Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 299


__ADS_3

Bian semakin bingung apa yang terjadi pada Arika,


"Astaga,Arika kau ini kenapa?,aku hanya berharap kau bisa mengerti jika aku tadi hanya bercanda, kenapa kau ini"


Arika langsung diam, ia baru menyadari apa yang ia lakukan ini terlalu berlebihan, lagi pula ia juga tak memiliki perasaan apapun kan?


"A-aku hanya ingin kau menghargai perasaanku saja, hanya itu, lagi pula aku juga sama denganmu tak memiliki perasaan apapun,jangan khawatirkan itu"


ucapan Arika semakin aneh saja, tapi Bian masih berusaha untuk sabar dan mencoba mengerti karena hakekatnya rumah tangga adalah saling mengerti dan juga tak mudah terpancing emosi, jika salah satu dari pasangan sedang panas sebaiknya kita jadi air untuk mengguyurnya.


Bian sangat dewasa soal itu,maka dari itu ia sangat yakin bisa menjalankan rumah tangga.


"Arika?"


tanya Bian heran saat melihat istrinya yang sedang kebingungan itu, lagi pula ia juga tak terlalu perduli dengan ucapan Arika yang mengatakan ia tak mencintai atau menyukai dirinya.


"Aku lapar" ucap Arika

__ADS_1


Bian langsung memeluk Arika dan mengelus kepalanya


"Tolong jangan membuatku panik dengan marah-marah begitu, aku hanya bercanda tak mungkin ada perempuan secantik kamu selain mamaku dan mama Siska, aku tak seperti itu"


Arika terdiam, sebenarnya ia sangat suka jika dipeluk oleh Bian,tapi tetap saja hatinya masih dongkol membayangkan bagaimana Bian memeluk perempuan itu dibandara


"Katakan saja jika kau tak menyukai candaan ku, tapi jangan pergi tanpa keterangan apapun, aku tak bisa seperti ini"


ucap Bian sambil mengelus kepalanya Arika


"Aku sangat tak suka dengan pembohong, kau tau itu!"tapi anehnya bibir Arika seperti terkunci tak bisa mengatakan sesuatu karena memang rasanya sangat sesak sekali untuk diungkapkan


"Kau tunggu saja disini,aku akan mengambikan makanan,jangan terlalu capek karena kau butuh istirahat,aku tau kau pasti sangat kelelahan karena dua Minggu harus melakukan tugasmu iya kan?" ucap Bian dengan menatap kedua mata Arika, tak menutup kemungkinan jika Bian benar-benar jatuh hati pada perempuan yang berada di hadapannya itu,cara ia berbicara dan memperlakukan Arika dengan lemah lembut membuat ia semakin yakin jika Bian sangat tulus padanya.


tapi karena ia masih dongkol dan juga kesal teringat apa yang dilakukan oleh Bian rasanya sungguh sangat tersiksa sekali


"Rasanya aku ingin mencekik lehernya saat ini" langsung muntah di bajunya Bian

__ADS_1


Uwekkk.....


"Astaga,.." Arika kaget.


"Maafkan aku tak sengaja" ucap Arika


"Tak masalah jangan khawatir, aku juga baik-baik saja" Ucap Bian sambil tersenyum


"Atau kita perlu Kerumah sakit lagi untuk memeriksa keadaan mu?, aku sangat khawatir dengan kondisi mu"


"Tidak perlu, tadi kan Dokter sudah memeriksaku, aku cukup istirahat saja,ini mungkin karena aku yang kelelahan saja"


Arika mencoba meyakinkan Nian karena memang ia merasa baik-baik saja


"Baiklah kalau begitu,kau tunggu di sini dulu ya aku akan mengambil makanan untukmu,jangan kemana-mana" Bian langsung membuka pintu dan betapa kagetnya ia saat membuka pintu kedua orang tuanya hampir saja terjatuh karena berdiri didepan pintu


"Astaga, Mama papa!" Arika langsung ikut melihat keluar dan ia langsung tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan

__ADS_1


"Mama, Papa"


__ADS_2