
Siska Melihat jam sudah pukul delapan ,ia pun langsung mengganti pakaiannya ,meski ia sedang sangat rapuh tapi ia optimis apapun yang akan terjadi hari ini pasti ada hikmah di balik Semua nya
"Baiklah Siska ini bukan apa-apa ,aku harus mampu menghadapi segala nya , tidak ada yang mampu menguatkan diri sendiri kecuali kita sendiri"
Langsung berdiri dan berganti pakaian nya
Saat ia keluar rumah ia melihat ibu Arya sedang tertawa riang di teras bersama Alena dengan mesra sekali
Siska nampak cuek namun ia lebih memilih untuk berpura-pura tak melihat ia pun langsung masuk kedalam mobil untuk segera pergi kekampus
Seperti biasa Arya dan Siska selalu berpapasan Seperti nya Tuhan sedang Benar-benar menguji iman mereka berdua , antara cinta dan takdir ya itu lah yang terjadi saat ini , Siska dan Arya Saling mencintai tapi takdir berkata saat ini mereka tak bisa bersama, tapi bukankah takdir seseorang itu adalah Sebelum kematian menjemput ?
hmm terkadang ntahlah , dunia ini terlalu menyakitkan untuk mereka berdua , begitulah perasaan yang terjadi antara mereka berdua saat ini ,
Alena memang cerdas mata kuliah nya sudah habis ,hanya tinggal mengurus seminar untuk judul skripsi saja ,di tambah lagi ia adalah satu-satunya perwakilan dari kampus di daerah nya sebagai mahasiswi berprestasi ,
Jadi ia tak perlu sering-sering pergi kekampus lagi ,
Siska datang lebih awal dari dosenku , semua mata memandang kearah nya seakan tak percaya ia bisa datang sepagi ini
"Nah tumben "
"Mimpi apa loe ..."
"Duile rambut nya basah "
Goda teman-teman nya ,Siska yang cuek ,terus saja berjalan tanpa memperdulikan mereka semua nya
"Ah masih sepi ,kemana mereka semuanya "
Duduk di dalam kelas , seorang diri ,Siska memang tak bisa cocok dengan sembarangan orang ,hanya orang-orang yang kuat iman saja yang bisa berteman dengan nya , selain keras kepala ia suka terkesan mau menang sendiri
kebetulan dosen yang mengajar mata kuliah hari ini tak sengaja melewati kelas Siska
ia pertama lewat ,tapi kemudian langsung kembali mundur kebelakang , sambil mengucek kedua matanya
"Hah apa itu benar ?"
Siska yang heran melihat tingkah dosennya pun , mencoba tersenyum lalu menegur nya
"Selamat pagi pak..."
"Astaga benar , hampir jantung saya copot, itu kamu Siska ? benar itu kamu ?"
Melepaskan kacamata nya , untuk memastikan
"Halah bapak kau membuat emosi kesal saja "
Siska pun berdiri
"Nah bapak lihat kan,kaki ku menginjak bumi "
__ADS_1
Profesor itu pun langsung memasang kembali kacamata nya
"Wah sebuah keajaiban kau bisa datang lebih awal Siska ,tapi itu lebih bagus ,kau pertahanan saja prestasi mu ini "
Wajah Siska langsung bertekuk
"Yah kau hebat Siska ini adalah sebuah prestasi" Siska mengejek dirinya sendiri
Selesai kuliah ia langsung keluar ,lalu mencoba menghubungi Rima karena ia ingin tau jalan cerita yang sebenarnya .
