Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 188


__ADS_3

Alea langsung menghapus air mata Arika


"Arika aku mohon kau jangan berbicara hal buruk tentang papamu lagi ya ,jika tak ada Papamu maka kau tak akan ada didunia ini,lagi pula kita tidak tau kan apa saja yang sudah papamu lewati selama ini , sama halnya aku sekarang aku tau ibuku salah , karena ia yang menjebak papa untuk menikahinya , tapi aku tak pernah menyalahkan ibuku , karena apapun yang terjadi didunia ini semuanya pasti atas izin Tuhan "


"Kau benar segalanya atas izin Tuhan tapi aku ingin juga diperlukan sama seperti anak perempuan pada umumnya , yang dekat sekali dengan papanya "


"Den ayu Arika janganlah bersikap seperti itu ,nanti hilang pesonamu Den Ayu "


canda Alea


"Ya aku tau "


"Apa kau pernah selama ini Mencoba menelpon papamu duluan?"


Arika menggelengkan kepalanya


"Jadi kau tidak pernah sekalipun menelpon papa mu ?"


Arika menggelengkan kepalanya


"Arika itu salah kamu tau , Kenapa bukan kau duluan yang mencoba membuka komunikasi duluan Dengan papamu , cobalah kau yang bertanya bagaimana keadaannya Karena ada juga tipe seorang papa yang aku baca di buku yang berjudul 'macam-macam perilaku orang tua ' nah dibuku itu dikatakan jika ada seorang laki-laki yang sangat menjaga sekali obrolan atau ucapan dengan anaknya , apa lagi anak perempuan , karena menurutnya agak segan menelpon berlama-lama biasanya itu seringkali terdapat pada golongan kaum bangsawan ,papa mu bangsawan Arika ?"


Arika mengangguk "Iya aku berdarah biru katanya tapi waktu aku terjatuh dan berdarah warna darah di kakiku tetap saja berwarna merah"


canda Arika


langsung membuat keduanya tertawa


"Wahahaha mending juga darah aku warnanya pink tapi tetap juga tak ada yang mengatakan aku darah pink"


"Sudah cukup bercandanya tujuan kita yaitu satu kawal mama papa kita sampai halal"


"Setuju , setelah itu aku atau kau duluan yang menyusul untuk dihalalkan "


tanya Alea


"Hah Alea aku bahkan sama sekali belum kepikiran sampai sejauh itu yang aku tau ,sudah hentikan kenapa setiap aku membayangkannya perutku mendadak mual "


"Bukannya mual tapi itu tanda-tanda kau sedang menerima ia merasuki tubuhmu "


Alea tertawa


"Menurutku sama sekali tidak lucu , bisakah kita membahas hal yang lain saja"


"Yah bolehlah seperti Raja misalnya"


"Mas Raja yang kau cinta itu "


Alea langsung bersemngat "Tapi aku tak suka jika kau nikah muda ,kau akan kehilangan banyak masa -masa indahmu , ayooo kalau soal pernikahan aku yakin kalian akan langsung di ACC nah tapi kau harus benar-benar memikirkan pernikahan ini , pernikahan yang akan kau jalani seumur hidup , soalnya modal cinta ,suka saja tidak cukup kau harus benar-benar tau dia laki-laki yang bagaimana ingatlah Alea disitulah butuh tahap pengenalan . soalnya banyak orang yang sebelum menikah Seperti seorang manusia sempurna tak pernah menampakkan kekurangannya , tapi setelah menikah dia akan mengeluarkan satu persatu sifat buruknya "


Alea langsung tersenyum "Nah itu lah gunanya kita punya Tuhan Arika ,aku akan berdoa dan melakukan istiqharah jika Tuhan membuat aku lebih condong kepada dia itu berarti aku akan yes namun jika ditunjukkan sesuatu yang buruk .aku akan menjauh secara perlahan selesai"


Arika tertawa terbahak-bahak "Alea kau yakin sebegitunya bisa melupakan seseorang , karena perkara hati ini tak bisa sembarangan tau ".


