Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 204


__ADS_3

Panji menangis bahagia melihat kedua orang perempuan yang sangat ia cintai akhirnya bisa berdamai dengan keadaan meski ia tau sekarang ia , Arika dan mamanya sama-sama menyimpan sebuah rahasia yang tidak diketahui satu sama lainnya


malam itu keduanya nampak sangat akrab sekali meski dibalut dengan suasana kesedihan yang mendalam atas kepergian neneknya , Panji namun tersenyum melihat neneknya yang terbujur kaku


Nenek pasti sangat bangga sekali karena telah melahirkan Putri sehebat mama, apa lagi nenek juga sangat hebat dalam menyembunyikan segala hal , tak mudah bagi seorang ibu untuk mengambil keputusan hebat ini ,yang mana seharusnya nenek bisa membuat mama menikah dengan laki-laki lain dan hidup bahagia, namun keturunan kita mengharuskan papa untuk memilih kualitas terbaik ,dan pilihan jatuh ke mamaku yang hebat


Sekali lagi Panji memuji neneknya , tapi akhirnya kerinduan Arika dan Silvi saat dulu kala teobati juga , seperti Arika saat masih kecil dulu , sebelum tragedi itu terjadi


"Berjanjilah kau tidak akan pergi lagi dari sini Nak , kita akan merawat papa bersama-sama "


ucap Silvi perlahan mungkin terkesan egois namun Silvi sangat berusaha untuk bisa membujuk Arika


Arika langsung menelan air liurnya perasaan ny sekarang kacau balau tak menentu , disatu sisi ia merasa bersalah dengan Arjuna namun di sisi lain kebahagiaan mamanya juga ia pikirkan kembali


"Ma , sebaiknya nanti saja kita membicarakan hal ini ya Ma"


dihadapan mereka mayat neneknya masiu terbujur kaku


"Baik Nak "


Silvi memeluk tubuh Arika dengan erat , pelukannya terasa begitu hangat sekali


Mama Siska , hari ini aku merasakan sakit yang amat dalam , dua orang perempuan yang sama-sama berkorban untuk kebahagiaan satu dan yang lainnya , mama aku sangat bingung sekali ,hari ini nenek telah pergi , walaupun aku tau sekali mama sangat benci sekali dengan nenek , secara tidak langsung mama menunjukkan rasa tidak suka itu ,Arika sangat paham sekali bagaimana perasaan mama , Ma, mereka semua sangat menyayangi Mama


Mama siska harus tau jika mama Silvi tidak seburuk yang Mama bayangkan Ma


Malam itu dilalui dengan suasana penuh duka dan tangisan air mata ,


Arika menahan sesak di dadanya


,hingga keesokan harinya pemakaman langsung dilakukan


Ibunda Silvi langsung dibawa ketempat pemakaman keluarga ,


"Nenek akan dimakamkan di pemakaman keluarga besar kita "


"Baik Ma "


Panji , Arika dan Silvi beserta kerabat yang lain sudah bersiap untuk pergi


"Hoammmm....."


Raja yang baru terbangun dari tidurnya langsung membuka jendela kamar dan melihat pantai dari atas rumahnya


ia benar-benar tak menyadari kejadian yang menimpa keluarga itu malam tadi karena selain ia sudah tertidur dengan lelap ,kamar Raja juga didesain kedap suara jadi tak akan bisa mendengar apa yang terjadi diluar dan begitu juga sebaliknya ,


Rasa takjub melihat pemandangan indah dari jendela kamarnya membuat ia semakin bahagia


"Ya ampun indah sekali tempat ini , lebih indah dari ibu kota yang terlihat wah tapi sekejam ibu tiri , indahnya tempat ini apa aku bisa berenang diluar sana "


Raja tak menyadari jika diluar masih banyak orang dan suasana didalam rumah itu sedang berduka


Saat ia sedang menikmati suasana pantai tersebut tiba-tiba panggilan alam Suara perutnya langsung memanggil


Kriuk...


