
Ana menyadari jika Dimas memotretnya dan Siska "Lihat itu Kak Dimas "
Ucap Ana
"Kau lihatkan bagaimana kak Dimas terlihat begitu bahagia sekali dengan segala yang terjadi kan , padahal hari ini adalah pernikahan Rima ,ia terlihat begitu biasa saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun "
Siska melipat kedua tangannya
Ana yang melihat situasi sudah tak kondusif lagi langsung pamit pulang undur diri
karena dari tatapan Siska ia sudah tau apa gng ada di otaknya
"Siska aku pamit dulu ya, aku lupa jika Bian tak. bisa di tinggalkan lama-lama apa lagi kau tau lah kan Aditya bisa marah kalau aku pergi lama-lama ,aku mau pamitan dulu sama Mami dan Pak kumis "
Ana buru-buru meninggalkan Siska
Setelah Ana pergi ia melihat Dimas yang asik senyum-senyum sendiri melihat Poto di kamera miliknya "Heh semakin aku merasa Kak Dimas ini semakin gila , lihatlah kelakuannya Seperti orang yang tak punya hati saja , apa dia lupa jika menjadi manusia baik itu sangat menyenangkan , hatinya terlanjur busuk sekali "
Siska mendekati Dimas dan menepuk pundak nya
"Hei Kak Dimas , kau kelihatannya sungguh bahagia sekali sih , apa kau tak sedih karena Rima menikah hari ini?"
"Nggak biasa aja "
sambil melihat-lihat Poto di kameranya
"Kak Dimas tak sedih ?"
"Lah iya ngapain sedih ya kan ,jodoh maut rezeki itu semuanya sudah diatur yang kuasa ,lagi pula jika tak berjodoh dengan Rima kan masih banyak perempuan lain diluar sana yang lebih baik dari nya"
Dimas berdiri meninggalkan Rima yang masih saja mengutuknya
"Benar-benar tak punya perasaan ! apa dia pikir dengan segala perlakuan yang ia lakukan pada Rima ia merasa sangat hebat sekali ?! "
Nafas Siska masih naik turun ,Arjuna mendekatinya "Sabar bawa minum dulu , kau tak boleh menilai kak Dimas seperti itu ,bisa saja Kak Dimas sebenarnya juga sedih ya kan .."
mengelus punggung Siska
"Ah sikap itu adalah cerminan hati ,lihat saja kelakuannya yang bersikap sesuka hatinya sudah mewakili bagaimana buruknya hati nya itu !"
Arjuna tertawa sambil mengelus kepala Siska
"Sayang dalamnya jurang dapat diukur namun dalamnya hati manusia kita tak pernah tau ,sayang !"
"Hah terserah kau saja tapi aku mengenal siapa kak Dimas dan bagaimana dirinya ia itu manusia paling egois dan tak punya perasaan titik "
Siska pergi meninggalkan Arjuna dan bergabung dengan maminya yang sedang mengobrol menggunakan kebaya tersebut ,nampak Pak kumis tersenyum pada nya "Nak Siska "
Siska mencium tangannya "Titip mamiku ya Pak "
"Apa.kau hanya ingin aku menjaga mamimu saja ? apa kau tak ingin aku juga menjagamu "
__ADS_1
Mata Siska langsung berkaca-kaca
Ia sangat merindukan sosok seorang ayah dan Sama halnya dengan maminya ada rasa nyaman saat ia berbicara dengan Pak kumis
Siska langsung memeluk nya
"Panggil aku ayah jangan pak Kumis lagi, karena aku sudah mencukur habis seluruh kumisku "
Siska langsung tertawa geli mendengar ucapan pak kumis
"Iya ayah "
Siska memeluknya erat
Dari mereka berdua Siska banyak belajar jika jodoh itu tak akan kemana ,lihatlah banyak hal yang sudah mereka Lewati namun saat takdir mengatakan dia adalah jodohmu tak ada satupun kekuatan yang mampu menghalanginya .
Kisah Mami dan pak Kumis selesai. Karena mereka hidup bahagia tanpa ada yang menganggunya lagi
satu-satu masalah terurai ya gengs...
