
Arika langsung keluar dari dalam kamarnya dengan membiarkan semuanya berantakan didalam kamar. tak ada satupun yang ia pikirkan kecuali Papanya saja, ia benar-benar begitu panik sekali, bahkan kamarnya tak sempat sama sekali rapikan, itu bukanlah karakter Arika yang sebenarnya, biasanya sesibuk apapun ,ia sangat tidak bisa meninggalkan kamarnya dalam keadaan tidak rapi
"Aku harus segera menemui Papa"
Wajahnya sudah memerah, ia langsung mengambil tas dan dompetnya dan langsung buru keluar,
sementara itu diluar kamarnya
Kedua Neneknya nampak sedang asik mengobrol dengan tertawa itu tak menghiraukan lagi Arika yang sedang pergi tersebut
"Ya akhirnya anak-anak kita menjadi sangat bahagia sekali, perjuangan cinta mereka tak usah diragukan lagi"
Sambil meminum teh, obrolan kedua orang tua yang sangat bahagia melihat anak-anaknya bisa kembali bahagia karena berumah tangga
"Begitulah besan, aku juga heran sekali rupanya benar yang dikatakan oleh orang-orang dulu, jika takdir akan menemukan jalannya sendiri"
"Benar ya besan haduh...'
Tertawa cekikikan sambil memegang mulutnya
"Besan aku mau melihat Arika saja dulu ya, aku khawatir"
akhirnya neneknya Arika memilih untuk melihat Arika keluar, tak bisa dipungkiri jika perasaan seorang nenek pada cucunya juga sangat kuat
"Ya Besan, aku tunggu disini saja dulu, Alea juga tak tau lagi dimana dia aku sama sekali tak melihat batang hidungnya dari tadi"
Mami siska berjalan keluar dan menghampiri Arika
"Arika, kemari dulu, kau mau kemana ?"
"Nek Arika mau pergi dulu"
mencium tangan Neneknya tersebut
"Pergi kemana ?" Mami Siska kaget, apa lagi wajahnya Arika nampak seperti habis menangis
Tangisan Arika kembali pecah
"Mau lihat Papa Nek. kondisi papa semakin memburuk, arika harus segera pergi saat ini juga, Papa butuh Arika
Neneknya nampak kebingungan melihat Arika yang seperti itu, apa lagi ia tak tau bagaimana kondisi Arjuna yang sesungguhnya.
Rupanya ibunda Arya ikut menyusul Arika yang hendak berangkat tersebut, sekaligus ia juga ingin mencari Alea yang dari tadi tak terlihat sama sekali batang hidungnya
"Aku ingin mencari kemana Alea, apa dia juga akan pergi bersama Arika, huh..aku sangat khawatir sekali jika Alea akan mengajak Arika untuk melihat Papanya"
Namun ia kaget saat melihat Arika yang sedang menangis tersedu-sedu
sambil berdiri
"Arika kau kenapa cucuku?"
tanya ibunda Arya dengan cemas sekali, karena sekarang cucunya sudah menjadi dua tak hanya Alea saja
"Nenek, Papa Arika di Jogja sedang sakit keras, Arika harus segera pulang untuk melihat keadaannya"
mereka berdua pun saling berpandangan dan saling mengerti karena iba
"Sudah anak cantik, jangan menangis ya, Papa Arika akan baik-baik saja, jangan menangis"
"Arika harus pergi saat ini juga nenek"
ungkapnya dengan sedih
"Arika akan pergi seorang diri?"
"Iya Nek, mau bagaimana lagi, tak mungkin mengajak yang lain, biar Arika saja seorang diri pergi *
Sebenarnya mami Siska berat melepaskannya seorang diri namun tak bisa juga untuk menahannya mengingat kondisi yang terjadi, apa lagi Arya dan Siska tak mungkin juga di ganggu, karena sudah menjadi sebuah keharusan saat mendengar sesuatu terjadi pada orang tua dan sudah kewajiban seorang anak untuk segera pergi menemuinya,
tak perduli seberapa banyak hal yang sudah dilakukan oleh orang tua kepada kita,baik sakit yang teramat dalam, namun orang tua adalah tetap orang tua, orang yang mengandung dan membesarkan dengan segala cara dan upaya untuk membahagiakan anak-anaknya, walaupun kita tak pernah tau bagaimana cara mereka untuk mengungkapkannya, sejatinya orang tua tetaplah manusia yang diutus Tuhan untuk menjadi jalan kita menuju surganya
"Tapi Nak apa tak sebaiknya kau memberi tau mamamu dan papa Arya dulu kalau kamu mau berangkat Nak?"
