Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 240


__ADS_3

Siska benar-benar dibuat sangat kesal sekali,


oleh tingkah mereka berdua, hingga membuat Ana langsung mendekatinya secara langsung


"Siska sabar, jangan kau keluarkan emosi mu ini, mereka memang keterlaluan sekali, sabar ya ..."


mengelus punggung Siska


Ana tau jika Siska sudah seperti itu, maka tak ada yang bisa lolos darinya, meski ia adalah seorang perempuan namun tetap saja satu pukulan dari Siska bisa membuat rahang kram juga


Namun Siska tak berbicara sepatah kata pun juga karena mungkin ia memang masih dongkol sekali


Rima juga ikut mendekat menghampiri Siska "Tapi aku tak masalah jika Siska memberikan mereka salam tempel, karena memang mereka keterlaluan sekali, untunglah kak Arya tak memiliki penyakit jantung, coba kalau ada nah kacau nantinya kan?"


Salam tempel yang dimaksud adalah satu pukulan lembut versi Siska yang biasa ia berikan pada musuh-musuhnya,jika diibaratkan mie level pedas itu berarti level satu nya wkakakak


Ana langsung terdiam mendengarkan ucapan Rima. karena apa yang dikatakan oleh Rima itu memang benar adanya


bayangkan saja jika Arya itu memiliki riwayat penyakit jantung, lalu ia meninggal mendadak


yang kasihan juga Siska harus menyandang status janda untuk yang kedua kalinya


pasti mereka tak ingin melihat Siska menderita karena ulah suami mereka


"Tak bisa aku bayangkan, bagaimana jadinya. baru kali ini aku setuju denganmu Rima


,Kalau begitu aku mengizinkan Siska untuk memberikan stempel tanda cinta itu pada mereka berdua, tapi.... level satu saja ya Siska?"


Ana tersenyum mengangguk setuju


Mendapatkan dukungan dari kedua temannya


tanpa ragu Siska pun langsung melangkah mendekati keduanya


karena mereka telah membuat Arya sampai ketakutan seperti itu


"Sekarang cepat katakan, siapa yang memiliki ide ini cepat!"


Ia mendekati keduanya yang sedang menempel di dinding


Dimas nampak benar-benar cemas sekali ia pun langsung berbisik pada Aditya


"Dit, kau tau dari tatapan matanya sepertinya ia ingin sekali menghajar wajah kita"


"Tenang saja, itu tak akan terjadi, aku berani jamin"


"Tapi aku mengenalnya dari kecil Dit, aku sangat tau bagaimana Siska jika marah"


Dimas kembali menempelkan tubuhnya di dinding dengan lebih erat sekali, bahkan ia terlihat lebih kuat menempelkan tubuhnya dari pada cicak-cicak di dinding


Melihat Aditya dan Dimas yang masih sibuk terus mengobrol. Membuat Siska semakin emosi saja


"Kak Dimas! kak Aditya! berhentilah untuk berbicara dengan bisik-bisik begitu, Kalian benar-benar sudah membuat suami ku ketakutan, sebaiknya kalian berdua harus merasakan yang namanya bogem mentah, rasakan ini!"


Bug ..


Satu hantaman keras mendarat diwajahnya


Aditya dan Dimas, dengan sangat keras sekali


Bug...


Bug...


Satu orang mendapatkan satu pukulan, bayangkan saja bagaimana kuatnya tenaga Siska


"Awwww...."


Ana dan Rima sama sekali tak membela keduanya mereka justru tertawa puas


"Baru kali ini aku setuju Siska memukuli mereka"


"Ya wajar saja, kau bayangkan saja, mereka berdua itu sungguh tak ada kerjaan sekali, menganggu orang yang baru saja menikah, coba saja kalau kita diposisinya Arya Siska bagaimana rasanya"


Siska langsung tersenyum melihat keduanya memegang pipinya


"Ya ampun Siska tenaganya sungguh seperti kuda "


"Ntahlah Dit, aku rasa, gigiku sedang rontok semua ini"


memegang pipinya


Tak sampai disitu saja Ana dan Rima pun langsung tersenyum "Ayo Rima saatnya giliran kita menambahkan hukuman untuk mereka"


Ana dan Rima pula yang menarik telinga keduanya dengan sangat kuat


"Hebat sekali kalian ya, berani sekali membohongi kami, ayo cepat masuk !"


