Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 261


__ADS_3

"Mamaaa..... Alea... Panji...."


ucap Arika saat mobil meninggalkan perkarangan rumah itu, tatapan matanya terlihat sangat sedih sekali, pikirannya sudah melanglang buana kemana-mana


Astaga aku akan pergi hanya berdua dengan dia saja, aku sungguh sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi padaku, apa lagi dia kan sangat membenciku


Arika nampak sangat cemas sekali meskipun sebenarnya kecemasannya itu tak beralasan karena Bian tak akan mungkin melakukan hal-hal yang diluar nalar manusia pada umumnya


Mobil pun melaju dengan sangat kencang sekali, karena sang sopir diberikan target untuk sampai ke bandara hanya dalam waktu beberapa menit saja, soalnya pesawat akan segera berangkat


Bian langsung memarahi Arika yang dari tadi kelihatan matanya sudah berkaca-kaca


"Hei Nona jangan seperti anak kecil, tak usah pakai acara menangis segala, kau pikir kau itu seorang bayi ya, sudah tua dan seperti nenek-nenek saja banyak sekali tingkahnya!"


ucap Bian dengan kesal


Arika langsung menoleh kearahnya


"Kenapa memangnya kalau aku menangis? dasar laki-laki tak punya perasaan!"


"Oh jadi kau menginginkan aku memiliki perasaan padamu begitu ya?"jawab Bian santai, lagi-lagi Bian menunjukkan sikapnya yang menyebalkan itu karena sudah jauh dari keluarga


"Dasar tak tahu malu, kau tau jika aku ini sangat membencimu, ingat ya kau jangan macam-macam padaku!"


ucap Arika sambil menghapus air matanya


Bian langsung meliriknya sambil melepaskan atribut pernikahan yang masih di pasang


"Jangan khawatir aku juga tak selera padamu"


Ucapan Bian tersebut langsung mengingatkan Arika pada perempuan yang ia lihat bersama Bian di kafe dekat bandara tadi sebelum tragedi pernikahan dadakan ini terjadi


"Ya aku mengerti,aku tau siapa kau, tak perlu mengatakan hal yang terlalu menyakitkan seperti itu, santai saja"


Bian tak meladeni Arika yang terus saja mengoceh dari tadi sepanjang perjalanan


"Aku pikir mamaku sangat salah sekali menilaimu,ia mengatakan padaku jika calon menantunya ini sangat baik sekali dan juga sangat lemah lembut, tapi dari tadi aku sama sekali tak melihat ada sisi kebaikan dan juga kelembutan darimu, ini sangat-sangat memalukan sekali"


"Calon menantu? sekarang aku ini menantunya yang sah dong,haduh, ckkckck dari cara kau berbicara saja kau sudah salah, makanya perbanyak lah kosa kata saat berbicara jadikan kau tak malu-maluin banget"


menaikkan kedua alisnya


"Kau ini sungguh manusia yang paling menyebalkan di seluruh dunia ini,apa kau paham kau itu adalah makhluk paling memuakkan di dunia ini, sungguh orang-orang sangat-sangat tertipu dengan semua kelakuanmu itu!"


"Terus kalau aku tak sesuai yang dikatakan Mama dan yang lainnya kenapa? apa kau tak berkaca? bagaimana dengan sikapmu yang seperti seorang bidadari di rumah. tapi aslinya jangan di tanya malah seperti seseorang yang tak memiliki kepribadian sama sekali, lihat ini lemah lembut dari mana? kasar malahan, ketus juga iya? sungguh mengerikan sekali menjadi kamu, apa kau tak menyadari hal itu?"


Pertengkaran mereka didalam mobil membuat sopir yang membawa mereka nampak salah tingkah karena keduanya terus-menerus beradu argumentasi, tapi ia tak berani untuk menegur keduanya


Kebetulan ia bukanlah orang biasa karena ia adalah mantan pembalap, yang memang sengaja dipekerjakan oleh keluarga Aditya, tentu saja dengan gaji yang fantastis.


ia mulai berpikir bagaimana caranya agar Bian dan Arika bisa berhenti bertengkar, melihat situasi jalan yang sedikit lengang, ia pun langsung tancap gas


Hingga membuat Bian dan Arika yang duduk berjauhan langsung mendekat dan berpelukan karena cemas


"Uwooowwwwww....Pak, pelan-pelan!"