Tiba-tiba baru saja mereka tertawa , ponsel Arika berdering


"Ponselmu Arika "


"Tolong ambilkan Lea "


Arika pun langsung menjawabnya "Nomor baru siapa sih"


"Angkat saja mana tau itu penting "


"Baiklah "


Sambil menyetir ia membawa mobil perlahan-lahan


"Iya halo"


"Halo Mbak Arika "


Terdengar suara seorang laki-laki


"Siapa ini ?"


"Mbak ini aku Panji adik laki-lakimu "


Raut muka Arika langsung berubah


ia pun langsung memandangi Alea dan mendloudspeaker handponenya agar Alea ikut mendengarkan suaranya


"Siapa?"


tanya Alea dengan berbisik


"Adikku"


Alea langsung berbisik "Enaklah yang punya adik "


Arika menyuruh Alea untuk diam


"oke "


"Panji apa kabar Tumben nelpon Mbak ada apa?"


"Tidak boleh nya mbak seorang adik menelpon kakaknya "


Arika menahan air matanya agar tak tumpah ia sangat sakit sekali , karena kehadiran Panji lah yang membuat keluargamya hancur berantakan apa lagi kelahiran Panji benar-benar sangat ditunggu dan dinantikan oleh keluarga besarnya


Alea langsung mengelus pundak Arika

__ADS_1


"Ingat tahan dirimu "


"Iya aku tau "


mengangguk perlahan


meski terlihat jika ia benar-benar sangat sakit sekali .


Mereka sudah tak fokus lagi dengan Siska dan Arya yang sederhana bercanda didalam mobil tersebut


"Iya Panji apa kabar bagaimana sekolahmu ? apa semuanya baik-baik saja "


"Sekolah ku baik-baik saja Mbak ,hanya saja Panji ingin tau kabar kakak ,apa kakak tak merindukan Jogja lagi "


Dengan Tersenyum Arika menjawabnya "Jogja yang tak merindukan aku lagi , jadi aku kembali keibu kota untuk memulai kehidupan yang baru disini"


"Siapa Bilang Jogja tak kangen mbak , semua orang sangat merindukan mbak termasuk papa yang setiap malam tidur dikamar mbak "


Alea menutup mulutnya ia merasakan sedih yang mendalam dari papanya Arika


namun rasa sedih yang sudah merasuk didadanya membuat Arika tak segampang itu mudah luluh


"Ya wajar sajalah Panji itu kan rumahnya papa dia bebas bisa tidur Dimana saja "


"Tidak Mbak , Papa memang tak pernah berbicara sekalipun jika ia merindukan anak-anaknya tapi dari matanya saja Panji tau jika papa tak bisa jauh dari Mbak , pulanglah Mbak sesekali lihat keadaan papa , karena biar bagaimanapun yang tau apa isi hati manusia itu cuma Tuhan , kita tak pernah tau apa yang kita lihat itu benar-benar nyata atau sesuatu yang hanya menurut perkiraan kita saja "


Panji memang sangat bijak karena ia dari kecil sudah dididik dengan sangat keras berbeda dengan Arika yang penuh kelembutan tapi Arika tak menyadari itu , meski ia sangat menyayangi Panji dan ibu sambungnya Silvi tapi tetap saja ia manusia biasa ia juga merasakan jika Papanya selalu saja mengobrol dengan Panji selalu menemani Panji saat belajar , sedangkan ia sama sekali tidak mendapatkan perlakuan seperti itu , ya ia tau kasih sayang dari mamanya dan seluruh anggota keluarga besar sangat berlimpah padanya , Seperti seorang putri yang apapun kehendaknya selalu dituruti tapi ia juga ingin sejajar dengan Panji


"Mbak..apa mbak mendengar Panji"


