
Siska langsung keluar dengan membawa berkas didalam tasnya,
untunglah kedua mamanya itu tak ada yang melihatnya,
"Aman"
ia langsung berlari masuk kedalam mobil
"Sepertinya ada yang lewat besan?"
melihat bayangan Siska yang lewat dengan cepat
"Tapi tidak ada orang besan, mungkin kau salah lihat"
Lalu mereka kembali tertawa "Bisa saja itu malaikat pencabut nyawa yang sedang patroli mengincar kita"
"Haha kau bisa saja besan, tapi itu ada benarnya juga, malaikat pencabut nyawa memang suka sekali dekat dengan orang-orang yang uzur seperti kita ini"
tertawa terkekeh-kekeh
Obrolan orang yang sudah tua yang sudah siap menunggu gilirannya, memang seperti itu, berbeda sekali dengan orang-orang yang didalam kehidupannya sama sekali tak ingat dengan dunia, sibuk mengejar dunia padahal akhirat adalah kehidupan sesungguhnya,
semoga kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang beruntung itu
aaamiinn.
Siska yang sudah masuk kedalam mobil, dengan cepat menghapus air matanya, ia tak mau tergesa-gesa untuk bercerita masalah ini pada Arya, karena belum pasti kebenarannya,
jika sudah sampai di Jogja nanti, baru ia akan menceritakan semuanya, dan bertanya secara seksama apa sebenarnya yang mereka simpan diam-diam, dibelakangnya
Hidup yang singkat ini harus lebih bermanfaat bagi Siska, ia ingin bahagia dan hidup dengan melupakan hal-hal yang hanya akan menyakitkan hatinya saja
"Ayo Pak, kita jalan"
"Baik Nyonya"
Ia mengelus dada, saat mendapatkan Arya yang masih tertidur dengan lelap sekali
"Syukurlah, kak Arya masih tidur, aku tak bisa membayangkan jika ia terbangun dan melihat aku sedang bermuram durja seperti ini, nanti pikiran negatifnya bisa muncul lagi"
Sekitar lima belas menit, akhirnya mereka sampai di bandara.
"Syukurlah tepat waktu, jadi nanti sore sudah sampai disana"
"Berapa Pak?"
"Ini Nyonya totalnya"
"Oh iya ini, ambil saja kembaliannya"
"Nyonya ini banyak sekali"
sopir tersebut tampak tidak enak menerimanya
"Tidak apa-apa Pak, ambil saja itu rezeki bapaknya"
"Terimakasih Nyonya, saya berdoa agar Nyonya dan suami selalu bahagia"
"Amiiinnnnn" ucap Siska
Namun Arya masih saja tak membuka matanya, ia masih terlihat tertidur dengan lelap sekali, dengan sangat lembut ia membangunkan Arya ( mengelus kepala Arya dengan penuh cinta)
"Suamiku kita sudah sampai, ayo bangun"
Arya langsung membuka matanya" Oh ya, maafkan aku sayang, aku tertidur begitu lelap sekali"
Mengusap wajahnya
"Ayo sekarang kita turun"
Arya langsung keluar dengan menggandeng tangan Siska .
Didalam perjalanan menuju Jogja, Arya ternyata melanjutkan tidurnya, ia terlihat begitu lelah sekali, mungkin lebih tepatnya ia sangat lega karena sudah melepaskan status dudanya, dengan orang yang tepat dan ia cinta.
mata Siska sampai basah karena tak tahan menahan kepedihan selama ini,
Panji anak mama, ternyata Nak, mama selama ini sama sekali tak menerima kehadiran kamu di tengah-tengah keluarga kita, mama sangat sedih karena selama ini tak berlaku baik pada Panji,.
sedangkan Arya masih saja terlelap tidur, Siska melihat kesampingnya
" Kak Arya kelelahan sekali sepertinya, lihatlah ia benar-benar sangat ngantuk sekali, karena semalaman tak bisa tidur nyenyak memikirkan pernikahannya, aku rasa benar sekali"
Disaat ia menangis, ia juga tertawa melihat tingkah Arya, yang dari dulu hingga sekarang selalu saja membuat ia tertawa dengan segala tingkah konyolnya
"Terimakasih kak Arya, kau telah hadir kembali untuk menghapuskan luka lara yang selama ini sudah menyayat jiwa ini, meski Alena dan Arjuna adalah masa lalu kita bersama, namun cinta telah membuktikan jika takdir akan kembali menemukan jalannya sendiri".