Perut Raja berbunyi itu tandanya alam bawah sadarnya sudah membangunkannya


"Perutku sangat lapar sekali "


Raja pun langsung keluar dari dalam kamarnya tanpa memakai pakaian yang lengkap , kebiasaan yang sering ia lakukan saat berada dirumahnya malah ia bawa sampai kedalam rumah milik keluarga Arjuna tersebut


"Syalala..."


sambil bersiul-siul dan bernyanyi kecil


ia mendapatkan orang sangat banyak sekali didalam rumah itu


"Astaga ramai sekali ,ada apa ini dan mereka memakai pakaian apa itu?"


ia langsung masuk kembali kedalam kamarnya apa lagi saat itu ia hanya menggunakan celana pendek saja


Orang-orang diluar banyak yang menggunakan blankon dan pakaian batik khas daerah tersebut


Raja masih berdiri didalam kamar tersebut karena ia merasa tak enak namun karena


perutnya yang sangat lapar ia pun langsung kembali keluar , benar ya rasa lapar mengalahkan segalanya


"Ah tapi perutku sangat lapar sekali ,aku ingin makan "


kriuk...


Kring...


Baru saja ia mau membuka pintu ia mendapatkan telpon dari Rima ,


"Hadeh mama menelpon pasti mengingatkan aku untuk makan , hah baiklah "


Raja langsung mengangkat telpon nya dengan malas-malasan , karena memang Rima selalu memperlakukannya seperti anak kecil saja , terus menerus , namanya juga anak satu-satunya yah. jadi sudah menjadi resiko untuknya di telpon terus-menerus


"Halo mama ku sayang ,apa kabar ? jangan khawatir mamaku sayang aku akan segera makan "


ucap Raja dengan cepat tanpa titik dan koma lagi saat berbicara


"Baiklah anakku jangan sampai telat makan ,jaga adikmu Arika baik-baik ya , kau juga jangan genit-genit disana ya , karena mama akan mengenalkan mu dengan anak gadis cantik di sini yang sudah mama dan papa setujui ,ia sangat cantik dan menarik sekali , ya sayang ya "


"Ya..ya.. baiklah mama atur saja dengan Mama, Raja mau makan dulu"


"Baiklah dagh anak sayang mama"


Raja langsung menutup telponnya


"Hah terkadang mama selalu saja menganggap aku seperti anak kecil "


Gadis yang dimaksudkan oleh Rima tidak lain adalah anak Arya karena Rima tak mau persahabatan mereka semua hanya batas mereka saja


Kriukk...


Lagi-lagi perut raja tak bisa diajak untuk berkompromi


"Hei kawan sabar aku akan membuat perut ku terisi jangan khawatir"


Ia pun langsung melangkahkan kakinya keluar rumah


Raja pun langsung keluar dengan menggunakan celana pendek boxer ,dengan bertelanjang dada , keluar dari dalam kamarnya ia tak mengetahui jika berpenampilan seperti itu didalam lingkungan keluarga yang memiliki tata Krama tinggi sangatlah tidak sopan sama sekali ,apa lagi tubuhnya ditumbuhi banyak bulu , dengan tato yang melekat di bagian tangannya tambah membuat image yang menyeramkan untuk keluarga mereka


Tanpa rasa bersalah Raja langsung berjalan menuju kerumunan orang banyak , mengambil makanan dengan santainya , meskipun orang-orang yang melihat nya nampak sangat heran , karena bisa-bisanya dalam lingkungan mereka ada lelaki yang berpenampilan aneh seperti itu , namun Raja yang tak mengerti hanya berlagak santai dan baik-baik saja ,


Kenapa mereka semua menatapku ya , hmm mungkin karena aku tampan dengan tubuh yang atletis ,


Raja pun tersenyum sambil membusungkan dadanya , ia berjalan dengan sangat percaya diri sekali, sesekali ia menaikkan kedua tangannya dan memamerkan ototnya pada mereka yang sedang memandangnya


Hah bayangkan saja , pasti mereka sekarang sedang terpesona tingkat tinggi kan , karena tak ada yang berpenampilan sekeren aku begini kan


"Astaga siapa dia ?"


"Mana ?"