"Iya mbak mbasuhy menyetir mobil , katakan saja ada apa kau menelpon Mbak , jika tidak terlalu penting nanti saja dirumah Mbak telpon lagi ya "


berbicara dengan sangat baik dan lembut sekali


"Tidak ada , Panji rindu saja dengan mbak Siska biasanya kalau lagi suntuk mbak yang menemani Panji kemanapun tapi saat ini didalam rumah besar ini seperti ada yang hilang Panji gak hanya kangen dengan mbak tapi juga Mama Siska "


Alea yang mendengar percakapan Arika dan adik kandungnya yang beda ibu itu pun merasakan bagaimana sakitnya tinggal ditempat itu dan merasakan dibalik kelembutan Arika dan mamanya Pasti menyimpan sakit yang teramat dalam ,meski hidup bergelimang harta tapi tak munafik jika ketenangan hati dan kebahagiaan itu memang tak segampang itu kita dapatkan , namanya juga hidup jika mulus dan lurus-lurus saja itu namanya jalan Tol


"Iya nanti sampai dirumah Mbak telpon ya , soalnya mbak masih diluar ya , takutnya mbak tidak fokus berbicara dengan mu nanti "


"Iya mbak baiklah ,Panji mengerti , assalammualaikum mbak "


"Waalaikum salam "


ponsel pun dimatikan


"Adikmu ya ?"


"Iya Lea,adik yang tidak keluar dari rahim Mama ,tapi aku sangat dekat dan sayang sekali padanya , waktu itu usiaku baru menginjak Lima tahun saat ia lahir kedunia ini , aku sangat bahagia sekali apalagi orang-orang disekelilin kami mengatakan ia adalah adik bayiku , setiap malam aku tidur dikamarnya bersama ibunya yang juga adalah Tante ku "


"Maksudnya Papamu menikah dengan keluarga kalian?"


"Iya Alea , Karena kehidupan orang-orang bangsawan itu berbeda -beda didalam keluarga ku salah satunya , karena puncak keturunan itu harus dipegang oleh anak laki-laki , sebenarnya sama halnya dengan Papa, ia adalah anak dari istri kedua , dikeluarga papa hal itu biasa terjadi sampai nanti ia melahirkan anak lelaki , biasanya mereka pun menikah dengan yang masih ada hubungan darah atau juga yang dipilihkan langsung dari istri nya "


Arika mengangguk "Iya benar "


"Astaga aku tak menyangka jika kehidupan nyata juga ada yang seperti sinetron "


menggelengkan kepalanya


Arika langsung tertawa "Hahahaha namanya juga hidup apa yang kita pikirkan mustahil itu memang benar adanya "


Tapi kan memang diagama kita poligami itu hal yang wajar dari pada berzinah "


"Nah itu memang benar makanya balasan untuk seorang istri yang mampu menahan rasa sabar itu hadiahnya bukan main-main langsung masuk kedalam syurga dari pintu manapun yang ia sukai"


"Gila ya aku tak menyangka Tante Siska bisa melewati semuanya, apa lagi aku membaca langsung catatan harian dibuku ibuku bagaimana bar-bar nya Tante Siska waktu muda dulu "


Arika langsung tertawa "Ya aku juga tak menyangka Siska yang tak bisa dikalahkan begitu saja itu ternyata ,bisa sekuat itu , mamanya juga hidup aku juga terkadang tak percaya jika mamaku bisa sehebat itu ".


"Nah mungkin kalau aku di posisi mamamu jangan kan satu bulan satu hari saja aku hidup seatap dengan madunya aku langsung mundur perlahan apa lagi aku masih muda dan cantik seperti mamamu kan "


Tiba-tiba pikiran Arika melayang pada kejadian beberapa belas tahun yang lalu


"Arika ayo sini Nak kita makan dulu"


Tante Silvi sangat baik padanya bahkan Arika sampai bingung membedakan mana yang ibu kandungnya karena ia benar-benar sangat sayang sekali pada Arika


"Mama kemana Tante?"


