Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 229


__ADS_3

Saat Siska mengambil handphonenya Arya langsung terlihat lesu ia juga ingin mengetes kejujuran Siska padanya meski ia terlihat benar-benar sangat kacau saat ini. ya masalah satu karena ada laki-laki yang menelpon Siska disaat hari pertamanya menikah.


Sah-sah saja sepertinya karena ada seorang laki-laki yang tiba-tiba mengatakan 'mama' padanya, tapi ia tau bagaimana Siska, tapi balik lagi rasa cemburunya yang lebih besar dari semuanya membuat ia semakin panas saja terus-menerus pada Siska, apa lagi kalau belum merasakan cap stempel peresmian mereka yang sudah halal menjadi pasangan suami istri


Apa dia akan jujur ya? atau dia malah sama sekali tak menunjukkan kejujurannya padaku


terserahlah Siska. tapi aku yakin, jika ia tak akan mungkin menghianatiku


Siska mengelus wajahnya Arya sebelum mengangkat telpon itu


"Halo"


Siska menjawab telpon dengan biasa saja, karena selain arika,yang menelpon, sudah pasti kliennya yang menelpon


Namun tiba-tiba wajahnya Siska yang tadinya lembut dan ceria, langsung berubah seketika setelah ia menerima telpon dari lelaki tersebut.


Arya langsung kaget, melihat perubahan wajah istrinya itu .


hanya dalam beberapa detik saja, wajahnya Siska langsung berubah dan air matanya langsung mengalir dari pelupuk matanya


ntah apa yang dikatakan Panji sampai membuat Siska langsung kaget seperti itu


"Siska? kau kenapa ?"


Arya langsung panik saat melihat Siska dengan wajah yang sudah tegang dan tangannya yang begitu dingin sekali


"Baik, aku akan segera kesana untuk menemuinya, jangan khawatir"


ucap Siska dengan perlahan. ia langsung menutup telponnya


Arya pun langsung kaget saat mendapati wajah istrinya yang telah berubah


"Sayang kau kenapa?"


air mata sudah memenuhi pelupuk matanya Siska, hanya tinggal menunggu satu kedipan saja untuk ia jatuh tumpah keluar dari mata cantiknya Siska


Apa yang harus aku katakan pada kak Arya, baru saja aku menikah dengannya dan sekarang aku harus meminta izin pula padanya


untuk segera pergi sebentar melihat Arjuna yang sudah tak berdaya, aku tak mungkin tak mengabulkan permintaan keluarga disana,apa lagi semua keluarga disana adalah keluarga Papanya Arika


Siska yang tak lupa kodratnya sangat tau betul jika sekarang ia berstatus istri dari seorang laki-laki yang berada dihadapannya saat ini


"Kak Arya ... "


ucapnya dengan terbata-bata


"Ada apa Siska?"


tanya Arya dengan memegang wajah cantik Siska, ia benar-benar sungguh sangat khawatir sekali, bagaimana tidak, baru saja menikah, Siska sudah menangis dihadapannya, tentu saja membuat Arya menjadi tak enak hatinya


Siska masih diam saja belum berani mengucapkan satu patah katapun pada Arya


"K-kak Arya ..."


masih tak sanggup untuk berbicara


"Siska ada apa?, ayo katakan saja. jangan membuat aku menjadi panik seperti ini, aku Sangat bingung sekali jadinya. Apa kau tidak bahagia menikah denganku?"


Arya menjadi sangat sedih sekali, karena Siska yang sama sekali tak menjawabnya


"Bukan itu Kak, aku sangat bahagia sekali, bisa menjadi istrimu kak, aku adalah perempuan yang beruntung itu, bisa menjadi istri dari seorang laki-laki hebat sepertimu, tapi yang jadi masalahnya adalah aku ingin meminta izin padamu untuk bisa pergi kejogja"


"Ke Jogja?"


Arya langsung naik pitam, karena ia tau disana ada Arjuna


"Kenapa kau ingin kesana?"


