
"Menyebalkan"
ucap arika sambil mencoba untuk membuka kancing bajunya yang berada dibelakang
"Kenapa letak kancingnya jauh sekali harus menyeberang pulau jawa sih .."
canda Arika karena ia sudah terlalu lama menggapainya tapi tak bisa juga
Arika berusaha keras untuk membukanya karena pakaian kebaya tersebut memang dirancang khusus untuk ngepas di tubuhnya.
"Sulit sekali, hah..."
nafasnya tersengal-sengal
"Ya Tuhan, kenapa jadi begini sih, susah sekali untuk dilepaskan pakaiannya"
Arika mencoba sekali lagi tanpa menyerah
"Oke baiklah satu kali lagi dan semoga saja ini berhasil"
ia menarik nafasnya dulu dalam-dalam, lalu melepaskannya kembali.
Arika benar-benar tampak sangat kesusahan sekali untuk melepaskan pakaian itu
"Argghhhhhhhh, tetap saja tak bisa, sungguh sangat menyebalkan sekali!"
Tapi tidak berlaku dengan Bian yang melepaskan pakaiannya dengan sangat santai sekali, ia malahan justru nampak dengan sangat mudah sekali berganti pakaian didalam pesawat itu
"Perempuan sok tau, dia melebihi Tuhan saja sok tau sekali dengan hidupku, apa tak ada cara lain selain menuduhku yang tidak-tidak sudah seperti manusia paling sempurna saja dia!"
Bian ternyata masih saja kesal karena Arika yang masih saja menuduhnya tadi, hingga membuat suasana diantara ia dan Arika semakin tegang saja
Di tempat sebelah Arika tenyata belum berhasil juga membuka pakaiannya, karena memang pakaian itu di rancang agar sang suami yang membantu untuk membukanya
"Aduh, bagaimana caranya aku bisa membuka kancing belakangku ini, aku ingin menangis tapi tetap saja tak bisa "
Arika kemudian mempunyai ide untuk membuka lilitan kainnya saja dulu
"Nah coba aku buka kainnya saja dulu, setelah itu akan aman"
Ia sudah membuka kain batik bawahannya sedangkan kebayanya masih melekat ditubuhnya dan benar-benar Arika tak bisa membukanya
"Ya Tuhan kenapa sangat sulit sekali untuk membukanya ini"Arika terlihat sungguh sangat geregetan sekali karena tak bisa membuka pakaiannya, ia langsung duduk termenung sambil memegang wajahnya
"Apa tak sebaiknya aku minta tolong sama pramugari sajalah ya? yah ini ide yang benar sekali sebaiknya aku harus segera memanggilnya?"
Arika pun langsung mengeluarkan kepalanya, untuk memastikan jika Bian tak ada disana karena ia khawatir jika ada Bian dan melihat ia dalam keadaan seperti itu maka ia pasti akan sangat malu sekali, dalam keadaan seperti itu. bukan karena disengaja, tapi karena ia tahu membuka tak tahu memasang celananya,apa lagi Bian itu sudah seperti hantu saja bergentayangan dimana-mana dan bisa muncul tiba-tiba,
bisa-bisanya nanti Bian mengatakan jika ia sengaja untuk menggoda Bian
"Huh untunglah ia tak ada, bisa besar kepala dia nanti, mengira aku sengaja lagi ingin menggodanya, lagian mana lagi pramugarinya?"
Arika yang sudah tidak memakai bawahan nampak berjalan beberapa langkah untuk memanggil para pramugari yang lewat,
ia tampak hanya menggunakan dalaman saja yang sering digunakan oleh bule-bule luar negeri tersebut, jelas lah bagaimana bentuk rupanya, yang benar-benar bisa menaikkan tegangan siapapun yang melihatnya seketika.
tapi ia tak mau berjalan terlalu jauh kedepan karena menurutnya itu sangat memalukan, karena ini bukannya di pantai
"Kok mbak-mbak pramugarinya nggak nongol juga sih, biasanya jam segini adalah jam-jam mereka nongol".