"Aduh Ma, sabar . ini masih sakit sekali, coba lihat apa masih memar atau tidak ini pipinya!"


"Nanti saja didalam melihatnya agar lebih puas"


Sebelum masuk, Ana langsung minta maaf pada Siska "Siska maafkan suamiku telah menganggu kalian, aku akan memberikan nasehat panjang untuknya jangan khawatirkan itu"


Aditya langsung masuk kedalam kamar dan Terdengar bunyi pintu terkunci


Bug ..


Selanjutnya giliran Dimas yang juga dimarahi Rima" Sekrang giliran kak Dimas lagi, apa kak Dimas tau sekarang Siska ini sudah dewasa? hampir menjadi nenek-nenek pula, tidakkah malu melakukan hal ini pada suami adik sendiri ha?"


Siska langsung kaget mendengarkan kemarahan Rima untuk pertama kalinya itu


bahkan ia juga sempat geli melihat caranya memarahi kak Dimas


" Arya itu sekarang statusnya apa? dia itu adik ipar mu kan? kalau kau mengerjai Arya itu sama saja kau mengerjai Siska juga, kakak macam apa ini yang mengerjai adiknya berkali-kali, sungguh heran sekali aku melihat tingkahnya, mau dikatakan anak-anak kau ini sudah menjadi bapaknya anak-anak, mau dikatakan orang tua tapi kelakuanmu seperti anak-anak, entahlah ...."


"Maaf sayang, tapi sepertinya gigiku mu rontok semua ini sayang"


memegang pipinya


"Ya biarkanlah kalau perlu ganti semua giginya dengan gigi palsu"


ucap Rima dengan tegas


"Ya ampun sayang, sadis sekali sih"


Siska masih berkacak pinggang,walau sebenarnya ia ingin sekali tertawa melihat tingkah kedua temannya yang memarahi suaminya masing-masing itu


"Kak Dimas ... mau ditambahin lagi nggak?"


ancam Siska


Rima yang marah-marah dari tadi langsung terdiam. jujur ia cemas, ia takut jika Siska kembali memberikan serangan pada suaminya itu karena walaupun ia marah-marah begitu ia juga sangat menyayangi Dimas


"Jangan " jawab mereka dengan serentak


"Lah itu kompak kan enak dengarnya"


Siska tertawa cekikikan melihat Rima dan Dimas


"Sudah Siska kau tenang saja, aku akan mengatasi kak Dimas, kalian bersenang-senang lah,dan ini jangan lupa handuknya kak Arya ketinggalan, cepat kau berikan padanya"


Melemparkan pada Siska


"Ayo cepat masuk kamar" menarik telinga Dimas


"Iya sayang,iya, tapi pelan-pelan saja kenapa sih, bisa pacul daun telingaku ini nanti ah ..."


"Kalau pacul ganti saja dengan kuping gajah, lebih lebar dan besar, jadi gampang untuk mendengarkan suara apapun disekitar"


Siska langsung tertawa dengan keras


"Ya ampun sayang, kenapa kamu jahat sekali sih?"


"Sudah,ayo cepat masuk"


Siska yakin jika mereka sudah masuk, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah, pertarungan antar pasangan. karena biasanya satu-satunya cara untuk menghilangkan amarah pasangan ya dengan pertarungan yang sengit diatas ring kasur wkwkwkw


Pintu kamar mereka masing-masing pun sudah tertutup, dan Sekarang giliran Siska yang langsung masuk kedalam kamarnya


"Ah, maafkan aku kak Dimas dan kak Aditya, sebenarnya aku tak bermaksud untuk melukaimu tapi karena kalian berdua telah melakukan hal yang diluar batas, terpaksa juga aku melakukan hal ini"


mengelus tangannya dengan lembut


"Kak Arya? suamiku!"


