
"Kau betul Siska sebaiknya tak usah gabung, obrolan kita nanti malah tak asik, kita disini saja,yok kita Poto-poto aja dulu"
"Eh iya, hayukk..."
mereka bertiga pun langsung memanggil pelayan untuk memotret mereka
"Mas, tolong ya potoin sebentar"
"Iya Nyonya"
Mereka pun sudah siap dengan poto mereka masing-masing.
Para laki-laki yang sedang berkumpul langsung geleng-geleng kepala melihat Ana dan yang lainnya yang sedang berpose
"Lihatlah kelakuan abege tua"
"Biasalah mereka, hanya untuk koleksi saja. tidak sampai dimasukkan kedalam medsos juga, bisa kacau kita kalau poto mereka banyak di like anak muda kan..."
"Benar, apa lagi Arya yang baru saja resmi jadi pengantin baru, bisa -bisa cemburu besar dia, haahha"
Mereka selalu saja membuat Arya menjadi sasaran empuk untuk dijadikan target tertawaan mereka
"Sudah Dit, hentikan aku tak tahan melihat wajahnya Arya, biarkanlah para istri berekspresi juga, sekarang ini yang harus kita bahas adalah bagaimana Arya yang sudah berkelana jauh dari tadi, ya kan Dim, apa si jabrik masih bertenaga atau seperti mesin tua yang tak ada tenaganya lagi"
Aditya selalu saja berupaya agar Arya kembali panas dan langsung menceritakan semuanya
Arya langsung berkata didalam hatinya
Hmm bagus, ayo mulailah kalian menggangguku lagi, aku akan membuat kalian semua ketar-ketir mendengar ceritaku saat ini, la la Ian akan menyesalinya karena telah membuat Arya bercerita, lihat saja
Arya diam-diam sudah memiliki cara untuk menjawab serangan kedua sahabatnya ini, tentu saja sudah dibantu oleh Siska sebelumnya.
"Ayolah kawan, bagi sedikit cerita indahmu itu kami ingin tau apakah besi tua itu masih berfungsi dengan baik, atau ia sudah batuk-batuk menyerah"
Tertawa dengan keras
Baiklah Aditya dan Dimas ini saatnya aku akan membuat kalian semuanya menyesal karena telah mendengar ceritaku ini
Tersenyum sinis
"Baiklah, kalau kalian ingin aku menceritakan semuanya siap-siap pasang baik-baik telinga kalian ya, jangan sampai terlewatkan sedikitpun"
Aditya tertawa, dengan keras
"Ya, kami sudah siap, ayo kakak Arya tinggal di pilih mau dimulai dari mana?"
"Iya Kakak Arya, kami sudah duduk manis dari tadi ini siap mendengarkan petualangan besi tua kakak Arya, ayo kak, saat Penanjakan, tikungan dan saat ngerem mendadak"
Harus banyak-banyak bersabar mendapatkan sahabat yang usilnya keterlaluan seperti mereka, tapi itu semua karena Arya lah yang duluan suka mengusili mereka terlebih dahulu, bedanya Arya sudah tobat katanya .sedangkan Dimas dan Aditya kecanduan mengusili Arya sampai tua.
"Baiklah..."
menatap keduanya
"Ayo jangan lama-lama lagi"
"Baiklah, aku akan memulainya ..."
"Aku ingin memulainya dari ujung rambut dan langsung turun kebawah dengan cara slow down baby"
Arya sampai harus berdiri untuk mempraktekkannya, tapi apa yang ia ceritakan ini bukanlah apa yang ada didalam pikirannya
"Oke lanjutkan ceritamu, jangan lama-lama aku ingin mendengarkan secara langsung"
"Jangan terburu-buru lah, harus lambat agar ceritanya terus meresap"
"Ya terserah kau saja lah..."
Aditya mulai menempelkan tubuhnya di atas kursi
"Jadi begini ...."