"Tidak usah Nek, biarkanlah mama dan papa bersenang-senang dulu, jangan sampai sakitnya Papa Arjuna ini membuat mama dan papa Arya menjadi hilang momentum berharganya, lagi pula Nek, mama Siska tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Papa Arjuna. Arika pamit Nek"
"Baiklah sayang hati-hati ya, Nenek berdoa jika keadaan Papamu akan baik-baik saja, nanti jangan khawatir sayang"
Langsung menuju mobilnya. kebetulan mobil tersebut kuncinya Belum di cabut oleh Arika
"Tak ada seorangpun yang bisa mengantarkan aku huh, tapi ini situasnya urgent, tak apa lah nanti mobil ini aku taruh saja diparkiran bandara,biar mas Raja saja nanti yang bawa pulang, ia kan juga dalam perjalanan pulang kemari"
Arika langsung pergi melajukan mobilnya dengan hati yang gundah gulana membayangkan keadaan papanya
"Papa, Arika mohon bertahanlah sekuat tenaga sampai Arika datang Pa, banyak hal yang ingin Arika katakan pada Papa, jika Arika sangat mencintai Papa, Arika tau Papapun sama menyayangi Arika seumur hidup Papa, Arika ingin Papa bisa melihat Arika yang sudah berhasil menjadi anak yang mandiri ini, Papa lihat lah Arika pulang seorang diri"
Arika melaju dengan sangat kencang sekali
perasaannya sudah benar-benar tak karuan sekali.
Sambil menunggu kedatangan Arika,
__ADS_1
ditempat yang berbeda.
Panji sudah mulai sangat panik sekali, ia yang selalu tenang, baru kali ini merasakan perasaan yang benar-benar sangat gelisah sekali, karena para dokter yang menjaga Papanya sudah mulai menyerah,
"Tolong ambilkan alat itu dulu Suster"
"Baik Dokter"
Suster dan dokter nmpak begitu sibuk sekali
mereka sibuk bekerja melakukan segala upaya agar Arjuna bisa kembali seperti keadaan biasa," Cepat tolong oksigennya mau habis ini"
Salah seorang suster langsung dengan cepat membantunya untuk menggantikan tabung oksigen yang lainnya, karena memang Arjuna hanya dibantu oleh oksigen saja, jika tidak maka saturasi oksigen Arjuna akan langsung menurun, mereka semua sudah berusaha dengan sangat optimal sekali, namun sepertinya memang tak semudah itu , wajah mereka nampak langsung berubah sangat panik sekali
"Dokter bagaimana sekarang?"
tanya Panji yang juga sangat cemas sekali memikirkan nasib Papanya tersebut
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja"Mencoba menenangkan keadaan, meski keadaan sudah sangat genting sekali
"Jika sudah tak bisa lagi, maka sebaiknya kita harus segera melakukan tindakan ini Mas"
"Apapun itu lakukanlah semuanya yang terbaik untuk Papa saya, saat ini juga"
hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera membawa Arjuna kerumah sakit
"Mas Panji sebaiknya papanya Mas, langsung dibawa kerumah sakit saja, karena disana alat-alatnya lebih lengkap dan maksimal saya khawatir jika dibiarkan dirumah tidak akan bisa terkontrol karena posisinya papanya Mas saat ini sedang mengalami penurunan yang sangat drastis"
Panji mencoba untuk tetap tenang, karena seperti yang diingatkan oleh Arika, jika ia adalah pengganti Papa yang harus memiliki jiwa yang kuat
"Baiklah dokter terserah dokter saja, yang terpenting adalah lakukanlah semua yang terbaik untuk Papa saya, apapun yang terjadi nanti yang terpenting kami sekeluarga sudah melakukan hal yang terbaik untuk Papa selama ini, karena manusia hanya bisa berusaha setelah itu keputusan terakhir kembali kepada kehendak sang pencipta"
Panji bijak sekali mengucapkan semuanya, meski ia masih kategori remaja, tapi ia justru bisa bersikap dewasa sekali, karena itulah tugas yang selama ini diemban oleh Arjuna apapun yang terjadi anak laki-laki dari keluarga ini harus berdiri dengan mantap sekali, sementara itu Silvi tak henti-hentinya menangis ia benar-benar sudah sangat lemas sekali,
tak bisa lagi untuk berbicara sepatah katapun lagi, melihat keadaan Arjuna yang seperti itu jelas saja Silvi tak henti-hentinya berdoa, walaupun tangisan air mata, terus menerus mengalir tak henti-hentinya.