....
"Ya Tuhan tolonglah selamatkan Papaku, aku tak ingin menyesal karena telah suudzon dengannya, Papa adalah manusia yang sangat menyayangi kami anak-anaknya, aku mohon jangan biarkan, rasa sesalku ini, membuat aku menjadi anak yang telah membuat papaku tersiksa"
Arika menangis sejadi-jadinya
Didalam pesawat itu juga ada perempuan yang sebaya dengannya, ia langsung memberikan tissue pada Arika
"Ini ambillah, aku tak mengenalmu, tapi aku yakin apa yang ada didalam otakmu, semuanya akan baik-baik saja, percayalah"
"Terimakasih" ucap Arika melontarkan senyumnya
"Perkenalkan aku, Zaskia"
__ADS_1
"Arika"
membalas dengan mengulurkan tangannya
"Kau juga mau kejogja?"
tanya nya pada Arika
"Ia, aku ingin melihat keadaan Papaku
"Kebetulan tujuan kita sama, nanti kau aku antarkan saja ketempat Papamu, Arika"
"Tidak usah Zaskia, aku sudah ada yang menjemput nanti"
"Mm baiklah kalau begitu, lain kali saja".
Obrolan singkat itu mampu membuat perasaan Arika kembali tenang, setidaknya ia tak terlalu fokus dengan rasa bersalah yang ada dihatinya,
benar ternyata saat seseorang yang sedang gundah gulana itu membutuhkan teman untuk diajak mengobrol, setidaknya dapat mengurangi beban sesaat.
Saat pesawat mendarat Arika tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Zaskia, karena ia sudah ditemani untuk bercerita, jika tidak ntahlah bagaimana perasaannya
"Zaskia, aku duluan ya, sopir Papa sudah menunggu disana"
"Ya Arika, hati-hati ya, sampai jumpa lain waktu"
melambaikan tangannya.
"Mbak Arika"
Sopir keluarga tersebut buru-buru membuka
pintu mobilnya
"Ayo cepat Pak" Arika terlihat berjalan dengan sangat tergesa-gesa sekali, wajahnya benar-benar kelihatan sangat panik sekali
"Baik Mbak"
langsung buru-buru masuk kedalam mobil
"Ayo cepat jalan Pak'
"Iya Mbak"
Arika tak kuasa menahan air matanya saat bertanya keadaan Papanya dengan sopir mereka tersebut
"Pak,bagaimana keadaan Papa?"
Ia agak ragu-ragu untuk menjawabnya, mengingat Arika yang sudah beruraian air mata karena menangis sejak masuk kedalam mobil
"Keadaan Papa mbak, baik-baik saja,
Bawa sabar aja Mbak, kita manusia ini hanya bisa berdoa, yang terbaik itu Tuhan yang menentukan semuanya, Mbak jangan khawatir, Tuan Arjuna pasti baik-baik saja"
"Bagaimana saya bisa tenang Pak,jika Papa saya selama ini menyimpan semuanya sendirian"
Teriaknya
"Mbak, tenangkan diri mbak ya, saya takut, nanti orang-orang salah paham, karena mbak Siska berteriak didalam mobil"
apa lagi jalanan sedang ramai-ramainya
"Baik Pak" mengusap air matanya, Arika mencoba menenangkan dirinya, karena yang dikatakan sopir keluarganya itu memang benar adanya, orang-orang menatap curiga kedalam mobil miliknya tersebut
"Sebentar lagi kita sampai Mbak, itu rumah sakitnya udah kelihatan"
Jantung Arika berdetak lebih kencang dari biasanya, pikirannya mulai kembali kacau,bukan karena tak beriman. tapi ia hanyalah manusia biasa yang juga bisa kalut saat mengetahui keadaan orang tuanya
"Mbak hati-hati, apa mbak mau saya temani?"
