
Arya nampak sangat gusar tapi ia berusaha tetap tenang tak menunjukkan bahwa ia sangat marah pada Alea, apa lagi dengan melihat wajah Siska yang selalu tersenyum manis padanya
"Sayang, apa kau mau tidur?"
"Tidur?, jam berapa ini, aku mau mandi dulu" Siska mencoba untuk mencairkan suasana, dan langsung meninggalkannya.
"Aku rasa nanti malam aku harus berbicara dengannya,jangan sampai karena ulahnya itu aku tak bisa berkata apapun lagi, karena memang dia tau apa yang aku lakukan ini sangat penting untuk masa depan Alea"
Alea duduk didalam kamar dan langsung menatap keluar jendela
"Kenapa aku berbeda Papa,tapi aku harap papa akan menjodohkan aku itu benar,jadi aku bisa menikah dengan cepat, dan bersama dengan Arika merasakan menjadi pengantin, karena bukannya tujuan hidup ini ya untuk menikah dan menjadi bahagia tentunya kan"
Alea langsung memejamkan matanya dan tersenyum bahagia.
.....
Keesokan paginya
Arika dan Bian tertidur lelap di rumah yang telah diwariskan untuk Arika itu
"Jam berapa ini?" Arika kaget dan mendapatkan ia yang sudah tertidur diatas kasur
"Astaga" langsung melihat handphonenya
"Ini jam berapa, aku belum pulang kerumah, bagaimana jika mama Ana bertanya nanti"
Arika mengira ini masih hari kemarin, tapi saat ia keluar dari dalam kamar ia kaget melihat Bian yang sudah menyediakan makanan diatas meja tentunya dengan baju yang berbeda.
"Sudah bangun istriku tercinta"ia menyapa Arika dengan senyuman yang sangat menawan sekali
"Iya ini aku sudah bangun, itu baju siapa?" Arika melihat Bian tadi tak memakai pakaian itu
"Oh ini baju Raja karena kita tak pulang, jadi ia memberikan aku baju miliknya?"
"Tak pulang?, maksudnya kita menginap disini semalaman?"
Bian langsung mengangguk
"Iya,ayo cepat mandi, setelah itu sarapan dan kita akan makan bersama sebelum berangkat kekampus"
__ADS_1
Arika benar-benar kaget sekali tapi ia juga tak terlalu peduli dengan apa yang ia rasakan saat ini
"Baiklah" Arika sepertinya sudah melunak
"Dia benar-benar manis sekali, pagi-pagi sudah menyiapkan sarapan, padahal aku sama sekali tak pernah melihat mama Siska diperlukan seperti itu oleh papa" tiba-tiba ingatannya melayang pada kisah rumah tangga orang tuanya.
namun kemudian Arika harus menyadari jika tak ada manusia yang sempurna di dunia ini,ia belum tau bagaimana dahulu arjuna yang meratukan Siska seperti seorang tuan putri
Sekitar lima menit Bian menunggu dan Arika pun keluar dengan membawa tas di punggung nya "Ayo makan, dan kau rasakan masakan cinta ini" Bian benar-benar terlihat sangat bucin sekali apa lagi saat melihat Arika yang semakin hari semakin mempesona saja
"Nanti di kampus, aku akan selalu menggandeng tanganmu ya" menatap Arika dengan tatapan yang sangat menggoda
membuat wajah Arika langsung memerah karena salah tingkah
"Aku tak bisa seperti ini terus-menerus, aku butuh kepastianmu, aku ingin kau menyadari satu hal, jika aku saat ini hanya ingin bersamamu saja berdua apa kau paham perasaan ku itu" meskipun terkesan menjijikkan tapi Nian sungguh-sungguh mengeluarkan semua perasaannya dari dalam hatinya
"Jujur saja sebenarnya aku sangat mencintaimu, dan itu tak akan mudah bagiku untuk mendapatkan perasaan ini lagi, aku sungguh-sungguh sangat ingin membuat siapapun jatuh hati padaku, aku sangat ingin memeluk tubuhmu itu" balas Arika dari dalam hatinya.
ia juga menyadari satu hal jika mungkin ia saja yang terlalu berlebihan dalam menyikapi sikap Bian tersebut.
