Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Cie cie..


__ADS_3

"Woyy Dim, kau ini seperti baru mengenal Aditya saja apa kau tau jika Aditya itu tak akan mungkin mengambil keuntungan sepeserpun padaku , Aditya itu hanya bercanda ,ah kau ini "


Dimas langsung mengangguk saja , tatapan matanya nampak sangat sedih sekali apa lagi ia tau jika Arya sama sekali tak mengharapkan bantuan darinya


"Baiklah kalau begitu aku jadi harus bagaimana agar bisa membantumu "


Lagi-lagi Aditya dan Arya tertawa


"Kau mau tau Dim "


Tanya Arya


"Jika bisa kau pergi sejauh mungkin itu lebih baik karena bisa mengurangi polusi udara dan beban dunia saja "


Ucap Arya sambil tertawa


Sesampainya di rumah Arya , nampak rumah tersebut sudah ramai ada beberapa Dokter dan perawat dan juga ada beberapa orang yang ditugaskan Aditya untuk merombak beberapa ruangan agar Arya bisa nyaman berada didalamnya


Dimas turun dan langsung mendorong Arya untuk masuk kedalam rumah


"Dimas nanti dulu jangan didorong ruangan kamarnya sedang di perbesar ".ucap Aditya


"Ah meleset, kelamaan diluar kalau begini ,Dit aku mau masuk , berhentilah membuatku semakin menderita Dit ,aku bisa gila !"

__ADS_1


ucap Arya , Alena tak berani berkata apapun namun sepertinya ia kembali mual lagi


"Uwekkkssss... uwekkkssss "


Mendengar Alena yang mual ,Arya langsung menoleh kearahnya


"Hei Dokter ,suster tolonglah secepatnya Dokter memeriksa kondisi istri saya karena dia sedang hamil "


Spontan ucapan Arya membuat mata Alena kembali berkaca-kaca meski ia hidup hanyalah dengan satu ginjal saja tapi Tuhan begitu percaya padanya menitipkan darah daging Arya di rahimnya , untuk pertama kalinya ia mendengar Arya mengucapkan ia sebagai istrinya ia langsung tersenyum dan memeluk ibu mertuanya


"Ibu "


Seakan tak percaya , ibu Arya pun langsung menepuk pundaknya dan memeluknya


Alena mengangguk bahagia ,namun sepertinya Aditya tak sampai disitu saja mengerjai Arya ia langsung berdehem begitu kencang


"Ehem...Dimas apa kau punya permen sepertinya tenggorokan ku gatal, "


Sambil melirik kearah Arya


Dimas langsung tersenyum sedangkan Arya Mallah menunjukan wajah kesalnya ia pun langsung menaikkan bibirnya keatas


"Dit kalau batuk periksa kedokter,

__ADS_1


Dok tolong periksa tenggorokan Tuan Aditya ini mana tau ia barusan menelan batu bata atau ulat bulu karena tenggorokannya gatal -gatal "


Dokter dan yang lainnya yang berada disanapun langsung tertawa mendengar ocehan Arya ,


"Oke baiklah sepertinya semua urusan sudah bisa dihandle secara eksklusif , Dengan semua tenaga ahli ,aku harus pulang dulu karena istri dan anakku tercinta sedang menunggu dirumah "


Menaikkan kedua alisnya secara halus sedang menyindir Arya lagi


"Maaf ya Dimas aku harus pulang jika kau ingin juga seperti ku dan Arya sebaiknya kau segera menikah dan mencari pengganti Rima secepatnya "


ucap Arya sambil tertawa tak lama ia pun pergi meninggalkan rumah Arya sambil melambaikan tangannya


"Dagh selamat bersenang-senang Papa Arya yang tampan"


Sambil berbaring Arya melotot kearah Aditya


"Bisa-bisanya ia menertawakan aku ,awas kau Aditya aku akan membalasmu nanti "


Dimas masih berdiri dengan sangat setia disamping Arya


"Apa kau Dimas ,apa kau juga mau pulang atau tertawa lebar , silahkan saja jika itu membuat mu senang ?!"


"Aku akan senang jika kau senang Arya Karena aku adalah teman baik mu "

__ADS_1


Arya menjulurkan lidahnya "Preetttttttttttt"


__ADS_2