"Mamamu lagi sibuk mengurus urusan bisnis bersama papamu "


Arika pun langsung protes "Arika tak suka melihat Papa dan mama mengurus bisnis Memang nya bisnis itu tak bisa dikerjakan dirumah saja "


Silvi langsung tertawa


"Mana bisa semudah itu sayang , lagi pula bisnis itu bukan orang tapi adalah mata pencaharian ,jika papa dan mama tidak mengurusi bisnis tersebut , terus bagaimana Arika, papa,mama bisa membelikan pakaian , minuman mainan untuk Arika "


"Papa kenapa selalu pergi-pergi ya Tante tidak pernah mengajak Arika main lagi"


Pada saat itu Arika tak menyadari jika gonjang-ganjing masalah pernikahan Silvi dan juga Arjuna sudah mulai dekat dan harus terjadi


Siska dan Arjuna sering tidak ada dirumah bukan karena bisnis saja , Arjuna sedang berusaha untuk menghibur hati Siska yang Luka dan patah


Malam itu masih ingat sekali diingatan Arika suara tangisan mamanya tapi ia tak paham apa yang terjadi ia hanya ingat ,waktu itu nenek ia memanggil mamanya Silvi masuk kedalam kamar mereka ia waktu itu baru saja memejamkan matanya dan berpura-pura tertidur


"Masuk kedalam Bi"


Hubungan Siska dan ibunya Silvy memang tak semudah yang dibayangkan meski akhirnya Siska berusaha menerima kenyataan sebagai seorang menantu dari anak yang memegang kekuasaan dirumah itu


Malam itu didalam kamar yang besar tempat Arjuna dan Siska yang biasa tidur ,ibunya Silvi masuk ia langsung duduk disamping Siska

__ADS_1


"Maafkan bibi atas kelancangan ini bibi tau bagaimana perasaan kalian berdua , tekanan yang bertubi-tubi yang berasal dari keluarga kita pasti sedikit banyak membuat rumah tangga kalian mulai goyang , tapi disini Bibi sebagai orang tua dan juga sebagai ibu ingin mengatakan pada kalian , apapun yang terjadi bibi minta kalian jangan berpisah apapun itu ,


Siska Bibi sangat tau bagaimana perasaan mu , Karena bibi juga seorang perempuan , Meski tidak mudah bagimu untuk menerima kenyataan jika nanti anak bibi yang juga sepupu Arjuna menjadi madumu "


Arika kecil tak mengerti yang ia tau Nenek bibi dan kedua orangtuanya sedang membicarakan madu


ia melihat saat neneknya mengatakan madu mamanya langsung menangis tersedu-sedu


Arika kecil sampai berbicara didalam hatinya


"Mama kenapa setiap ngomongin Madu pasti nangis , padahal kan madu itu rasanya enak dan manis aku saja benar-benar sangat menyukai rasanya "


Arika benar-benar tak mengerti jika saat ini rumah tangga kedua orangtuanya berada didalam guncangan yang sangat hebat dan besar ,bukan karena masalah diantara keduanya namun tuntutan yang harus di pilih oleh Arjuna yang mau tidak mau ia harus memikulnya ,anak laki-laki satu-satunya yang harus memiliki keturunan dan penerus yang juga harus seorang laki-laki


Mata Siska merah "Bibi tau perasaanmu jangan sampai kau membenci bibi dan silvi ,Siska bibi juga tak mau menyuruh anak bibi menjadi duri dalam daging rumah tangga kalian , apa lagi Silvi juga putri bibi satu-satunya , yang terpenting adalah jika memang kalian sudah sepakat sebaiknya pernikahan ini harus segera dilaksanakan , Karena usia bibi juga tak lama lagi , bibi ingin menyaksikan pernikahan Silvi "


Arjuna langsung menangis


"Bibi aku tak ingin hidup didunia ini rasanya jika harus membuat Siska menderita ,apa tidak ads cara lain untuk aku memiliki putra tanpa harus menikahinya "


Siska kembali menangis juga tersedu-sedu karena rahim nya yang telah diangkat maka ia sama sekali tak memiliki kesempatan untuk memiliki anak lagi