Arya melepaskan pelukannya


Siska mengerti ia langsung memegang tangan Arya


"Dengar dulu Kak, barusan yang menelpon adalah Panji saudaranya Arika, ia meminta ku untuk menemuinya, ada sesuatu yang ingin mereka tunjukkan, lagi pula keluarga papanya Arika sedang berduka juga, karena mereka baru saja kehilangan Neneknya Arika yang meninggal dunia, secara mendadak.


"Panji itu siapa?"


tanya Arya heran, sebenarnya ia kelihatan tak suka


" Panji anaknya Arjuna dengan istri mudanya kak" Siska langsung menundukkan wajahnya tanda hatinya sedang berduka


Arya pun langsung mengerti ia tak mau lagi bertanya lebih banyak lagi, dari tatapan mata Siska sudah kelihatan bagaimana ia sungguh-sungguh terluka saat ia mengatakan hal itu"


"Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja, tentu saja bersamamu, tapi jika kak Arya tak mengizinkan untuk pergi, ya tidak apa-apa juga".


masih menundukkan kepalanya


Namun Siska tau bagaimana Arya yang sesungguhnya, tak akan mungkin seorang Arya bisa menolak permintaan Siska, apa lagi mereka sudah sah menjadi pasangan suami-istri ,


Arya langsung memegang tangan Siska dan memeluknya. Ia tak mau menggali luka lebih dalam lagi dari istrinya tersebut, karena yang sudah berlalu tak pantas untuk di ungkit-ungkit kembali


"Ayo sekarang kita pergi menemui Papanya Arika, kau tak perlu berbicara banyak aku tau bagaimana kau, tak perlu kau jelaskan apapun lagi, karena kesetiaan seorang Siska itu tak perlu di ragukan lagi"


Pelukan pertama dari Arya untuk Siska dan begitu juga sebaliknya tak disangka seindah itu kisah cinta mereka. yang akhirnya Arya untuk pertama kalinya merasakan betapa hangatnya pelukan tubuh Siska ia mencium dahi Siska berkali-kali,

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Arika juga anakku, aku pun akan berlaku baik dengan keluarga Papanya Arika, karena tidak ada mantan anak dan mantan orang tua"


Siska benar-benar terharu sekali karena tak menyangka Arya bisa memiliki hati yang sangat lapang sekali, padahal ia tau bagaimana sakitnya Arya saat Arjuna merebut cintanya di kala ia masih muda dahulu.


"Kak maafkan aku, belum bisa melaksanakan kewajibanku saat ini, tapi aku berjanji setelah pulang..."


"Stop "Arya menaruh telunjuknya dibibirnya Siska


"Bukan itu yang aku cari darimu, jika hanya mengejar kenikmatan sesaat itu dimana saja aku bisa mendapatkannya, tapi hakekat pernikahan itu sungguh berbeda, sakinah mawadah dan warahmah, jangan kau kotori cinta yang ada di hatiku ini dengan nafsu, walaupun itu adalah bonus bagiku, tapi tetap saja yang harus kau tau adalah, aku mencintai seumur hidupku, lihat mataku apa aku terlihat begitu nafsu?"


Gombalan kosong dari Arya, padahal jelas-jelas sudah bertegangan tinggi sekali.


Siska tersenyum manis padanya, "Baiklah kak ayo kita segera berangkat, nanti keburu malam tak ada lagi pesawat yang akan berangkat juga"


"Oh iya, baiklah ayo sayang"


Mereka pun langsung. buru-buru menuju bandara


"Sayang apa kita akan meminta diantarkan dengan sopir yang tadi?"


Arya seperti sedang trauma saja


"Hahaha" spontan Siska tertawa dengan keras


"Aku serius, kenapa kau malaha tertawa?"


"Hmm jangan khawatir Kak, ia sudah pulang, kita naik taksi saja ya?"


Arya langsung tersenyum bahagia.


mereka langsung turun dan naik kedalam taksi yang sudah menunggu,


tapi pada saat didalam perjalanan, Siska terlupa akan sesuatu


"Aduh dimana ya tadi aku taruh?"


Mencari-cari didalam tasnya, tapi tak juga ketemu.


"Astaga Kak Arya aku lupa sesuatu"l


"Apa itu?" Arya tak kaget, karena ia sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan, saat Siska bertanya padanya, sebenarnya ia sedang bertegangan tinggi sekali, dan ia saat ini memeluk Siska dari belakang dengan sangat mesra.