Arika pun langsung menoleh kearah depan, tapi tak juga menemukan satu orang pramugari pun apa lagi ini adalah pesawat pribadi, jadi Arika memang benar-benar bebas bergerak kemanapun ia suka.
Ia tak sadar jika Bian yang berada disebelahnya itu sudah selesai memakai pakaiannya, apa lagi tempat ganti pakaiannya itu hanya ditutupi oleh pembatas khusus saja yang terbuat dari tirai kain yang cukup aman.
"Baiklah sudah selesai, saatnya aku keluar dan duduk dengan manis kembali
"Tersenyum dengan sangat lebar karena baju pengantin itu cukup membuat ia menjadi sangat risih sekali.
Pada saat ia menginjakkan kaki dan keluar dari ruangan ganti ia dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang sangat indah di pandang mata, yaitu dua tumpukan daging montok yang putih, mulus dan hanya menggunakan satu tali saja yang berjalan dihadapannya
bayangkan seperti bule-bule yang sedang berjemur di pantai, itu baru dari belakang saja, bayangkan jika berada didepan, olalala wkwkwkwkw dan itu adalah milik Arika kekasih halalnya.
"Astaga"
matanya terbelalak, lagi-lagi imannya Bian kembali di uji. Arika sungguh sangat jago sekali membuat tegangan menjadi sangat tinggi.
tapi justru keuntungan dari pihak Arika, karena ia l langsung mendapatkan pahala yang berkali-kali lipat karena telah membangkitkan syahwat suaminya, karena Tuhan menjaminkan pahala yang banyak untuk para isteri yang selalu membuat suaminya tergoda, karena memang sesuatu yang halal itu selalu bernilai ibadah dimanapun berada, sungguh benar-benar baik sekali Tuhan menciptakan semuanya dengan segala kelebihan yang ada.
"Apa yang sedang ia lakukan dengan memakai pakaian seperti ini ha?"
ia mengucek-ngucek matanya berkali-kali, untuk memastikan jika yang ia lihat itu memang benar warna kulit, bukan warna pakaian
"Lah benar, itu kulit manusia, bukannya warna pakaian, ckckck putih benar ya, baru saja bagian belakang itu, bagaimana jika bagian depannya ya?"
Bian tersenyum-senyum sendiri.
Karena ia adalah seorang laki-laki yang normal, tentu saja ia langsung berpikiran yang sangat mantap sekali, langsung saja dengan cepat ia memiliki ide nakal dengan sengaja menjatuhkan handponenya dan langsung duduk untuk memperhatikan lebih dekat setiap detail pandangan halal yang baru pertama kalinya ia lihat sedekat ini
"Sungguh ini daging empuk yang sangat indah"
Tangan Bian menari-nari dibelakang
Arika tak sadar jika dibelakang bokongnya tepat kepala Bian, ia masih juga menungging
"Aduh bagaimana ini, siapa yang akan melepaskan resleting kebaya ku ini, aku tak mungkin memasang kembali kainnya itu,aku tak mengerti bagaimana cara memasangnya lagi, ya Tuhan Arika kau sungguh-sungguh sangat ceroboh sekali,ini malah merepotkan aku saja"
Bian yang tepat berada dibelakangnya benar-benar sangat bahagia dengan ketegangan yang sangat tinggi sekali
"Ya Tuhan, bisakah aku menyentuhnya sedikit saja, Ini sungguh benar-benar sangat gemoy sekali, sungguh sangat lucu putih dan bersih sekali, ya ampun mulus dan kinclong seperti pantat bayi, aku jadi penasaran bagaimana bentuknya kalau dari depan ya? apa juga segemoy ini?"
Bian sungguh sangat tak sabar sekali ingin menyentuhnya tangannya sudah menari-nari dibelakang bersiap-siap untuk menyentuhnya
"Wangi sekali "
mencoba menghirup aromanya yang sungguh benar-benar sangat berbeda sekali ini.
"Aroma bidadari yang sangat menggoda sekali"
Sementara itu Arika benar-benar tak menyadarinya jika ada yang diam-diam sedang mengagumi setiap keindahan yang ada pada tubuhnya, apa lagi pandangan ini benar-benar bernilai ibadah untuknya.
