
Arya mengangguk-ngangguk saja "Terserah padamu sajalah Aditya aku ingin pulang sudah sore "
Arya pun langsung berpamitan pulang
ia melupakan jika ia pergi tadi bersama Alea
"Dimas ,Rima ,Ana aku pamit dulu "
"Arya 'Kak Dimas ' "
canda Aditya
"kau bisa saja Ditt"
Arya merapikan ujung rambutnya dengan kedua tangannya
"Baiklah kalau begitu aku pulang duluan ya "
"Ya hati-hati di jalan "
mereka semua melambaikan tangannya pada Arya
Sekitar lima belas menit perjalanan Arya baru menyadari sesuatu "Sepertinya ada yang kurang tapi apa ya ?"
Arya bertanya-tanya ia melihat sekeliling tapi tak menemukan sesuatu yang hilang
Sementara itu Arika yang langsung menelpon Alea karena disuruh oleh Siska tak juga diangkat telponnya
"Tidak diangkat juga Ma ?"
Arika memperlihatkan ponselnya
"Coba telpon sekali lagi mungkin ia tak terdengar "
Sekitar delapan kali ,Arika menelpon tak juga diangkat , Rupanya Alea sengaja mematikan nada dering diponselnya
"Bagaimana sayang apa sudah diangkat "
"Tidak juga mama "
Siska nampak khawatir
"Kalau begitu coba kamu telpon kak Bian tolong ia bangunkan Alea yang sedang tertidur dikamar Karin"
"Menelpon kak Bian? ah sebaiknya mama sajalah "
mood Arika mendadak buruk saat mendengarkan nama Bian disebutkan
"Lah kenapa mama kamu sajalah sayang kan dia sebentar lagi akan menjadi tunanganmu "
Siska sengaja menyuruh Arika menelpon Bian padahal sebenarnya tanpa disuruh pun ia bisa saja menelpon Ana langsung
Hah mama sebel...sebel..sebel
kenapa harus aku sih yang menelpon Dia kenapa bukan mama saja , jika bukan karena mama dan Alea aku sama sekali tidak mau menelponnya ,bisa -bisa ia menjadi besar kepala nanti
"Sudahlah , ayo cepat telpon kak Bian sekarang biar dia yang membangunkan Alea "
"Sekarang ya Ma ?"
"Tahun depan ! ya iyalah sekarang sayang keburu malam ini "
Dengan menepikan mobilnya , Arika menekan nomor Bian yang memang belum ia save
Bian yang sedang mengenakan sarung tinju nya beberapa kali memberikan pukulan berkali-kali
"Gadis itu telah membuat aku sangat marah "
Bug...
kring...
kring...
"Siapa lagi yang menelpon ku "
Bian membuat nama Arika di ponselnya adalah Mak lampir
"Mak lampir memanggil , wah ternyata dia benar-benar jatuh cinta beneran padaku, aww aww aku sangat salut padamu Nona , ternyata kau diam-diam memang ingin menjadi istri ku ya kan "
"Tidak diangkat Ma "
Arika langsung menutup panggilan Bian
Baru saja Bian mau menjawab tapi sudah dimatikan oleh Arika
"Lah langsung dimatiin,,apa dia sedang sengaja mengerjai ku ha ! kelewatan sekali"
Arika menaruh ponselnya didalam tas
"Sudahlah Ma ,tidak apa-apa juga paling nanti kalau Alea ketiduran diantar pulang sama Tante Ana "
Siska terdiam apa yang dikatakan Alea itu memang benar adanya ,tapi maksudnya kan biar antara Bian dan Arika terjalin hubungan yang lebih intens lagi
"Ya terserah kau saja sayang"
"Mama jangan sedih begitu dong, Alea baik-baik saja Ma , hmmm mama Sepertinya sangat mengkhawatirkan alea ,Arika jadi curiga
Mama perduli dengan Arika atau Alea sih sebenarnya"
Arika menggoda mama nya
"Astaga Arika ,apa -apaan ini sayang "
tertawa geli
baru saja Arika mau melajukan mobilnya
ponselnya kembali berdering
"Nah siapa lagi yang menelpon "
Arika sengaja tak mengangkatnya karena ia curiga Bian yang menelpon balik
Argghhhhhhhh paling si kutu kupret itu yang menelpon balik ,sama sekali tidak penting
"Sayang telpon mu berbunyi Nak "
"Biarkan saja Ma paling juga itu tidak penting "
"Jangan begitu kalau ada sesuatu yang penting , itulah gunanya telpon diangkat "
"Ya sudah mama saja yang angkat "
Siska mengambilkan ponsel milik Siska dari dalam tasnya
"Sayang ini telpon dari Alea "
"Hah Alea ya Ma ? cepat ma berikan pada Arika"
langsung merebut ponsel yang berada ditangan Siska
"Halo Arika kenapa kau menelponku, bagaimana apa yang terjadi dibawah apa semuanya baik-baik saja "
__ADS_1
Suara Alea terdengar begitu berat sekali
"Alea apa kau masih tidur ?"
