
"Aku mengaku salah Mbak, maafkan aku, sebenarnya itu yang tau hanya aku, ibuku dan juga mas Arjuna, tapi kenapa bisa berada ditangannya mbak Siska, aku tak bermaksud untuk menyembunyikan ini dari Mbak"
Deg ..
deg ...
Semuanya langsung deg-degan termasuk Arika dan Panji yang saling berpelukan saat ini
"Kak ... "
"Sudah Panji, jangan banyak bicara lihat saja nanti"
Arika nampak benar-benar sangat cemas, jika saja bisa didengarkan bagaimana bunyi suara jantungnya saat ini, pasti akan membuat gaduh orang-orang yang ada disekitarnya.
Siska menangis dan langsung menggeser kakinya
"Jangan kau sentuh apapun dariku Silvi,kau tak boleh melakukan hal bodoh ini, sudah cukup semuanya, sudah! ayo cepat berdiri"
Siska langsung menarik tubuh Silvi, lalu memeluknya
"Mbak, sungguh aku minta maaf,aku tak bermaksud untuk membohongi Mbak"
Silvi tetap menunduk saja
"Aku pikir aku ini perempuan bodoh, tapi ternyata ada lagi yang lebih bodoh dariku, kenapa, kau lakukan itu Silvi ha? kenapa kau korbankan hidupmu hanya untuk hal ini, kenapa? angkat wajahmu lihat aku! apa seperti ini saja keberanianmu?"
Siska menangis tersedu-sedu, ia benar-benar iba melihat Silvi yang ternyata hanya menjadi korban atas nama keluarga besar Suroso saja.
"Mbak, aku t-tak ... "
"Tak apa? tak salah lagi, jika kau memang benar-benar bodoh seperti ini ha?"
Silvi tak berani untuk berkata apa-apa, karena ia memang sudah berjanji dengan semuanya atas setiap yang terjadi dalam kehidupan mereka"
"Sekarang cepat ceritakan semuanya padaku Silvi"
Siska melepaskan Silvi dari cengkraman tangannya, dan menjatuhkan tubuhnya dilantai
"Cepat ceritakan semuanya, bagaimana bisa ini terjadi tanpa sepengetahuan ku, kenapa harus ada proses seperti itu, kenapa?"
Silvi tak kuasa menahannya lagi, mungkin ini sudah saatnya Siska tau
"Karena mas Arjuna sangat mencintai Mbak, bahkan aku adalah seorang ibu yang masih Perawan"
Panji dan Arika langsung berpelukan karena sedih sekali.
"Mas Arjuna,sama sekali tak pernah menyentuhku Mbak, semuanya ... semua yang terjadi selama ini hanya manis dihadapan orang lain saja, aku iri Mbak, sangat iri dengan hidupmu, kau selalu saja digilai banyak lelaki, bahkan mas Arjuna selalu saja menceritakan dirimu saat bersamaku, ia tak pernah bisa aku dapatkan, bahkan untuk menggodanya saja aku tak bisa, ia masih saja selalu menyebut nama Mbak, aku ingin sekali sekali saja ia bisa melihat kearah ku tapi tak semudah itu, Mas Arjuna sampai kapanpun selalu mengingat Mbak Siska saja"
tangisan Silvi benar-benar menyayat hati, sampai Arika dan Panji ikut beruraian air mata
"Silvi, hentikan. cukup!"
Siska menangis dengan mengusap wajahnya
"Kemarilah"
Silvi duduk disampingnya Siska
"Maafkan aku, karena salah menilaimu, yang aku tau satu hal, kau adalah perempuan yang baik, aku salah. ternyata kau sungguh sangat berbeda sekali, kau perempuan yang sangat istimewa sekali, maafkan aku Silvi.
kau mungkin memang tak memiliki cintanya didunia ini, tapi nanti di keabadian yang sesungguhnya, hanya kau saja satu-satunya yang akan menjadi pendampingnya di surga, kau akan menjadi ratu untuk papanya anak-anak"
Silvi memeluk Siska
"Aamiin mbak, aaaminnn, terimakasih aku harap itu lah yang akan menjadi penghibur hatiku nanti"
Siska dan Silvi saling menguatkan hati mereka masing,
"Kenapa kalian harus melakukan itu padaku, Silvi, aku tak menyangka jika kalian memiliki rahasia sebesar itu dibelakangku, ya Tuhan"
Silvi masih menunduk dan ia memandang Panji dan juga Siska diam-diam
lalu berbicara dengan lirih "Maafkan Mama Nak ..."