"Duh mana lagi pramugarinya kok tak kelihatan begini ya?"
ucap Arika sambil berjalan beberapa langkah kedepan, sementara itu Bian sudah duduk seperti seekor singa yang siap untuk menerkam mangsanya kapan saja
__ADS_1
singa yang sedang mengatur nafasnya agar tidak terburu-buru
"Oh Tuhan bagaimana hebatnya aku menahannya, ini sungguh sesuatu yang sangat luar biasa sekali"
air liurnya sudah jatuh menetes terus-menerus karena ia sudah benar-benar tak sanggup lagi menahan apa yang ia lihat didepan wajahnya itu
Arika mundur beberapa langkah kebelakang dan ia kaget saat ia hendak mundur langsung tak sengaja menduduki wajahnya Bian ia benar-benar sungguh sangat kaget sekali, ia langsung menduduki wajahnya Bian
"Awwww.... apa ini"
Arika sungguh benar-benar sangat syok sekali
karena merasakan ada basah-basah di bokongnya, karena memang Bian tak menutup mulutnya ia sedang ternganga dengan air liur yang menetes di atas lantai.
Posisi mereka yaitu bokong Arika menempel diwajahnya Bian, bayangkan saja bagaimana ketar-ketirnya Bian menghadapi ujian indah ini
wkakakakaak
"Hei...."
ucap arika, tapi Bian sama sekali tak bisa menyingkirkan bokong tersebut, karena posisinya benar-benar menguntungkan baginya
Tapi sialnya saat bersamaan salah satu dari pramugari nampak ingin kebelakang dan ia langsung kaget saat melihat posisi Arika dan Bian yang seperti .... tit....
Pramugari itu ternganga melihat pemandangan yang ada dihadapannya "Astaga ..."
namun seketika ia langsung berubah menjadi pura-pura tak melihat apapun, tangannya langsung menunjuk kearah atas
mencoba berbalik arah dan memutar tubuhnya
"Oh iya itu disana, aku lupa mungkin ketinggalan didalam tas" ia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan kedepan dengan mempercepat langkahnya, meninggalkan Bian dan Arika dalam posisi aneh itu
"Mbak ...mbak..."
teriak Arika tapi panggilannya sama sekali tak dihiraukan oleh sang pramugari cantik itu
ia terlihat buru-buru sekali ingin meninggalkan tempat itu
"Ya Tuhan pasti ia mengira yang tidak-tidak, bagaimana ini jadinya!" gerutu Arika karena seperti apa yang mereka katakan, Jika
Bian nampak tak perduli sekali, meskipun ia sebenarnya sangat kaget sekali dengan kedatangan sang pramugari, secara mendadak itu.
Arika benar-benar sangat syok sekali,
apa lagi sekarang posisi Arika sudah berada duduk bersandar dilehernya Bian
"Aaaaaaaaawwwwww"
teriak Arika geli -geli bagaimana gitu...
Arika langsung sadar jika ia sedang duduk diatas kepala Bian
"Apa yang sedang kau lakukan diatas kepalaku".tanya Bian pura-pura tak tahu, Padahal ia adalah orang yang sangat bahagia sekali saat melihat pemandangan itu, jangankan satu menit, sampai kapanpun Bian juga rela diduduki oleh Arika dalam posisi seperti itu.
Bian selalu ahli dalam melemparkan tuduhan padahal ia yang sengaja melakukan itu
"Aku tak tahu bagaimana mungkin kau bisa ada dibawah sini,aku tak sengaja duduk di atas kepalamu!"
"kau ini memamg sengaja kan, ingin sekali menggodaku, kenapa kau berpakaian seperti itu?"
bentak Bian, untuk menutupi kesalahannya sendiri
"Apa yang kau katakan itu ha?"
"Jika tau tahu apa-apa jangan suka menuduh yang tidak-tidak, sekarang ini aku hanya ingin kau mengatakan jawab dengan jujur kenapa kau keluar dengan seperti ini"
"Kau jangan marah-marah begini, aku tidak bisa membuka pakaianku ini"
"Lah kenapa pakaian yang tidak bisa terbuka, tapi kok bawahannya yang kau buka, itu jelas-jelas kau sengaja ingin menggoda aku kan?"