"Ah ponselnya tidak aktif ,Kemana lagi anak ini "
Mencoba berkali-kali tapi tak juga berhasil
akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan pesan
"Kau di mana aku tak menemukan mu , apa kau baik-baik saja, jika kau perlu sesuatu ,aku ada di rumah tak kemana pun "
Siska langsung pulang kerumah , padahal jika ia ada uang ia ingin sekali untuk nongkrong di kafe
"Hah sayang sekali , aku akan melewati beberapa film layar lebar kesukaan ku , hmm tapi mau bagaimana lagi aku baru mengatur hidup ku "
Menarik nafas dalam-dalam ,
Sebenarnya Siska sendiri lah yang mempersulit hidup nya ,bukankah kemarin Arjuna sudah memberikan beberapa kartu untuk ia gunakan
tapi sayangnya ego nya lebih besar ,ia tak segampang itu di beli dengan uang ,
dalam perjalanan ia berpikir untuk kembali ke bukit pesona , untuk berteriak sekencang-kencangnya
Ia pun langsung membelokkan kemudi kearah rumahnya , sambil berharap dalam hati jika rumah Arya tiba-tiba menghilang dari samping rumahnya
"Andai saja semudah itu "
Siska turun dari mobil ,ia sudah bisa bernafas lega ,karena tak menemukan Alena lagi, padahal jika saja ia tau kalau Alena sebenarnya lagi belajar membuat kue dengan ibu Arya di dalam , sungguh hatinya akan semakin tercabik-cabik
masuk kedalam rumah dan langsung mencari makanan di dapur , untung lah ia sudah masak tadi jadi tak perlu repot-repot ,lagi mencari makanan
selesai makan Siska menghidupkan televisi menukar-nukar Chanel televisi
Tok..
tok..
Terdengar pintu di ketuk beberapa kali
"Hah sudah pulang dia , cepat sekali "
"Iyaa... bentar "
Membuka pintu ,"Mami !"
__ADS_1
"Siska "
Maminya datang berdua dengan Dimas ,ia langsung menangis tersedu-sedu
Tapi Siska seolah tak tau apa-apa tentang semua nya
"Mami kenapa ,ayo duduk dulu "
Siska langsung mengambil kan air minum untuk maminya
"Kak Dimas mami kenapa "
Maminya tak berhenti menangis ,lalu wajah Dimas nampak pucat dan sedih sekali
mereka tak ada yang berani berbicara sepatah kata pun ,tentu saja membuat Siska semakin bingung
"Mami, Kak Dimas , sebenarnya ada apa ? kenapa kalian seperti itu wajah nya "
Dimas tak berani berbicara ,namun Siska terus memaksa "Cepat katakan kak Dimas ada apa ?"
"Baiklah aku dan Rima batal menikah "
Dimas menundukkan wajahnya
"Batal ! apa maksudnya kak ,apa kau sudah gila ? "Siska berdiri dan panik sekali
Maminya langsung berucap
"Ya itu lebih baik Nak, karena jika di teruskan pernikahan itu mami khawatir Dimas tak akan bisa menafkahi nya "
Siska semakin panik saja ia benar-benar ingin pingsan tapi karena fisiknya yang terlalu kuat ia sama sekali tak bisa jatuh ,
Dimas berdiri karena tak kuasa melihat wajah adiknya itu "Siska ..."
"Tak usah sok baik kak Dimas aku sudah biasa mendengar hal-hal yang membuat jantung ku mau copot, kau jangan khawatir "
Dimas Kembali duduk
"Jadi begini nak..."
Siska langsung memotong pembicaraan maminya
"Sudah mami , sekarang langsung saja cepat mami katakan ada apa sebenarnya ,jangan membuat Siska menduga-duga "
Maminya berbicara dengan terisak-isak
"maaf kan mami nak yang tak sempurna menjadi orang tua tunggal untuk kalian, maafkan mami jika mami tak bisa menjaga harta benda kita, semua harta kita ,rumah dan aset nya sudah tergadai "
"Maksudnya mami ,tergadai bagaimana ? dengan bank kah ?"
Siska nampak emosi
__ADS_1
"Bukan nak tapi mami meminjam uang dengan teman mami untuk usaha, dan usaha itu ternyata bodong ,mami kehilangan segalanya ,dan semua nya di sita oleh teman mami , sekarang kita miskin dan kakakmu terancan Batal menikah "
Tangis maminya kembali pecah