"Haduh ,dari tadi berbelit terus, mau ceritain atau nggak sih Arya,begini terus sampai lebaran kucing, dari tadi begini, begitu awalnya, hadeh, bosan aku dengar nya ya kan Dit "
menghela nafas panjang
Arya berusaha untuk tidak tertawa
"Iya ini mau cerita, tapi ya udah lah kalau kalian tidak mau mendengarkannya aku naik lagi aja keatas"
Arya berpura-pura merajuk
"Ee .. Jangan-jangan"
Aditya dan Dimas langsung menarik tangan Arya
"Sabar kawan, jangan seperti perempuan dong, ayo lah duduk santai nah ini ..."
Merapikan tempat duduk Arya agar ia mau kembali duduk, padahal Arya sama sekali tak merajuk ia hanya ingin memberi pelajaran pada mereka berdua yang segitu ingin tau tentang dirinya yang masih mampu atau tidak, benar-benar keterlaluan sekali ya hahaha
"Baiklah santai kawan, ini bawa minum dulu"
Memberikan minuman langsung pada Arya
"Terimakasih"
ucap Arya
Sedangkan Dimas dan Aditya melakukan kode keduanya.
"Baiklah aku akan bercerita, jadi tadi awalnya aku dan Siska malu-malu,..."
"Terus... terus..."
"Terus setelah itu apa kau langsung bertarung dengan hebat sekali?"
"Belum, masih panjang prosesnya, kalian mau dengar secara detail kan?"
Aditya langsung mengangguk
Dimas berbisik kembali "Lama sekali prosesnya, aku tidak tertarik dengan prosesnya, yang ingin aku tau bagaimana tenaga tua yang sudah lama tak digunakan itu "
"Iya aku juga Dim, tapi mau bagaimana lagi jika tidak kita ikuti ia tak akan mau bercerita, payah kalau menikah tua, jiwa bapernya lebih banyak pada anak muda"
"Iya kau memang benar, lihatlah ia sekarang, melihat kita seperti ini"
Arya yang terdiam langsung memasang wajah datar tapi ia tau apa yang ada dipikiran kedua temannya itu
Kalian masih mengatai aku kan, dasar. lihat saja nanti aku jamin kalian akan kaget
Arya menahan agar ia tak tersenyum dengan lebar
"Mau aku lanjutkan tidak?"
"Iya lanjut ..."
"Lanjut"
"Baiklah setelah aku memegang rambutnya, seketika bulu kudukku merinding,dan bulu-bulu yang lainnya juga"
"Termasuk bulu ketiakmu juga kan?"Tanya Aditya sambil tertawa keras meledek Arya
Dimas juga langsung tertawa, tapi wajahnya Arya masih bersikap dengan sangat datar sekali.
Aditya pun langsung memiliki ide,
"Dim, aku ada ide"
Aditya langsung menarik tangan Dimas,"Bergeraklah kemari"
Mereka berdua pun langsung memundurkan kursinya
"Kita pancing dulu untuk bercerita tentang bagaimana kita bercinta, setelah itu aku yakin ia akan mengikuti bagaimana cara kita berdua untuk bercerita, aku yakin Arya kaku karena sudah lama tak bercinta"
Dimas langsung tertawa geli "Aku setuju padamu, aku yakin kali ini kau benar, dia memang membutuhkan waktu untuk merangkai kalimat"
Heh kalian berdua tak habis-habisnya ya, berbisik seperti ibu-ibu tukang gosip, apa kalian lupa jika aku ingin sekali berteriak memanggil kalian dari sini
"Ya ampun Dit, aku lupa sesuatu,jika aku dan Arya sama-sama suka dengan cerita yang agak panas, apa tau jika istriku sangat jago sekali dalam bercinta, ia sangat suka dengan goyangan maut yang membuat aku sangat bahagia"
"Wah..wah kalian tidak tau saja bagaimana goyangannya istri ku sangat mantap,aku menyebutnya ia adalah ahli goyang patah-patah, beuhh... masih mantap sekali"
__ADS_1
Melirik kearah Dimas
"Jangan salah, istriku juga. apa lagi kalau dia sudah liar, aku bahkan sampai kewalahan sekali menghadapinya, rambutnya sudah seperti singa, dan aku sudah siap menjadi mangsanya"
"Ya benar sekali singa yang rambutnya kusut karena terkena angin yang berhembus dengan kencang"
"Tepatnya angin topan" tertawa dengan keras sekali
Dimas dan Aditya sengaja memancing Arya untuk bercerita, Karena mereka kesal, rencana mereka gagal untuk mengganggunya
"Ya singa yang marah karena tak dapat mengejar rusa"
jawab Arya dengan kesal melihat tingkah keduanya.