Laki-laki yang tergeletak, adalah suaminya yang juga sekaligus sepupunya, yang sudah lemas tak berdaya itu
Silvi langsung membisikkan sesuatu ditelinga suaminya tersebut
"Mas Arjuna harus bertahan, mbak Siska pasti akan kembali untuk menemui Mas, ingat Mas, harus bertahan jika ingin mbak Siska menemui mas"
Panji benar-benar iba melihat Silvi yang cantik dan mempesona itu sudah seperti mayat hidup saja, tak mau makan dan minum hanya karena memikirkan bagaimana keadaan Arjuna papanya, yang sama sekali tak pernah mencintainya
"Mas ingatlah Mbak Siska akan segera kembali, untuk menemui Mas, ingat mbak Siska Mas"
ucapan Silvi yang menyebutkan nama Siska, benar-benar ampuh untuk membuat Arjuna kembali bangkit lagi, ia pun langsung bereaksi
"Mas ..mas"
Silvi tersenyum dan menghapus air matanya
matanya langsung berbinar-binar kembali
" Dokter.. dokter, lihat itu tangan papa saya bergerak"
Panji menunjukkan tangan Arjuna
ternyata tak hanya Silvi saja yang memperhatikannya namun Panji juga memperhatikan tangannya Arjuna
"Mama, apa yang mama bisikkan Ma?"
Panji meneteskan air matanya
namun Silvi sama sekali tak membalasnya, ia tak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Panji ,ia hanya menangis saja
Panji memegang tangan silvi
"Ayo Ma, katakanlah Ma apa yang mama bisikkan tadi Ma?"
"Tidak ada Nak, mama hanya membisikkan apa yang seharusnya ia inginkan itu saja, tak ada yang membuat ia semangat kecuali ..."
terhenti
Panji langsung tau jawabannya "Mama Siska "
ungkap Panji perlahan
Ia langsung keluar dari dalam kamar tersebut, sementara itu tim dokter sudah sibuk menyiapkan pemindahan Arjuna kerumah sakit
"Dokter tapi tadi tangan Papa saya bergerak dokter "
"Iya nanti saja kita periksa lagi ya Mas Panji, sebaiknya kita harus cepat-cepat membawa Tuan Arjuna untuk segera kerumah sakit ya"
"Permisi mas"
Suster langsung mendorong tempat tidur Arjuna untuk segera masuk kedalam mobil ambulance
"Dokter saya akan langsung menyusul kerumah sakit dengan mobil saya sendiri "
"Baik Mas Panji"
__ADS_1
Panji yang ingin pergi sampai melupakan kehadiran Silvi.
"Panji mau kemana Nak, jangan tinggalkan Mama seorang diri disini Nak,mama tak akan bisa ditinggal seorang diri seperti ini Nak, jangan biarkan mama seorang diri menghadapi ini semua Nak"lirih Silvi sambil menarik tangan Panji yang hampir saja pergi
"Mama..."
Panji memeluk erat Silvi, perempuan yang sudah melahirkan dan menyusuinya selama ini nampak benar-benar sangat rapuh sekali
"Mama, jangan khawatir, tidak akan mungkin Panji meninggalkan mama seorang diri, mama akan ikut kemanapun Panji pergi, tapi sebelumnya Panji akan menelpon Mama Siska, setidaknya mama Siska harus bertemu papa untuk terakhir kalinya, semuanya ini untuk kebaikan bersama, juga setidaknya nanti tidak ada penyesalan satu sama lainnya Ma Antara kita semua"
Silvi hanya mengangguk saja
"Ya Nak terserah kau saja, karena mama tak mungkin menelpon Mbak Siska, apa lagi ini adalah hari bahagia untuknya dan suami barunya"
Dokter langsung berpamitan pada mereka
"Baiklah semuanya sudah siap, Tuan Arjuna akan segera dibawa kerumah sakit"
Mereka mengangguk setuju .