"Iya aku tertidur dikamar Karin , dan ia juga tidur disampingku "
"Ya ampun cepat kau buka matamu dan lihat jam berapa sekarang ,aku dan mama ku sudah pulang ini sudah dijalan!"
Alea langsung kaget dan melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore
ia langsung Berteriak memanggil Papanya
"Ya ampun jam setengah enam , sebentar lagi magrib ,mana papaaaaaaa,papaaaaaa!"
Alea langsung berlari turun dari kamar Karin
membuat Karin tak kalah kagetnya
"Kak Alea , kenapa dia ?"
Alea langsung Berteriak histeris saat turun kebawah ia tak menemukan siapapun juga ,
"Tidak ada orang ,papa mana ?"
Bian yang sedang berada diruang olahraga juga kaget saat mendengar suara teriakan Alea
"Siapa itu yang berteriak-teriak suaranya ribut sekali"
Bian melihat keluar "Tidak ada siapa-siapa apa aku salah dengar ya ?"
Sementara itu Alea langsung menuju parkiran tempat Dimas, Rima , Aditya dan Ana yang sedang mengobrol karena ingin mengantarkan Rima dan Dimas pulang
"Anaknya Arya manis juga ya Ana "
"Wajar saja ia persis sekali seperti Arya , lihatkan hidung dan matanya persis papanya "
"Iya benar sama sekali tak ada wajah Alena di mukanya "
"Rambutnya yang sama"
ucap Dimas
Aditya langsung menggoda Dimas "Ciyeee Dimas paham betul rambut Alena, sedangkan aku hanya paham rambut Ana saja "
Rima langsung Tersenyum "Kak Adit bisa saja ,tapi seiring berjalannya waktu aku tak terlalu mempermasalahkan hal receh itu , mungkin kak Dimas memang sangat paham betul masalah rambut Alena tapi dihatinya Hanya ada satu nama wanita yaitu Rima "
"Ehemm...ehem.. Seperti nya aku butuh air sayang"
"Ya kau benar sayang aku butuh banyak air"
"Tuh air kolam berenang banyak , tinggal nyemplung aja "
goda Dimas pada Adit dan Ana
mereka pun lalu tertawa
"Ternyata semakin tua kita akan semakin sadar jika hal-hal yang tak berguna seperti itu hanya akan menambahkan bubuk racun saja "
Saat yang bersamaan Alea berlari ketengah mereka
"Om , Tante papaku mana "
wajah Alea Seperti anak kecil yang kehilangan mainannya
Mereka semua menoleh kearah sumber suara
"Astaga Alea?"
"Ya ampun Arya , bisa-bisanya ia melupakan putrinya "
Rima langsung menenangkan Alea
"Papa tadi ada pekerjaan mendadak sayang , sebaiknya Alea pulang sama Tante dan om saja ya "
bujuk Rima dengan lembut
Sadar jika Rima dan Dimas adalah orang tua Raja , mendadak amarah Alea mereda
Ya ampun aku akan diantarkan pulang oleh
papa dan mamanya Raja , ya ampun aku sungguh bahagia sekali ,aku bisa lebih dekat lagi dengan calon mertuaku ini ,awal yang baik Alea , meski sebenarnya aku masih Sangat kesal dengan papa
Wajah Alea langsung berubah menjadi sangat bahagia seketika
sedangkan Aditya langsung memarahi Arya
"Aastaga apa yang ada dipikirannya, bisa-bisanya ia melupakan putrinya "
hadehh..."