Panji langsung berlutut dihadapan Silvi dan mencium kakinya
"Sungguh beruntung aku dilahirkan didunia ini memiliki dua ibu kandung Tuhan maha baik tak pernah membiarkan makhluknya sendirian, Panji beruntung, sekali memiliki dua ibu kandung yang luar biasa tak ada rasanya manusia di dunia ini yang seberuntung Panji, bayangkan saja memiliki dua surga yang luar biasa sekali dalam hidup Panji"
sambil menangis tersedu-sedu
__ADS_1
Siska langsung menghampiri dan memeluk Panji
" kau sungguh benar-benar berhati baik anakku, persis seperti perempuan yang telah mengandungmu selama ini, dan juga sebaik hati Papamu, lihatlah kau tak pernah menyalahkan takdir atas setiap yang sudah terjadi padamu, Maafkan Mama selama ini telah memperlakukanmu dengan sangat buruk, karena sesungguhnya Mama adalah manusia biasa yang juga tak sempurna"
Siska menghapus air matanya
"Ma, Panji juga bahagia memiliki mama yang mempunyai hati seluas samudera, seperti Mama Siska, tak mudah bagi seorang wanita untuk bisa menerima kenyataan seperti ini, namun mama bisa bertahan sekuat ini"
Mata Siska berkaca-kaca ia tak mau lagi menggali lebih dalam apa yang terjadi tentang kisah hidup bagaimana Panji, Silvi dan Arjuna. baginya hal ini sudah cukup jadi masa lalu saja, karena hanya akan membuat luka bagi Silvi dan yang lainnya, yang terpenting ia tau jika ia memiliki dua orang anak, yaitu Panji dan juga Siska, lagi pula ia juga sudah menikah dengan Arya, jika ia terlalu menyesali apa yang terjadi sama saja artinya ia menyakiti hati Arya yang telah berstatus menjadi suaminya saat ini, sudah sewajarnya tugasnya adalah untuk menjaga perasaan Arya.
Lagipula Arjuna juga sudah tidak ada, Walaupun ia pernah hidup dan merasakan kebahagiaan bersamanya. Tetap saja Arjuna adalah bagian dari kisah masa lalunya yang tak perlu di ingat-ingat lagi, Ia hanyalah seorang mantan istri Arjuna.
Ya memang ada mantan istri ataupun mantan suami tapi tak ada yang namanya mantan anak.Siska memaafkan segalanya dengan ikhlas atas semua yang terjadi, ia berpikir jika ini sudah menjadi suratan hidupnya, mau diapakan lagi.
Siska terus memeluk Panji, Arika tak lagi menampakan rasa cemburunya pada Panji, ia malahan benar-benar merasa sangat iba dengan adiknya itu
"Maafkan kak Arika ya Panji, dulu sempat tak suka denganmu, tapi dari sini kak Arika semakin sadar jika membenci tanpa alasan sangat tidak baik untuk kehidupan, kak Arika yakin, Panji akan bahagia dan menjadi laki-laki yang lebih hebat dari Papa kita nanti"
ucap Arika dari dalam hatinya, ia juga iba melihat Panji.
"Nak, kau akan tinggal bersama Mama Silvi di sini ya'
mengelus wajahnya Panji , dengan mata yang berkaca-kaca
"Bahagiakan ia, dan kalau bisa jangan ada lagi tangis air mata dikeluarga ini, cukup kisah kita menjadi terakhir kalinya, mama minta kau bisa menjadi lebih bijak Nak, karena tradisi itu bukan lah mutlak harus dijalani. Panji sangat pintar dan cerdas, mama yakin Panji pasti sudah memikirkan semuanya dengan sangat matang sekali semuanya,Mama harap kisah Papa,Mama dan Mama Silvi, akan menjadi yang terakhir kalinya. benar laki-laki adalah pemimpin, tapi anak perempuan ataupun laki-laki sama saja"
Panji mengangguk mengerti. karena tradisi keluarga mereka telah banyak memakan korban, salah satunya dirinyalah yang menjadi takdir atas kisah ini.