"Bagaimana denganmu Arya?"
pertanyaan yang tepat agar Arya segera menjawabnya.
Dengan sok tegas dan bijak, Arya pun mengangkat kepalanya
"Ehemmm.... maaf ya teman-teman, aku rasa hal pribadi itu tak pantas diceritakan pada kalian, tak mungkin juga aku menyebutkan bagaimana bahagianya aku bisa tidur dengan macan yang sesungguhnya, dari tadi aku sudah berusaha untuk menahannya tapi mendengar cerita kalian yang benar-benar sangat pribadi sekali aku sangat tak tertarik untuk melanjutkan ceritaku ini lagi, karena itu sudah masuk ranah pribadi yang sampai membuat goyangan yang mengerikan seperti itu"
Dimas dan Aditya kembali saling berpandangan satu sama lainnya
Arya langsung berdiri "Sebentar aku ingin mengambil minuman dingin yang berada didalam kulkas tersebut, tunggu ya"
Ia berjalan bak seorang model dengan membusungkan dadanya dengan sombong karena ia tau teman-temannya itu sangat ingin mendengar ceritanya
aku yakin Kalian tak akan bisa memarahiku kan, karena rasa ingin tau kalian yang sangat tinggi padaku, sayang sekali tidak semudah itu ferguso
Melihat Arya berjalan kearah minuman dingin yang terletak, Siska juga ikut berdiri
"Kalian tunggu sebentar ya,aku akan mengambil minuman dingin dulu,"
"Siska aku juga mau ya, jangan lupa?"
"Oke baiklah, kau juga mau Rima?"
"Ya bolehlah aku mau juga"
Siska langsung mendekati Arya yang sedang mengambil minuman juga,
"Bagaimana apa semuanya aman terkendali?"
"Tenanglah sayang, aku akan mengendalikan semuanya dengan baik, mereka akan aku buat tak bertanya lagi"
Siska tertawa geli "Baiklah, lakukanlah yang terbaik sesuai apa yang sudah kita pikirkan tadi, jangan lupa untuk membuat mereka kapok untuk melakukan hal ini lagi"
"Ya mereka menceritakan tentang Ana dan Rima sengaja memancingku"
"Baiklah aku akan segera kembali, jangan sampai mereka curiga dengan kita yang masih berdiri disini, aku mencintaimu"
ucap Arya
"Aku juga"
Siska dan Arya pun kembali kemeja masing-masing dengan minuman dingin ditangan mereka
"Dia mengambil minuman dingin saja seperti seorang artis terkenal"
Dimas dan Aditya pun langsung geleng-geleng kepala, melihat kelakuannya
."Coba kau lihat Dit,cara ia berjalan sungguh menjijikkan sekali, aku tak mengerti lagi, bagaimana caranya membuat ia kembali seperti dulu, ia benar-benar sungguh sangat tertutup sekali, padahal aku ingin mereka tau bagaimana rasanya menjadi laki-laki yang sempurna"
"Halah, kau ini Dimas, seperti tidak pernah jadi pengantin saja, dia itu baru menikah. wajar saja sikapnya sok seperti seorang Raja"
timpal Aditya
"Lah, Dit. kenapa kau ikut-ikutan menyalahkan aku, bukannya kau juga setuju dengan sikapku tadi, dasar ...."