"Biar aku menelponnya "
Rima langsung melarangnya "Tidak usahlah untuk apa , biarkan saja Alea pulang bersama kita ,lagian kita juga satu arah ya kan Mas "
Dimas mengerti Sepertinya Rima jatuh hati dengan anak perempuan Arya ini
"Ya betul sekali , Alea pulang sama om dan Tante sana ya Nak "
Alea langsung mengangguk perlahan
"Iya Tante ,Om, tapi maaf apa tidak merepotkan Tante dan Om"
Ana langsung memegang pundak Alea "Nak kau jangan sungkan ,kita ini adalah Keluarga bukan hanya Arya saja , tapi kami ini juga Sam seperti papa dan mamamu "
Mata Alea langsung berkaca-kaca mendengarkan ucapan dari mereka semuanya
"Hmm pantas saja papaku tak pernah kesepian semenjak ditinggalkan oleh mama,ia memiliki sahabat yang seperti saudara ,aku rasa jika memiliki hal itu kita tak perlu repot-repot lagi untuk memikirkan hal lain , memiliki sahabat rasa saudara sudah membuat Papa ku menjadi sangat bahagia sekali "
"Ayo Sayang kita segera pulang hari sudah hampir gelap "
"Baiklah ayo Nak Tante antarkan kamu pulang dulu "
"Terimakasih Tante "
Alea langsung mencium tangan mereka semuanya dan berpamitan pulang
"Ayo Ditt ,Ana kami pulang dulu ya "
"Baiklah hati-hati dijalan "
"bisa-bisanya Arya melupakan putrinya"
Aditya menggelengkan kepalanya
"Aku rasa itu karena kak Arya terlalu gugup sayang Sampai-sampai ia tak menyadari jika ia datang tadi bersama putrinya "
"Hah padahal ia masih cukup muda belum tua-tua Bangka amat ,namun saraf di otaknya sudah mulai tua "
"Bukan Begitu sayang tapi masalah hati , mungkin karena kak Arya terlalu bahagia ia tak menyadari jika Alea tak pulang bersamanya,aku rasa sebentar lagi ia akan menyusul kembali "
"Aku berani bertaruh jika tebakan mu itu benar "
"Apa kita menghitung mundur saja ?"
__ADS_1
Aditya dan Ana saling berpandangan dan Tersenyum-senyum geli
"Tak masalah juga belum azan juga kan , sebaiknya kita duduk saja disana "
Aditya langsung Berteriak
"Pak pagarnya jangan ditutup dulu ya .."
"Baik Tuan"
Tak lama sekitar lima belas menit benar saja mobil Arya kembali masuk kedalam perkarangan rumah mereka
"Apa yang aku katakan "
"Wajar saja mana mungkin ia bisa melupakan anaknya "
Arya langsung turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah Aditya
"Alea...Alea..."
"Astaga apa dia tidak melihat kita ?"
"Sudah biarkan saja palingan juga sebentar lagi ia kembali keluar "
dan benar saja Arya kembali keluar namun sepertinya Aditya dan Ana memang hobi menggoda Arya ia tertawa cekikikan melihat Arya yang mondar-mandir seperti orang yang linglung
"Hei kawan kau kenapa ?"
"Dit apa kau melihat putriku ?"
"Putrimu ?"
Aditya menoleh kearah Ana , Ana pun langsung mencubitnya
"Sudah lah hentikan menggodanya kasihan melihat nya"
"Biarkan saja tidak apa-apa ini lah namanya seni didalam berteman "
Ana langsung marah "Sayang jangan begitu untuk urusan anak jangan membuatnya menjadi bercanda , kasian kak Arya "
"Iya baiklah Terserah kau saja "
"Kak Arya ,Alea sudah pulang bersama Dimas dan Rima ,tadi mereka yang sengaja ingin mengantarkannya pulang "
"Ya ampun pasti dia marah besar padaku karena aku meninggalkan dia "
"Sudahlah biarkan saja, jangan ambil pusing lagi , putrimu tadi malah terlihat begitu bahagia sekali saat tau ia akan diantarkan pulang oleh Dimas dan Rima"
"Baiklah kalau begitu aku akan pulang sekarang juga ,jika tidak ia akan semakin marah besar padaku "
Arya langsung kembali naik kedalam mobil dan meninggalkan rumah Aditya
"Kau lihat kan kelakuannya ,ia begitu khawatir sekali kehilangan putrinya "
"Sama saja sayang bagaimana jika kau yang kehilangan Karin "
"Astaga jangan berkata seperti itu aku bisa gila "Ucap Aditya mengusap dadanya
"Makanya jangan pernah bercanda soal anak kalau tak mau kau akan merasakan juga candaan itu "
Aditya pun langsung tertunduk lemas ,seperti biasanya ia akan selalu kalah dengan argumen yang dikeluarkan oleh Ana
"Kau menang sayang "
"Selalu "
Didalam mobil Dimas
Pikiran Alea sudah membayangkan hal-hal yang sangat indah sekali
"Ya ampun aku sedang pulang diantarkan calon mertuaku ini , Arika kau harus tau jika hari ini aku sangat bahagia sekali apa lagi satu mobil dengan Tante dan om mu ,ini mobil raja juga kan ya "
Rima langsung tersenyum saat melihat Alea yang senyum-senyum sendiri dibelakang
"Alea kuliah dimana Nak "
"Sama seperti Raja anak Tante "
Alea spontan berbicara seperti itu ,dan ia langsung menutup mulutnya
"Oh ya , jadi kalian berdua sudah saling mengenal satu sama lainnya ya .."
