Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 210


__ADS_3

Siska sempat merasakan hal aneh saat Arika memeluk dirinya


Aku seperti merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arika , tapi apa cuma perasaan ku saja


kenapa aku merasakan ada hak yang sedang disembunyikan oleh putriku ,aku merasa Arika sedang tak baik-baik saja


"Arika kau baik-baik saja Nak ? mama merasa ada yang berbeda dari Arika ? ayo katakan Nak ? mengelus punggung Arika dengan lembut


Arika buru-buru melepaskan pelukannya


Jangan sampai mama curiga jika aku terus -menerus seperti ini , karena peeling seorang ibu itu sangatlah luar biasa sekali ,aku takut jika mama mencurigai semuanya ini akan sangat berbahaya sekali


Arika langsung buru-buru menghapus air matanya


"Mama , jangan berpikiran seperti itu Ma , mama tak tau jika Arika terlalu bahagia melihat mama yang akhirnya bisa tersenyum bahagia kembali dan menemukan kebahagiaan mama lagi bayangkan saja selama ini , mama selalu saja menangis , Arika tak pernah melihat wajah mama yang berseri-seri seperti ini "


berbohong lagi , Arika tak bermaksud melakukan hal ini tapi sekali lagi semua ini ia lakukan untuk kebaikan semuanya , termasuk untuk hidup mamanya


Please Ma, percaya jika apa yang Arika katakan ini memang benar adanya ,jika mama tak percaya maka kacau semuanya nanti , bisa-bisanya mama malah akan membatalkan acara pernikahannya dengan om Arya ,aku sangat mengenal mama masalahnya


semoga saja semuanya baik-baik saja


Menarik nafas dalam-dalam sambil berdoa agar mamanya tak curiga dengan sikapnya yang seperti itu


"Benarkah kau sangat bahagia dengan pernikahannya mama nak ?"


memegang wajah Arika dengan matanya yang sudah berkaca-kaca


Maafkan Arika Ma , lagi-lagi Arika menimbun kebohongan lagi, mama sebenarnya Arika sangat sedih sekali apa lagi dalam keadaan papa yang sedang terbaring dengan kondisi yang tidak sadarkan diri ini , ditambah pula ada sebuah rahasia besar yang disimpan oleh keluarga papa diam-diam dibelakang mama


Arika mengangguk perlahan sambil meneteskan air matanya "Sungguh Arika berbahagia dengan hidup Mama , Arika sangat senang Ma "


Siska langsung saja mempercayai apa yang diucapkan oleh Arika karena memang putrinya tersebut sama sekali tidak pernah berbohong apapun darinya , hmm itulah kelebihan seseorang yang selalu berkata jujur sekalipun Orang berbohong tetap saja orang-orang mempercayainya


karena kejujuran merupakan identitas seseorang yang membuat karakter manusia itu bisa dipercaya atau tidaknya


Tapi jika kita dikenal suka berbohong , sekalipun kita berkata benar maka tetap akan di cap pembohong , jadilah orang yang jujur karena kejujuran akan selalu membawa kita menjadi orang yang apa adanya


"Ya sudah , sekarang Arika langsung saja masuk kedalam kamar sana, jangan lupa langsung istirahat saja Nak ya ?"


Siska tak menyadari jika Arika pulang dengan hati yang terluka , karena ia terlalu sibuk dengan urusannya dirumah , mungkin jika tak lagi ada kesibukan semuanya akan baik-baik saja ,


Arika pun langsung masuk kedalam kamarnya , tangisannya kembali pecah saat ini ia tak tau mau mengadu dengan siapa lagi karena posisinya begitu sulit sekali


Karena memang ia lah yang meminta agar pernikahan mamanya dan Arya untuk dipercepat , selain Tuhan tak ada lagi tempat ia mengadukan segala keluh kesahnya saat ini ia berdiri diantara dua posisi kebahagiaan dan kesedihan , jika ia menceritakan semuanya saat ini maka kebahagiaan Arya ,Alea dan mamanya semuanya akan hancur berantakan


