Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Telah usai


__ADS_3

Arya terlihat frasa grusuk apa lagi ia sama sekali tak merasa di hargai ,namun bukankah seharusnya Arya menjadi senang karena tak perlu menjadi malu oleh sikap Alena yang selama ini berlebihan baginya ,atau sebenarnya ia tak menyadari jika ia merasa kehilangan dengan sikap Alena yang selalu memperhatikan sedetail apapun itu pada dirinya ,


Jika di ibaratkan dengan pepatah apa yang tidak di perhatikan oleh Alena bahkan bakteri pun tak akan di biarkan hinggap oleh Alena ,tapi sekarang ntah apapun itu ia sama sekali tak memperdulikan Arya


Memang benar jika wanita sudah mencintai ia akan melakukan apapun,namun saat ia sudah sangat lelah dengan segala yang ia lakukan maka akhir nya ia menyerah juga


"Sebaiknya kita pulang saja "


Arya menarik tangan Alena dan mengajak nya untuk segera pulang


"Ayo cepat pulang ibu kasihan sendirian di rumah "


"Ibu ? ya baiklah kalau begitu aku akan segera pulang dengan mu, permisi Pak"


Alena langsung pergi bersama Arya ,namun di dalam perjalanan pulang Arya dan Alena sama sekali tak berbicara karena Alena sibuk dengan ponselnya , bahkan sesekali tertawa kecil


Ntah mengapa cara ia tertawa melihat ponselnya itu membuat aku benar-benar tak suka


"Alena ?!"


Memanggil nama gadis itu dengan sangat keras sekali ,namun Alena justru menjawab nya dengan sangat santai


"Iya ,ada apa ?"


Melihat Alena menantang nya dengan menjawab secara elegan membuat nyali Arya ciut ia tak jadi hendak marah justru malah mengurungkan emosi nya


Perjalanan yang monoton tersebut membuat perjalanan mereka terasa cepat sekali sampai kerumah


"Cepatalah turun aku akan segera kembali,tak enak meninggalkan pesta begitu saja lagian Aditya adalah atasan ku "


"Oke baiklah ,tak masalah "


Alena turun , biasanya ia akan memaksa Arya untuk memeluk dan memberikan kecupan padanya , sungguh benar-benar berbeda sekali bahkan ia kali ini tak terlihat memperdulikan dirinya lagi


Tit..


tit..


Arya menghidupkan klakson berkali-kali berharap agar Alena kembali meminta nya melakukan hal yang sama ,


"Iya Kak ada apa ?"


Alena melihatnya ,tapi tak mendekati nya sama sekali


"Oh tidak ada, aku hanya ingin mengetes suara klakson ini masih bagus atau sudah tidak bersuara lagi "

__ADS_1


"Baiklah tapi jangan terlalu lama kasihan tetangga yang memiliki bayi dan anak kecil ,kita tinggal di lingkungan komplek sebaiknya jangan membuat kegaduhan oke "


Alena langsung masuk kedalam tanpa mencium tangan nya dan melambaikan tangan nya atau sekedar mengucapkan selamat jalan


"Sial...karena laki-laki tua kaya itu ia berubah, ternyata sama saja , mereka para perempuan lebih mencintai uang dari pada cintanya "


Di tempat pesta , .


Dimas yang kesakitan karena pukulan tangan Arya pun akhirnya duduk di samping Aditya


"Aku tak melihat Arya kemana dia ?"


"Paling sebentar lagi juga muncul jangan khawatir aku rasa ia mengantar istri nya pulang"


"Baiklah, lalu kapan kau akan menyusul ku dan Arya tunggu apa lagi Rima juga sudah wisuda kan.."