"Keterlaluan sekali kau ini ya!"
"Cepat menyingkirlah dari atas kepalaku ini, jangan sampai aku khilaf"
teriak Bian
Ribut-ribut yang terjadi dibelakang membuat para awak dan kru pesawat memilih untuk menjadi tuli dulu , dan memilih untuk tak mendengar suara teriakan apapun yang berasal dari belakang itu, mereka pun berpura-pura tidak tahu dan fokus kedepan saja karena paham jika Arika dan Bian adalah sepasang pengantin baru jadi sangat mengerti sekali apa yang akan dilakukan setiap pasangan pengantin baru tersebut.
Tapi salah satu pramugari tak berhenti menahan tawa, meski ia sudah menginstruksikan untuk tak kebelakang, sepertinya bayangan yang sedang menari-nari diatas otaknya itu terus-menerus berjalan dipikirannya
"Hei cepat katakan, apa yang membuat kau tak berhenti tertawa seperti itu, cepat katakan padaku, aku sangat penasaran sekali jadinya"
"Sudah diamlah ini bukan untuk di konsumsi secara publik"
"Bagaimana mungkin aku bisa diam saja, sedangkan kau terus-menerus membuat aku menjadi penasaran begini"
Ia mencoba untuk menenangkan dirinya, tapi sungguh tak bisa, lagi-lagi ia tertawa geli, membuat orang-orang semakin penasaran saja.
"Kenapa kamu tergesa-gesa begitu?"tanya sang pramugari yang lainnya
"Oh tidak ada apa-apa"
wajahnya terlihat sedang menahan tawa lagi
"Kenapa kau tertawa seperti itu, ayo cepat ceritakan?"
ia curiga karena sang pramugari baru saja berada dibelakang
"Cepat katakan?, kalau tidak aku akan melihat sendiri ada apa memangnya sampai kau tertawa seperti itu"
ia langsung membuka pintu karena penasaran sekali
"Jangan..."
ucapnya, tapi sudah terlambat sang teman langsung keluar untuk melihat apa yang terjadi dibelakang dan ia benar-benar kaget saat menemukan Arika dan Bian yang masih berada dengan posisi tadi
"Astaga...."
Bian dan Arika lagi-lagi kaget juga, Karena melihat hal tersebut
"Dan kau lagi-lagi telah membuat orang-orang didalam pesawat ini berpikiran yang tidak-tidak tentang kita Bian!"
"Kenapa menyalahkan aku? jelas-jelas ini kesalahan kau, siapa suruh keluar dengan berpakaian seperti itu"
__ADS_1
Sang pramugari langsung masuk dan bergabung dengan yang lainnya.
ia langsung tertawa
"Hah sudah aku katakan, tapi kau tak percaya juga kan, sekarang kau sendiri yang mengalaminya"
Mereka berdua pun tertawa geli
tapi salah satu dari yang lainnya langsung menghampiri
"Ayo cepat lah ceritakan jangan hanya tertawa sendiri saja cepat katakanlah, aku jadi penasaran juga, jangan simpan kebahagiaan untuk diri sendiri, ayo di bagi-bagi"
Pramugari tersebut tertawa terbahak-bahak
geli sendiri melihat apa yang baru saja terjadi
didepan matanya
"Aku sungguh penasaran sekali?"
"Baik... baiklah aku akan menceritakannya tapi tunggu sebentar ya aku menenangkan nafasku dulu"
"Baiklah aku sudah tidak sabar lagi ingin mendengarkan apa yang terjadi"
"Kau saja yang menceritakannya, apa posisinya masih sama?" saling berpandangan, dan akhirnya kembali tertawa terkekeh-kekeh
Semuanya menjadi sangat penasaran sekali Apa lagi terdengar teriakan yang begitu keras dari belakang
"Suara itu?"