"Kak Arya maafkan aku tapi nanti saja ya "


Siska tersenyum tidak enak karena suaminya tersebut nampak sangat manja sekali padanya


Huh Siska, dari tadi aku sudah berusaha untuk menahannya tapi malah membuat badanku rasanya mau demam saja,Jika seperti ini terus -menerus.


"Kak kita pulang sebentar ya, karena ada yang ketinggalan"


Arya tidak bergeming sama sekali,ia terus-menerus menciumi punggung Siska dari tadi, "Ya ampun kak Arya"


Siska menggelengkan kepalanya


Siska langsung menyuruh supir taksi tersebut untuk pulang kerumahnya, "Pak pulang kerumah dulu sebentar ya, ada yang ketinggalan"


"Baik Nyonya"


Mobil tersebut pun langsung berbelok arah kerumah Maminya, sementara Arya, masih saja tetap terus menerus bersembunyi dibelakang punggungnya, meski sebenarnya Siska sangat risih sekali pada Arya, tapi ia membiarkannya saja. karena ia sungguh sangat paham sekali, sudah berapa lama Arya berpuasa selama belasan tahun lamanya menahan hasrat seorang laki-laki normal yang begitu kuat imannya, meski orang-orang banyak yang tak percaya, jika Arya berhasil melakukan semuanya


Kak Arya maafkan aku, tapi saat ini kondisinya tidak memungkinkan untuk kita berdua bersenang-senang, terimakasih kau sangat mengerti akan hal ini


Siska tau bagaimana perasaan Arya saat ini apa lagi dari tadi Arya sudah seperti anak monyet yang bergelantungan dengan induknya saja


Selama didalam perjalanan, pikiran Siska tak terlalu cemas, karena Arjuna ada yang menjaganya, namun yang membuat hatinya risau adalah ucapan panji yang sungguh menyayat hatinya itu


Pulanglah Ma, Panji ingin sekali Mama tau jika Panji juga anak Mama


Itu kalimat yang terakhir saat Panji menutup telponnya .


Berkali-kali ia berusaha untuk mencerna kalimat tersebut tapi tetap saja tak mengerti.


Apa aku yang terlalu baper ya?


wajar saja sih, Panji berbicara demikian.karena aku adalah mantan istri Papanya, walaupun sebenarnya aku tidak suka mendengarkan ia memanggil ku 'Mama'


Tak lama mobil pun sudah masuk kedalam pagar rumah Siska


akhirnya Siska sampai juga kembali kerumahnya, dalam waktu yang singkat, karena mereka melewati jalan pintas


"Sudah sampai Nyonya"


"Oh ya, baiklah"


rupanya Arya sudah tertidur dibelakangnya


Siska berusaha melepaskan pelukannya Arya dari pinggangnya secara perlahan, karena ia tak mau membangunkan suaminya tersebut


"Ya Tuhan suamiku, kau sungguh sangat manis sekali,aku ingin melepaskan pelukanmu ini sebaiknya segeralah menyingkir dariku"


Tapi Arya tak kunjung terjaga juga, akhirnya ia memutuskan untuk mengelus kepala Arya


"Suamiku tolonglah lepaskan pelukanmu ini sebentar saja ya"

__ADS_1


Arya yang tertidur pun mengangguk,dan melepaskan pelukannya secara perlahan


"Uh, syukurlah"


ucap Siska lega


"Pak tunggu sebentar ya, saya hanya sebentar saja kok, tidak usah dimatikan mobilnya"


Siska langsung berlari masuk kedalam rumah, yang sudah mulai sepi tersebut .


tampak orang-orang sudah mulai membersihkan sisa-sisa sampah yang berserakan disekitar rumahnya,


Lalu ia mulai berjalan masuk kedalam rumah dengan mengendap-ngendap, karena ia tau mau nanti orang dirumahnya itu malah banyak tanya,


"Pas sekali mereka berdua sepertinya sedang asik mengobrol"


Nampak kedua ibunya tersebut sedang mengobrol dengan sangat bahagia sekali ditaman belakang, Siska langsung saja masuk kedalam kamarnya, karena tak mau menganggu kedua perempuan itu yang sepertinya sangat seru sekali bercerita sampai tertawa terpingkal-pingkal.