"Itu lihatlah ,apa dia orang bule ?"


"Sepertinya ia lihat lah dari hidung dan matanya yang mancung dan berwarna coklat "


"Pantas tidak sopan,apa dia tidak tau budaya kita ?"


"Bisa jadi ia tidak tau , tapi kenapa ia ada disini terlebih keluarga kita sedang berduka"


"Mungkin ia mengira sama seperti di pantai ya , hmm "

__ADS_1


"Bisa jadi , lihatlah dari pakaiannya"


Raja langsung mengambil makanan dengan banyak sekali masuk kedalam piringnya


kemudian ia duduk ditepi kursi yang tak jauh dari mereka


"Permisi.. maaf ya aku mau duduk "


Duduk diantara kerumunan orang-orang yang sedang berduka , para kerabat yang tinggal adalah kerabat jauh yang tak mengenal Raja dan tak berani untuk menegurnya takutnya nanti tersinggung


Sedangkan para kerabat yang lain sedang berada di pemakaman nenek Panji


"Mana remote nya "


bertanya pada pelayan yang berdiri didekatnya


Tak satupun pelayan yang berani mengingatkannya atau menegurnya karena


mereka tau Raja kemari dengan Arika yang tidak lain adalah Nona yang memiliki nasab kuat di keluarga ini


"Siarannya tak ada yang bagus "


ucap Raja seorang diri tak ada juga yang berani mengajaknya untuk berbicara


Raja menukar acara televisi yang berada di hadapannya , kemudian ia melihat Chanel televisi lokal dan melihat berita kematian yang disiarkan di televisi , dengan entengnya ia berbicara dengan salah satu orang yang merupakan kerabat mereka


"Wajar saja ya kan ,dia sudah Tua juga ,sudah seharusnya yang tua-tua dimusnahkan dari muka bumi ini memenuhi isi bumi ini saja ya kan ,bumi ini terlalu sesak untuk orang-orang yang sudah tua"


Para pelayan langsung terkejut ,apa lagi kerabat yang mendengar ucapan Raja tersebut , mereka yang lemah lembut sampai memegang dadanya


"Siapa dia kenapa ia berbicara sangat tak sopan sekali ya "


ucapnya


Raja tak menyadari jika situasi yang berada didalam televisi itu adalah dirumah itu.


Saat kamera menyoroti Wajah Arika dipemakaman sendok yang ia pegang terjatuh kelantai


"Hei kau iya kau , tolong ambilkan sendok yang baru itu untuk ku "


Raja tak sadar jika ia menyuruh orang tua yang sangat disegani didalam keluarga Arika ,hanya saja keluarga Arika bertata Krama dan sangat lembut sekali tutur bahasanya tak berani untuk menyanggahnya


"Ini Mas "


Raja tak langsung menyuapkan sendok kedalam mulutnya tanpa mengucapkan terimakasih kepada lelaki tersebut


maklumlah ia terbiasa hidup diluar negeri dengan peraturan yang bebas , ia juga tak pernah diajarkan oleh Dimas dan Rima soal tata Krama , karena mereka tak tau jika akan kembali ke negeri asal apa lagi Dimas dan Rima juga sibuk sekali dengan bisnis mereka diluar sana sedangkan Raja bebas melakukan apa saja yang ia sukai


meski berlimpah kasih sayang tapi mereka lupa untuk mengajarkan budaya mereka apa lagi Raja sering sekali menjalin hubungan dengan gadis-gadis bule dinegara yang mereka singgahi


Di pemakaman


Arika terus memeluk Silvi yang sangat lemas sekali ,ia paham sekali bagaimana perasaan Silvi , selama ini ibundanya lah yang menjadi penyemangat baginya dalam bertahan hidup


"Mama yang kuat ya Ma, karena kita semua pasti akan menyusul nenek nantinya , Ada Arika dan Panji disini "


"Ia Nak ,mama tau hanya saja mama tak menyangka jika nenek secepat ini pergi meninggalkan kita " Silvi mencoba untuk tegar berdiri , padahal ia sudah sangat rapuh sekali