"Astaga Pak, tolong pelan-pelan saja"


"Santai saja Tuan Bian ini sudah sangat lambat sekali, jangan khawatir, banyak-banyak berdoa tenangkan dirimu Tuan, karena semuanya sudah di atur Tuan"


Arika langsung berteriak "Aaaa... sudah gila ya Pak, memang benar semuanya sudah di atur Tuhan tapi tak seperti ini juga caranya Pak...aaaaaa...."


teriakan mereka memekakkan telinga


Bian yang tau skill sopir tersebut pun langsung berteriak


"Hei, Pak markes, bisakah kau tak ngebut begini?"


"Maafkan aku Tuan Bian, tapi kita hampir terlambat, aku tak mau karena keterlambatan ku membawa tuan dan Nona membuat aku di pecat dari pekerjaan ini, apa lagi zaman sekarang nyari kerja sangatlah susah Bos"


Masih mengemudi dengan kencang dan menyalip-nyalip setiap mobil yang selewatan dengan mereka


"Awwww.... tolong Pak lihatlah di depanmu itu ada truk, astaga!"


"Berpegangan lah dengan erat tuan, jangan khawatir, karena kematian bisa datang dimana saja, banyak-banyak berdoa"


Arika dan Bian tak sadar jika mereka berpelukan dari tadi


"Ya Tuhan aku tidak mau mati dalam keadaan seperti ini, apa kau sudah gila?"


Pak Markes langsung melihat kebelakang


"Aku juga tidak mau Nona, tapi ini profesional kerja harus segera aku laksanakan"


"Astaga, lihat kedepan saja. jangan menoleh kebelakang"


Arika langsung bersembunyi didada bidang Bian ia sangat cemas sekali oleh kelakuan sang sopir


"Pak apa anda bisa santai saja Pak?"


"Iya jangan khawatir ini juga sudah sangat santai Tuan jangan khawatirkan itu"


Tangan Arika memeluk erat tubuh Bian


"Aku takut sekali"


"Sama saja aku juga takut"


Bian sampai harus memejamkan matanya, begitu juga dengan Arika


"Ya Tuhan apa aku harus pergi dengan cara seperti ini, coba kau suruh sopir ini untuk berhenti Bian..kau lihat kita seperti sedang naik jet sungguh cepat sekali, aku sangat takut jika begini!"


"Tenangkan dirimu, Sebaiknya kau pejamkan saja matamu"


"Iya ini juga sudah memejamkan mata, apa lagi sekarang?"


"Jangan banyak bicara teruslah berdoa"

__ADS_1


Melihat keduanya yang sudah tenang dan saling berpelukan barulah sang sopir memperlambat laju kendaraannya dan ia kelihatan sangat bahagia karena telah membuat mereka berdua menjadi akur kembali


"Hah syukurlah akhirnya kedua orang itu bisa akur kembali jika tidak aku juga yang akan ikut pusing memberikan laporan kepada Tuan dan Nyonya, apa lagi aku tak pernah berbicara bohong saat ditanya, Karena ayahku selalu berpesan dimanapun berada yaitu jika kita harus selalu berkata jujur agar orang-orang bisa percaya pada kita,ucapnya


"Sepertinya mobil ini sudah melambat"


Bian menyadarinya tapi ia belum berani membuka matanya karena takut jika pak sopir akan melajukan mobilnya dengan lebih cepat lagi


Akhirnya sesampainya di parkiran bandara, barulah mobil melaju dengan perlahan, rupanya Bian dari tadi memejamkan matanya,hanya saja ia memilih tak bersuara seperti Arika yang berteriak-teriak histeris itu, Yap benar harga diri laki-laki jangan sampai terlihat lemah,apa lagi didepan perempuan yang menganggap ia adalah laki-laki munafik, walaupun dari tadi ia tak menyadari jika teriakannya sungguh sangat besar sekali


"Baiklah Tuan dan Nona, kita sudah sampai. silahkan turun"


"Kita sudah sampai Pak?"