Swbenarnya tanpa Siska memintanya,Panji memang sudah tak ingin lagi memakai tradisi konyol itu lagi,ia tak mau membuat luka yang menonjol lagi untuk penerusnya, sungguh anak laki-laki dan perempuan itu sama saja, sama-sama memiliki keistimewaan, pikirnya.
"Syukurlah jika Panji bisa menerima semuanya ini, tapi Mama heran, bagaimana caranya dokumen itu bisa berada di tangan Mama Siska ya Nak?"
Silvi sangat heran
"Yang menyimpan semuanya itu Nenek dan Papa kalian, Mama saja tidak tau dimana tempatnya"
Arika dan Panji saling berpandangan
"Kak ... "
Panji meminta persetujuan dari Arika untuk bercerita
Panji menghela nafas panjang
"Jadi begini Ma, sebenarnya sebelum nenek meninggal, nenek menceritakan semuanya pada kak Arika"
Silvi heran "Bagaimana mungkin?"
"Iya, Ma. waktu Arika pulang itu loh, Nenek mengajak Arika untuk melihat sesuatu hal yang penting, tujuan Nenek itu baik, agar Arika tak membenci Papa, tapi sayangnya waktu nenek bercerita, nenek tidak tau Panji mengikuti kita diam-diam, dan terjadilah semuanya, tapi saat itu Arika dan Panji saling menyimpan rahasia, hingga ..."
Arika mengehentikan ucapannya, ia khawatir jika sampai keceplosan mengatakan Panji kejakarta dan menyamar menjadi seorang perempuan di acara pernikahan Mamanya kemarin.
"Ya dan Mama, menemukan semuanya dikamar Arika"
jawab siska.
"Yah itu tepat sekali"
Arika langsung tertawa kecil, menutupi rasa gugupnya. rupanya Panji pun sama ia langsung menghela nafas panjang
"Hampir saja"
mengelus dadanya
"Apa yang hampir saja Nak?"
tanya Silvi dengan lembut.
"Oh ... tidak Ma, jangan khawatir".
Wajah Silvi nampak sangat aneh sekali, ia seperti takut jika Panji akan lebih memilih Siska dari padanya. apa lagi karena ia tau jika sekarang Siska adalah ibu kandung yang sesungguhnya.
Gerak-gerik silvi yang khawatir dipahami oleh Siska, ia tau kekhawatiran Silvi itu sangatlah wajar sekali.
Begitu juga Siska yang dikenal sangat menyayangi anaknya, tak di pungkiri semenjak ia mengetahui rahasia tersebut Silvi sangat khawatir jika Siska akan memboyong Panji untuk tinggal bersamanya, dan akan meninggalkan ia seorang diri di rumah itu, walaupun banyak keluarganya, namun tetaplah kehadiran anak-anak adalah hal yang paling penting untuk orang tua, terlebih dirinya sendiri.
"Mbak ... apa M-mbak akan membawa Panji ikut bersama Mbak pergi dari sini?"
Siska langsung mengerti
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku tidak akan membawa Panji bersamaku ia akan tetap bersamamu, menjagamu dan mendampingimu sampai kapanpun, karena ia adalah putramu kau yang melahirkannya, kau adalah ibu kandungnya juga"
Siska menitikkan air matanya kembali
ia sangat sedih sekali memikirkan perasaan Silvi yang sangat terluka, lebih dari dirinya ternyata yang dirasakan oleh Silvi.