Upacara pemakaman pun selesai mereka semua pun langsung pulang kerumah seperti biasa mereka akan melakukan acara tahlilan yang memang tidak diwajibkan namun sebagai rasa duka mereka dan kebetulan mampu juga untuk memberikan sedekah dan mengundang anak yatim-piatu dan juga orang-orang yang tidak mampu


Sesampainya mereka dirumah , kebetulan juga Raja baru saja selesai makan ,


Arika dan Silvi masuk kedalam rumah ,dan ia langsung memanggil Arika yang baru saja datang dalam keadaan berduka


"Dek kemana saja , Mas menelponmu tapi tidak diangkat ?"


Erghhhhh


Raja langsung bersendawa dengan sangat keras sekali didepan banyak orang bahkan sampai membuat salah satu kerabat mereka pingsan karena tak pernah mendengar sendawa sebesar itu


ia yang awalnya berduka langsung kaget


"Astagaaaaa mas Raja "


Arika yang tadinya sedang sedih langsung mendadak hilang rasa sedihnya seketika ia pun langsung menarik tangannya Raja


"Mas ayo cepat masuk kembali kedalam


kamar ,ayoo cepat "


menarik dengan tenaga supernya


"Ada apa Arika ?"


heran


"Nanti aku jelaskan sekarang mas cepat masuk dulu dan ganti pakaian mas jika keluar dari kamar jangan seperti ini ,mas sama sekali tidak sopan berpenampilan seperti ini Mas ,aduh mas ini , menyusahkan saja "


Arika Mengusap wajahnya


"Memangnya kenapa Mas tidak melakukan kesalahan sedikit pun , Arika tolong jelaskan "


"Mas Raja tau tidak dirumah ini masih berkabung nenekku baru saja meninggal "


"Masa iya Nenek mu yang mana ?"


menjawab dengan enteng


"Yang malam tadi menyambut kita !"


Jawab Arika dengan sangat geram sekali


"Yang gendut ,besar pakai sanggul itu ,yang gayanya Seperti kanjeng mami ya ?"


ucap Raja dengan entengnya karena ia benar-benar syok


"Mas Raja, aduh jaga ucapanmu sebaiknya masuk kedalam kamarmu jika ingin sesuatu tinggal telpon pelayan dan jangan coba-coba mas keluar dari dalam kamar dalam keadaan seperti itu ,lihat saja jika Mas macam-macam aku akan menyuruh mas pulang malam ini juga "


Arika langsung menyuruh Raja masuk kedalam kamar dan memanggil dua Pelayan untuk menunggu nya didepan kamar


"Kalian semua tunggu didepan sini ,kalau ia macam-macam. kalian kunci saja ya "


Raja langsung berteriak karena heran


"Arika hei..."


Bug...


pintu tertutup


"Dimana letak kesalahannya ,aku tidak melakukan apapun yang merugikan orang lain ,lalu dimana letak salahnya aku "


Raja merasa sangat bingung, andai saja Raja hobi membaca dan ia akan melihat bagaimana tata Krama yang ada dikota itu sungguh ia akan sangat malu sekali


"Kalian jangan sampai membiarkan ia lolos dengar !"


"Baik Non"


Arika langsung berlari keluar ,dan semua yang berada di ruangan tersebut langsung menatapnya dengan heran sekali , puluhan pasang mata memandang nya seperti seorang terdakwa atas kasus yang sangat berat sekali


Aduh... kenapa mereka semuanya menatapku aneh begini , hadeh...


ini pasti karena mas Raja ,aku tak mungkin juga menjelekkan mas raja didepan semua orang ,biar bagaimanapun ia adalah kakak sepupuku yang sangat aku hormati , meski ia tak sopan Begitu ia sangat baik sekali , aku sangat menghormatinya , sebagai kakak laki-laki dari keluarga sebelah mama


hanya saja ya itu tadi mas Raja kurang tata Krama


Untunglah Panji mengerti apa yang terjadi dengan Raja barusan ia menghampiri kakaknya

