Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 140


__ADS_3

"Baiklah kak Dimas sendiri disini sedang apa ?"


Langsung saja sang perawat laki-laki tersebut menjawabnya


"Mas ini dari tadi sudah hampir satu jam mondar-mandir didepan IGD mbak tapi tak tau tujuannya apa ,apa dia sedang joging atau menghabiskan waktu untuk berolahraga saya juga tak mengerti mbak , lihatkan ia terlihat kebingungan menjawab apa yang sedang saya katakan padanya "


Alena hanya tersenyum saja meski otaknya tak sampai berpikir sejauh itu untuk merasakan apa yang dirasakan Dimas karena ia sendiri juga pusing memikirkan dirinya sendiri


Mereka berdua pun mengobrol sambil tertawa bahagia tanpa mereka sadari jika Arya sudah berada didepan rumah sakit "Titik nya menghilang tak jauh dari tempat ini ,apa mungkin ia berada didalam rumah sakit"


Arya langsung melihat kedalam rumah sakit betapa kagetnya ia saat melihat Dimas bersama Alena sedang tertawa cekikikan ditempat itu


"Alena ?? dan itu Dimas ? "


Wajah Arya langsung merah padam melihat Alena yang sedang terlihat berduaan dengan Dimas


ia pun langsung turun dari mobil dan menghampiri mereka


"Ditunggu-tunggu dikampus rupanya malah berada disini ,apa yang sebenarnya kau lakukan Alena ,dan ini kau bersama Dimas "


Beruntungnya perawat laki-laki tersebut masih ada ia langsung menjelaskan kesalahpahaman ini pada Arya


"Mohon maaf sebelumnya Mas saya mau menjelaskan ,Mbak ini baru tiba barusan,ia keluar dari dalam rumah sakit , sedangkan mas ini sebelum Mbak ini datang ia sudah berada didepan sini mondar-mandir dari tadi ,ntah apa yang sedang ia lakukan "


Arya tak mudah percaya begitu saja karena ia mengenal siapa Dimas dan Alena mereka adalah satu partner dalam bekerja sama untuk


berbohong , namun ia tau bagaimana Dimas jika berpikiran yang tidak-tidak mengenai Alena dan Dimas dia tidak akan berpikir sejauh itu karena Alena masih original


namun didalam pikirannya adalah rencana apa lagi yang sedang direncanakan mereka berdua


"Kalian hmm "


"Arya aku akan menjelaskan "


"Aku tidak marah denganmu Dimas , aku hanya ingin menjemput istriku ini yang sekarang sudah pandai sekali berbohong ,aku tak menyangka istri ku ini berani-beraninya membohongi ibu mengatakan akan kekampus dan kau tau aku sudah menunggu berapa lama dikampus dan dia tak muncul sama sekali "


Arya melotot kearah Alena


"Maafkan aku kak aku tak bermaksud membohongimu aku hanya ingin mengecek kandungan ku kak ,kakak boleh bertanya langsung pada dokternya agar tak terjadi salah paham antara kita "


Ia melihat Alena memegang sebotol obat


"itu apa yang kau pegang ?"


Wajah Alena ketakutan perasaan cemas yang mendalam takut jika Arya mengetahui itu adalah obat penghilang rasa sakit dosis tinggi


"Oh ini obat yang. diberikan Dokter untuk memperkuat janinku kak agar ia kelak bisa sekuat Ibunya dalam menghadapi segala hal "


Alena Tersenyum


Wajah Arya yang tadinya marah langsung berubah bahagia karena melihat ternyata Alena sangat peduli sekali dengan kandungannya


"Astaga kenapa kau harus membohongi ibu jika mau kerumah Sakit ,kau bisa menghubungi aku dan satu lagi kenapa ponselmu tak bisa dihubungi aku sudah menghubunginya berkali-kali tapi tetap saja tidak bisa ditelpon "


Alena yang tadinya sedang tertunduk langsung mengangkat kepalanya keatas


"Kak Arya menelpon ku "


Seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar ia langsung membuka ponselnya dan menemukan memang handphonenya mati


"Maafkan aku kak ,jika aku tau kakak akan menelponku maka aku pasti akan mengecas Ponselku saat aku pergi "


Dimas berdehem saja "Hah Sepertinya sudah aman aku lebih baik pulang saja , Karena tidak enak menjadi obat nyamuk ditengah-tengah Keluarga yang sedang bahagia aku akan pulang saja "


Dimas langsung naik keatas motornya lalu sang perawat laki-laki berteriak memanggilnya


"Hei mas jadi sebenarnya apa yang sedang kau lakukan dari tadi jika kau langsung pulang saja tanpa memberikan penjelasan "


Dimas hanya tertawa saja "Sesekali kita haruslah sering-sering main kerumah sakit agar kita yang masih diberikan kesehatan itu bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bisa hidup dengan baik tanpa harus bergantung dengan Dokter "


Brummm ....


Motornya langsung melaju meninggalkan rumah sakit

__ADS_1


tinggallah Arya yang sekarang menggandeng kedua tangannya dengan erat


"Ayo kita pulang ,pasti kau lapar kan ,ibu hamil harus makan yang banyak dan minum vitamin agar anak yang ada didalam rahimmu ini tumbuh berkembang dan sehat"


Melihat semua perhatian Arya padanya membuat Alena semakin tak takut menghadapi bagaimana akhir hidupnya nanti ,yang ia tau jika Arya sangat perhatian padanya saat ia mengetahui kehamilannya ,kini Alena merasa menjadi perempuan paling beruntung diatas dunia ini


"Kak tapi aku minta maaf karena tadi tidak meminta izin padamu jujur aku tak mau menganggu kakak yang sedang bekerja aku tau kau sudah libur beberapa hari pasti tugas Kak Arya sudah bertumpuk sekali "


Arya langsung menjawab "Sesibuk apapun aku jika aku tau kau ingin memeriksa kandungan aku akan membatalkannya ,aku tak ingin melewatkan setiap detik pertumbuhan anakku dari dalam rahimnya kelak saat ia lahir kedunia aku akan menceritakan dengan bangga kepada semuanya bagaimana proses ia tumbuh dan berkembang hingga lahir kedunia "


Arya tampak benar-benar bersemangat sekali bahkan ia sampai tak bisa berkata apapun lagi karena sudah tak sabar ingin menjadi seorang ayah sama seperti Aditya .yang setiap hari selalu menceritakan bagaimana perkembangan Bian sampai-sampai ia sangat bosan sekali untuk mendengarkannya tapi sekarang ia merasakan bagaimana menjadi Aditya ternyata begitu bahagia sekali .rasa cinta anak itu benar-benar sungguh berbeda apa lagi ia tak menyangka jika hanya tinggal beberapa bulan lagi ia akan menjadi seorang ayah .


"Apa kau sudah makan ?"


Alena mengangguk "Sudah kak pagi tadi "


Arya langsung terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Alena


"Apa kau katakan ? kau belum makan ? astaga kau ini kenapa tidak mau makan ha ? ayo cepat katakan karena apa , apa kau tak berselera makan"


Alena tak menyangka reaksi Arya begitu berlebihan sekali sehingga membuat ia menjadi tidak nyaman sekali


"Kak bukan begitu kak a...k.u"


"Jangan banyak alasan kita akan mencari rumah makan yang enak dan lezat agar kau bisa makan apa saja yang membuat dirimu agar tak bosan "


Arya langsung berdiri dan langsung melihat rumah makan di pinggir jalan


"Aku tau seleramu pasti kau suka makanan yang berbau sayur-sayuran kan kita akan kewarung makan Teteh Lia "


Laju mobil kembali cepat dan mereka akhirnya sampai juga kewarung makanan khas Sunda itu


"Lihatlah ini warung yang paling enak sekali kau akan ketagihan untuk makan disini lihat saja nanti "


Alena merasa perlakuan Arya benar-benar berlebihan sekali hingga membuatnya menjadi malu dan salah tingkah ,