Gadis cantik itu langsung berbaring menghempaskan tubuhnya di atasnya tempat tidurnya dan langsung menangis tersedu-sedu memikirkan bagaimana kedepannya nanti, karena tak semudah itu mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya , batinnya benar-benar sedang sangat sakit sekali


"Ya Tuhan aku harap semua yang aku lakukan ini benar , aku takut jika nanti semuanya semakin rumit aku ingin pilihanku ini benar" Berbicara berulang-ulang kali , berharap ia tak akan menyesali tindakan yang ia pilih ini


"Aku ingin membahagiakan mama dan juga om Arya, aku tak mungkin menghancurkan semuanya dalam sekejap ,tak semudah itu untuk menghancurkan semuanya ,aku ingin mama bahagia itu saja , melihat kondisi papa yang tak mungkin bisa kembali seperti semula tak ada salahkan mama melakukan pernikahan impiannya ini , nanti setelah ini aku akan menjelaskan semuanya pada mama dengan perlahan "


Arika menangis tersedu-sedu didalam kamarnya "


Tapi disaat Arika sedang menangis sedih tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi


"Huhuhu siapa lagi yang menelpon ini "


Ia tak mengangkatnya , sengaja membiarkan telpon tersebut karena jika ia mengangkatnya sama saja nanti orang-orang akan mendengar suaranya yang berbeda karena menangis


saat ini yang dibutuhkan hanya satu yaitu ia harus terlihat baik-baik saja


Tulilit...tut... tut ...tulit tulit


Pesan masuk kedalam handphonenya


"Sepertinya ada yang mengirimkan pesan "


rupanya dari Raja dan Panji


Panji : Kak Arika kalau sudah sampai , Jangan lupa sampaikan salam Panji untuk mama Siska


ya Kak ,dan kakak cepatlah kembali ,papa dari tadi bertanya tentang kakak terus "


Arika pun langsung membuka pesan kedua


Raja : Hadeh hebat sekali adik sepupu kau tega sekali meninggalkan mas seorang diri disini ya , kau tak tau jika Mas hampir saja melarikan diri , cepat kembali ya ..mas khawatir gadis-gadis disini akan terpesona dengan ketampanan mas yang tak bisa diragukan lagi ini , kau lihatkan bagaimana pesona mas yang tak bisa diragukan lagi ini


Arika menaruh ponselnya dengan sangat uring-uringan ia berbaring dengan mata yang masih sangat basah

__ADS_1


tapi baru saja ia ingin memejamkan matanya ponselnya kembali berdering


Kring..


Kring .


"Astaga kenapa mereka sibuk sekali menelponku , argghhhhhhhh "


Dengan meraba-raba ia mengambilnya dan langsung menaruhnya ditelinga


"Hah pasti yang menelpon kalau bukan Mas Raja ya Panji , kenapa mereka berdua ini!"


Arika pun langsung memencet tombol oke dan mulai berbicara dengan sangat lembut sekali


"Halo..."


berusaha untuk menyembunyikan suaranya yang parau karena terlalu banyak menangis di


"Ya halo..."


Terdengar suara seorang laki-laki yang tidak asing ditelinganya


Seketika ia langsung duduk dan berdiri kesedihan yang ia rasakan tadi dalam sekejap langsung berubah menjadi rasa kesal yang amat dalam


"Kau ?"


"Ya aku kenapa kau jutek sekali , bisakah kau mengatakan hal-hal yang manis !"


Arika menahan amarahnya


",Sialan makhluk menyebalkan ini tak bisa dibiarkan begitu saja , hai kau dari mana kau mendapatkan nomor handphone ku ini ha ?!"


marah dengan matanya yang langsung melotot


"Haduh... tak usah sok selebritis sekali kenapa ? nomor handphone pasaran seperti nomormu itu sudah banyak sekali , kau tak perlu kaget mendapatkan telpon dari lelaki tampan sepertiku ini , sekarang sebaiknya kau dengarkan saja perintahku ya "


Benar-benar tidak tau malu sekali ya dia ini


berani sekali memuji dirinya sendiri dan mengatakan betapa menariknya dia ,


"Hei Nona kenapa kau diam saja tak menjawab sedikitpun pertanyaan dariku , apa kau tidak bisa bersuara , atau kau tuli!"


