
"Sayang apa yang lucu, ini benar-benar serius, apa benar ketiaknya Siska dan di bokongnya ditumbuhi bulu yang rimbun seperti bulu yang tumbuh di kepala Aditya?"
Lagi-lagi Rima tertawa geli
"Siapa yang mengatakan itu suamiku, ini sangat lucu sekali ya ampun"
memukul-mukul mobil sambil tertawa geli"
"Cepat katakan iya atau tidak?"
"Astaga ini sungguh parodi yang sangat lucu sekali, katakan padaku.siapa yang mengatakan itu ha?"
Dimas terdiam, ia tak mungkin menceritakan itu pada Rima, karena tau antara Rima, Siska dan Ana memiliki ikatan yang sangat kuat sekali
Hati-hati Dimas, jangan sampai keceplosan mengatakan hal-hal yang membahayakan dirimu nanti, ingat jika kau mengatakan tau dari Arya? maka nanti akan ketahuan jika kami bertiga tadi saling menceritakan semuanya tentang kehidupan ranjang masing-masing,dan itu sangat membahayakan sekali.
"Ayo katakanlah kak Dimas, ada apa?"
"Tidak ada aku hanya ingin tahu saja darimu, apa kah kau tau, ya hanya itu saja.jawab saja sayang"
terlihat memelas
"Oh itu memang iya, bahkan bulu yang tumbuh ditubuhnya Siska lebih lebat dari rambut yang tumbuh dikepalanya"
Ucap Rima, dengan tertawa sangat keras sekali
Dimas langsung tak berselera lagi untuk menanggapi cerita Siska, karena ia mendadak mual sekali .
sebagai saudara,Dimas sangat menyayangi Siska, tapi ia tahu batas antara kakak dan adik, dan itulah yang membuat ia tak pernah memandangi bagian tubuh adiknya itu secara detail.
"Aku tak tertarik sama sekali untuk bertanya lagi"
Wajah Dimas berubah menjadi sangat merah sekali, sedangkan Rima tak berhenti tertawa dari tadi
"Hentikan Rima, jangan membuat aku tertawa geli,itu tak akan membuat cerita ini jadi lucu"
"Bhahaah aku tau sekarang apa yang membuatmu seperti itu kak Dimas"
Rima teringat satu cerita yang dulu pernah diceritakan oleh Siska padanya.
jika Dimas itu paling jijik melihat bulu-bulu yang berlebihan bentuknya, karena salah satunya adalah bagaimana Rima dulu diingatkan oleh Siska,' jangan ada satu bulupun yang tumbuh di ketiakmu, itu akan membuat kak Dimas pingsan, ia sangat jijik sekali dengan hal itu'.
"Kita akan pulang, stop membahas hal yang tidak penting itu"
Dimas nampak sangat kesal sekali, apa lagi wajahnya Rima tak henti-hentinya tertawa
"Itulah akibatnya selalu ingin tahu urusan orang lain, bagaimana jadinya. makanya kalian kena kerjain kak Arya"
Dimas tak mau membahasnya lagi, terserah saja apa yang dikatakan oleh orang-orang yang melihat kearah mobilnya, karena suara tertawa Rima yang tak bisa berhenti itu, ia sama sekali tak perduli dengan urusan orang-orang tersebut.
.......
.....
Aditya sampai dirumahnya lebih cepat dari biasanya, ia sengaja mengambil jalan pintas, agar lebih cepat sampai di rumahnya.
"Cepatlah kita sudah sampai, ayo turun Pa"
"Aku sudah tak tahan lagi ingin segera beristirahat"
Aditya mencari alasan agar Ana tak terlalu banyak bertanya padanya.
"Nanti lah istirahatnya Pa, kita mengobrol dulu dengan anak-anak kita ya, ayolah sayang..."
Pinta Ana.
Heh dia kalau lagi merengek begini, membuat aku semakin ingin mengajaknya untuk buru-buru tidur berdua, pasti asik sekali bisa bobo bareng berduaan, jadi aku aman Ana,tak akan mengetahui apa yang terjadi tadi, kalau sudah capek ia akan tidur dan bangun besok pagi-pagi sekali.