Hingga tak terasa sudah tiga bulan berlalu dan Arya masih sama rasa perhatiannya pada Alena tak ada yang berubah justru semakin hari semakin bertambah membuat Alena semakin hari semakin bahagia meski saat ini rambut yang berada dikepalanya hanya tinggal beberapa helai saja


Ucap Arya sambil membawakan balon


setelah pulang dari kantor ia begitu bersemangat sekali terrkadang ia sampai tidur dikamar bayi yang ia desain sendiri, bentuk rasa syukur karena telah diberikan anugerah seorang anak


Alena pun masih rutin mengkonsumsi obat penahan rasa sakit itu , namun setiap hari ia memperhatikan kalender untuk menghitung berapa bulan lagi ia akan bertahan setidaknya jika sudah sampai tujuh bulan usia kehamilan ia merasa lega jikalau tubuhnya sudah tidak mampu lagi bertahan untuk menanggung beban penyakit ditubuhnya .selama beberapa bulan ini ia selalu merasa menjadi manusia paling bahagia karena seluruh perhatian Arya padanya


"Ibu Alena ingin berbicara dengan ibu "


ibu mertuanya yang sedang menjahit segera menghentikan jahitannya


"Iya ada apa Nak katakan saja apa yang kau inginkan Nak ?"


Alena menahan air matanya namun ia juga tak mau jika ibunya merasa sedih


pandangan mata Alena mulai terasa sendu namun tak ada yang memperhatikan bentuk matanya yang mulai meredup itu termasuk Arya ia hanya hanyut dalam eufori kebahagiaan menjadi seorang ayah


"Bu jika seandainya anak ini lahir dan Alena tidak ada dunia ini apa ibu mau merawat anak Alena sepenuh hati "


Alena menarik nafasnya dalam-dalam


ibu mertuanya langsung memegang tangannya


"Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu Nak , Alena jangan berbicara seperti itu tidak baik Nak ,apa lagi kondisi mu sedang hamil tidak baik untuk memikirkan hal-hal yang bisa membuatmu banyak pikiran, kau akan melahirkan cucu ibu dengan sehat dan kita akan menjadi keluarga paling bahagia nanti ,sudah ibu tak mau membicarakan hal seperti itu "


Ibunya berdiri meninggalkannya sendirian diluar


rupanya pembicaraan Alena pada ibunya tak sengaja didengar oleh Arya


ia menghampiri Alena dan duduk disampingnya


"Kenapa kau berbicara seperti itu Alena? apa yang ada didalam pikiran mu sampai kau bisa berbicara seperti itu ,apa kau tidak lupa bagaimana lucunya wajahnya dan ia memanggil mu dengan panggilan ibu..Bu..Bu..Bu...buntal"


Arya meledek nya sehingga membuat Alena tertawa


"Buntal ?"

__ADS_1


"Iya badanmu nanti akan seperti buntalan kentut yang mengembang dan menggelembung seperti balon "


Arya berjalan menirukan seorang yang bertubuh gendut yang sudah sekali untuk berjalan Alena ketawa terpingkal-pingkal melihat tingkah suaminya itu sampai-sampai darah keluar dari hidungnya untung di hadapannya terdapat cermin jadi ia bisa segera bertindak cepat menutup hidungnya sambil berpura-pura tertawa ..


Sudah lama sekali Alena tak mengeluarkan darah dari hidung mungkin benar yang dikatakan Dokter jika janin terus membesar maka akan beresiko sekali dengan penyakitnya


Alena langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Aku tak bisa berhenti tertawa sampai-sampai aku ingin buang air kecil "


Ia pun langsung masuk kedalam kamar mandi dan melihat wajahnya didepan cermin ia langsung melepaskan wignya , tubuhnya terlihat lesu dan pucat ditambah lagi bentuk tubuhnya yang sudah seperti tuyul tanpa rambut