Arika masih tak menjawab sama sekali hingga membuat Bian kembali menjadi emosi tingkat tinggi


Bian mengancam Arika


Dasar laki-laki tak tau malu ia menggunakan mamanya untuk memanfaatkan aku , oh tidak semudah itu ferguso ,kau itu bukanlah seseorang yang harus di prioritaskan


Arika yang tadinya terbaring lemah langsung duduk diatas kasurnya kesedihan yang baru saja ia rasakan mendadak langsung berubah menjadi rasa kesal yang amat dalam sekali


"aku ingin melihat ia berani atau tidak memanggil mamanya ayo Bian lakukan saja,aku sudah sangat lelah sekali dengan segalanya "


Arika sengaja menunggu apa yang akan dilakukan oleh Bian


"Heh mana ,ayo cepat panggilkan mamamu aku ingin mendengarkan semuanya , mana mamamu ha !"


Bian langsung menjawab dengan terbata-bata


"Kau benar-benar ingin berbicara dengan mamaku membahas acara pernikahan kita ini ha !"


"Tidak penting sama sekali ucapan yang keluar dari mulutmu itu , bahkan kau terlihat seperti seekor musang yang terlalu banyak omong kosong,apa yang kau inginkan ha!"


"Musang ? apa itu "


"Kau tak tau musang ? yah musang itu adalah hewan yang sangat tampan !"


Terjadi pertengkaran kecil antara Arika dan Bian yang selalu membahas hal-hal kecil yang tidak masuk hitungan menurutnya


"Kau dimana ? jika bukan karena mama yang memintaku untuk menelponmu aku tak akan mungkin mau mendengarkan suara jelekmu itu tau "


Terdengar sayup-sayup dari belakang suaranya Ana


"Bian apa kau sudah menelpon Arika Sayang ?"


"Kau dengar sendirikan bagaimana mamaku bertanya padamu , bagaimana sekarang? apa kau mau aku memberikan telpon ini pada mama ku "


" Jangan macam-macam atau akan aku matikan telepon ini !"


"Matikan saja kalau kau tak mau aku membuat mu menyesali semua nya nanti !"

__ADS_1


Arika langsung terdiam ia tau jika Bian tak pernah main-main dengan ucapannya


Bian tertawa mengejek Arika


"Kenapa kau diam kau takut aku memberikan telepon ini pada mama ku kan ?"


Ana kembali berbicara tapi kali ini suaranya terdengar begitu dekat sekali


" Bian bagaimana Nak sudah menelpon Arika"


"Ini lagi telponan, kalau mama mau berbicara ini langsung saja "


Bian memberikan telponnya pada Ana


Tak sempat Arika berteriak telponnya sudah


berada ditangan Ana


"Bian jangan...."


"Halo sayang , kau dimana?"


ucapan lembut suara ana meluluhkan amarahnya ntah kenapa setiap Arika mendengar ucapan yang keluar dari bibir Ana ia akan langsung tidak jadi marah


Pantas saja om Aditya tak pernah bisa berpaling dari Tante Ana jangankan laki-laki aku sebagai perempuan saja langsung luluh mendengarkan suaranya apa lagi laki-laki hmm pantas Memang Tante Ana jadi rebutan


tapi kenapa anaknya sangat menyebalkan sekali ya ...


"Arika Kenapa diam saja Nak , apa mama menaganggu Mu ?"