Siska menyadari jika ia telah melupakan sesuatu dengan cepat ia langsung kembali masuk kedalam kamar


dengan cepat ia langsung menutup pintu kamar, dan benar-benar ia dikagetkan saat melihat Arya yang sedang menungging dengan selimut yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. mungkin karena efek ketakutan yang berlebihan sehingga membuat Arya tak menyadari itu, atau bisa jadi juga karena faktor usia yang membuat Arya lebih sensitif dari sebelumnya, tapi bisa jadi juga akibat lama menduda, beberapa opsi tersebut masuk kedalam kategori Arya.


Siska langsung tertawa saat melihat Arya yang sedang menungging dan terlihat sangat jelas sebuah benda yang tergantung dibelakangnya ikut bergetar, karena kakinya yang masih gemetaran

__ADS_1


"Kak Arya?"


menepuk kaki Arya


"Oaaaaa......."


Arya kaget


"Ini aku kak Arya, tak ada apapun didepan sana"


Siska menutup mulutnya dengan tertawa geli melihat tingkah suaminya yang penakut itu


Arya masih saja trauma "Cepat tutup pintunya Siska, ada hantu di hotel ini, sebaiknya kita segera pulang saja, karena tempat ini tak aman untuk kita berdua, aku benar-benar melihatnya dengan kedua bola mataku ini, ya ampun sungguh tak aku sangka jika semuanya bisa berada didepan mataku"


"Memangnya kak Arya melihat kakinya?"


canda Siska, ia memang sengaja untuk menggoda Arya


"Bagaimana aku mau melihatnya dia langsung berdiri dihadapanku"


"Iya tau, tapi apa kak Arya melihat kakinya itu terbang atau tidak? itu yang sedang aku tanyakan"


Siska tertawa cekikikan


"Ya ampun Siska, kau ini tak mengerti. asal kau tau saja ya, aku benar-benar melihatnya, hotel ini angker, banyak sekali hantunya, jadi kita harus cepat buru-buru pulang mumpung hari masih siang, kalau sudah malam, tak mungkin lagi bisa keluar karena jadwal mereka berkeliaran memang malam hari"


Siska menarik nafasnya dalam-dalam entah kenapa lelaki yang berada dihadapannya ini benar-benar sangat lucu sekali,ada saja tingkahnya yang membuat ia tertawa terus -menerus


"Jangan khawatir, tenang saja, semuanya aman terkendali, hantunya sudah masuk kamar masing-masing kak aku sudah menghajarnya satu-persatu"


"Maksudnya? jangan bercanda sayang ini bukan manusia masalahnya tidak lucu sama sekali,jika kita bercanda dengan yang bukan sebangsa dengan kita masalahnya, beda alam"


"Jadi maunya bagaimana,agar kak Arya percaya,apa?mau akunya dianggurin gitu?"


tantang Siska


"Bukan begitu sayang"


masih dengan posisi tubuhnya yang tadi


"Jadi apa?, kak Arya sudah dong nunggingnya, masa aku dikasih Boko*g, ya sudahlah kalau begitu kita pulang saja"


Siska mencolek benda yang tergantung dari belakang tersebut ia menahan sakit perut karena geli


Rupanya Arya langsung.bereaksi


"Ya sudahlah kalau memang itu yang kau mau kita selesaikan apa yang belum tuntas, tapi bagaimana dengan hantu tadi?"


"Nanti saja kita bahas lagi, sebaiknya sekarang kita lanjutkan saja peperangan yang belum usai ini, karena tidak baik menyelesaikan sesuatu yang belum usai ini"


Siska tertawa geli "Oke baiklah ayo...."


berdiri dan melanjutkan kembali pertempuran yang sempat tertunda itu


Langsung Arya membalikkan tubuhnya, seketika ia langsung kehilangan rasa takutnya. dan penyerangan kembali terjadi.


"Oh yes..... oh yes....."


Terdengar ******* yang sangat panjang dari perjuangan Siska dan Arya siang itu, tak ada malam pertama yang ada hanyalah siang pertama.


"Bagaimana sayang apa kau suka?"


Arya seperti kembali sedang menunggang kuda dengan sangat cepat, ia masih nampak sangat kuat dan bertenaga hingga Siska menyerah dan meminta ampun padanya


"Sudah "


Mereka berdua nampak terbaring lemah karena kelelahan


setelah itu Siska izin untuk mandi


"Aku mau mandi dulu kak Arya,apa Kak Arya tak mau membersihkan badan kak Arya dulu?"


