
Alea pun langsung berteriak saat melihat Arya yang sedang berjalan dengan tergopoh-gopoh dari belakang
"Nah itu sipapa baru keluar ya ampun aku sungguh kesal sekali sama papa kenapa bisa-bisanya papa lama sekali sih keluar , tunggu ya !"
Berjalan lebih cepat untuk segera menghampiri papanya
"Papaaa...Paapaa..."
"Itu Alea , kenapa lagi berjalan buru-buru sekali seperti apa saja dia ,mana mukanya jutek sekali ,dia kenapa ya ?"
Arya pun langsung tertawa geli melihat putrinya yang seperti itu berjalan kearahnya
namun kemudian ia langsung segera
Tersadar jika statusnya sekarang adalah suami orang ,dan ayah dari dua orang putri ia pun langsung buru-buru berjalan dengan menegakkan kepalanya dan membusungkan dadanya
Alea langsung menggandeng tangan papanya
"Paapaaa lama sekali sih ada saja kelakuan Papa yang membuat semuanya menjadi gaduh, Alea malu tau , apa lagi tadi om Dimas sama Tante Rima sampai tertawa melihat kelakuan papa!"
Terjadi pertengkaran kecil antara Arya dan Alea , Arika pun langsung paham apa yang sedang diperdebatkan oleh Alea dan Arya
"Hmm aku tau pasti ini karena Papa Arya membuat ia malu didepan om Dimas , karena kan mereka orang tua mas Raja "
Siska langsung menoleh kearah Arika"Nak apa yang sedang kau bicarakan ?"
"Itu ma lihatlah , Alea sedang marah dengan om Arya "
Siska melihat muncungya Alea sudah sangat panjang sekali
"Astaga kenapa mereka seperti itu "
"Alea...Alea.."
Arika memanggilnya
"Lihat Arika memanggilmu itu kesana , ayo cepat pergi kesana"
"Hah papa selalu saja bisanya bikin malu saja"
Alea langsung berjalan dengan menghentakkan kakinya seperti biasa
Ibunya Arya langsung paham
"Hmm pasti dia sangat kesal karena tingkah papanya lagi itu "
Arika langsung tertawa geli melihat tingkah Alea. "Mungkin jika Arika di posisi Alea ,Arika juga bakal marah besar dengan papa Arya "
Siska pun langsung membela Arya
"Jangan begitu ,papa kalian itu memang begitu karakternya segalanya tingkahnya membuat orang-orang disekitarnya selalu tertawa, namanya juga orang lagi sakit perut mau bagaimanapun juga tak mungkin bisa ditahan , ini kan bukan sesuatu yang direncanakan papa Arya juga tak mau jika ia diposisi dipermalukan seperti itu kok"
Arika dan Alea yang berada disebelahnya langsung saling berpandangan
"Cieee mama "
ucap Alea
"Iya tau kan papa Arya sekarang husbandnya mama ya kan jadi memang sudah sewajarnya dong seorang istri Sholeha membela suaminya yang tampan itu "
Alea balik menggoda Siska
Wajah Siska pun langsung tersipu "Ya ampun kalian berdua ini , memang paling jago menggoda mama ya , kalian itu lupa jika mama kalian itu paling tidak suka memperkeruh keadaan"
"Ehemmm...."
"Uhukk....uhukk...."
Ternyata bukan hanya Arika dan Alea saja yang batuk berdehem -dehem seperti itu
Aditya dan Ana yang sedang berdiri berduaan pun langsung batuk dengan keras sekali
"Aku seperti mendengar sesuatu "
"Ya sama tapi mendengar apa ya ?"
"Seperti nyanyian burung ?"
"Burung apa ?"
"Burung ? "
"Ya hatiku lagi berunga -runga "
"Ah gombalan om Aditya nggak asik "
ucap Alea mencibir
Kemudian semuanya langsung tertawa geli
Siska langsung melirik kearah keduanya
"Kalian kalau batuk lebih baik segera minum obat saja , jika terus begitu kalian sama saja membawa virus kasihan anak-anak dan tamu yang lainnya "
"Haduh .. virus kalian hanya akan membuat virusnya "
Namun Aditya baru menyadari ia tak melihat Dimas dan Rima
"Tunggu dulu aku tak melihat Dimas ?"