Tanya sang sopir
"Tidak usah Pak, saya bisa sendiri"
Arika langsung berjalan menyusuri ruangan rumah sakit tersebut
Apapun yang akan terjadi nanti, aku harus siap. karena ada Panji dan mama Silvi yang harus dikuatkan lagi, tapi aku juga tak sekuat itu Tuhan... aku ini hanya manusia biasa
Pintu lift terbuka, ia langsung berjalan masuk menuju ruangan Arjuna,lalu ...
"Papaaaaa!" tangisan itu kembali pecah, saat teriakan Arika memecahkan kesunyian didalam ruangan tersebut.
"Kak Arika ... "
Panji dan Silvi langsung kaget, melihat kedatangan Arika
Arika langsung memeluk adiknya dengan sangat erat sekali
"Adikku" sambil menangis tersedu-sedu,
"Kak Arika, tenangkan diri kakak, kak"
menepuk pundak kakaknya
"Bagaimana kakak bisa tenang, jika kondisi Papa sudah seperti ini, Panji"
menangis tak henti-hentinya
Silvi sudah tak bisa berkata apapun lagi ia terlihat sudah duduk tersandar dengan pasrah sekali, kesedihan Arika dan Panji, belum sebanding dengan kesedihan yang dirasakan oleh Silvi, ia lebih banyak menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Sudahlah Nak jangan menangis lagi.
Tak ada yang perlu disesali, ini adalah takdir yang sudah terjadi, kita hanya bisa berdoa saja meminta yang terbaik untuk kesembuhan Papa kalian. karena Tuhan lebih tau, mana yang terbaik untuk umatnya.
kita hanya bisa berdoa dan berserah diri saja saat ini, memohon dikuatkan hati atas takdir yang telah ditetapkan, semua yang terjadi diatas muka bumi ini sudah menjadi kehendaknya, jangan bersedih lagi anak-anakku, Mama mohon kuatkan hati kalian masing-masing"
air mata mengalir deras dipipinya
Mama Silvi? aku tau pasti mama lah yang paling terluka atas semua ini, aku tau jika mama lah yang paling tersiksa, karena mama hanya korban, atas takdir yang keji ini
Arika langsung memeluk Silvi dengan berbaring di pangkuannya "Mama, Arika sungguh tak tau jika takdir yang digariskan untukmu itu sangat berat sekali Mama, Arika tak akan mungkin bisa menjadi setangguh Mama"
menangis sejadi-jadinya .
Silvi mengelus kepala Arika
"Tuhan tak akan pernah memberikan ujian diluar batas kemampuan umatnya Nak, takdir yang kita jalani tak akan pernah terjadi jika Tuhan tak mengizinkan semuanya"
Silvi sudah benar-benar pasrah sekali, apa lagi ia adalah seorang dokter tentu saja ia sangat paham sekali kondisi pasien yang sebenarnya, sesungguhnya kondisi Arjuna itu hanya tinggal menunggu waktunya saja .
Panji langsung mengambil surat Yasin dan mulai membacakan doa dihadapan Papanya, terdengar suaranya begitu merdu sekali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an
Mendengarkan lantunan suara merdu dari Panji
suasana didalam ruangan tersebut pun kembali tenang, Arika dan Silvi masih berpelukan satu sama lainnya, untuk saling menguatkan.
Tepat setelah satu jam arika tiba, tak lama Siska juga sampai di Jogja
" Kita sudah sampai " ucapnya, sambil menahan luka yang begitu besar didadanya.
menginjakkan kaki di kota itu membuat rasa lukanya kembali ternganga, sungguh sangat sakit sekali rasanya.
belum sembuh lukanya dan harus menerima pula sebuah kenyataan baru, yang semakin membuatnya terluka, seorang ibu yang selama ini membenci darah dagingnya sendiri yang dititipkan melalui rahim seseorang, itu yang sedang disesali oleh Siska
Saat mereka berjalan kearah keluar, pikiran Siska masih dipenuhi banyak tanda tanya
"Aku tak habis pikir banyak sekali yang disembunyikan oleh Arjuna dariku, sesulit itukah untuk mengungkapkan semuanya, atau Kenapa tak jujur saja, jika mereka ... ah, sudahlah sama sekali tidak penting!"