"Tidak ada jalan lain lagi Arjuna Karena keturunan keluarga kita harus dihasilkan dari perkawinan yang sah , untuk menjaga bebet,bibit dan bobot keturunan keluarga kita "


"Bisakah pesta perkawinan ini nanti dilakukan secara sederhana saja Bi,sama seperti pernikahanku dan Siska dahulu tanpa ada musik dan juga malam saja"


"Bibi tak bisa memastikannya tapi kau harus tau kau itu keturunan bangsawan dan ini adalah kota kelahiranmu kau harus berpikir tak hanya tentang dirimu tapi juga tentang orang-orang dan juga kerabat orang tua mu "


Siska langsung terdiam "Permisi sebentar aku ingin sholat sunah sebentar "


Siska memang banyak sekali berubah apa lagi saat mama Arjuna meninggal dunia , Siska langsung hijrah dari ibu kota mengikuti Arjuna dan menetap disana ,ia sudah tak memikirkan Arya dan yang lainnya ia berpikir tentang Keluarga kecilnya karena posisi Arjuna yang merupakan tombak dikeluarga besar nya , namun sekali lagi Tuhan menguji siska


Siska keluar dari dalam kamar dan sekarang tinggal lah Arjuna dan bibinya saja berdua lengkap juga dengan Arika kecil yang diam-diam mendengar semuanya


"Aku tak akan sanggup Bi menyakiti Siska ,aku lebih baik kehilangan segalanya dan pergi menjauh dari keluarga ini ,aku sangat mencintai Siska Bi"


Arjuna yang bersandar di dinding terduduk dan tak bisa berkata apapun


lagi air matanya terus -menerus mengalir


"Jika aku tau harus lahir didunia ini hanya untuk menyakiti orang yang sangat aku cintai melebihi diriku sendiri ,lebih baik aku mati saja Bi, tak semudah itu bagiku untuk menerima kenyataan ini dan tanggung jawab sebagai anak laki-laki dikeluarga besar ini "


Arika langsung berbisik kecil didalam hatinya


"Papa kenapa menangis? lalu kenapa ia ingin pergi dari rumah ,mama menangis karena makan madu , sedangkan papa menangis ingin pergi , sebenarnya mereka semua kenapa sih?"


Arika sangat heran untunglah mereka tak menyadari jika Arika kecil sudah terbangun dari tadi tapi ia sengaja tak bergerak karena rasa ingin taunya yang tinggi


Tak lama pintu kamarnya terbuka ternyata Silvi masuk kedalam


"Permisi "


"Nak duduklah kemari dan berbicaralah dengan Mas Arjuna mu katakan apa saja yang ingin kau katakan padanya semua ini kita semua lakukan bukan untuk apa-apa tapi semuanya untuk kebaikan bersama "


"Aku tak mencintai Silvi Bi, itu akan sangat menyakitkan baginya jika aku menikah dengan nya aku takut rasa cintaku padanya tak akaj bisa tumbuh sama sekali "


Silvi menangis "Aku tau Mas kau sangat mencintai mbak Siska aku juga tak ingin berada diposisi ini meskipun aku sangat mencintaimu , bukan berarti aku bisa dengan mudah untuk meng-Iyakann ini semua , tak Masalah jika aku hanya sebagai Rahim titipan anakmu "


Arjuna menangis histeris "Aku ingin mati saja ingin mati"


memukuli tembok


"Apa yang kau katakan Arjuna jangan egois kau itu laki-laki jika bukan kau siapa lagi ,kau tak bisa mengingkari Semua nya karena sudah garis hidupmu seperti itu , seharusnya Siska bisa mencontoh almarhum mamamu kau saja anak dari madunya tapi ia bisa ikhlas mencintai mu dengan sepenuh jiwanya ,kau harus memberikan ia kesabaran "