"Mama sajalah Papa ngantuk sekali Ma, lihatlah tangan Papa, sudah kelelahan akibat menyetir terlalu lama".
Dari dalam rumah mereka Bian dan Karin sedang menonton televisi diruangan tengah
"Kak seperti suara mobil?"
"Paling juga Papa"
"Kak Bian nggak tau apa, Mama dan papa kan tadi udah bilang mereka nggak pulang, mau menginap di hotel malam ini"
"Oh ya, baguslah kalau begitu"
jawab Bian dengan santai
"Kak Bian, ayo cepat lihat dulu, disana siapa kak, ah kak Bian!"
memaksa Bian yang masih berbaring dengan sangat santai sekali
"Iya ... iya"
Bian langsung berdiri juga, meski terlihat sebenarnya ia sangat malas sekali untuk berdiri, namun rasa sayangnya pada adik semata wayangnya ini membuat ia langsung berdiri untuk melihat siapa yang datang
Aditya dan Ana yang baru saja sampai didepan pintu langsung kaget saat disambut oleh putranya tersebut
"Nah benar Papa dan mama rupanya" ucap Karin sambil melompat-lompat kegirangan
"Papa, Mama. malam ini pulang? katanya tidur di hotel?" tanya Bian dengan heran
Ana langsung melirik kearah Aditya dengan tatapan yang sinis, dengan cepat Aditya langsung membuat wajahnya kearah yang berlawanan
"Tidak jadi, karena Papamu ini, ingin pulang lihatlah itu wajahnya seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang menjijikkan, mama juga heran, tau-tau ngajakin Mama pulang, payah kalau orang sudah tua ini, banyak sekali ceritanya"
Aditya pun langsung langsung berlari masuk keatas, Karin pun langsung bermanja-manja langsung padanya, ia memeluk Ana dengan sangat erat sekali
"Mamaaa ... Papa kenapa itu mukanya manyun terus dari tadi?"
"Biasalah Papa kalian, mood nya seperti perempuan suka berubah-rubah"
Wajah Aditya yang bertekuk mencoba tersenyum manis pada kedua anaknya yang telah menunggunya lama tersebut
Hoammmm
"Baiklah Papa, sebaiknya langsung istirahat saja ya, anak-anak karena Papa ngantuk sekali ini, lihatlah wajah Papa sudah merah sekali mata Papa karena ngantuk berat, seberat rindu yang papa simpan untuk Mama"
"Preetttttttttttt...."
cibir Ana
Bian dan Karin terbawa terbahak-bahak
"Oh ya Pa, tadi Oma,opa kemari mereka nanyain Papa dan Mama"
"Jadi Oma Opa, kalian sudah pulang, mereka hanya menghabiskan waktu untuk keliling dunia saja, setelah ini mereka mau keliling planet mana lagi ,hadeh..."
"kata Oma, dia mau ke planet mars Pa"
"Ya terserah mereka lah, mungkin mereka sudah bosan keliling bumi, ingin wisata keliling luar bumi"
Karin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Papanya.
"Sudah, sudah... sebaiknya kita duduk dulu ayo..."
Mereka duduk di sofa bertiga, lalu Ana mulai bertanya pada Bian "Kalian tau Mama tadi Kemana? ayo coba tebak?"
Ana nampak tersenyum-senyum bahagia,
"Bukankah mama tadi kehotel Ma?"
"Maksudnya nama hotelnya mungkin kak Bian"
ucap Karin
"Hotel apa, Kartika, Putri,duyung?"
"Bukan ... bukan itu, maksudnya Mama"
menatap kedua anaknya dengan wajah yang sangat bahagia
"Jadi apa Ma, jangan main teka-teki malam-malam begini dong Ma, kan tidak asik jadinya Ma"
"Sabar ya, jadi begini sayang Mama akan memberikan sebuah kabar yang sangat membahagiakan kita semua"
masih dengan senyum-senyum penuh arti
__ADS_1
"Kabar apa sih Ma?"
ucap Bian sambil ikut-ikutan senyum-senyum sendiri, dalam pikirannya kalau tidak beli mobil baru, beli hotel baru, liburan sekeluarga, itulah yang ada didalam pikiran Bian
"Baiklah Mama akan segera memberitahunya, apa kalian sudah siap untuk mendengarkannya?"