"Iya sama aku juga tak melihat Rima dimana dia ya "
Sementara itu Dimas dan Rima yang baru saja sampai dirumah langsung duduk dengan nafas yang tersengal-sengal sendiri
"Ya ampun aku tak pernah berlari sekencang ini"
"Tapi kenapa kita bisa sama ya "
"Aku juga tak tau sayang , tapi yang jelas kalau kau bisa melihat dua Arika dalam waktu yang bersamaan itu tandanya sungguh mengerikan sekali "
"Apa itu Arika beneran atau tidak ya ?"
"Ntahlah kak Dimas aku juga bingung "
Tak lama terdengar suara teriakan dari luar rumahnya "Om Dimas ...Tante Rima ?"
"Hah dengar ada yang memanggil kita ?"
"Ya kau benar "
Mereka berdua terdiam lalu Rima langsung mengusap wajahnya dan menarik nafasnya dalam-dalam
"Kak Dimas itu suara Arika?"
__ADS_1
Mereka langsung berpelukan berdua
"Ya ampun kak Kenapa jadi horor begini sih padahal ini kan siang hari "
"Benar ini siang hari tapi kenapa jadi begini seram ya "
Mereka berdua mengangkat kakinya naik keatas
Arika pun langsung saja menerobos masuk kedalam rumah tersebut "Sepertinya tak ada orang "
Alea menunggu di luar karena ia deg-degan tak mau masuk kedalam
"Alea kau tak ikut masuk ya ?"
"Kau saja , aku malu "
sambil menundukkan wajahnya
"Hadeh mulai lagi "
"Nanti saja kalau aku sudah resmi menarik calon menantu om Dimas dan Tante Rima aku akan berguling-guling dirumah ini "
Arika langsung menarik nafas nya dalam-dalam
"Ya sudah baiklah kalau begitu aku akan. masuk ya kau tinggal sendiri saja disini ya ?"
Alea pun langsung mengangguk "Oke my sister lanjutkan saja tugasmu aku baik-baik saja "
Arika langsung menerobos masuk kedalam rumah besar tersebut
karena permintaan neneknya untuk menyuruh ia mengambilkan piring dan sendok yang diwariskan oleh neneknya yang dititipkan kepada menantu pertama perempuan yaitu Rima
(aneh-aneh saja tradisi di keluarga mereka ini )
"Dia akan masuk kak "
"Kau benar ini Arika beneran atau bukan ya ?"
mereka mendengarkan langkah kaki yang masuk selangkah demi selangkah lagi menuju kedalam rumah
"Om , Tante "
Arika kaget saat melihat Rima dan Dimas yang sedang duduk dengan kaki yang naik keatas
"Om Tante , Kalian berdua kenapa ?"
"Ampun ...ampun ..."
ucap Dimas
Arika semakin heran
"Kau siapa?"
Tanya Dimas dengan gemetaran
"Om Dimas kenapa ini aku Arika "
"Arika "
masih dengan menutup wajahnya
"Coba kau lihat saja dulu apa kakinya menyentuh lantai "
Rima juga nampak ketakutan
Arika yang cerdas langsung sadar akan sesuatu
Astaga apa jangan-jangan om Dimas dan Tante Rima tadi melihat aku dan Panji dalam waktu yang bersamaan berada ditempat yang berbeda , oh my god
Arika menjadi tidak enak karena sampai membuat Dimas dan Rima trauma seperti itu
"Ya ampun om , Tante ini gara-gara aku dan Panji maafkan aku om dan Tante "
Arika langsung menepuk pundak Dimas dan duduk disampingnya "Om ini Arika , Arika mau ambil piring punya eyang yang diberikan sama nenek mami , mau di ambil untuk ditaruh di rumah lagi karena nenek mau menjualnya dengan kolektor barang antik , uangnya nanti mau disumbangkan , terus kita semua belum ada Poto keluarga yang lengkap ,ayo sekarang kita kembali kerumahnya nenek om , untuk berpoto bersama kita belum ada poto keluarga dari tadi ayo om , Tante ?"