Arya kembali kekantor dengan wajah yang sangat aneh menurut Aditya
"Kau sedang ada masalah "
"Menurut mu ?"
Aditya tertawa "Hmm menuruku kehadiranmu di dunia ini sudah di takdirkan untuk memiliki banyak masalah !"
"Sama sekali tidak lucu "
Ucap Arya kesal
"Oh ya aku akan memberikanmu tugas besok untuk keluar kota dalam besok, kau akan mewakili perusahaan kita bertemu dengan kolega kita di seluruh dunia di Bali , jangan lupa septiap perusahaan adi kuasa mengirimkan satu utusan dan aku mengirimkan kau untuk kesana "
"Baiklah aku setuju ,kau tau saja jika otak ku ini sedang sangat membutuhkan liburan sekali , apa kau tau aku sungguh sangat pusing tujuh keliling berada disini "
"Yah tapi kau kan..."
Aditya mencoba menasehatinya kembali namun lagi-lagi Arya langsung memotong pembicaraannya
"Oke baiklah aku akan segera pergi dari sini untuk bersiap-siap belajar untuk besok Tuan Aditya yang terhormat "
Arya langsung keluar dari dalam ruangan Aditya
Namun ia lupa membawa laptopnya yang tertinggal
"Hah dasar pelupa"
Belum sempat Aditya menyentuh laptop tersebut ,Arya kembali masuk kedalam dan mengambilnya kembali
"Laptop ku tertinggal , permisi Tyan Aditya "
__ADS_1
Arya tersenyum manis sekali
Aditya langsung tertawa geli melihat tingkah Sabahat karibnya itu
"Aku bahkan tak menyangka jika ia bisa menjadi aneh seperti itu hmm ... terkadang entahlah biasanya banyak faktor yang bisa membuat orang menjadi tak berguna salah satunya adalah dengan banyak pikiran, banyak masalah dan banyak hutang "
Aditya menggelengkan kepalanya
"Hah Adit ini cerewet sekali bahkan aku merasa ia sudah seperti emak-emak komplek saja banyak sekali bertanya"
Arya menendang tong sampah di hadapannya lalu mengenai Rada
"Waduh gawat "
"Siapa yang berani membuat Tong sampah ini masuk kedalam kepalaku ha ?!"
Arya langsung berlari masuk kedalam lift
"Huh untung saja tak ada yang melihatku "
mengelus dadanya
Namun terdengar suara yang menjawab pertanyaannya "Kau bisa saja menipu orang lain dan Dunia tapi tidak bisa menipu Tuhan "
Arya mendadak merinding "Suara itu "
"Begitulah kalimat yang tertulis dalam buku ini "
sahut suara tersebut
Arya langsung menoleh dan ternyata ada seorang pria yang bertubuh penuh lemak berdiri di belakangnya sambil membaca buku
*Ha*h untung saja aku pikir aku langsung mendapatkan teguran dari Tuhan ,rupanya hmmm
Tingtong
pintu lift terbuka dan Arya Langsung keluar tanpa melihat apa yang ada di depan nya
ia tersandung dan masuk kedalam ember yang di bawa oleh OB yang hendak masuk kedalam lift
Arya langsung terduduk "Ah zaman sekarang karma selalu di bayar tunai , baiklah Tuhan terimakasih atas semua teguranmu padaku aku sungguh menyayangimu "
Arya berdiri dengan kepala penuh sabun dan basah kuyup
"Pak Arya maafkan saya "
"Tidak masalah ini adalah salahku yang tak melihatmu , santai saja "
Arya langsung mengusap wajahnya
"Hah untunglah aku ini sudah banyak sadar dan bertobatnya jika saja aku ini masih belum bertobat pasti aku akan membalasmu dengan mengguyurmu dengan air , ah sungguh ceroboh sekali bagaimana mungkin ia menaruh ember tepat di depan lift ,tentu saja siapapun pasti akan terjatuh ,OB sialan , nanti kalau aku balas pasti dikira tak adil sama orang kecil padahal ia jelas-jelas yang salah !"
__ADS_1