"Tante tidak Tante"


"Astaga maafkan Tante Arika , sampai menyebutkan mama pada calon menantu Tante yang cantik ini "


"Heeh tidak apa -apa Tante itu bukan masalah yang besar "


"Syukurlah kalau begitu Tante juga tak ingin menjadi masalah besar dalam kehidupan kalian, ya sudahlah berbicaralah dengan kak Bian ya , Tante mau pergi dulu "


"Siap Tante "


"Ini Bian telponnya , berbicaralah yang baik-baik pada calon istrimu ya jangan membuat ia kesal "


"Siap Mama"


menirukan jawaban dari Arika


Hah kenapa ia harus mengikuti apa yang aku katakan ha , sungguh sangat menyebalkan sekali ya , aku tak ingin terus-menerus terjebak didalam permainan tolo* ini


Dengan lembut Bian langsung menjawab telpon tersebut meski Arika tau ia sedang berpura-pura melakukannya


"Halo..."


"Jangan banyak basa-basi cepat katakan saja apa yang ingin kau bicarakan ,akus sudah ngantuk sekali , waktumu hanya sepuluh detik saja jika lewat dari itu akan aku matikan"


"Hei Tolo* nilai fisika mu pasti sangat jelek ya "


"Sudah ..sudah jangan banyak bicara cepat katakan saja aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan keluh kesahmu yang tak berguna itu "


"Nanti aku nikahin baru tau rasa kamu , tak bisa membantahku sepatah katapun kalau sudah menjadi istriku "


"Hei...jaga ucapanmu baik-baik siapa juga yang mau jadi istrimu bisa sial hidupku nanti !"


Bian pun langsung naik darah kembali


"Haduh..haduh.. dipancing dikit saja langsung berbunga-bunga ya , nggak usah terlalu percaya diri , siapa juga yang mau menjadikanmu istri, paling juga aku suruh jadi pelayanku untuk bersih,-bersih rumah, karena kau lebih pantas untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dari pada menikah ,lagi pula aku tak yakin ada laki-laki yang mau menjadikanmu istri ?"


"Jaga ucapanmu ! aku dibesarkan bukan untuk jadi pelayanmu ,lagi pula bukan hanya kau saja yang punya uang ,aku juga memiliki uang yang lebih banyak sama dengan mu , Tapi aku tak pernah berbuat semena-mena dengan orang lain seperti sikapmu "


"oh ya , baguslah kalau begitu aku ingin melihat bagaimana rupanya laki-laki yang akan menjadi suamimu nanti ,apa dia memiliki wajah setampan aku atau memiliki wajah yang biasa-biasa saja"


"Kau masih mau berbicara berapa banyak lagi , aku ini sudah sangat ngantuk , aku baru pulang dari Jogja dan langsung kau sambut dengan ocehanmu yang membuat kepalaku menjadi sangat sakit sekali !"


"Aku tidak bertanya kau dari mana dan sedang bersama siapa juga dan aku juga tak mau tau apa saja yang kau lakukan dibelakangku ,kau tak perlu memberikan laporan apapun padaku ,sama sekali tidak penting sekali , kau tau ini bukanlah hal yang harus aku tau !"


terdengar sangat mengejek Arika


Biadaaaaa* bisa-bisanya ia merendahkan aku dengan segala hal yang ia katakan , ia benar-benar Manusia yang sangat percaya diri sekali, apa ia pikir semua perempuan yang berada didekatnya itu selalu ingin menjadi prioritas utama dalam hidupnya , pokoknya setelah ini aku akan menceritakan pada mama jika aku sama sekali tak mau dijodohkan dengan anaknya Tante Siska, bisa seperti dineraka hidupku nanti jika menikah dengannya


"Apa kau bisa mendengar dengan baik Nona , kau jangan terlalu percaya diri dengan dirimu sendiri ya ..aku ingatkan "

__ADS_1


"Kau masih mau berbicara atau aku matikan saja telpon ini biar tau rasa "


"Heh jangan ...jangan dulu , baiklah kita akhiri pertengkaran ini , dan sekarang aku ingin berbicara baik-baik denganmu , ya mungkin Hal ini tidak penting namun lebih tidak penting lagi jika terus berdebat denganmu ,aku hanya ingin menyampaikan pesan Mama padamu ,kau dengarkan baik-baik ya "


__ADS_2