Melirik kearah kiri dan kanan sambil tersenyum bahagia
"Iya, Ma. ayo katakan saja"
Bian terlihat biasa saja, karena ia pikir pasti lah hal-hal yang tidak penting sekali baginya
"Pasang telinga kalian baik-baik"
Ana kembali menegaskan lagi
Karin dan Bian langsung berpandangan
"Ah paling juga hal yang tidak penting dek, kakak yakin"
"Iya juga sih, kak "
Karin tertawa
"Ayo,Ma. buruan katakan apa? sudah malam ini, Karin sudah ngantuk"
"Oke baiklah, kabarnya adalah ... Kak Bian dan kak Arika akan segera menikah"
Ana langsung bertepuk tangan
Bian yang sedang minum air langsung terbatuk-batuk dan menyemburkan air kewajah adiknya
"Astaga, Kak Bian!"
Molotot sambil mengusap air dari wajahnya itu
"Aduh, maafkan kakak sayang, kakak tidak sengaja, sini kak Bian bantu bersihkan ya"
"Ya ampun Bian, kalau minum hati-hati dong sayang, itu kan jadi kena Karin"
"I-iya Ma, maaf"
Karin langsung melotot beberapa detik, kemudian wajahnya kembali ceria
"Karin tidak jadi marah, karena Karin tau kak Bian itu gugup karena terlalu bahagia sebentar lagi akan jadi pengantin, apa lagi istrinya kak Bian adalah kak Arika yang cantik dan mempesona ya kan Ma?"
Ana langsung mengerti, ia langsung tersenyum dengan sangat lebar sekali
"Astaga karin sayang, kau benar Nak, Mama sampai melupakan hal itu , pantas saja kak Bian langsung kaget ya kan ...."
Ana dan Karin tertawa cekikikan
Bian benar-benar syok, bagaimana mungkin Mamanya mengambil keputusan tanpa persetujuannya,ia tak bisa berkata apapun lagi
Astaga, jadi kabar bahagia Mama dan Papa itu adalah kabar yang akan menghancurkan hidupku ya, aku sungguh tak sanggup lagi ingin melanjutkan hidupku kalau begitu,ini benar-benar diluar ekspektasi ku sebagai seorang Anak
Mendadak tubuh Bian tak bisa digerakkan karena terlalu lemas, sepertinya saat ini tulang-tulang di ototnya langsung melemah seketika.
"Bagaimana sayang, apa kau sudah siap?"
tanya Ana
"Tentu saja kak Bian sudah siap lahir batin Mama, lihat itu wajah Kak Bian berubah seperti itu, tanda-tanda hatinya sangat bahagia sekali"
Ya ampun Karin ini sok tau sekali ya, seperti paham betul bagaimana merasakan perasaan cinta yang sesungguhnya, dasar anak kecil sok tau banget sih dia
"T-tapi ... "
"Tapi Mama rasa kau pasti tak akan mungkin menolaknya kan, Mama rasa ini sudah hal yang pantas karena Mama dulu seusia kalian sudah menikah, jadi tak ada yang harus dibicarakan lagi, Bian sudah sangat dewasa sekali, apa lagi ilmu agama dan rasa tanggung jawab sebagai laki-laki sudah tidak diragukan lagi, sama halnya seperti Arika yang juga sudah memiliki basic seorang istri yang sangat sempurna sekali, karena mama mengenal dia dari dulu hingga sekarang, didikan kedua orangtuanya tak jauh dari kita, ia adalah perempuan yang sangat lembut sekali dan beradab"
Bian tak bisa membicarakan apapun lagi karena sudah dikunci oleh Ana semua ucapannya
"Horeeee, aku sangat setuju sekali Mama, jika kak Bian dan kak Arika akan menikah, kalau bisa besok pagi saja Ma, Karena lebih cepat lebih baik"
"Tidak bisa!"
ucap Bian dengan spontan dan keras, langsung mengagetkan semuanya.
"Bian!"
Semuanya langsung kaget karena mendengarkan suaranya Bian yang tak biasa itu,
Sadar jika ia telah bersuara terlalu keras, Bian langsung berdehem untuk menetralisir keadaannya kembali.