Arika belum berani membuka matanya ia langsung berbicara "Sampai kemana kita surga atau neraka?"


pertanyaan didalam hati Arika itu membuat ia tak berani membuka matanya karena masih dalam keadaan trauma yang mendalam


Bian yang menyadari jika mobil benar-benar berhenti pun langsung membuka matanya dan langsung melebarkan tangannya, .ia kaget saat melihat Arika yang memeluknya dengan sangat erat, walaupun secara diam-diam ia juga menikmati dua daging empuk yang menempel didadanya itu, ia membuka matanya,lalu berbicara dengan sombongnya


"Kau lihatlah Pak Markes aku tak mungkin melakukan hal yang seperti itu, kau lihat sendiri kan jika dia yang sangat bernafsu sekali padaku"


menunjuk Arika yang masih saja memeluk erat-erat tubuhnya


Arika belum menyadari jika Bian membicarakan dirinya, sampai pak sopir mengatakan


"Nah itu lah namanya istri yang baik Tuan, tau tempat aman untuk berlindung"


Mendengar ucapan dari sang sopir Arika langsung membuka matanya dan ia kaget sekali saat menyadari jika mobil sudah berhenti dari tadi, dan ia pun buru-buru langsung melepaskan pelukannya


"Hii... kau sengaja ya membiarkan aku memelukmu dari tadi ha!"


Arika langsung marah-marah, ia terlihat membersihkan tubuhnya dan merapikan pakaiannya yang sudah terlihat acak-acakan itu


Bian langsung tersenyum dengan indah sekali


"Berhentilah memutar balikkan fakta,tanya saja dengan Pak Markes, siapa yang memeluk dan dipeluk, seharusnya aku meminta ganti rugi karena kau telah semena-mena memeluk tubuhku yang perjaka ting-ting ini, bagaimana apa kah aku harus menuntutmu?"


"Ini sama sekali tidak lucu Bian, sebaiknya aku segera keluar dari dalam mobil ini saja"


Melihat Arika yang sudah keluar sang sopirpun langsung tersenyum


"Nona muda jangan marah-marah nanti cepat tua, dan juga selamat bersenang-senang, kalau bisa nanti saja kalau mau melanjutkan kemesraannya Tuan dan Nona, ini didalam mobil masalahnya" teriaknya sambil tertawa bercanda.


Arika langsung buru-buru menjauh dari mobil tersebut


"Aku tak mau lagi di sopiri bapak tua itu, bisa copot jantungku nanti jika begini ceritanya!"


ungkap Arika sambil mengelus dadanya


Bian langsung keluar juga tapi ia tersenyum manis saat melihat Arika yang mencoba untuk menjauh beberapa langkah itu


"Hei Nona jangan buru-buru sekali, apa kau sudah tak sabar ingin memelukku lagi, ayo sini mendekatlah, jangan khawatir kau tidak akan aku tuntut karena memelukku"


Arika langsung mengambil tasnya, berpura-pura untuk tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Bian


"Pak, terimakasih karena sudah mengantarkan kami"


"Astaga, mereka jadi orang tua terlalu ikut campur sekali, sungguh ini sangat menyebalkan sekali!"ucap Arika saat mendengar ucapan dari sang sopir


"Baiklah kalau begitu Pak, kami permisi dulu_


Bian langsung melangkahkan kakinya lebih dulu, dengan membusungkan dadanya berjalan tegak dengan sangat gagah berani sekali


seperti seorang panglima perang yang memenangkan sebuah pertarungan, ia merasa jika ia sangat dibutuhkan oleh Arika


"Baiklah pak Markes terimakasih banyak karena kau hampir saja membuat aku kehilangan nyawaku"


ucap Bian menyindirnya sambil tertawa geli


Namun pak Markes malah langsung berbisik padanya "Tapi Tuan suka kan, apa lagi merasakan gunung dua gunung original yang menempel dengan eratnya"


Bian langsung terdiam dan menoleh kearah Arika yang sedang berjalan


menatap gunung yang dimaksud oleh Pak Markes "Besar juga"


menelan air liurnya


Lalu ia melihat kearah Pak Markes


"Keterlaluan sekali ia menatap hal yang halal bagiku itu ya!"