Cekrek...


saat membuka pintu kamarnya, ia kaget melihat Alea yang sedang tertidur pulas dengan memeluk bantal gulingnya,


"Alea ... "


Siska langsung menghampirinya karena Alea sekarang adalah anaknya juga, ia menciumi pipi Alea, ada rasa iba saat ia melihat gadis itu, sama-sama seusia Arika tapi ia sama sekali belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, karena takdir begitu kecam terhadap dirinya


Tidurlah yang nyenyak anakku, karena aku akan berusaha menjadi ibu sambung yang baik untukmu


Mengelus kepala Alea dengan sangat lembut sekali


Kemudian Siska kembali mencari charger miliknya didalam kamar itu, tapi tak menemukannya


"Tidak ada juga, oh mungkin dikamarnya Arika"


Siska langsung saja masuk kedalam kamar Arika


"Nah benar itu dia"


tergeletak disamping laptop miliknya Arika


"Ya ampun anak ini, tak biasanya kamarnya berantakan begini, kemana dia huh!"


Siska menggelengkan kepalanya, ia yang tak bisa melihat sesuatu yang berantakan pun langsung memilih untuk merapikannya sebentar,


"Hah, Arika "


Saat Siska merapikannya ia baru sadar jika laptop Arika tersebut belum dimatikan


"Astaga Arika lihatlah ia lupa mematikan laptop miliknya"


Ia segera mematikan laptop tersebut, dan kaget melihat sebuah video yan menunjukkan dirinya yang sedang berbaring dirumah sakit


"Video apa ini? kenapa ada aku ?"


Siska langsung memperhatikan secara seksama, tampak juga dokter sedang mengambil sesuatu darinya


Matanya langsung terbelalak


"Ini kan aku, pada saat dirumah sakit dulu!"


Siska langsung terdiam dan memperhatikan video tersebut dengan lebih detail lagi


"Tunggu dulu, video apa ini?"


Siska langsung memutar lebih awal, dan ia dikagetkan dengan sebuah proses yang sangat panjang terlihat dengan jelas dalam video itu.


"Astaga, ya Tuhan. apa lagi ini?"


Siska tak kuasa menahan air matanya, ia langsung terduduk lemas, belum lagi file yang berserakan diatas tempat tidur Arika semakin membuat Siska tak karuan


"Jangan-jangan ada lagi yang di sembunyikan oleh Arika"


Siska langsung memeriksa file yang berserakan diatas tempat tidur itu


"Dan file ini?"


ia membuka satu persatu dan membaca Semuanya


"Ya Tuhan jadi selama ini, mereka semua menyembunyikan ini dariku, ya Tuhan mereka semua benar-benar pembohong yang ulung"


teriak Siska sambil menangis didalam kamar Arika, untunglah teriakannya tak segarang dulu


"Ternyata Panji adalah darah dagingku yang dititipkan di rahim Silvi, ya Tuhan, kalian semua sungguh sangat kejam sekali, kenapa tidak memberitahukan aku, sungguh ini benar-benar sangat jahat sekali, kalian memisahkan ibu kandung dan anak kandung "


Siska menangis sejadi-jadinya didalam kamar tersebut


"Jadi Arika sudah tau soal ini, dan ia hanya diam saja tak memberitahukan aku? aku tak mengerti lagi apa maksudnya semua ini, sakit sekali mengetahui kenyataan ini Ya Tuhan.


aku memiliki seorang putra yang selama ini aku benci, karena kehadirannya telah membuat putriku Arika menjadi tersisihkan, sungguh aku telah berdosa kepada putraku sendiri, aku sungguh sangat sedih sekali"


Siska pun langsung berdiri dan memasukkan semua file dan berkas yang berserakan tersebut kedalam tasnya, ia akan membawanya kembali ke Jogja untuk mendapatkan penjelasan soal itu


"Baiklah aku akan membawa ini semua, agar mereka bisa menjelaskan padaku,apa maksudnya semua ini"

__ADS_1


__ADS_2