__ADS_1


"Kak Arika jangan khawatir , Panji sudah menjelaskan pada mereka semuanya , untunglah mereka mengira jika Mas Raja adalah orang bule ,jadi kita tak perlu bersusah payah menjelaskan kepada mereka , karena perbedaan budaya kita dan mereka berbeda, mereka menatap kak Arika karena mengira Mas Raja itu adalah kekasih kak Arika "


"Hah ampun sekali , syukurlah Panji kalau begitu, kakak tak habis pikir jika keluarga kita sampai mengira kakak yang tidak-tidak "


"Sudah Kak Arika tenang saja , Panji mau melihat keadaan papa dulu"


"Iya Kak Arika juga mau melihat papa"


Mereka berdua berjalan berdampingan untuk melihat Arjuna , namun lagi-lagi ponsel Arika kembali berdering


kali ini telpon dari Siska langsung


"Mamaa!"


Arika langsung berhenti melangkah ia tiba-tiba mamatung


"Kenapa Kak?"


"Kau duluan saja Dek, kakak mau menerima telpon dulu "


"Siapa kak apa itu mama siska ?"


Panji langsung berjalan mendekati Arika namun Arika menahannya


karena ia tau jika sampai mamanya mendengar suara Panji hatinya kembali terluka, padahal ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Panji dan keluarganya


"Nanti ya Dek biar kakak yang berbicara dulu"


"Tapi Panji merindukan mama Siska kak ,bisa tidak Panji menelponnya sebentar saja"


Arika menahan air matanya


Maafkan aku dek ,bukan aku tak mau menyuruhmu untuk berbicara dengan mamaku ,namun setelah belasan tahun lamanya ia terluka tak semudah itu menyembuhkan lukanya , kau sama sekali tak bersalah tapi tradisi dikeluarga kita yang membuat semuanya harus begini


Mama memang tak pernah mengatakannya secara langsung namun dari sikap mama aku menangkap jika kau adalah bentuk lukanya yang nyata


Tapi sepertinya Panji mengerti karena biar bagaimanapun juga ia adalah sosok pemuda yang cerdas ia lahir dari ayah ibu yang sama-sama cerdas , Silvi seorang dokter yang otaknya memang jenius , begitu juga Arjuna ia sangat peka terhadap sentuhan dan pembawaan seseorang


"Baiklah kak Panji duluan ya "


Arika tau jika panji mengerti


Sesaat setelah bayangan Panji menghilang Arika langsung mengangkat telpon tersebut


"Halo Mama"


ia berbicara dengan berbisik sekali takut jika ada yang mendengarnya


"Sayang... anak mama, kenapa lama sekali mengangkat telpon dari mama Nak, Arika sedang dimana sekarang ?"


Arika tak kuasa untuk menceritakan apa yang terjadi disana , apa lagi dari suara mamanya yang terdengar begitu lembut sekali


Asal mama tau saja jika sekarang disini hanya ada tangisan dan air mata saja mama, nenek juga baru saja meninggal


aku tak tega merusak kebahagiaan mama ,ya Tuhan tolonglah aku !


"Tidak ada Ma ,tadi handphone Arika tertinggal dikamar "


"Baiklah Nak, mama hanya ingin memastikan jika besok Arika pulang , mama sudah menyiapkan pakaian untuk kita bersama-sama couple Begitu , biar bagus nanti saat Poto keluarga "


Brakkk ...


Tangisan Arika tak terbendung lagi ,air matanya menetes ini yang dinamakan bagaikan telur diujung tanduk , ia sama sekali tak bisa berkata apapun lagi , satu sisi ia tak ingin merusak kebahagiaan mamanya namun di sisi lain ia juga tak bisa meninggalkan papanya dalam keadaan seperti ini


Arika menahan Isak tangisnya


"Nak besok acara mama Arika bisa pulang ya, Nak "


Duar ...