"Pokoknya buat ia membuka mulutnya"
"Jika tidak bisa juga gampang kita paksa ia untuk segera membuka mulutnya secara manual,apa gunanya tangan dan kaki jika bukan untuk membuatnya semakin mempercepat proses cerita"
"Kita tak semudah itu lagi memancing obrolannya"
"Kau benar, susah sekali memancing abege tua itu untuk bercerita, hadeh.. ntahlah"
Aditya tertawa dengan keras diikuti oleh Dimas
Mereka tak sadar jika Arya sudah berdiri disamping mereka
"Kalian ini sudah tua tapi tak juga berubah, lihatlah apa kalian tak malu dengan umur, sudah-sudahlah membahas masalah ranjang, malu sama umur"
duduk sambil menyeruput minuman dingin ditangannya
Aditya dan Dimas pun kembali berpandangan
"sungguh dia tidak asik sekali ya Dim"
"Kau benar Dit"
Dimas dan Aditya langsung buang muka,
dan tak mau Melihat Arya lagi jurus terakhir mereka yang akhirnya harus berpura-pura merajuk
"Ya sudahlah aku jadi tidak mood Dit"
"Iya sama aku juga Dimas"
Arya langsung merespon keduanya
"Eits, jangan marah dong , sayang-sayangnya bang Arya ini, ayo lihat sini. jangan bilang kalian cemburu ya, karena bang Arya sudah menikah lagi, dan tak mau memperdulikan kalian lagi"
Arya mencolek dagu Dimas dan Aditya menggodanya
"Sudahlah Arya, ini tidak lucu" ucap Dimas
"Iya benar, ayo Dim kita pulang saja"
Mereka langsung berdiri.
Sedangkan Ana dan kawan-kawan dari tempat duduknya langsung kaget saat melihat Aditya dan Dimas yang sedang berdiri itu
"Hei lihat Ana, kenapa kedua suami kita berdiri seperti itu ya?"
"Sudahlah Rima, paling juga mereka sedang bersitegang satu sama lainnya"
Siska tertawa "Ya biarkan sajalah, aku yakin juga jika pertikaian mereka itu sedang membahas tentang sesuatu hal yang tidak penting juga"
"Aku setuju padamu Siska, sejak kapan sih mereka bisa akur kalau sedang membahas Hal-hal yang tidak penting"
Mereka tertawa geli melihat tingkah semuanya
"Baiklah aku setuju padamu kali ini, sebaiknya kita abaikan saja, sampai mereka menyerah dan mengajak kita untuk segera pergi dari sini"
"Iya lihatin aja mereka, nanti capek sendiri, kita itu harus banyak memahami bagaimana suami kita sendiri karena mereka kaum lelaki itu selalu berpikir memakai logika"
"Ya, walaupun kebanyakan logika-logika tololnya yang kebanyakan".
Langsung tertawa dengan cekikikan sekali
"aku sangat setuju sekali padamu"
Melihat para istri yang tertawa cekikikan
Arya langsung menariknya tangan teman-temannya kembali
"Haduh, jangan merajuk dong sayang, ayo aku akan menceritakan semuanya, duduk dulu, lihatlah para istri yang lagi duduk bersama itu, sepertinya mereka sedang menertawakan kita"
Menengok kearah para istri
"Ya biarkanlah mereka tertawa, itu lebih baik daripada mereka selalu marah-marah tidak jelas,bikin pusing kepala juga"
"Jangan pusing-pusing dong sayang, kita kan sedang butuh kamu disini"
Arya balik menggoda mereka berdua
Dimas dan Aditya langsung tersenyum, sambil mengangguk, karena ternyata cara mereka ini berhasil untuk membuat Arya akhirnya bercerita, mereka berdua saling menggoda satu sama lainnya
"Nah gitu kan enak"
__ADS_1
Dimas tertawa
"Baiklah aku akan bercerita, kalian siap?"
melihat wajah keduanya
"Siap!"
"Tapi kali ini jangan bertele-tele ya kan Dit,jangan membuat mood kami hilang, kami tidak suka"
ucap Dimas dengan sangat lembut sekali
"Okeh, baiklah. jadi asal kalian tau saat aku berjalan masuk kedalam kamar dan aku mendapatkan Siska yang sedang berada didalam selimutnya, aku bertanya padanya
'Siska, apa yang sedang kau lakukan?'