"Alena kau harus kuat untuk bertahan Alena ini tak mudah namun kau pasti bisa melahirkan anak ini , lihatkan bagaimana Arya begitu bahagia aku tak masalah tak mendapatkan cintanya ,cukup ia mencintai anakku seperti ini aku sudah bahagia , bahkan ia sama sekali tak pernah menyentuhku lagi aku juga baik-baik saja , anakku akan sangat beruntung sekali karena memiliki seorang ayah yang sangat setia soal perasaan tak akan mudah ditemui laki-laki seperti ayah mu Nak , cinta itu perasaan yang murni ,ibu harap jika nanti kau lahir ayah mu akan selalu menceritakan hal-hal baik tentang ibu "


Alena kembali memasang rambut palsunya lalu ia segera keluar dari dalam kamar mandi


ia masuk kedalam kamar dan mengambil buku untuk membuat jurnal tentang kehamilannya kelak jika anaknya lahir ia akan tau bagaimana perjalanan ibu dan ayahnya


.


Lama tak mendengar kabar Siska , rupanya perutnya sudah semakin membesar saja ia akan segera melahirkan sekitar satu bulan lagi


karena memang jarak kehamilan Alena dan Siska hanya berbeda beberapa bulan saja


ia tampak begitu bahagia sekali bersama Arjuna , kebetulan juga hari ini Rima memberikan kabar jika suaminya ada pertemuan dengan rekan bisnis di Indonesia jadi ia menyempatkan diri untuk ikut walaupun hanya beberapa hari saja , sebagai seorang sahabat tentu saja ia sangat merindukan Ana Dan Siska


Karena Siska lagi hamil besar mereka memutuskan untuk berkumpul dirumah Siska


"Baiklah aku akan menyiapkan semuanya kalian langsung kerumah saja ya "


Siska langsung menelpon berbagai macam makanan untuk segera dihidangkan untuk menyambut kedatangan Rima dan Ana


sekitar sepuluh menit Ana sudah datang duluan tak lama Rima juga datang ,


Mereka bertiga saling berpelukan apa lagi Rima yang tertawa geli melihat perubahan tubuh Siska yang berubah menjadi besar seperti badut


"Siska kau gendut sekali apa kau hanya makan tidur saja kerjanya ?"


Ana langsung tertawa


"Nyonya besar harus begitu Rim ,harus ikut besar juga jangan mau jadi nyonya kecil nanti badan juga akan menjadi kecil "


mereka semua tertawa


"Nanti sudah lahiran aku bakal langsing lagi seperti semula lihatkan Ana ia sudah kembali menjadi seperti gadis lagi "


Rima langsung berdiri dan melihat banyak sekali makanan kesukaannya berada diatas meja salah satunya adalah ikan asin


"Wah aku sungguh kangen sekali makan ikan asin ini , dimana kau mendapatkannya ?"


"Aku mendapatkannya dari tukang ikan asin dong "


"Astaga Siska aku serius , kau selalu saja bercanda "


"Hahaha bukan, sebenarnya aku mendapatkan ikan asin itu dari tukang gali sumur "


Rima langsung berdiri dan kali ini ia menjewer telinga Siska


"Adik ipar bisakah kau berbicara sopan pada kakak iparmu "


Candaan Rima dan Siska itu langsung membuat Ana tertawa ,"Uhukk uhukkk ada yang masih ingat saja "


Siska dan Rima langsung tertawa


"Adik ipar nggak jadi kales "


Canda Rima . semenjak pulang dari luar negeri Rima terlihat begitu bahagia sekali ia suka bercanda dan bibirnya selalu terukir bahagia


sepertinya ia benar-benar menikmati kehidupan barunya sebagai seorang istri , tapi mereka tak menyadari pada saat mereka sedang bercanda Dimas langsung masuk kedalam rumah Siska lalu Semuanya terdiam sama halnya dengan Siska


"Kak Dimas ? kapan datangnya?"


Wajah Rima langsung berubah juga ia takut jika Dimas sudah sejak lama sampai dan mendengarkan candaan mereka

__ADS_1


__ADS_2