Rima terlihat sangat senang sekali
Duh. ini sungguh memalukan sekali, bagaimana mungkin aku mengatakan hal ini ,apa yang ada dipikiran Tante Rima dan om Dimas, ya apa aku terlihat begitu agresif sekali ya ..
"Saling mengenal biasa saja Tante karena Alea taunya Raja kakak sepupu nya Arika ,jadi kita sering bertemu "
"Iya Nak , Raja anak Tante itu kelihatan diluar saja agak bandel kalau soal yang lainnya jangan ditanyakan lagi ia sangat baik dan bertanggung jawab sebagai laki-laki ya kan Pa "
sudah menjadi hal yang sangat umum jika seorang ibu akan menceritakan hal-hal yang baik tentang anaknya terutama untuk menggaet hati Alea
iya Tante aku tau ,aku sangat tau bagaimana kerennya anak Tante saat membela Arika dari auman keganasan Bian ,meski diawal pertemuan aku sama sekali tak menyukai anak Tante sebenarnya
"Alea sering main kerumahnya Arika ya ?"
tanya Dimas
"Belum pernah Tante "
"Nah main lah kesana nanti Tante juga akan main kesana kita akan membuat kue yang enak-enak Arika bisa memasak nak ?"
"Sama sekali tak bisa memasak Tante "
"Nah itu kan pass sekali ,Tante Siska itu hebat Banget memasak , masakannya enak-enak "
"Alea tau Tante , Tante Siska selain jago masak juga jago beladiri dan juga mematahkan hati papa Arya "
Jleb...
semuanya hening dan terdiam. lagi-lagi Alea keceplosan lagi
"Ya ampun apa lagi yang aku ucapkan ,waduh gawat aku jadi tak enak hati kan jadinya karena salah ucap ,ya ampun Alea kenapa kau Sulit sekali untuk diajak kompromi , ayolah "
Rima berbicara terbata-bata
"Jadi Alea sudah tau apa yang terjadi antara Tante Siska dan papa Arya ?"
Alea yang terlanjur keceplosan akhirnya jujur juga "Iya Tante bahkan Alea dan Arika berencana menyatukan Papa dan Tante Siska, Karena kasihan melihat papa menghabiskan sisa usianya seorang diri , lihat lah pada acara reunian Seperti ini contohnya , hanya papa saja yang tak membawa pasangan, Alea merasa kangen dengan papa"
"Ya ampun kalian manis sekali,kalau begitu kita semua memiliki misi yang sama yaitu untuk menyatukan Arya dan Siska "
Dimas langsung Tersenyum "anak baik,anak cantik anak pintar , om suka sekali melihat pikiran Alea Karena tak semua anak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya dari cerita orang tuanya"
"Tidak mungkin kita menjadi penghalang kebahagiaan orang lain ya kan om , karena dengan membahagiakan orang lain , secara tidak langsung artinya kita sedang membahagiakan diri kita sendiri "
ucap Alea bijak
membuat Rima kembali terkagum-kagum melihat Alea
"Ya ampun kak Dimas ia begitu sempurna sekali untuk Raja "
bisik Rima ditelinga suaminya
__ADS_1
Dimas menepuk bahu Rima "Kau tenang saja ia akan menjadi menantu kita jangan khawatir "
Alea langsung tersenyum bahagia mendapatkan pujian dari kedua orang tua raja tersebut