"Maaf Ma, Bian hanya kaget saja , kenapa terlalu mendadak sekali, bukannya kita harus melakukan banyak persiapan, seperti ... "
"Ya ...ya... Mama paham sekali, tapi jangan khawatir Mama bisa melakukannya dengan sangat baik, tenang saja,Nak. Mama tau jika kau dan Arika itu sangat cocok sekali, dan kalian sudah saling memahami satu sama lainnya"
Ana langsung berdiri
Ya Tuhan mama, enak saja mengambil keputusan sendiri, dia tak tau jika aku sama sekali tak tertarik dengan Arika, mama... tolonglah Mama mengerti soal ini
"Hoammm... Mama sangat ngantuk sekali, sebaiknya besok saja kita sambung lagi ceritanya, Kau jangan khawatir Bian. itu semua sudah menjadi urusan Mama"
"M-mama .... T-tapi ... "
"Cie kak Bian bakal jadi pengantin, cie ..."
Karin pun langsung berlari masuk kedalam kamarnya Meninggalkan Bian seorang diri
"Ah bobo juga ah, ngantuk, dagh kak Bian"
Masuk kedalam kamarnya
Dan sekarang tinggal Bian yang terdiam dengan lutut yang gemetaran diluar, ia tak bisa berkata apapun lagi dan berbuat apa lagi karena sekarang Bian sudah tak lagi bisa bersuara
"Ya Tuhan, apa salahku. kenapa Mama begitu cepat mengambil keputusan ini, aku tak mungkin menghabiskan hidupku bersama perempuan itu, dia memang manis senyumannya, tapi mood nya sering berubah-ubah, terkadang baik lalu dalam sekejap bisa jutek kembali, tak mungkin ini tak mungkin, Sebaiknya aku segera menelpon Arika saja untuk mengkonfirmasi berita ini apa benar atau tidak, atau itu jangan-jangan hanya akal-akalan mama saja, atau ..."
Tiba-tiba telpon Bian berdering, rupanya itu salah satu teman lamanya Bian
"Nomor baru, siapa ini?"
Mengangkat telponnya
"Halo,"
"Halo Bian, apa kabar?"
Bian tersentak, seperti tak asing dengan suara yang menelponnya ini
"Indah?"
Suara seorang perempuan yang sudah lama sekali tak ia dengar, ia adalah indah permata, sahabat baiknya Bian
"Syukurlah kau tak melupakan aku Bian,aku pikir kau sudah melupakan aku"
"Ya ampun, ini surprise sekali, bagaimana mungkin aku bisa tak melupakanmu indah, aku ingin sekali bertemu denganmu"
"Hmm ya Bian, aku hanya ingin mengabarkan jika aku akan segera menikah bulan depan, tapi sebelum menikah aku ingin bertemu denganmu, aku ingin kita menghabiskan waktu berdua bersama denganmu, bercerita mengingat perjalanan persahabatan kita, nanti calon suamiku akan menyusul kita"
Bian langsung tertawa" ya ampun bagaimana mungkin, sahabatku Indah yang tomboi akhirnya akan menikah juga, ini sungguh sangat luar biasa sekali, aku jadi penasaran bagaimana rupa laki-laki yang beruntung itu"
"Baiklah, aku akan menunggumu besok siang ya, di cafe dekat bandara karena suamiku bekerja sebagai pilot"
"Amazing, baiklah Indah selamat malam, kita akan berjumpa besok"
Telpon langsung dimatikan, Bian pun langsung terbaring elok diatas sofa kursi tersebut
membentengi kedua tangannya, mendadak ia melupakan pernikahannya dan Arika
"Astaga Indah, ini sungguh sangat luar biasa sekali ya, akhirnya setelah sekian lama aku akan segera melihat teman-temanku menikah, ya ampun Indah yang keriting, gendut dan seperti laki-laki ada juga yang tertarik, seorang pilot pula, aku pikir itu adalah pilot abal-abal ternyata ini adalah pilot beneran"
Biak tertawa terkekeh-kekeh sendiri
Ia kembali membuka handphonenya, dan melihat galeri foto-foto waktu ia masih sekolah dulu, dan melihat wajahnya Indah yang benar-benar tidak ada potongan perempuan sedikitpun
"Aku jadi penasaran bagaimana jadinya Indah sekarang,apa dia benar-benar sudah berubah, sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya jadi penasaran aku bagaimana wajahnya dan bentuknya sekarang ya?"