"Nanti saja aku benar-benar sangat lelah sekali"


Siska langsung berdiri dan mengambil handuk,tapi sebelum masuk kekamar mandi Siska kembali menggoda Arya


"Yakin nggak mau mandi? nanti ada yang menemani lagi ..."


Mendengar ucapan dari Siska, Arya langsung melihat kearah pintu lalu dengan Cepat melompat dan masuk kedalam kamar mandi


"Kita mandi berdua sayangku,agar lebih mesra saja" Arya tersenyum


"Haahah biar lebih mesra, atau lebih takut karena sendirian saja"


Siska tertawa,


"Kita akan mandi bersama kan sayang, lihatlah ini" Arya langsung masuk kedalam bath up disusul oleh Siska


"Kak Arya aku ingin bertanya?"


"Ya tanyakanlah, apapun yang ingin kau tanyakan pasti semampuku akan aku jawab"


"Baiklah, aku hanya ingin bertanya. bagaimana jika di hotel ini ada kak Aditya dan kak Dimas?"


Siska berusaha untuk tidak tertawa dulu


Aku ingin melihat bagaimana reaksinya,saat ia tau jika tadi ia dikerjain habis-habisan oleh kak Aditya dan kak Dimas


"Hem kenapa bertanya pertanyaan aneh itu?"


"Sudah tinggal dijawab saja apa susahnya sih"


gerutu Siska.


"Ya ... ya .. baiklah jika mereka ada disini saat ini kita akan langsung pulang saja, karena mereka hanya akan menganggu kita berdua saja"


"Nah, itu adalah jawaban yang tepat sekali, karena mereka memang ada disini, dikiri kanan kamar kita"


Siska langsung tertawa dengan lebar sekali


"Siska, hentikan kebiasaan tertawamu itu, karena ini sama sekali tidak lucu tau!"


"Tidak lucu bagaimana Kak, justru aku yang seharusnya mengatakan jika kalian sangat lucu, asal kak Arya tau saja yang tadi itu jadi hantu adalah kak Aditya, dan yang mengetuk pintunya adalah kak Dimas, mereka memang sengaja ingin menganggu kita berdua"


"Apa?!"


Arya langsung emosi ia berdiri dan langsung membuka pintu kamar mandi


"Mereka berani sekali mempermainkan aku, lihatlah aku akan memberikan pelajaran pada mereka"


Siska kembali tertawa "jadi kak Arya mau pergi sekarang juga kekamar sebelah?"


"Tentu saja!"


tegas dan berapi-api sekali


"Yakin saat ini juga?"


"Iya, Memangnya kenapa Siska? apa kau pikir aku ini laki-laki penakut dan pengecut, aku tak takut akan apapun didunia ini kecuali Tuhan"


Preetttttttttttt....hadeh Arya..Arya baru saja tau jika yang menakutinya adalah manusia,maka ia langsung sok berani sekali


"Iya, aku tau kak Arya adalah laki-laki pemberani dan perkasa, tapi yang jadi masalahnya adalah kak Arya tak apa-apa gitu keluar seperti bayi baru lahir seperti sekarang?"


Arya langsung menengok kebawah


"Hah, iya aku lupa"


buru-buru kembali masuk dan mengambil handuk dengan busa sabun yang masih banyak diatas kepalanya


"Kak Arya, sudah duduk dulu, sini. mandi yang benar, lihatlah diatas kepalanya kak Arya itu banyak sekali busa sabun, tak usah marah dengan mereka berdua. tadi aku sudah menghajar wajah mereka berdua"


"Serius Siska?"Arya membelalakkan matanya


"Yaps, tentu saja aku serius. kapan aku main-main


"Dengan tanganmu ini sayang?"


mengangkat tanganny Siska


"Bukan, tapi dengan kaki meja"


Siska tertawa karena tak tahan melihat wajahnya Arya yang tak percaya begitu


"Sayang berhentilah bermain-main kak Arya ini serius nanyanya sama dek Siska, gimana sih"


Arya langsung menghela nafasnya


"Iya kak Arya dek Siska ini juga serius sekali dengan kak Arya itu, lihatlah wajah dek Siska ini" Menatap Arya dengan sangat dekat.