Bian kembali jengkel pada Markes


lalu ia tiba-tiba menarik tangan Arika


"Ayo cepat kita masuk"


Meninggalkan Markes yang pikirannya gesrek tersebut


"Aduh,jangan tarik tanganku begini, capek tau!"


Arika langsung melepaskan genggaman tangan Bian dan langsung masuk kedalam pesawat.


Arika benar-benar kesal kepada Bian, karena dari tadi ia selalu sibuk mengatakan hal-hal yang membuat hatinya tercabik-cabik


"Kenapa semakin ia marah malah semakin menantang saja," ungkap Bian sambil


menatap dua gunung yang bergerak tak beraturan saat ia berjalan, pikiran Bian sudah mulai traveling kemana-mana"


"Kencangkan ikat pinggangmu Bian, selamat bersenang-senang Arika"


Bian tersenyum nakal, memang otak Bian sama seperti laki-laki pada umumnya, di tambah lagi itu adalah sesuatu yang halal baginya tak mungkin dengan mudah bisa ia dapatkan


Arika Masuk kedalam pesawat pribadi dan langsung duduk termenung memandang langit yang membentang luas


"Langit bisakah kau turunkan aku, aku ingin pulang tak mau pergi menginap bersamanya, aku hanya membawa handphone dan tas kecil ini saja tanpa membawa pakaianku"

__ADS_1


Arika nampak benar-benar sangat sedih sekali, ia bahkan tak bisa lagi berkata apa-apa


Dua orang pramugari cantik langsung menghampiri mereka,


"Selamat Sore Nona dan Tuan,jika kalian ingin mengganti pakaian silahkan ganti dibelakang, Pakaian anda berdua sudah disiapkan dari tadi"


"Terimakasih Nona ...".ucap Bian sambil memperhatikan lenggak-lenggok bodi pramugari yang aduhai tersebut


"Sungguh sangat bahenol dan menggoda sekali,ya ampun seksi dan cantik"


ucapnya sengaja, memanas-manasi Arika padahal bentuk tubuhnya Arika tak jauh berbeda dari para pramugari-pramugari tersebut.


Bian langsung melirik kearah Arika


"Itu baru perempuan bahenol cantik dan wangi"


Arika kembali jijik melihatnya, sambil berdiri ia langsung bergerutu


"Dasar buaya buntung!"


"Lah nggak apa-apa masih keren buaya dong dari pada keong racun kan?"


Bian langsung tertawa geli


"Buaya ... buaya... buaya buntung"


"Lah kenapa jadi marah-marah terus kau ini, sensitif sekali rupanya, hmm apa kau sedang mengalami perubahan hormon?"


"Hormon gundulmu!"


ucap Arika dengan ketus


"Yah marah lagi, atau kau marah karena aku melihat bokong para pramugari itu ya? baiklah kalau begitu aku hanya akan melihat bokong mu saja, ayo cepat berdirilah dihadapan ku sayang ayo"


Arika menghentikan langkahnya dan langsung menundukkan kepalanya berbicara dihadapan Bian, ia lupa sesuatu jika kebaya yang ia pakai itu mengeluarkan dua buntalan yang berwarna putih dan benar-benar mulus sekali tepat dihadapan wajah Bian


"Kau jangan pernah macam-macam padaku, asal kau tahu saja aku memiliki ilmu beladiri yang bisa mematahkan tulang belulangmu, kau paham itu Bian!"