"Mama hentikanlah , tidak begitu caranya memojokkan mbak Siska dan Mas Arjuna , Silvi tau mama memang ingin melihat silvi menikah tapi mas Arjuna dan mbak Siska itu manusia Ma , mereka punya perasaan tak segampang itu untuk memutuskan sesuatu yang akan ditanggung hingga akhir hayat nanti mama pikir semudah membalikkan telapak tangan ha ? apa mama tau bagaimana hancurnya perasaan mbak Siska saat ini ia datang jauh-jauh tanpa satu orang kerabat pun kemari untuk patuh pada suaminya ,tapi karena Tuhan berkehendak lain ia harus menanggung segalanya "


Ternyata diam-diam Siska berdiri di luar dan mendengarkan semua ucapan Siska


"Mama pikir Silvi juga mau seperti ini menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak mencintai Silvi ,mama pikir semudah itukah Ma ? bagaimana seandainya yang berada diposisi mbak Siska adalah aku Ma bagaimana ?"


Silvi menangis tersedu-sedu


"Sudah jangan berisik nanti Arika bangun "


Arika kecil pun berbisik diam-diam didalam hatinya


"Kalian tidak tau aku dari tadi sudah bangun ,tapi aku bingung kenapa kalian semua menangis termasuk papa kenapa ia menangis tersedu-sedu "


Silvi pun duduk disampingnya Arjuna dan memegang tangan Arjuna


"Mas jangan mas pikir aku egois tidak memikirkan perasaan kalian semua aku sangat menyayangimu Mas ,mbak Siska juga Arika tapi jangan sampai mas dan mbak berpikir aku sejak lama berharap menjadi istri mas dan merusak kebahagiaan rumah tangga kalian berdua , tidak mas , tidak seperti itu aku tak sepicik itu , aku cantik pintar dan masih muda aku juga ingin menikah Seperti para gadis pada umumnya yang bisa menikah dengan mengundang banyak orang aku juga tak ingin Mas seperti ini "


Arjuna menangis "Kenapa kita semua harus terjebak diperaturan bodoh ini , kenapa ? aku ingin sekali bisa membuat semua orang bahagia termasuk almarhum mama tapi kenapa harus dengan cara menyakiti Siska yang sangat aku cintai Silvi "


"Percuma Kalian menangis seperti itu harga diri keluarga besar ada di tangan kalian semua , ingat lah poligami halal hukumnya dalam agama kita , yang jadi Masalah adalah kalian semua harus menerima takdir masing-masing ingat Siska akan mendapatkan pahala yang banyak dan kau Silvi akan mendapatkan banyak pahala karena menurut pada orang tua , sekarang tinggal Arjuna yang harus mengikhlaskan semuanya karena yang akan menjadi takdirmu tak akan pernah bisa lari dari dirimu "


Mereka berdua menangis tersedu-sedu Silvi mencintai Arjuna tapi Arjuna tak mencintainya


ia hanya mencintai Siska namun jika ia tak menikah dengan Silvi maka garis keturunan ini akan putus,anak laki-laki harus memiliki keturunan laki-laki juga , sedangkan anak perempuan bebas memilih untuk menikah dengan siapapun juga


"Waktu semakin mepet jangan lama-lama kalian juga tak ada gunanya menangis "


"Mama kalau ngomong itu memang gampang yang jadi pertanyaan bagaimana saat menjalaninya segampang itu jugakah , berhentilah berbicara yang memojokkan kami mama ,mama pikirkan perasaan mbak Siska saat ini Ma pikirkan dia itu juga manusia Ma ,


mama pikirjan baik-baik ,jangan karena aku anak mama, dan mas Arjuna keponakan mama ,mama bisa seenaknya "


"Kalian Terus saja menyalahkan aku ,tapi ini peraturan keluarga dan Arjuna satu-satunya keturunan terakhir Karena yang lainnya tidak memiliki anak laki-laki "


"Berhentilah bertengkar bibi dan silvi aku jadi pusing ,kalian semua diam aku tak bisa lagi berpikir secara jernih "


"Ingat Tuhan sangat membenci perceraian tapi sangat menyukai pernikahan "

__ADS_1


"apa Tuhan juga suka pernikahan yang dipaksa Mama , pernikahan tanpa kerelaan sang laki-laki?"


__ADS_2