Bian tertawa terus dari tadi, membuat para pembantu yang bekerja dirumahnya langsung berlarian mendengarkannya, karena jam sebelas malam Terdengar suara orang tertawa adalah suatu hal yang amat sangat langka sekali, apa lagi, di dalam rumah itu biasanya jam sebelas sudah masuk kedalam kamar masing-masing semuanya.
"Tuan Bian, sepertinya lagi bahagia sekali ya?"
__ADS_1
"Iya memang, kau benar. ia sangat bahagia sekali, apa dia sedang menonton acara televisi yang lucu mungkin ya?"
"Mungkin juga, Tapi aku tak terlalu mengerti juga, coba kau lihat lagi"
"Mungkin iya sih, tapi acara apa ya? aku jadi penasaran jadinya"
"Sudah, jangan terlalu ingin tau urusan tuan muda kita, nanti dia tau. kita kena marah lagi"
"Tuan Bian kan tidak pernah marah sama sekali, bagaimana sih kalian?"
"Sudah, sebaiknya perhatikan dari sini saja lebih aman".
Suara tawa Bian yang menggelegar membuat . Aditya dan Ana yang berada didalam kamar langsung kaget, apa lagi posisi kamarnya Aditya dan Ana tak jauh dari ruang keluarga
"Astaga itu Bian kenapa Ma, tertawa terbahak-bahak jam segini, ada apa coba, sudah malam. suruh diam dulu Ma, ribut sekali orang-orang mau tidur,jangan menganggu lah"
"Ah, Papa diamlah, seperti tidak pernah muda saja" Ana malah tersenyum-senyum bahagia
"Mama ini, bagaimana. anak tertawa tengah malam dia malah biasa-biasa saja, coba dilihat dulu Ma, itu anaknya kenapa? kalau mungkin anaknya kesurupan atau bagaimana Ma?"
"Sudahlah Papa, jangan ribut. Anaknya itu sedang bahagia"
Aditya heran
"Maksudnya Mama, bahagia bagaimana sih?"
"Jadi begini Pa, tadi mama sudah memberitahu kan Bian, kalau mama dan papa itu akan menyiapkan segalanya untuk pernikahan ia dan Arika, jadi ia tak perlu pusing lagi memikirkan semuanya, karena sudah diatur dengan sebaik-baiknya untuk kelancaran acara"
Aditya langsung tersenyum bahagia "Wah jadi Mama sudah memberitahukan Bian ya?"
"Iya Pa, jangan khawatirkan itu,mama sudah melakukan hal yang terbaik semuanya, mama sudah mengatakan semuanya itu urusan Mama"
Aditya langsung mengangkat kepalanya
"Anak itu benar-benar sudah dewasa sekali ya Ma, tidak Papa sangka jika ia akan segera menikah dan kita akan segera pensiun seperti Papa dan mama hanya menghabiskan waktu untuk keliling dunia sampai bosan"
Aditya dan Ana saling berpelukan
"Aku mencintaimu Ana"
"Aku juga Aditya"
"Selamanya kita akan selalu bersama"
"Hingga maut memisahkan kita"
Tak lama kemudian terdengar kembali suara Bian yang lebih keras lagi
"astaga Indah, kau benar-benar burik sekali, lihatlah ini rambut mu saja seperti laki-laki"
menepuk-nepuk meja sambil tertawa geli
Kali ini bukan hanya Aditya saja, Ana juga merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Bian dibawah itu,ia melihat jam
"Sudah jam 12 malam dan Bian masih juga tertawa, coba Papa keluar dan suruh Bian berhenti"
"Kenapa bukan Mama saja sana, kenapa harus Papa" Aditya mulai horor
"Ya, Papa kan ayahnya"
"Tapi kan mama juga Mamanya,"
Mereka saling berpandangan
"Tak seperti biasanya ya Pa, Bian tertawa tengah malam begini, atau jangan-jangan itu bukan Bian lagi yang tertawa Pa?"