"Jadi mama tak mau Panji menjadi putra Mama"
ucapan Panji langsung meluluhlantakkan hatinya kembali
"Bukan begitu Nak, Mama sangat bahagia sekali karena mama akhirnya mendapatkan seorang putra, Mama tak akan mungkin menolak anugerah terindah ini"
Sambil memandang kedua bola matanya Panji
"Tapi kenapa Mama tak mau membawa Panji ikut bersama Mama"
Silvi langsung kaget mendengar ucapan Panji, ia berpikir benar jika Panji akan lebih memilih ibu kandungnya dari pada dirinya
matanya langsung berkaca-kaca kembali
"T-tapi kalau Panji yang mau ikut dengan Mama Siska, ya tidak apa-apa Mama tak mungkin bisa melarangnya"
Ia menundukkan wajahnya, ia benar-benar sangat sedih, kehilangan Suami,ibu dan sekarang anak yang juga akan menunggu dirinya,itu lah yang ada dipikirannya saat ini
"Mama, Panji tak akan pernah meninggalkan Mama,jangan khawatirkan itu. Panji adalah pengganti Papa yang akan mengurus semuanya, Panji sangat menyayangi Mama Silvi dan juga mama Siska, yang jadi masalah adalah kenapa Mama Siska tak ada usaha untuk mempertahankan Panji, apa Mama Siska sebenarnya tak sayang dengan Panji"
Sesekali sikap kekanak-kanakan Panji muncul, Karena seseorang anak yang sering bersikap tegar akhirnya protes juga seperti anak seumurannya pada umumnya.
"Panji, jangan berpikiran begitu Nak, tidak ada seorang ibu yang tak menyayangi anaknya, bahkan seorang ibu rela melakukan apa saja untuk anak-anaknya, tapi mama ingin Panji fokuslah pada Mama Silvi, ia telah banyak melakukan segalanya untuk keluarga ini, bayangkan saja sekuat-kuatnya Mama, tak akan mungkin bisa sehebat Mama Silvinya Panji"
"Mama ...!"
memeluk Siska dan menangis seperti anak kecil yang tidak diberikan permen
"Sudah sayang,anak pintar jangan menangis lagi, mama percaya jika Panji akan menjadi laki-laki yang tangguh dan kuat, Panji kehilangan Papa Arjuna, tapi Panji juga memiliki seorang papa lagi, yaitu Papa Arya, dan kak Alea, saudara Panji satu lagi, kita menjelma menjadi keluarga besar Nak ..."
"Iya, Ma"
tak berhenti melepaskan pelukannya dari Siska
"Mama jangan lupa harus menyayangi Panji juga, karena Panji kan anak bungsu Mama"
Arika langsung datang dan menjewer Panji
"Anak bungsu, apaaan sudah tua gitu"
Semuanya langsung tertawa
"Astaga Arika"
menggelengkan kepalanya berkali-kali, sambil tertawa
"Kak Arika jangan cemburu ya, Panji ini anak bungsu Mama"
"Ya ... ya ... lebih tepatnya anak busuk"
Panji tertawa kecil sambil melirik arika
"Kita akan bersama-sama selalu Mbak, Panji akan sering mengunjungi Mbak, dan juga Arika harus mengunjungi Mama disini juga, tak akan ada lagi perasaan yang tidak-tidak antara satu dan yang lainnya, kita adalah keluarga, benar yang dikatakan oleh Mbak Siska, kita adalah keluarga besar mulai saat ini"
mereka semua pun saling berpelukan satu sama lainnya
"Terimakasih telah melahirkan putra tampan ini Silvi, aku sangat berterima kasih padamu".
"Ya Mbak sama-sama, terimakasih juga karena aku telah menyimpan anakmu untuk dititipkan di rahimku, jika tidak aku tak pernah menjadi seorang ibu"
"Silvi"
Memeluk silvi
Silvi menangis tersedu-sedu, begitu juga yang lainnya.
"Sekarang sudah clear semuanya, semoga Papa, Nenek dan keluarga yang lainnya bisa ikut tenang dari alam sana, aamiin".
akhirnya mereka semua berdamai dengan keadaan dan kenyataan yang ada.
karena Arjuna yang telah tiada harus tenang di alam sana tanpa beban yang ada didunia,sudah cukup segalanya biarkanlah menjadi rahasia antara ia dan Tuhannya. Yang terpenting saat ini, Antara Siska, Silvi, Panji dan Arya semuanya sudah baik-baik saja.
.....
__ADS_1
Yoooo yooooo kasih kencang vote nya dong, antara cinta dan takdir kisah Arya,Siska, Arjuna selesai, sekarang lanjutkan lagi ,Bian, Arika, Alea,dan Raja yuhuuuu bagaimana serunya kisah cinta ini.... langsung saja .... lanjutkan....💪