
"Berdebat dengan mu sama saja membuat umurku semakin panjang saja" ucap neneknya
"Nah itu bagus dong, jadi nenek bisa menggendong cicit nenek nantinya" Alea langsung tersenyum dan mengedipkan matanya berkali-kali, menggoda neneknya
"Sebaiknya aku segera tidur, ini bukan urusan ku" langsung berbaring dan menarik selimutnya
"Nenek!, kenapa nenek tak mau membantuku, aku ini cucu nenek, ayo cepat nenek keluar, dan pastikan Papa setuju jika aku menikah muda"
Tapi neneknya tak mempedulikannya
"Aku sudah tua, sudah terlalu lelah dengan semua urusan dunia, dan ini bukanlah hal yang penting bagiku, kau sudah memiliki orang tua lengkap, yang akan menggantikanku, nanti"
Alea tak menggubris ucapan neneknya, dan dia memilih untuk langsung keluar dari kamar, ingin mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Raja
"Nenek payah!"
langsung menutup pintu kamar nya
"Anak itu, benar-benar keras kepala, persis sekali seperti papanya"
Alea langsung duduk di kursi, yang berada di ruangan tengah, tempat dua orang keluarga itu saling bertemu
"Alea apa yang kau lakukan, ayo cepat masuk kedalam kamar!" mata Arya melotot karena melihat Alea yang terus saja ngotot minta diizinkan untuk menikah
"Kau pikir menikah itu seperti mie instan langsung jadi dan di makan, berapa banyak rumah tangga yang baru menikah langsung bercerai, bukan sekedar hanya jatuh cinta saja bersama, bergelantungan sepanjang hari, tapi banyak hal-hal yang harus kau pikirkan, contohnya saja visi misi yang harus selalu beriringan"
"Bodo amat,aku tak mau tahu"
__ADS_1
Alea langsung masuk kedalam kamar
"Semuanya egois tak ada yang memikirkan perasaanku, apa mereka pikir kehidupan ku ini tak penting,aku juga berhak bahagia dengan segala yang aku punya, aku ini punya hati dan cinta yang luas Papa!"
. menutup wajahnya dengan bantal, karena hanya bantal tempat ternyaman saat ini bagi Alea
"Mama Siska, kenapa kau tak bisa membantuku, membuat aku merasa sangat nyaman dengan segala yang ada,coba kau urus suamimu yang menyebalkan itu, dia sangat sulit sekali untuk di atur"
Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti didepan rumah mereka
"Suara mobil siapa yang datang?" Alea masih berharap jika itu Raja
"Ah palingan itu Arika bersama Kak Bian, yang akan memamerkan kebahagiaan mereka, hah aku malas keluar dari kamar, tak ada seorangpun yang akan mendukung kisah cintaku, kalian semua tak memiliki perasaan yang bisa membuat aku merasa bahagia, tak ada seorangpun yang akan mengerti aku"
Alea memilih untuk memasang headset dan memilih musik yang sangat kencang sekali
.dia tidak menyadari jika yang datang tersebut adalah Raja yang membawa kedua orang tuanya
"Kak Dimas, aku merasa deg-degan sekali"
"Jika kau saja deg-degan bagaimana dengan aku, sungguh aku seperti sedang menerima karma atas apa yang telah aku lakukan pada nya dahulu, huh" menarik nafasnya dalam-dalam
"Sudah lah Mama, Papa jangan khawatir tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena semuanya akan baik-baik saja, aku akan menghadapi semuanya karena aku memiliki niat baik dan akaan bertanggung jawab dengan apa yang sudah menjadi pilihan hidup ku" Raja berjalan terlebih dahulu
"Sungguh mental anakmu tidak kaleng-kaleng Rima, aku sungguh heran sekali apa saja yang ada didalam otak nya sampai dia bisa senekad ini"
Dimas sudah berkeringat dingin, apa lagi dia benar-benar teringat bagaimana kerasnya dia memberikan peringatan pada Arya dahulu,
__ADS_1
"Kenapa kau harus khawatir, sudah lah kak Dimas semuanya akan baik-baik saja, Raja itu laki-laki mungkin dia masih penasaran dengan apa yang akan terjadi, biarkan saja, lagi pula kak Arya itu pasti paham siapa yang akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan hati putrinya"
"Hah, kenapa Raja harus jatuh cinta pada anaknya Arya, ini seperti sebuah takdir buruk bagiku, aku harus merasakan posisi menjadi orang tua yang anaknya di tolak"
"Sudah jangan banyak cerita, kau harus ingat jika kau adalah kakak ipar nya arya, jadi jangan banyak bicara lagi, ayo masuk"
menarik tangan Dimas
"Tapi tetap saja aku tidak akan bisa membela diri dari amukan singa yang ingin melindungi anaknya" ucap Dimas cemas
Raja dan keluarganya tiba di suasana yang sedang panas, apa lagi saat ini dia sedang capek dengan tingkah Alea
"Ya Tuhan punya anak satu saja, tapi kelakuannya keras kepala sekali, dia itu perempuan seharusnya bisa tau mana laki-laki baik atau tidak"
Siska yang duduk disampingnya pun membela
"Bagaimana menurutmu sekarang jika aku akhirnya menikah denganmu, apa itu artinya aku bukan perempuan yang beruntung kak Arya?" Siska berbicara dengan lembut tapi penuh dengan ketegasan, tak akan disangka-sangka perempuan yang sudah bertutur kata dengan lembut itu akhirnya menunjukkan sikap lamanya yang tegas
"Ya maksudnya jangan seperti aku, karena aku tidak mungkin mau memiliki menantu yang tidak sopan"
"Apa kurang cukup takdir kita ini, apa kak Arya ingin mengulang kejadian yang sama, apa kau ingin jadi seperti kak Dimas, padahal masa lalu itu adalah milik mereka yang ingin menjemput masa depan, apa seorang penjahat tak bisa menjadi orang baik, apa kak Arya lupa berapa banyak mantan penjahat Justru menjadi orang baik, dan juga memiliki masa depan cemerlang, aku rasa Raja hanya perlu di bimbing sedikit, kita juga tahu dia anak siapa, jangan pernah berpikir buruk, anak kita alea sudah ingin menikah apa salahnya di kabulkan"
"Tapi aku takutkan nanti dia akan..."
"Akan apa? bercerai? atau apa? kak Arya lihatlah aku, siapa yang menjamin aku akhir nya berpisah, siapa yang menjamin kita akan bahagia atau tidak!, itu namanya takdir, jangan egois dan bertingkah bodoh, aku tak mau ada Siska, Siska lagi di keluarga ini, atau ada Dimas kedua yang sangat over protective, apa susah nya sih jadi pemaaf, jangan egois, anak perempuan itu memang hanya di titipkan untuk kita, selebihnya dia akan menjalankan hidupnya sendiri dengan keluarga nya, apa bedanya hari ini dan esok, apa? jangan egois, sebenarnya kau hanya sedang menutupi egomu saja,kau tak akan pernah bisa rela melepaskan Alea, itu faktanya"
Siska benar-benar marah kali ini, karena tak ada pilihan lain lagi selain berbicara dengan keras, karena Arya benar-benar tak bisa di ajak bicara baik-baik
__ADS_1
"Sekarang kenapa diam?, baru terpikir kan apa yang aku katakan ini benar?, baru sadar kan?, jangan sampai kau nanti menyesal lihat Dimas, untunglah akhirnya dia menikah juga, kalau tidak aku rasa dia akan menjadi bujang lapuk" tegas Siska