Siska hanya diam saja tak menjawab sepatah katapun pertanyaan dariku, aku terdiam dan terus berjalan apa yang sedang ia lakukan didalam selimut itu, aku terus berjalan dengan perlahan-lahan ingin tau, aku merayap didinding, dan berjalan langsung, ditepi dinding,aku melihat kekiri, kekanan, keatas dan kesamping, lalu terakhir kebawah,dan langsung saja tak butuh waktu yang lama aku membuka selimut tersebut, aku melihat dengan kedua mataku, Siska sedang mencabuti bulunya satu-persatu yang tumbuh di kakinya"
Wajah Aditya mulai berubah menjadi jijik
"Iuh ... astaga Arya.bisakah kau tidak bercerita hal yang lebih bagus dari ini, aku sangat jijik mendengarnya"
"Bulu kaki? apa benar? aku tak pernah melihat ada bulu di kaki Siska, kau jangan berbohong Arya, mana mungkin adikku menjadi perempuan sangat menjijikkan seperti itu,kau jangan mengada-ada Arya"
Dimas sampai berdiri melihat kearah Siska
"Kau itu mana tau jika Siska memiliki bulu kaki yang banyak karena itu adalah urusanku,kau tak akan tau bagaimana lebatnya bulu kaki Siska"
Aditya sampai menutup mulutnya"Sungguh sangat menjijikkan sekali,kenapa ia tak mencukurnya saja,dari pada dicabut"
Dimas yang masih melihat kearah rombongan para istri, langsung membuat Ana menjadi heran
"Hei, Rima. lihatlah apa yang dilakukan suamimu itu, dia dari tadi melihat kemari"
"Sudah biarkan sajalah mereka membicarakan aku, yang mereka pasti sedang membicarakan kita"
"Ya jelaslah mereka tak akan mungkin seperti kita yang membicarakan masa depan anak-anak, aku sangat yakin mereka itu membicarakan hal-hal yang tidak penting seputar kita, lihatlah"
"Ya aku setuju, lihatlah wajah Papanya Bian itu juga sedang serius sepertinya, tapi kenapa ia menutup mulutnya ya?
Ana heran
Sedangkan Siska senyum-senyum saja, ia tau jika Arya sedang mengerjai mereka berdua, karena sebelum keluar dari kamar, mereka sudah merancang semua yang akan dibicarakan.
Hmm aku yakin kak Arya, sedang mengerjai mereka , hah memang dasar mereka ya, seperti tidak pernah jadi pengantin baru saja, aku ingin sekali menghajar wajah mereka lagi, huh
"Arya mana mungkin adikku punya bulu kaki kau berbohong ya?"
"Ya sudah kalau tak percaya, kau lihat sendiri bulu dikakinya ada apa tidak? sudah pergilah kesana?"
"Apa-apaan aku tak mungkin memaksa Siska menunjukkan kakinya, bisa-bisa nanti ia menghajar wajahku dengan kedua kakinya, aku tidak mau melakukan hal yang beresiko"
"Oke, sebaiknya mari kita lanjutkan lagi, apa yang ingin kau ketahui lagi"
Arya pun kembali melanjutkan ceritanya
"Kau duduklah Dimas, cerita ini belum selesai"
"Iya baiklah,ayo lanjutkan kembali"
"Benar sekali, setelah aku melihat ia mencabut bulu kakinya aku langsung mendekatinya,dan menaruh tanganku di rambutnya"
"Tunggu dulu, kenapa ceritamu berubah-ubah? dari awal sampai akhir tak sama?tadi kau pertama bercerita kau memainkan rambutnya, sedangkan yang sekarang kau melihat ia sedang mencabut bulu, apa kau sedang mempermainkan kami berdua?"
"Lah maafkan aku Aditya, tapi cerita yang pertama itu bohong.ini lah kenyataan yang sebenarnya, aku ingin sekali kau tau jika aku dan Siska kembali tersenyum bersama,lalu aku bertanya 'apa benar ini adalah bulu aslimu?' dan ia menjawab 'benar ini adalah buluku', aku aku kaget dan aku angkat tangannya, ternyata tak ada bulu di ketiaknya,
setelah itu rasa penasaran ku kembali memuncak aku angkat tubuh Siska dan aku melihat bokongnya, Ya Tuhan ini benar-benar luar biasa sekali, bulu-bulu yang tumbuh di bokongnya seperti rambut di kepalamu Aditya"
Arya berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa.