Arya langsung mengangguk "Iya... iya ..aku percaya"

__ADS_1


Sambil kembali bertegangan tinggi,dan terjadilah kembali Serangan bertubi-tubi didalam kamar mandi tersebut"


"Jangan khawatir nanti malam kita akan membalas mereka semua"


Sambil menunggang kudanya


"Bagaimana mungkin membalas mereka semua? yang bersalah itu hanyalah kak Aditya dan kak Dimas, Ana dan Rima tidak tau apa-apa"


"Baiklah terserah padamu saja, tapi rencana apa yang akan kita buat untuk mereka berdua"


"Nanti mereka pasti akan bertanya apa yang aku lakukan pada malam pertama denganku dan aku memiliki rencana untuk itu semua"


"Baiklah sayang aku akan mengikuti semua keinginanmu, asal kan kau terus menurutiku seperti ini oh yeah"


Arya dan Siska sangat bersemangat sekali


"Baiklah, yang terpenting aku dan kamu sekarang akan menjadi kita"


Permainan pun berlanjut


Sedangkan hal yang sama juga dilakukan oleh Aditya dan Dimas , mereka saling bertanding satu sama lainnya juga


"Papa ini sudah tua tapi masih saja ya kelakuannya seperti anak-anak, kenapa coba main hantu-hantuan begitu, benar-benar ya. untung saja Siska cuma memberikan satu pukulan, bagaimana jika tadi ia langsung memberikan lebih dari satu pukulan, bisa geger tu otak Papa"


"Tapi Papa yakin, Mama tak akan membiarkan hal itu terjadi kan?"


Aditya menaruh kepalanya di bahu Ana


.


"Itu Papa tau, tapi mama tak yakin juga bisa menghentikan kemarahannya Siska,dia itu adalah singa betina yang selalu marah saat kehidupannya diusik dan Papa dan kak Dimas sudah menganggu ketentraman hidupnya"


"Iya Ma, maaf."


Lidah Aditya mulai bergerak bebas menuju leher Ana, Aditya sengaja untuk menggoda Ana,agar ia tak terurus-menerus mengoceh"


"Pa, tolonglah mama lagi serius ini,jangan dibuat main-main ya!"


Aditya langsung menjawab "Tapi Papa lagi pengen main Ma"


"Ih... tidak lucu tau!"


"Papaa ingin kita lucu'-lucuan saja Ma"


menggelitik Ana yang dari tadi cemberut


"Ampun, Pa... ampuh"


teriak Ana meminta ampun dan akhirnya sudah pasti tau kemana arahnya, mereka yang sedang berguling-guling berdua itu pun langsung hanyut dalam suasana dan kembali bekerja sama untuk menaiki puncak kebahagiaan yang hakiki, cinta menuju puncak gunung wkakakaka.


Dikamarnya Dimas,


"Siapa tadi yang punya ide duluan ayo cepat ngaku sajalah!"


Rima ternyata masih melanjutkan kekesalannya di dalam kamar


"Aditya sayang, kan aku tak mungkin bisa tega melakukan hal itu pada sahabat sendiri"


"Omong kosong, sekarang ayo cepat mengakulah"


"Iya aku".


menundukkan kepalanya


"Nah,gitu kan enak,nggak banyak cerita lagi"


"Tapi sayang, bukan hanya aku saja.


Aditya dan aku sama -sama berpikiran yang sama makanya kami setuju untuk datang mengerjai Arya"


"Sudah kuduga,..., untunglah tadi aku dan Ana cepat keluar, coba kalau terlambat sebentar saja, tak bisa aku bayangkan kalian Berdua akan menjadi bubur oleh Siska"


"Pikiranmu itu terlalu jauh sayang.Siska tak akan mungkin membuat Kakaknya menjadi bubur,jangan berpikiran begitu"


"Kata siapa? siapa yang tahan coba,punya kakak seperti ini, sudah hobi menganggu, usil pula"


"Iya aku minta maaf"


Dimas langsung berbaring diatas kasur


"Siapa yang suruh tidur, orang lagi ngomel juga,dia malah tidur, memang kadang ada nggak warasnya juga ya"


Rima langsung membuka pakaiannya, Karena gerah


"Sayang apa kau mau sekarang?"