Bian tak bisa fokus pada wajahnya Arika karena tepat dihadapannya dua buah besar itu sedang meronta-ronta untuk di colek,


"Ujianku sangat berat sekali " ia menelan air ludah nya dan tertawa geli lalu dengan melotot ia langsung berdiri


"Jangan terlalu percaya diri sekali Nona, karena pramugari itu jauh lebih menggoda dari pada dirimu, minggir sana. aku mau ganti baju dulu"


Bian berdiri dan menyenggol bahu Arika, yang sedang berdiri disampingnya


sungguh ia sangat pandai sekali menutupi perasaannya didepan Arika, sangat luar biasa sekali


"Awww ..." Arika memegang bahunya


"Itu baru sentuhan bahu saja kau mulai kewalahan, apa lagi aku menunjukkan sentuhan yang lainnya kau pasti akan lebih kewalahan sekali"


ungkap Bian tersenyum


Arika langsung menghentakkan kakinya seperti anak kecil didalam pesawat tersebut


"Sungguh aku benar-benar merasa terjebak sekali dengan pernikahan aneh ini, aku ingin pulang saja!"


"Kau mau pulang ya?"


Bian ternyata mendengar ucapan Arika tersebut


"Kalau iya kenapa memangnya?"


"Nah tepat sekali mau pulang kan?"


"Iya !"


"Ya sudah buka saja jendelanya itu langsung melompat keluar"


Bian tertawa terkekeh-kekeh


"Kau itu sungguh makhluk menyebalkan sekali Bian!"


"Dan kau adalah makhluk halal milikku yang sekarang mulai bermain-main didalam otakku"


jawab Bian


"Minggir aku juga mau ganti baju"


menyenggol bahunya Bian


"Aww...atid tau, pelan-pelan dong kakak"


Arika yang kembali kebelakang untuk berganti pakaian itu tampak sudah tak sabar lagi ingin melepaskan semua pakaiannya yang ia kenakan itu, karena benar-benar tak nyaman memakai kebaya didalam pesawat, selain ia tak bisa bergerak bebas, bentuk kebaya yang menonjolkan kedua buah dadanya itu membuat ia menjadi semakin tak nyaman saja karena tak bisa bergerak dengan bebas.


"Kenapa di ganti pakaiannya bagus lah memakai kebaya kau akan kelihatan cantik sama seperti para pramugari itu"


goda Bian


kebetulan para pramugari itu juga ada disana dan tak sengaja mendengar ucapan Bian mereka berdua itupun langsung tak enak mendengarnya apa lagi Bian dan Arika baru saja menikah


"Maaf Tuan kami hanya ingin mengambil ini, permisi"


Arika memperhatikan gerak-gerik mata Nian yang dari tadi tak bisa melepaskan pandangannya dari keduanya


"Lihatlah kelakuannya didepan mataku saja ia bisa melakukan hal itu apa lagi dibelakangku, hmm tapi untungnya aku sama sekali tak perduli, karena nanti semua orang juga akan tau siapa yang busuk dan siapa yang bagus, hmm sungguh menyedihkan sekali, nasibmu Bian karena orang tua mu melahirkan anak yang sama sekali tak mencerminkan sikap mereka"


Arika menggelengkan kepalanya


"Hei Arika hentikan ucapan mu itu, jangan bawa-bawa orang tua ku ya? aku sama sekali tak tertarik dengan ocehan mu itu, kau itu tak mengenalku jadi jangan sembarangan berbicara"


"Oh ya? kalau begitu apa mata ku ini juga bisa menipu karena melihatmu dan juga semua kelakuanmu?"


"Kau itu memandang dari sisi sebelah mana Nona, terkadang apa yang kita lihat itu tak sama dengan aslinya, tergantung dari sudut mana kau melihatnya, kau mengerti?!"


Bian mulai terpancing emosinya

__ADS_1


"Terserah apapun pembelaanmu, tapi itu tak akan pernah merubah persepsiku terhadapmu, kau tau aku sama sekali tak percaya dengan apa yang diucapkan, tapi semua kelakuanmu itu bisa aku lihat dengan jelas"


Padahal Bian sama sekali tak seperti itu,ia sama seperti Arika sama-sama ting-ting, dan juga tak pernah berhubungan dengan perempuan manapun, semua yang ia lakukan dan menggoda para pramugari itu memang murni hanya iseng-iseng saja.


__ADS_2