
Karin langsung cemberut melihat wajah Bian yang terlihat sangat panik sekali
"Katakan saja kakakku, kau harus buru-buru menejelaskan padanya ayo ..."
tanpa pikir panjang Bian langsung naik keatas
"Menyebalkan sekali dia, siapa yang ada didalam otaknya itu, aku sungguh-sungguh merasa sangat sakit hati sekali, ternyata benar kita tak boleh menghabiskan waktu dengan laki-laki yang belum usai masa lalunya, arghhh menyebalkan sekali" ucap Arika sambil memukul tangannya diatas kasur .
"Arika ...." Bian masih berdiri didepan pintu kamarnya, tapi ia sangat takut untuk masuk kedalam, bukan karena apa-apa tapi baru kali ini ia takut jika Arika marah
"Aku tak menyangka jika ia sensitif sekali, lagi pula dia kan cantik, masa iya dia marah sampai segitunya"
Sementara itu Karin naik keatas untuk masuk kedalam kamarnya, bersamaan dengan Aditya dan Ana yang keluar dengan wajah yang sumringah, padahal tadi pada saat masuk kedalam rumah wajahnya memerah Karena marah.
"Kamu sangat cantik" ucap Aditya memujinya
"Kamu juga semakin tampan saja"
Karin yang berdiri dihadapannya langsung melotot
"Mama, papa!"
__ADS_1
"Karin!" kaget
"Sejak kapan kau berdiri disini" gelagapan. mereka terlihat,cemas jika Karin yang masih SMA itu mendengarkan suara-suara gaib dari dalam kamar mereka tadi
"Aku baru pulang mama, itu lihat anak kesayangan mama dan papa lagi berantem sama kak Arika, ayo bantuin sana" Karin terlihat sewot karena memang ia sangat marah sekali dengan kedua orang tuanya yang mengabaikannya
"Karin apa yang sedang kau katakan itu,kau itu anak mama dan kau tau jika semua anak yang keluar dari rahim mama ini adalah anak kesayangan mama"
"Terserah, tapi mama izinkan kakak dua Minggu pergi,coba giliran Karin mana boleh"Karin langsung berjalan dengan menghentakkan kakinya,lalu masuk kedalam kamarnya yang berada di ujung kamar mereka berdua
"Karin..."
"Arika ...." Bian langsung masuk kedalam kamarnya
Ana dan Aditya langsung buru-buru menempelkan telinganya di depan pintu
"Jangan berisik, kita harus tau apa sumber pertengkaran mereka, karena mereka ini masih sangat muda"
"Iya, tapi Bian itu sangat dewasa,"
mereka menguping pembicaraan keduanya, karena khawatir akan terjadi sesuatu
__ADS_1
",Tapi sayang, mereka paling nanti ujung-ujungnya..." berpikir yang aneh-aneh
"Huss, sembarangan, mereka ini baru menikah bukan pasangan tua seperti kita, jadi tak mungkin lah..."
"Jadi harus bagaimana "
"Aku akan memastikan jika mereka baik-baik saja"
Bian langsung tersenyum saat melihat Arika
"Istriku apa kau mau makan?"
terlihat sangat kaku sekali
"Aku tidak lapar, lagian aku harus menjaga pola makanku,aku tak mau berlemak"
Bian semakin tak mengerti letak salahnya Dimana, padahal ia hanya bercanda saja
"Kenapa harus takut dengan lemak, lagi pula mau seperti apapun lemak yang berada ditubuhmu, itu tak akan mempengaruhi apapun juga, karena memang kau sudah cantik"
"Cantik?, kau yakin aku akan terlihat cantik?, atau banyak yang cantik-cantik yang ada didalam otak mu itu ha!" Arika benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya yang membludak
__ADS_1