Ada banyak rasa sesal yang ingin ia ungkapkan dari dalam hatinya namun tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengungkapkan semuanya.
karena sang pelaku utama telah terbujur tak berdaya melawan penyakitnya
Arya tau jika Siska sedang tak baik-baik saja
ia langsung menggenggam tangan Siska, seolah tau bagaimana dalamnya luka yang ditorehkan oleh Arjuna selama ini.
"Tenangkan dirimu ada aku"
Siska langsung mengangguk, benar yang dikatakan pepatah tak ada yang sehangat pelukan suami dan itu yang dirasakannya saat ini"Iya Kak "
"Ingatlah, kau harus bersikap dewasa, pikirkan perasaan Arika"
Siska mengangguk perlahan, air matanya sudah tak tahan ingin tumpah,tapi ia takut jika Arya akan meragukan rasa cinta yang ada padanya.
"Sekarang kita akan segera kerumah sakit,ayo!"
Siska dan Arya pun saat itu juga langsung menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Panji melalui telepon tadi. Yang lebih membuat siska trauma adalah itu adalah rumah sakit yang sama saat ia dirawat, bertepatan dengan pernikahan Arjuna dan Silvi kala itu.
"Kita akan kerumah sakit Kak"
Siska sebenarnya merasa tidak enak pada Arya, baru saja menikah ia harus meminta izin untuk pergi melihat laki-laki yang pernah menjadi saingannya
Tapi sekali lagi Arya adalah manusia yang memiliki rasa sabar yang luar biasa, ia tidak perduli dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. karena baginya dengan berbesar hati menerima semuanya adalah bentuk cintanya pada Siska, ia sudah tau resikonya, dan mempercayai semua skenario Tuhan tentang hidupnya. telah membuat ia semakin banyak Sekali menjadi seseorang yang lebih menghargai kehidupan di dunia ini.
"Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja, tak ada manusia yang hidup tanpa luka didunia ini" memegang erat hari jemari Siska
Waktu terus berjalan, dan akhirnya taksi tersebut langsung membawa mereka kembali kedalam bayang-bayang masa lalu Siska yang menyakitkan. Wajah Siska nampak berat sekali untuk melangkah, namun ini adalah suatu keharusan jika tidak ia tak akan menemukan jawaban atas segala bukti-bukti yang ia temukan di atas tempat tidur Arika.
"Ruangan mawar nomor 8 dimana ya Sus?"
tanya Siska
"Di lantai dua Nyonya, langsung saja"
"Terimakasih"
Mereka mempercepat langkahnya, karena ruangan di lantai dua adalah ruangan khusus untuk orang-orang yang sakit parah sekali
Ting
tong...
Pintu lift terbuka, tepat didepan pintu lift tersebut nampak Panji berdiri dengan wajah yang dipenuhi air mata, ternyata pemuda tanggung itu juga sangat rapuh sekali, meski ia seorang anak laki-laki,yang di tuntut untuk dewasa sebelum waktunya, tetap saja laki-laki yang terbaring lemah itu adalah ayah kandungnya
"Panji!"
Siska langsung memeluk Panji,ia sadar jika Panji sangat mirip dengan dirinya
"Mama Siska ... "
Panji langsung menghapus air matanya, seumur hidup, baru kali ini Siska melihat Panji menangis, karena sejak kecil Panji selalu tertawa bahagia, dengan segala sesuatu yang diberikan Arjuna secara istimewa untuknya
"Ya Nak"
"Panji pikir mama tidak akan mau datang"
Siska menghapus air matanya Panji "Seorang ibu pasti akan datang, saat anak-anaknya membutuhkan"
Arya langsung kaget melihat sosok Panji yang berada dihadapannya, karena ia memiliki wajah yang benar-benar mirip sekali dengan Arika, bak pinang dibelah dua.
__ADS_1
"Jadi ini yang namanya Panji?"
Arya langsung bertanya