Dimas tak kalah cepat, dalam sekejap ia sudah seperti bayi baru lahir kembali


"Kak Dimas?"


"Iya, sekarang Sebaiknya kau harus cepat memberikan aku kesempatan untuk memperbaikinya, menari-nari dan berjoget-joget dihadapan Rima dengan gaya-gaya yang aneh.


awalnya Rima sama sekali tak memperdulikannya, namun akhirnya rasa cinta mengalahkan segalanya ia langsung tertawa.dan sudah jelas mau dibawa kemana selanjutnya , pertandingan tiga pasang sahabat yang sedang bertarung hebat seharian diatas tempat tidur masing-masing.


hahaha siapakah pemenangnya? apa Arya?


Aditya ataupun Dimas, yang jelas semuanya keluar saat malam tiba.


"Aku menyerah"


ucap Arya tergeletak. jam menunjukkan pukul tiga siang


Kesempatan emas itu tak disia-siakan oleh Siska. ia langsung menelpon Ana dan Rima yang juga baru saja melakukan pertempuran sengit, dan lawannya juga sudah tepar disamping mereka


"Aku capek sekali ... bisakah kau pesankan makanan sayang"


Pinta Dimas


"Oke baiklah, jangan khawatir, aku akan menyuruh mereka untuk mengantarkan makanan keatas"


"Tolong air minum dingin aku sangat haus sekali"


Rima tersenyum baru saja ia ingin menelpon. handphonenya kembali berdering


"Siska"


"Halo Siska?"


"Cepat keluar kamar sebentar"


"Iya baiklah"


Rima memasifkan jika Dimas benar-benar sudah tidur" Kak Dimas ... kak Dimas"


menggoyangkan kaki Dimas. tapi tak dengar.


"Baiklah ia sudah tidur, aku akan segera keluar"


dengan perlahan-lahan sekali Rima membuka pintu dan akhirnya dapat keluar.rupanya Ana dan Siska sudah berada diluar


"Maafkan aku, apa kalian menunggu lama sekali barusan?"


"Tidak kami juga baru keluar"


Nampak di bagian pundaknya Siska terdapat bekas merah


Ana dan Rima pun saling melirik satu sama lainnya


"Ehem... sepertinya ada pertarungan hebat barusan ya"


Ana langsung tertawa "Kau ini Rima namanya juga sudah lama tak bertarung, tentu saja pertandingannya sengit, kalau seperti kita ini pertarungan santai saja, asal absen sudah"


Rima dan Siska serentak tertawa


"Ya kaleee heboh banget, pertandingan ini bikin gedung ini bergoyang poco-poco"


"Sudah hentikan candaannya ada apa,?"


"Aku hanya mau memastikan jika malam ini kita bertiga akan nge-date bertiga, ingat kita akan membawa suami masing-masing, sekalian nanti malam Ana juga ingin membahas pernikahan anak-anak kita, apa Alea dulu yang akan menikah? atau Arika? yang jelas kita semua sudah tak sabar ingin menimang cucu dari anak-anak kita "


"Ya, aku setuju sekali. aku ingin sekali dipanggil Nenek, ya Tuhan aku sudah tak sabar"


"Aku rasa kita akan fokus pada pernikahan Bian Dan Arika lebih dulu, karena ia Sebentar lagi akan wisuda"


"Ee... tidak bisa, Raja itu juga dewasa. walaupun umurnya masih muda,aku berani jamin. jika putraku itu adalah laki-laki yang sangat luar biasa dalam segala hal.


"Baiklah, jam tujuh malam nanti kita sudah berada dibawah untuk makan malam membahas pernikahan anak- -anak kita, secepatnya agar, para cucu kita juga tak jauh jarak umurnya "


"Aku setuju"


.....

__ADS_1


kasih Vote dong sayang kuh


__ADS_2