"Saya dan mama akan segera menyusul dibelakang Dokter,"
ucap Panji
"Permisi"
Sirine mobil ambulance terdengar keras sekali menghilang membawa Arjuna.
sementara itu Arika yang sudah berada didalam perjalanan menuju Jogja nampak terus menerus berdoa untuk kesembuhan papanya
"Apapun yang akan terjadi nanti pada Papa itulah yang terbaik untuk semuanya ,karena semuanya yang telah terjadi adalah rahasia ilahi tak ada satupun yang bisa mengelaknya, aku pasti sudah siap menerima semuanya nanti, karena selama inipun aku sudah terbiasa hidup tanpa papa"mencoba menengah dirinya
padahal ia sebenernya benar-benar sangat rapuh, sejatinya tak ada seorang anak yang sanggup kehilangan orang tuanya.
......
Kembali lagi pada Mami Siska dan ibunya Arya
Kedua manula yang masih segar dan bugar tersebut langsung berpandangan satu sama lainnya saat melihat Arika sudah pergi dari hadapan mereka dengan mobilnya
"Bagaimana ini besan apa kita harus memberi tau Nak Siska dan Arya ?"
"Aku juga bingung besan sebaiknya apa kita harus menganggu malam pengantin mereka ?"
"Tapi sepertinya Arika tidak menyuruh kita untuk menelpon mamanya "
"Ya sudahlah Papanya Arika itu . emang sakit lagi pula disana ada istrinya juga yang mengurusi nya, Putriku Siska juga tak perlu repot-repot lagi untuk memikirkannya, ia sudah memiliki suami yang harus menjadi tanggung jawabnya"
Mereka pun kembali duduk meski sebenarnya ibunda Arya merasakan jika Arika benar-benar sedih sekali,namun apa yang dikatakan Maminya Siska itu benar adanya, untuk apa juga Siska tau karena mereka juga sudah memiliki kehidupan masing-masing, Siska dan suaminya dan Arya dengan istrinya, meski kenyataan yang sesungguhnya tak diketahui oleh keduanya
"Sudahlah besan jangan memikirkan sesuatu yang bukan menjadi urusan kita sebaiknya kita segera lanjutkan saja obrolan senja kita untuk menunggu giliran Tuhan memanggil kita"
Tertawa terkekeh-kekeh "Ya kau benar sekali besan, tinggal menunggu waktunya saja lagi untuk menghadap sang pencipta "
Sementara itu Alea yang baru pulang dari rumahnya Dimas ,nampak sangat bahagia sekali apa lagi Rima memperlakukan ia dengan sangat baik sekali
"Syalala, syalala"
Alea masuk kedalam rumah
Mereka terkejut mendengar Alea yang sedang bersenandung
"Lea kau dari mana?"
tanya ibunda Arya curigai
"Dari rumah om Dimas dan Tante Rima nenek"
Ibundanya Arya langsung menggelengkan kepalanya "Astaga anak itu apa yang sedang ia lakukan lagi, pasti dia berharap yang tidak-tidak untuk itu hadeh .."
"Nenek, mana Arika aku tak melihatnya ,apa ia ada didalam kamarnya?"
"Arika pergi kejogja sore ini "
"Mendadak sekali Nek, Kenapa ia tak menelponku argghhhhhhhh Arika menyebalkan sekali, padahal aku ingin ikut huh..."
Alea langsung berlari keluar rumah untuk melihat mobil Arika "Ya mobilnya nggak ada, Arika keterlaluan sekali"
Ia mencoba menghubungi Arika tapi tetap tak bisa juga "Arika pasti sudah dipesawat ini!"
Baru beberapa menit ia menelpon, mobil Arika langsung masuk kedalam perkarangan rumah tersebut "Nah itu dia orangnya, awas saja ya, berani sekali tak mengajakku dia!"
Alea tidak tau jika yang membawa mobil tersebut kembali adalah Raja yang baru saja pulang dari Jogja, sesuai prediksi Arika,ia pergi dan Raja kembali
"Arika !"
teriak Alea mendekati mobil tersebut
Namun Raja yang berada didalam mobil tersebut langsung kaget saat melihat Alea yang berdiri melambaikan tangan kearahnya
"Hah Alea kah itu !
__ADS_1