasih Kak"
Siska langsung memeluk Arya dan
mencium pipi Arya terlebih dahulu
Dengan lembut Siska langsung mencium pipi Arjuna untuk terakhir kalinya,dan berbisik
"Arjuna kau sangat hebat sekali. telah membuat aku menjadi terluka selama ini, rupanya rasa cintamu lebih besar dari segalanya, aku belajar banyak darimu, kau yang mencintaiku dengan cara unik, aku tak mengerti bagaimana isi hati dan tujuanmu, tapi terimakasih karena pernah menjadikan aku ratu didalam kehidupanmu
dan aku juga bahagia ternyata Panji adalah anak kita kan? sebenarnya aku sangat marah padamu, kau tega sekali tak memberi tahu ku, kenapa? tapi ya sudahlah, aku ikhlas melepaskan semuanya., pergilah dengan tenang Arjuna, titip salam dengan Mama dan Papa, karena tidak ada mantan mertua didalam hukum agama kita"
__ADS_1
Tangisan Siska kembali pecah
"Maafkan aku telah meninggalkanmu, maafkan untuk keegoisanku karena telah membuat kau, seperti ini, tapi tidak sepenuhnya karena kesalahanku"
Pikiran Siska terkenang kejadian beberapa tahun silam
"Percayalah aku tak akan mungkin menghianati cinta kita"
ucap Arjuna dengan tegas
lalu ia meninggalkan Siska seorang diri didalam kamarnya,
"Tidak menghianati cinta kita? tapi kenyataannya, Silvi sedang mengandung darah dagingnya, apa itu lucu baginya ha!
Dia sama saja seperti seorang penipu ulung"
Menangis didalam kamar,
Cekrek... pintu kamar terbuka
seorang gadis kecil masuk kedalam kamar
"Mamaaaa"
teriak Arika kecil dengan bahagia sekali
Siska langsung menghapus air matanya,
"Mama, kenapa mama menangis?"
ia memegang pipinya Siska
"Tidak ada Nak, tidak apa-apa, hanya tadi mata Mama sedikit perih saja"
"Mama, jangan menangis lagi ya, karena sebentar lagi Arika akan menjadi kakak, Arika akan punya adik Ma ..."
Hati Siska kembali seperti tersayat-sayat oleh sembilu, ia tau jika Arika masih kecil dan tak akan mengerti keadaan ini
"Mamaa ... pasti senang kan, karena Arika akan menjadi seorang kakak?"
ia sungguh sangat polos sekali
Andai saja kau tau Nak, Jika anak itu akan menjadi luka didalam hati Mama, mungkin kau tak akan sebahagia ini, hati perempuan mana yang sanggup di madu, didepan mata, jika bukan karena sebuah tradisi dan memikirkan nasibmu, mungkin mama tak akan bisa bertahan sekuat ini, mama tak bisa menghapus rasa bahagia mu, apa lagi memisahkan engkau dan papamu, cukup mama saja yang kehilangan rasa cinta dan kasih sayang seorang Papa dari kecil,
Ucap Siska lirih
Satu, bulan berlalu, awalnya sikap Arjuna masih normal-normal saja, setelah beberapa Bulan berlalu ia menunjukkan sikap yang sangat perhatian sekali pada Silvi, apapun yang diinginkan Silvi ia turuti bahkan, Arika juga dilarang untuk meminta gendong dengan Silvi
"Arika, tidak boleh minta gendong sama Tante Silvi ya, lihat didalam perutnya ada adiknya kakak Arika, ya Nak..."
Padahal ucapan Arjuna itu sangatlah lembut sekali, tapi Siska menjadi sangat sakit hati.
Belum lahir saja anaknya,ia sudah membuat Arika seperti itu, bagaimana nanti setelah anaknya lahir, bisa jadi putriku akan diperlakukannya dengan semena-mena lagi
Semenjak saat itu Siska berusaha untuk mengurangi perasaannya untuk Arjuna, karena jika ia terus -menerus menyimpan perasaannya maka itu akan semakin sakit, butuh waktu untuk ia mengurangi rasa pedulinya pada Arjuna, hingga akhirnya ia berhasil melupakan perasaannya ia bersikap seperti biasa,
dan bahkan lebih tanpa rasa lagi, menunggu waktu untuk bisa pergi dari sisi Arjuna, hingga saatnya tiba, rasa cinta yang sudah berganti menjadi rasa sakit itu. hilang sirna tanpa ada rasa sama sekali, kesakitan bertahun-tahun yang tak sengaja diciptakan oleh Arjuna, membuat Siska lupa bagaimana seharusnya menunjukkan rasa cinta, untunglah Arya datang didalam kehidupannya di waktu yang tepat, rasa sakit yang selama ini tercipta mulai menipis dan berganti dengan rasa cinta, tapi lagi-lagi ujian muncul kembali, salah satu fakta yang disembunyikan oleh Arjuna tentang Panji membuat hati Siska kembali tercabik-cabik lagi
"Aku bukan belum ikhlas, tapi kenapa kau banyak sekali menyembunyikan segalanya dibelakangku,apa aku ini tak cukup pantas untuk membantu meringankan bebanmu"
Siska masih meratapi kepergian Arjuna,
"Ma, tolonglah ikhlas ini sudah jalannya"
ucap Panji
"Iya Siska, tak ada yang perlu kau sesali, inilah namanya takdir, ini sudah waktunya, jika bukan karena sakit ntah bagaimana lagi cara Tuhan untuk mengambilnya, yang jelas ini sudah janjinya, sakit yang ia derita selama bertahun-tahun lamanya, adalah penggugur dosanya, sudahlah sayang"
Siska memeluk Arya sambil duduk di kursi
Kak Arya, andai saja kau tau dokumen yang ada didalam tas ku ini, kau pasti tak akan bisa juga
sanggup seperti aku, bayangkan saja, anak yang aku benci adalah anak kandungku,yang di titipkan dalam rahimku, kau bayangkan saja , bagaimana sakitnya menjadi aku
"Mbak ikhlas mbak, kita semua boleh bersedih,tapi jangan meratapi Mbak"
Silvi menangis dengan tatapan mata yang kosong, seperti seorang yang tak tau arah lagi
"Ma ... Mama, harus kuat, karena Panji harus butuh Mama, jangan sampai Mama sakit, nanti Panji harus bagaimana jika kalian tak ada, kak Arika akan segera pergi, lalu Panji akan bagaimana"
Tangisan Panji, kembali membuat hati Siska tercabik-cabik.
__ADS_1