"Lebih baik kita tidak usah kebelakang dulu, aku harap kalian semua mengerti, ya jangan kebelakang dulu karena ini hanya akan membuat kita menganggu sang pemilik pesawat ini, kalian tahu lah kan bagaimana pengantin baru pada umumnya"
Semuanya pun langsung mengangguk mengerti
dan dalam sekejap mereka saling berpandangan satu sama lainnya dan langsung mengerti "Baiklah aku rasa kalian memang benar, lebih baik kita tak usah kemana-mana dulu"
Suasana pun dalam sekejap dapat di handle dengan sangat baik sekali, semua kru pesawat sepakat untuk memberikan kebebasan pada pasangan pengantin baru tersebut, sayangnya mereka tak tahu jika apa yang terjadi tak sesuai ekspektasi.
Arika langsung buru-buru berdiri, sedangkan Bian seperti orang yang sedang mabuk, Karena baru saja mendapatkan sesuatu yang berkah, sekali karena sekarang ada sesuatu tegangan yang sedang tinggi yang sangat susah sekali untuk ia kendalikan saat ini
"Apa yang sedang kau lakukan dibelakangku!"
lagi-lagi Arika berteriak dengan sangat keras sekali, karena ia juga panik ternyata, karena seumur hidup baru kali ini ia bersentuhan dengan lawan jenis dalam keadaan yang sangat ekstrim seperti itu
Bian tak bisa berbicara banyak, matanya sesekali terpejam dan sesekali terbuka, karena ia sedang merasakan melayang-layang di udara
Membuat Arika semakin hilang akal saja melihatnya.
"Apa yang kau lakukan Bian!"
tangan Bian berada diatas kunci hidupnya
"Aku tak tahan lagi!"
ucapnya dengan terbata-bata dan semakin tampak jelas sekali bagaimana wajahnya yang benar-benar seperti seorang yang sedang tersiksa.
Arika yang langsung berdiri kembali berjongkok karena melihat Bian yang begitu aneh itu, ia tak mengerti jika ada yang sedang meronta-ronta, karena emang Arika tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Bian
"Bian, kau kenapa?"
tanya nya
Bian masih saja seperti orang aneh sekali
"Apa dia sedang kesurupan setan dipesawat ya?"
Arika memegang dahi Bian dan melihat ke arah tangan Bian yang terlihat masih berusaha untuk menyembunyikan sesuatu yang tegak tapi tak nampak
"Astaga!" Arika kaget karena melihat sesuatu yang tegak berdiri dengan ukuran yang fantastis.
"Bian kau kenapa? apa kau sakit dan itu apa?"
"Tolonglah aku Arika, aku sudah tak kuat lagi?"
Wajah Bian sudah berubah menjadi berwarna merah padam
"Iya lalu aku harus bagaimana, apa aku harus minta tolong"
Arika benar-benar terlihat sangat panik sekali karena ia juga tak mengerti harus bagaimana, ini
Sedangkan para pramugari masih berbincang-bincang
"Itu suara minta tolong?"
saling berpandangan.
"Iya kita kan tau jika Nona Arika seorang gadis perawan dan juga keturunan orang terpandang, jadi harap maklum saja dengan teriakan itu"
"Tapi ganas juga ya Tuan Bian"
"Bukan masalah ganas atau tidak, namanya juga masih jiwa muda, ya jadi seperti itu, buka segelnya"
"Aku sungguh penasaran apa yang terjadi di belakang"
"Lebih baik diam dan perhatikan saja hidupmu jangan menganggu hidupnya"
"Aku tak tahu apa yang membuatmu merasa bahwa mereka baik-baik saja"
Lagi-lagi Arika langsung kebelakang ujian mengambil sesuatu
"Coba gunakan ini"
Mengambil botol "Hah untuk apa itu?"
tanya Bian heran
"Iya kan kau sudah tidak tahan bagaimana lagi aku ambilkan botol saja ini lebih aman"
"Sungguh aku merasakan hal yang sangat penting dari pada botol ini, Arika"
suara Bian terdengar begitu berat sekali,
Tapi tiba-tiba Arika merasakan sakit perut yang hebat, karena itu adalah kebiasaannya jika sedang panik, mendadak langsung sakit perut
__ADS_1