
Arya masih tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Raja, dia hanya bisa duduk dengan tatapan kosong seperti orang yang sedang kesurupan, pikirannya mulai melambung tinggi sekali, hingga tak menyadari Alea sudah duduk menatap nya dengan lucu
"Paa," Siska yang sedang lewat tak mau menganggu mereka, karena tahu bagaimana perasaan Arya saat ini, begitu juga dia tak mau membuat Alea berpikiran yang tidak-tidak padanya nanti,apa lagi posisinya sebagai istri baru ayahnya
"Siska, kemarillah Nak" ibu Arya menarik tangan menantu nya tersebut
"Jangan kau biarkan suamimu, menjadi keras seperti itu, dia tak seharusnya bersikap begitu keras pada putrinya, seharusnya jika ada lelaki yang sudah mapan, dan memiliki tanggung jawab, untuk melamar Alea, izinkan saja, karena beda zaman beda cerita, walaupun otak laki-laki itu tetap sama, tak jauh-jauh dari ************, namun ibu yakin, Arya akan mendengarkanmu, kau perempuan yang sangat dia cintai, dan kau jugalah yang bisa menenangkan hatinya, karena selama ini dia sudah cukup bertarung memikirkan semuanya sendiri, dan ini sudah saat nya, kau katakan padanya, nasehati dia, karena mendidik seorang putri itu dengan hati dan kelembutan, tak bisa otoriter seperti itu"
ibunya tersenyum manis, untuk berusaha meyakinkan Siska, jika dia pasti bisa membuat Arya percaya apa yang akan terjadi selanjutnya, pasti sedikit banyak seorang suami akan mendengarkan apapun yang di katakan oleh istri
apa lagi untuk seorang Arya, menikah dengan perempuan yang dia cintai, adalah impian dan takdir yang sangat dia harapkan selama ini
"Ibu percaya padamu Nak" menepuk pundak Siska
Siska langsung tersenyum dan menarik nafas panjang, karena ini memang bukan sebuah perkara yang mudah, mereka bukan hanya sedang membahas masalah hati, tapi mereka sudah tua dan ini tentang masa depan anak-anak yang sudah menjadi tanggung jawab mereka
"Aku juga tak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh Arya, Bu. Tapi aku pastikan aku akan berusaha keras untuk membuat dia percaya jika tidak semua yang terlihat buruk itu buruk juga akhirnya" Siska tersenyum bijak
Dia pun dengan menarik nafas langsung menghampiri Arya dan Alea yang sedang duduk
"Wah, mama mau gabung, boleh tidak Alea"
Siska tersenyum sambil membelai rambut gadis yang tak pernah merasakan belaian kasih sayang seorang ibu itu
__ADS_1
"Tentu saja Mama, bergabung lah dengan kami, karena kami sangat suka keramaian" Alea tersenyum bahagia, karena kehadiran Siska dapat meredam emosi Papanya.Tak perlu mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya, tapi Alea tahu jika Siska berada didalam pihaknya
"Aku tahu Mama Siska pasti akan membelaku, karena aku yakin sekali dia berpikir terbuka, tidak seperti Papa, lagi pula pernikahan itu bukan tentang usia, tapi tentang tanggung jawab, di mata Tuhan dan juga manusia, bayangkan saja jika aku selalu berduaan dengan Raja" Alea berharap semuanya dapat berjalan dengan lancar
Siska langsung mencubit pipinya
"Anak baik, pasti akan selalu mendapatkan apapun yang dia mau, karena apa? Tuhan tahu apa yang terbaik untuk umatnya"
suasana pun kembali mencair, Arya sudah bisa tersenyum bahagia melihat semuanya yang berkumpul, dia juga ikut membelai pipi Alea, seperti anak kecil, dan Siska tahu jika Arya belum siap untuk kehilangan sosok kecil Alea
"Alea sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik, dan kau sendiri yang merawatnya ya, aku sungguh sangat kagum padamu" puji Siska, dia sengaja membuka obrolan agar bisa memasuki jiwa arya, berusaha untuk menyelami setiap sisi hati yang selama ini terombang-ambing tak tahu arah tujuan
Alea tahu kemana arah pembicaraan ini, dan dia pun langsung undur diri
sekarang tinggallah Arya dan Siska
mereka pun mulai berbicara dari hati kehati, membahas masa tua dan juga masa depan Alea, karena Arika sudah berada pada tempat yang nyaman di tangah keluarga Aditya dan Ana
"Siap tidak siap kita harus bisa berlapang dada nanti, ditinggalkan oleh anak-anak kita satu persatu" ucap Siska
"Apa yang sedang kau bicarakan Siska, apa itu artinya anak-anak tidak akan pernah peduli dengan kita orang tuanya?"
Arya mulai naik darah lagi, karena dia memang belum siap secara mental jika suatu saat Alea pergi meninggalkannya
__ADS_1
"Bukan seperti itu suamiku,tapi apa yang terjadi saat ini tidaklah sama dengan apa yang kau harapkan, kau lihat saja aku, karena sudah menjadi fitrahnya, seorang perempuan harus patuh pada suaminya, tidak mungkin kita memaksa menantu kita untuk tinggal bersama, karena sama saja kita ikut campur urusan rumah tangga mereka"
Siska begitu bijak, karena dia seorang ibu dan juga perempuan yang sangat paham betul apa saja yang perlu di pahami, tidak seperti Arya yang sudah tersulut emosi terlebih dahulu
"Tak ada anak yang tak mencintai orang tuanya, tapi kita harus tau juga, anak perempuan itu bukan lah milik orang tuanya, dia milik suaminya, kita hanya merawat dan mendidiknya secara baik, dan benar, agar kelak dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik, itulah yang membuat kita akan mendapatkan pahala yang besar atas apa yang akan terjadi untuk kita"
"Tapi aku setelah menikah selalu mengajak ibuku, dan tak ada yang keberatan soal itu"
Siska tahu Arya sedang tertekan, khawatir karena saat ini didalam hati Alea bukan hanya dia saja laki-laki yang dia cintai, tapi ada orang lain yang menjadi saingannya, karena itu adalah hal yang wajar bagi seorang ayah, ketakutan yang luar biasa, jika putrinya berada di tangan yang salah
"Suamiku, apa kau lupa sesuatu,jika anak perempuan akan menjadi milik suaminya, maka anak laki-laki akan menjadi milik ibunya selalu dan tentu saja tanggung jawab nya sampai kapanpun"
Siska melemparkan senyuman pada arya, dan senyuman itu juga merupakan kelemahan bagi Arya, karena dia tak akan bisa melakukan apapun jika sudah melihat senyuman yang saat ini sudah sah menjadi miliknya
"Hmm, senyuman sungguh menggemaskan, aku jadi tak sabar ingin cepat-cepat tidur" wajah Arya langsung memerah
Siska pun langsung tertawa dengan menutupi mulutnya,
"Kau bisa saja kak Arya"
Tapi gelak mereka kemudian langsung berhenti seketika, saat mendengar suara seseorang yang tak asing mengucapkan salam dari luar
"Senang sekali kembali berjumpa dengan Papa dan Mama" ucap Raja dari luar dengan Dimas dan Rima yang mematung bagai orang asing bertemu dengan mereka.
__ADS_1
"Raja!" Siska langsung berdiri kaget,apa lagi melihat wajah Rima dan Dimas yang tampak kaku