Mereka pun langsung membuka tangannya
"Jadi ini benar Arika ya ?"
"Ya iyalah siapa lagi , tadi Arika itu memang tidak mau berbicara saja , ini sudah pakai sendal jepit nggak pakai heels lagi makanya jadi cepat jalannya , memannya kenapa sih om Tante ? apa ngeliat Arika seperti hantu saja?
secantik ini ditakuti hadeh ..."
Hadeh... semoga kalian percaya denganku kali ini om Tante , percayalah setelah ini aku akan mengatakan yang sejujurnya nanti , kali ini Arika minta maaf karena membohongi kalian ya ,please
Rima dan Dimas pun langsung berbisik "Mungkin memang kau yang salah lihat "
Rima terdiam "Mungkin juga karena efek kelelahan yang sangat panjang "
Tak lama setelah itu Dimas dan Rima pun langsung ikut serta dengan Arika lengkap dengan piring yang diminta oleh neneknya
"Ayo Alea "
Dimas dan Rima langsung kaget saat melihat ada Alea yang berdiri dihadapan mereka
seketika rasa takut tersebut langsung hilang
"Heh ada Alea disini juga "
"Iya Tante menemani Arika "
Rima langsung menggandeng tangan Alea
sambil berjalan "Nanti Alea sering-sering main kesini ya , karena Tante nggak punya anak perempuan nanti juga temani Tante masak ,Alea suka masak ?"
Masak ?"
kaget.
Iya Tante bisa masak Aer doang ....
Alea langsung tersenyum dengan tidak enak
"Iya Tante Alea cuma bisa makan aja , tidak bisa masak "
Arika tertawa-tawa mendengarnya
"Masak air aja gosong Tante si Alea"
Mereka pun tertawa geli melihat tingkah lakunya
Sesampainya kembali dirumahnya Siska , maminya langsung meminta piring tersebut
__ADS_1
"Buat apa Ma ?"
"Sudah dijual saja ,ini biar lebih bermanfaat uangnya untuk kebutuhan orang banyak , biar menjadi pahala jariyah untuk para leluhur mama "
Dimas dan Rima pun kembali mendekati Aditya dan Arya
"Nah ini dia yang dicari-cari baru datang, kalian ini masih siang masih saja curi-curi kesempatan , sabar , tenang saja kalian tidak akan kalah dari Arya kok"
Dimas langsung tertawa , padahal bukan karena itu
"Biasalah kak Dimas dia kan semakin tua semakin aja ..."
"Sama seperti Arya lah ya , semakin tua semakin profesional "
"He sembarangan , kak Arya itu berbeda dia itu justru semakin tua semakin berkualitas nilainya , lihatlah jarang-jarang ada laki-laki yang seperti dia "
"Ehemmm...."
Rima dan Ana saling berdehem
"Kau dengar itu Dit?"