"Mama, jangan mengada-ada, coba lihatlah duluan didepan sana,ayo cepat"
"Mama saja Ma, Papa capek besok mau kerja"
Aditya langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimut,
"Pa, ayo bangun sana, lihatlah anaknya dulu Pa"
"Mama saja Ma, Papa disini saja lah"
Aditya benar-benar takut, iya karena kalau Bian memang kesurupan itu tandanya ia dalam bahaya, mana badan Nian kan besar dan bertenaga, bisa-bisanya nanti ia malah terpelanting menahan tangannya Bian, buat menambah masalah baru saja nanti"
Ah biarkanlah Bian berhenti sendiri, kalau memang itu Bian nanti pasti capek sendiri, tapi kalau bukan ya salam....
Ana tak bisa berdiam diri, meski sebenarnya ia takut juga tapi tetap ia tak mau membiarkan putranya diam saja seorang diri dengan keadaan seperti itu
"Baiklah kalau begitu biar Mama saja yang langsung keluar untuk melihat Bian, papa tidurlah sana"
Pintu langsung terbuka
Cekrek....
Aditya langsung kaget karena tak menyangka jika istrinya sungguh berani, saat mendengar suara pintu terbuka, Aditya langsung membuka selimutnya dan segera keluar dari dalam kamarnya juga
Saat Aditya berhasil keluar dari dalam kamarnya, Ana yang rupanya bersembunyi dibelakang pintu kamar dengan cepat langsung menutup pintu kamarnya
Bug...
"Rasakan, aku tau di tak akan membiarkan aku keluar seorang diri, kak Aditya ku"
Ana tertawa geli
Aditya langsung kaget ia berteriak-teriak
"hei, kenapa pintunya tertutup sendiri?"
Ana berteriak dari dalam
"Cepatlah Kak Aditya kau urus anak kita, tanyakan padanya kenapa masih tertawa jam segini"
Ana tertawa geli
"Astaga, ternyata kau mengerjaiku ya Anastasya Debora?"
"Cepatlah jangan banyak cerita lagi"
Mau tidak mau Aditya harus menegur Bian meski ia tak berani turun kebawah secara langsung ia hanya memanggil Biann dari atas saja
"B-Bian kenapa belum tidur Nak?"
Bian yang sedang tertawa langsung kaget
"P-papa, "
melihat keatas
Sadar jika Bian menatap ke arahnya.
Aditya sedikit cemas, memang itu Bian atau tidak atau sudah di tunggangi makhluk lainnya
"Ya ampun dia melotot? kenapa jadi takut begini ya, mana tengah malam lagi"
Padahal Bian kaget dan takut Aditya marah padanya
"Bian cepat tidur, jangan banyak tertawa ini sudah malam, pikiran harus tenang, mama dan papa mau tidur tidak bisa, terganggu dengan suara tawamu, apa lagi calon pengantin tak baik tertawa tengah malam begini, ayo cepat istirahatlah sekarang!, jangan banyak cerita lagi"
Aditya langsung buru-buru masuk kedalam kamar setelah berhasil memarahi Bian,
"Aku sudah menyuruhnya untuk berhenti tertawa"
Aditya langsung masuk kedalam selimutnya , padahal ia takut juga jika itu bukan Bian, wkwkwkw
"Sarangheo "
ucap Ana bahagia dan tertawa geli.
Sementara itu Bian yang awalnya bahagia, langsung mendadak kembali cemas saat mendengarkan suara Papanya tadi yang mengatakan ia akan segera menjadi calon pengantin.
Bian naik kekamarnya dengan lutut yang gemetaran
"Ya Tuhan, mengapa semuanya jadi begini"
Para pembantu yang sedang melihat ia dari tadi kembali kaget saat melihat Bian yang sedang berjalan dengan gemetaran itu.
"Ada apa dengan Tuan Bian, apa Tuan sedang melakukan tarian lutut" Melihat dengan seksama sekali dan penuh tanda tanya, karena Bian biasanya tak pernah seperti itu sebelumnya.
__ADS_1
"Aku harus segera sampai didalam kamar saat ini juga"