Aditya langsung memegang kepalanya
"Astaga, yang benar saja Arya? masa iya sebanyak rambut di kepalaku ini"
"Ini fakta, kan aku yang melihat dengan kedua mataku ini, bukan Mata kalian"
Wajah Aditya benar-benar terlihat sangat mual sekali,
Bagaimana Dit, Dimas. kalian sudah puas membayangkan bagaimana ekstrimnya tubuh Siska dengan bulu-bulu eksotis yang ia miliki
"Dimas, jangan-jangan ia juga sama dengan Siska, iya kan Dim?"
Aditya langsung memandang bokong Dimas
dengan cepat Dimas langsung menutupi bokongnya
"Enak saja kau Dit, kau pikir aku gorila"
"Sudahlah Dim, jangan berbohong pada kami, mana mungkin kau tak berbulu juga, kalian kan saudara kandung, ayo mengaku sajalah,coba kau tunjukkan rambut indah yang ada dibokongmu itu, aku ingin sekali melihat rambut seksi mu itu kak Dimas"
ucap Aditya sambil tertawa
"Hentikan Dit, aku sama sekali tak berbohong"
"No pict \= hoax"
Aditya memanasi Dimas
"Kau ini tak percaya sekali, aku sangat tak suka jika ada orang yang melecehkan aku"
"Hoak, hoak.."
Arya berusaha untuk tidak tertawa meski perutnya sampai sakit menahan tawa
Ayolah sekarang giliran kalian berdua yang bertengkar hebat, rasakan, memang ternyata istriku Siska sudah banyak kemajuan otaknya
Arya tak tau jika otak Siska itu isinya sangat jago sekali dalam merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan menjahili orang lain
"Sudah lah sekarang, sebaiknya jangan diributkan lagi, kalau misalnya Dimas memang memiliki bulu mungkin tak seperti rambut dikepalamu Dit,tapi lebih keriting, seperti bulu kaki Dimas itu"
Tawa mereka berdua kembali pecah, dan yang lebih parah suara tawa mereka berdua Terdengar sangat heboh sekali, sampai-sampau semua orang melihat kearah mereka
"Sepertinya seru sekali obrolan mereka Ana"
"Ya sudahlah Rima, biarkanlah saja mereka asal mereka senang, sudah coba kita lihat tas yang ini bagus juga modelnya"
kembali melihat berbagai jenis tas yang ada di handphonenya
Dimas yang panas pun langsung mengatakan pada Aditya"Baiklah jika kau memang penasaran sekali aku akan menunjukkannya padamu,lihat ini!"
membuka sedikit pinggangnya
"Ah, mana ada, kalau dikit cuma dipinggiran mana kelihatan bulunya, kau ini berbohong ya, mana ada hoak"
"Benar kalau Siska itu bulunya terletak diantara belahan yang indah itu"
Aditya kembali tertawa "Nah Dim, jadi kau itu harus membukanya sampai kebawah"
Dimas yang masih panas langsung mengajak mereka bertiga untuk berpindah tempat kearah
sudut
"Sekarang kita keujung sana, dan kalian akan melihat semuanya sendiri dengan kedua mata kalian jangankan kuman, satu helai bulu pun tak akan kalian temukan, kalau perlu kalian lihat langsung dengan menggunakan lup ditangan kalian, biar kalian tau bagaimana mulusnya bokong ku ini"
Tapi Aditya tak mau bergerak sama sekali untuk berpindah tempat
"Halah sudahlah Dimas, jangan banyak bercerita kita maklumi juga, santai saja anggap saja itu seni yang ada pada tubuh indahmu"
Arya tak henti-hentinya tertawa dari tadi
"kalian ini benar-benar keterlaluan sekali ya"
Dimas berdiri dan melihat kekiri kekanan tak ada orang lagi dengan cepat ia membuka celananya dan memperlihatkan bokongnya langsung
"Nah lihatlah ini"
Arya dan Aditya langsung kaget saat bokong Dimas ada dihadapan wajah mereka
"Astaga Dimas!
Dimas langsung memakai kembali celananya dengan cepat
__ADS_1