"Doakan saja secepatnya"


Dimas meneguk segelas anggur


"Jangan minum kebanyakan nanti mabuk "


Arya berlari menuju meja Dimas dan Aditya


"Hai sorry aku tadi habis mengantar Alena pulang, kasian ibu sendirian "


Tak lama terlihat Rima yang sedang berdansa dengan lelaki tampan sekali, lengkap dengan jas hitam sesuai dengan dress yang digunakan oleh Rima malam ini


"Dimas aku harap kau jangan melihat kearah sana "


"Kenapa memangnya? "


"Lebih baik jangan melihat kesana"


Arya melihat Rima berdansa dengan mesra sekali dengan lelaki tersebut


tapi Dimas hanya tersenyum saja


"Oh Rima biarkan saja lah lagi pula aku tau bagaimana dia , mungkin itu hanya kolega mamanya "


Dimas tampak biasa saja , rupanya Rima sengaja memancing reaksi Dimas ,tapi ternyata benar. Dimas memang tak bereaksi sama sekali melihat nya bersama laki-laki lain


Aku rasa cukup sampai disini , lebih baik aku putuskan saja hubungan ini ,dan menikah dengan laki-laki pilihan mama , lihatlah ia hanya bersikap biasa saja saat tunangannya berdansa dengan lelaki lain , tak usah banyak bicara lagi .aku sudah paham percuma menjadi baik dan berusaha sekuat hati untuk kelihatan mencintai nya ia tak ada timbal balik padaku


Dimas meneguk segelas anggur kembali tak lama Rima melepaskan pelukan lelaki tersebut

__ADS_1


"Bisakah kau menunggu ku di sana sebentar aku akan menemui mu sebentar lagi setelah urusan ku selesai "


"Baiklah aku akan menunggu mu "


lelaki tersebut melepaskan tangan Rima


Kepala yang tegak keatas dengan dress yang menunjukkan belahan dadanya yang berisi ,Rima berjalan mendekati Dimas


"Aku ingin bicara ?"


"Bicaralah di sini ada apa ha ..*


Arya yang merasa terjebak dan tidak enak langsung izin untuk pamit "Oke baiklah kalian berbicaralah aku akan mengambil air minum dulu"


Namun Rima menahan pundak Arya


"Tak usah kak ,duduk saja di sini ini juga bukanlah hal yang penting bagi Kak Dimas duduklah kau tak masalah mendengar kannya "


"Oke baiklah " sahut Arya


Rima sengaja akan mengatakan ini tepat di depan Arya , rasa sakit yang di rasakan Arya selama ini harus di rasakan juga oleh Dimas setidaknya ia akan malu dengan apa yang aajn terjadi


"Mm aku rasa hubungan kita sudah tak perlu di lanjutkan lagi kak,lagi pula aku menemukan banyak ketidakcocokan antara kita ,apa lagi pernikahan adalah ibadah paling sakral yang tak bisa di permainkan , aku rasa cukup sampai di sini saja . sebelum terlambat sebaikya pernikahan ini kita batalkan saja , jangan sampai kita menjalani nya atas dasar keterpaksaan "


Tidak ada jawaban atau sanggahan apapun dari Dimas, padahal di dalam hati kecil Rima ia masih sangat berharap jika Dimas membantah dan menolak keras pembatalan pernikahan mereka , namun apa yang terjadi justru Dimas hanya diam saja


Kak Dimas tak ada jawaban dari mu ?


benar yang di katakan mama dari pada aku menyesal di tengah jalan lebih baik aku putuskan di awal saja , sakit pasti tapi ini kebuh baik dari pada harus makan hati setiap hari


"Dimas...kau dengar itu ? astaga apa yang terjadi "


Arya memang begitu tak perduli bagaimana Dimas memperlakukan nya ia sama sekali tak menyimpan dendam sama sekali ,ia hanya menganggap nya itu adalah jalan Tuhan


"Dimas...."


Dimas hanya tertawa dengan menambahkan satu gelas minuman lagi


"Oke tak masalah jika itu yang kau inginkan aku terima ,aman "


Mengacungkan jempolnya kepada Rima


Ana yang mendengar langsung kaget ia langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi Siska


"Oke baiklah kalau begitu aku permisi "

__ADS_1


Rasa sakit yang teramat dalam harus ia bawa saat berjalan dengan anggun melewati para undangan lainnya ,namun ini lebih baik dari pada ia harus membalas dendam dan menyakiti banyak hati


__ADS_2