Hati Arika hancur berantakan saat ini


namun ia tetap harus menjaga perasaan semuanya


"Baik Mama besok Arika akan pulang ,mama tunggu Arika ya Ma "


ucap Arika perlahan


"Iya Nak ,mama tunggu ya , papa Arya juga sudah tak sabar ingin kita semua untuk berpoto bersama, eh maksudnya mama om Arya papanya Alea"


Arika langsung mematikan ponselnya


"Iya Ma , Papa Arya , Arika tau "


Rupanya dibelakangnya berdiri Silvi ternyata ,ia memang tak mendengar apa yang dibicarakan oleh Arika tapi dari ucapannya Arika yang mengatakan nama 'Arya' Silvi langsung tau


"Nak apa itu tadi mamamu ?"


Arika langsung kaget dan ia langsung menoleh kebelakang "mama "


Arika menjawab terbata-bata ,


"Iya Mama ini mama Siska "


Silvi menundukkan kepalanya dan berbicara dengan air mata yang menetes sangat deras sekali


"Apa mbak Siska sudah menemukan kebahagiaannya kembali ?"


Arika semakin tak mengerti ia tak tau harus menjawab apa pada Silvi


"Mama hanya ingin tau, apa mbak Siska sudah berjumpa kembali dengan lelaki yang sangat mencintainya juga itu , siapa namanya itu 'Arya'


Arika langsung memeluk Silvi


"Maaaaamaaaa, dari mana mama tau nama itu Ma ?"


Tangis Silvi kembali pecah lagi


"Aku sungguh iri pada mbak Siska ,ia bisa dicintai dua orang laki-laki secara bersamaan ,dan mereka benar-benar mencintai dengan hati , padahal aku juga ingin mendapatkan cinta itu dari salah satu pria yang mencintainya ,namun sampai hari ini papamu sama sekali tak pernah menyentuhku , ia menjaga semuanya untuk mamamu Nak"


Silvi keceplosan


Arika langsung memeluk Dengan lebih erat lagi


"Maamaaa jangan berbicara begitu ,mama adalah bidadari yang sangat baik dan sempurna yang sudah diciptakan untuk menjadi istri papa,mama adalah perempuan paling hebat setelah Mama"


Silvi menangis ,"Apa mbak Siska akan menikah dengan laki-laki itu Nak,"


Arika tak bisa berkata apa-apa lagi ia sangat sedih sekali


Aku tak mungkin menceritakan ini pada mama silvi ,tapi bagaimana ia bisa tau cerita tentang om Arya ,apa sebenarnya yang terjadi


Silvi menyadari jika ia keceplosan ngomong hal yang tak sepatutnya diketahui oleh Arika barusan


"Arikaaaa jangan heran jika mama tau tentang Arya , karena papamu sendiri yang menceritakannya , ia tau semua tentang Arya ia juga menceritakan bagaimana Arya menyelamatkan mbak Siska dan papamu saat terjadi gempa dibali dan gedung itu Runtuh ,saat ini mamamu sedang hamil dirimu, ia menyelamatkan Papamu dan mbak Siska , tanpa memikirkan dirinya , ia sangat mencintai mbak Siska ".


Arika langsung kaget mendengarnya, seorang Arya melakukan hal yang membuat ia bisa lahir kedunia ini


Ya Tuhan om Arya begitu mencintai mama, dan jika aku mengatakan apa yang terjadi semuanya pada mama, Semuanya akan hancur begitu saja , ibarat panas setahun habis dengan hujan satu hari , tidak mungkin aku menghancurkan semuanya , Ya Tuhan kenapa harus aku yang mengalami posisi sulit ini ,aku tak sanggup


Arika terdiam membisu


"Namun jika Arya bisa mengorbankan nyawa nya , papamu juga mengorbankan perasaannya untuk menyelamatkan segalanya , meski mama tau cara kami salah , namun .."


Secara tidak langsung Silvi memulai membuka obrolan tentang rahasia tersebut ,namun sekali lagi Arika memilih untuk berpura-pura tidak tahu apapun


"Hentikan Ma, cukup tak ada yang perlu disalahkan,ini bukan waktunya saling menyalahkan satu sama lainnya Ma , cukup ini jalan takdir ,jika Tuhan tak mengizinkan maka tak akan mungkin bisa terjadi !"

__ADS_1


__ADS_2