"Ya aku sangat mendengar dengan jelas sekali"
"sungguh manis sekali "
Tertawa dengan keras
"Pengantin baru ,rasa lama hahahaha "
Dimas dan Aditya tak habis -habisnya mengerjai Arya
Arika dan Alea pun ikutan tertawa kecil mendengar Aditya dan kawan-kawannya menggoda kedua orang tua mereka
"Mama Siska membela papa Arya , sungguh manis sekali"
Alea berdecak kagum pada sosok mama baru nya itu
"Aku yakin mama sbenar-benar menjelma menjadi istri yang sholeha yanga benar-benar sudah lama diidamkan papa , dan juga aku dan Nenek "
Arika tersenyum lalu
Arika langsung terdiam saat mendapatkan pujian dari Alea mengenai mamanya ia teringat bagaimana patuhnya Siska saat masih menjadi istri papanya
Kau benar Alea mama adalah perempuan yang sangat berbakti pada suaminya , dulu saja mama tak akan pernah mau keluar rumah jika bukan papa yang memintanya , Meski akhirnya setelah lahir Panji papa tak pernah lagi melarang Mama untuk pergi kemanapun ,bahkan papa mengizinkan mama untuk melakukan apapun yang ia suka
papa terkesan membebaskan mama untuk melakukan apapun yang ia suka tanpa paksaan lagi , mama sangat menderita terlihat dari matanya saat itu , sedangkan aku hanya bisa jadi penonton tak bisa mencampuri urusannya
mama hari ini benar-benar kelihatan sangat bahagia sekali , setiap melihat senyuman mama , setiap itu pula aku merasakan betapa pilunya menjadi mama setelah sekian lama menghadapi kehidupan yang benar-benar sangat sulit sekali ,meski bergelimang harta
tapi batin mama tersiksa dan tak bahagia
untuk apa , yang dibutuhkan manusia saat hidup ini adalah ketenangan jiwa yang terpenting
"Arika ayo kita berpoto lagi "
tarik Alea
"Iya ayoo"
bersemangat sekali
"Pa , ma ayo "
Arya langsung berdiri disampingnya Siska , pertama mereka berdua nampak canggung sekali apa lagi tadi setelah acara ijab qobul Siska tak sempat mencium tangan Arya , karena ia langsung berlari pergi untuk ketoilet
keduanya saling deg-degan hanya saja Siska dapat menyembunyikan perasaannya berbeda dengan Arya yang sama sekali tak bisa fokus
"Bisa merapat pengantinnya ?"
ucap sang potografer mengarahkan gaya
Siska dan Arya masih malu-malu sekali karena mereka adalah pengantin baru
dan benar -benar sangat canggung sekali
Alea dan Arya yang berdirpun langsung i mengapit mereka dikiri dan kanan Arya dan suka , mereka saling berpandangan dan langsung saja mengangguk untuk mengerjai mereka berdua
"Geser Ma"
"Iya Pa geser "
"Aduh tidak muat nak lihatlah ini ?"
"Cepat geser Pa ?"
Alhasil kedua bahu mereka saling bersentuhan , membuat Arya langsung seperti tersentrum sesuatu yang beda
Zrtttt...zzzz...rtttt...
Astaga baru tersentuh dengan bahunya saja sudah seperti ini ,baru bahu apa lagi yang lainnya nanti , ya ampun aku menjadi cemas apa ini yang namanya cinta setelah halal , kemarin-kemarin tak ada perasaan seperti ini tapi kenapa hari ini rasanya ,rada aneh ya..tegang-tegang cinta
Dimas dan Aditya dari tadi sibuk memandang wajah Arya dari tempat duduknya
"Dit kalau kau prediksi dari wajah Arya itu bagaimana menurutmu ?"
"Maksudnya aku kau suruh membaca raut mukanya Arya "
"Ya seperti itu lah kira-kira "
"Baiklah aku akan membacakan untuk mu"
mereka melihat bagaimana Mata Arya terlihat merem dan melek ,saat bersentuhan dengan tangan Siska
"Kalau menurutku dari gerakan mata nya yang seperti itu , sudah jelas jika pikiran Arya tidak berada disana "
"Maksudnya ?"
"Iya kau lihat saja matanya seakan mengisyaratkan jika ia butuh tempat tidur saat ini juga "
Dimas dan Aditya pun langsung tertawa dengan keras "Kita harus mengerti Dit , bagaimana pun juga rudal nya sudah tumpul kau bayangkan saja sudah belasan tahun lamanya "
"Kau benar , dan setelah sekian lama maka akhirnya rudal itu fungsinya kembali akan diuji coba "
"aku sangat cemas dengan uji coba nanti malam siapa yang akan keluar menjadi pemenang , mengingat rudal itu sudah benar-benar tua "
"Tapi aku yakin semakin tua justru semakin perkasa kau santai saja "
Arya dan Dimas memang tak ada habisnya menceritakan semua tentang Arya , selain mereka adalah sahabat ,tapi Arya memang sangat lucu dan menyenangkan orang nya
"Ya ya . Semoga saja berhasil aku takut malah gagal pula"
Lagi-lagi keduanya tertawa membayangkan kelakuan Arya , sungguh benar-benar teman yang bi*dab hadeh....wkwkwkwkkw
__ADS_1