
"Belajar saja kau sendiri aku tak berminat belajar hal tolol seperti itu!"
Bian kembali menunjukkan keberingasannya
"Nah sekarang bagaimana? kau tak bisa melepaskan dirimu kan? hayoo... sekarang bagaimana ha?"
Arika tampak sangat ketakutan, tubuh Bian yang lebih besar darinya membuat ia semakin tak bisa memberontak
Baiklah apa yang harus aku lakukan untuknya, argghhhhhhhh sungguh sangat menyebalkan sekali, tapi aku tau apa yang harus aku lakukan
tunggu saja
Arika menahan nafasnya dalam-dalam,
lalu berteriak dengan histeris
"Maafkan aku Bian"
Dengan menggerakkan kedua pahanya ia menjepit sang jagoan milik Bian
Pak ....
menjepit dengan kedua pahanya,
Bian pun langsung tergeletak kesamping dan berteriak-teriak
"Awwwwww ... keterlaluan"
Arika langsung berdiri cepat-cepat
"Rasakanlah itu akibat jika kau selalu saja ikut campur urusan ku, apa kau mengerti?"
Arika langsung berbaring diatas sofa dan menghidupkan televisi
"Menganggu saja"
Ia langsung memilih acara televisi dengan remote ditangannya
Beberapa menit kemudian Arika merasakan Ada yang berbeda ia melihat Bian sama sekali tak bergerak lagi
__ADS_1
"Kenapa dia diam saja"
Arika mulai tak karuan karena Bian yang sedang tertidur telungkup dengan memegang sang jagoan yang sedang kesakitan
"Hei buaya ...."
Arika memanggil Bian tapi tak kunjung mendapatkan jawaban juga
"Hei Buaya ...."
deg...
deg..
Bian tak bergerak sama sekali
"Apa yang terjadi, ha?"
Arika mulai cemas
Ia berjalan mendekati Bian untuk memastikan
"Ya Tuhan jangan-jangan ia"
Arika langsung menyentuh Bian
"Hei... bangun ...bangun"
menepuk-nepuk tubuh Bian tapi tak kunjung bangun juga
Arika mulai cemas
"Ya Tuhan bagaimana ini, bagaimana kalau dia kenapa-kenapa dan aku akan masuk penjara!"
Bian masih tak bergerak
"Baiklah tidak ada cara lain aku akan membalikkan tubuhnya untuk memastikan apa dia baik-baik saja atau sudah tak bernyawa"
Dengan sekuat tenaga ia berhasil membalikkan tubuhnya Bian
__ADS_1
nampak Bian tak bergerak dengan mata yang terpejam
"Buaya ...."
ucap Arika
lalu ia memegang tangan Bian
"Masih ada denyut nadinya, tapi ia kenapa begitu tak bergerak sama sekali ya?"
Arika langsung menaruh kepalanya di jantung Bian" ada masih "duduk dan menatap Bian dengan cemas
"Apa dia pingsan dan aduh kacau ini, baiklah kalau begitu aku akan langsung memberikan nafas buatan saja, seperti yang dilakukan pada orang-orang yang kehilangan kesabaran"
Bian membuka matanya sedikit
Wah dia akan mencium ku aku sungguh sangat deg-degan sekali ini, ini pertama kalinya ia mencium ku padahal kemarin aku yang duluan mencium bibir merahnya itu
Arika langsung memegang wajah Bian
"Ya Tuhan ini sungguh menjijikkan sekali"
Ia langsung mendekatkan wajahnya, tinggal satu senti lagi bibirnya menyentuh bibir Bian
Ayo cepat Arika lama sekali tinggal nempel saja, aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi laki-laki yang pasrah mau di apakan saja sama perempuan
Bian dan Arika sama-sama deg-degan
"Baiklah ini saatnya "
saat Arika ingin mencium Bian
rupanya tepat di pinggir hidungnya Bian ada upil yang menyempil berukuran sedang yang keluar masuk karena hembusan nafas
"Astaga upil!"
Arika langsung terpental secara otomatis
"Huwekkkkk jorok sekali dia, uwekkksssssss"
__ADS_1
Arika langsung buru-buru masuk kedalam kamar mandi