"Terimakasih" ucap Arika
"Uwekkss"
"Astaga,Kak Bian" Arika langsung panik
"Ya ampun kenapa aku mendadak pusing begini ya"Bian langsung memegang kepalanya,Arika benar-benar sangat panik sekali, bahkan ia tak bisa berkata-kata lagi
"Tunggu duduk dulu, aku akan mengambil minyak dulu" Arika buru-buru mencari minyak gosok untuk memberikan pada Bian yang sedang duduk
"Kita tidak boleh menunggu banyak hal lagi karena ini memang sangat urgent sekali"
karena melihat Bian yang lemas tanpa sepatah kata lagi
"Aku tak tahu kenapa tubuhku mendadak lemas seperti ini" Mata Bian pun tampak berkunang-kunang
"Kak Bian, istirahat saja mungkin kakak kecapekan, biar aku saja yang kekampus sendirian, jangan khawatir.kau istirahat saja ya di kamar"
"Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan kamu sendirian di kampus, aku tak bisa melakukan hal itu kamu harus bersama denganku, aku baik-baik saja ayo" memaksakan diri untuk berdiri meski kepalanya pusing sekali
__ADS_1
"Kak Bian, jangan dipaksakan, kalau begitu aku tidak jadi kekampus saja ,aku akan menemanimu di sini"
Bian tetap memaksa Arika untuk segera pergi kekampus karena itu adalah keinginan Arika
"Tidak apa-apa istriku, aku baik-baik saja ayo" membuka pintu mobil dan masuk kedalam.
Arika mulai cemas karena takut terjadi apa-apa pada Bian dan juga dirinya
"Biar aku saja yang bawa mobilnya,aku takut nanti kau malah ..."
"Jangan khawatir aku masih bisa menyetir mobil ini,ayo ..."
Arika agak ragu tapi ia takut jika sampai membantah ucapan Bian, justru nanti Bian akan marah dan tersinggung
"Baiklah" Arika langsung duduk disampingnya,tapi baru saja mau menyalakan mobil, Bian kembali muntah-muntah
"Uwekkss, ...."
mengelap kembali
"Sungguh aku tak menyangka jika masuk angin karena semalaman tidak tidur bisa jadi begini dampaknya"
Arika terdiam
"Maksudnya, bagaimana,apa kau tidak tidur semalaman?"
Tentulah Bian tak mungkin menceritakan apa yang terjadi semalam, tentang raja yang bercerita dari hati ke hati, apa lagi semua yang dilakukan Raja malam tadi adalah bentuk usaha ia memenangkan diri, lebih tepatnya rahasia antar lelaki lah
"Oh, aku tidur cuma agak larut malam saja"
padahal yang terjadi adalah ia dan raja'bercerita sampai subuh hari di teras rumah, Makanya ia bisa bangun sepagi itu untuk menyiapkan sarapan untuk Arika
"Ya ampun, mungkin kau kelelahan seperti aku,tapi apa kau yakin kau bisa menyetir mobilnya dengan baik-baik saja?" langsung menggosok punggungnya Bian dengan lembut sekali
"Ayo cepat,jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja, aku akan mengantarmu ke kampus " Bian sangat tak mau tampak lemah dihadapan orang lain apa lagi dihadapan Arika
Mobil pun menyala dan langsung menuju kampus, sepanjang perjalanan Arika memegang dadanya karena khawatir sesuatu yang buruk terjadi.
"Ya Tuhan, aku sangat khawatir sekali dia menyetir seperti ini, aku ingin sekali agar dia bisa jangan egois karena ini terlalu berbahaya sekali" Arika menutup matanya sambil berdoa didalam hati semoga ia baik-baik saja
__ADS_1
"Kita sudah sampai"