
Alena Tersenyum "Terimakasih Dokter atas saran anda saya sangat berterimakasih namun dalam hidup ini setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing salah satunya adalah setiap pilihan , saya sudah memikirkan semuanya Dokter , menikah dengan jalur seperti ini adalah pilihan saya begitu juga resikonya saya tak mungkin bercerita tentang hidup saya pada anda kan Dokter , karena tak semua kisah harus kita publikasikan "
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan anda Nyonya Alena ,saya ingin memberi tau anda jika keadaan anda semakin menurun seiring dengan semakin tumbuhnya janin anda didalam rahim anda "
"Saya sudah siap dengan segala kesakitan yang akan saya rasakan Dokter menjadi seorang ibu adalah keinginan saya ,dengan segala yang akan terjadi saya hanya ingin anak ini selamat dan bisa hidup bersama dengan ayah dan neneknya , anak ini sangat dinantikan oleh ayahnya"
Dokter terdiam ia tak berani untuk bertanya keranah pribadi Alena tapi secara psikologis Dokter tau jika ada yang tak beres dengan pernikahan Alena
"Tolong berikan saya obat pereda rasa sakit yang tidak menganggu janin saya Dokter "
Dokter menarik nafas dalam-dalam
"Sebentar Nyonya saya akan menghubungi dokter spesialis paru dulu untuk berkonsultasi obat apa yang bisa diberikan untuk anda "
"Baik Dokter"
Alena pun menunggu saat Dokter kandungan tersebut menelepon Dokter paru
Sekitar lima menit akhirnya Dokterpun kembali
dengan wajah yang nampak sedih
"Bagaimana Dokter ?"
Suara Dokter pun terdengar begitu lirih sekali ia terdengar begitu berhati-hati sekali untuk menyampaikan ini pada Alena
"Jadi begini Nyonya Alena , dokter mengizinkan saya untuk memberikan obat pereda sakit dosis tinggi namun saya ingin memberitahu kan anda jika obat ini juga memiliki resiko "
"Resiko ? resiko apa Dokter "
Wajah Dokter tersebut berubah menjadi merah ia seakan tak tega untuk membicarakan itu pada Alena, tapi Alena terus memaksa
"Tolong Dokter katakan saja apa yang sebenarnya terjadi ? saya sudah siap dengan segala resiko yang ada "
Dokter terdiam beberapa menit ,lalu ia kembali berbicara dengan perlahan
"Maafkan saya Nyonya obat ini bisa berakibat merusak organ tubuh anda yang lainnya ,jika anda tidak kuat meski obat ini aman untuk janin dan malah membuatnya semakin kuat , saya takut justru anda menjadi tidak kuat dengan obat ini "
"Tidak masalah Dokter semoga saja saya bisa kuat untuk menahan tubuh saya sampai anak ini lahir kedunia "
"Baiklah anda minum ini satu kali sebelum tidur ,tapi selama hamil anda sama sekali tidak boleh minum susu hamil karena akan berpengaruh pada kanker anda ia akan semakin parah , hindari makanan yang manis-manis dan mengandung pengawet "
Alena terdiam ia teringat berapa banyak kotak susu yang sudah dibeli oleh Arya untuk ia minum
__ADS_1
bagaimana cara menolaknya atau ia harus berpura-pura meminumnya agar Arya tak curiga ,ini semua demi anak yang ada didalam kandunganya
"Dokter terimakasih banyak "
Alena berdiri sambil memegang tangan Dokter mengucapkan banyak terimakasih , Dokter terlihat begitu iba sekali pada Alena ia langsung membalas uluran tangan Alena
"Anda benar-benar sangat mencintai suami anda Nyonya pasti dia adalah laki-laki yang beruntung sekali karena telah memiliki anda sebagai istrinya "
Alena Tersenyum
Tidak Dokter kau salah ,aku lah yang beruntung Bisa menjadi istrinya , setelah semua yang aku lakukan padanya ia masih bisa memperlakukau dengan baik, mungkin jika laki-laki lain yang aku perlakuan seperti suamiku maka ntahlah...aku tak tau apa aku masih bisa bernafas sampai hari ini ?!
"Saya permisi dulu Dokter "
"Semoga anda Kuat ya Nyonya Alena "
Alena langsung keluar rupanya Arya menunggu di kampus karena ibunya mengatakan tadi jika Alena akan kekampus
ia menunggu beberapa jam tapi Alena tak kunjung tiba juga akhirnya Arya kembali menelpon ibunya karena ponsel Alena tidak aktif
"Halo.ibu apa Alena sudah pulang ?"
"Belum nak, mungkin urusannya belum selesai Nak , memangnya ada apa Nak ?"
"Baiklah Bu kalau begitu "
Arya langsung menutup telponnya
"Kemana dia jam segini belum pulang dan ia sama sekali tak mengaktifkan handphonenya , bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya di jalan dia itu masih Hamil muda , aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya , bisa-bisanya ia malah pergi meninggalkan rumah dengan membohongi ibu ,aku harus mencarinya"
Arya melihat status terakhir nomor Alena aktif lalu segera menuju tempat itu
"Baiklah aku akan menyusulnya kesana !".
...
Alena keluar dari rumah sakit dan menemukan Dimas yang sedang mengobrol dengan petugas rumah sakit didepan ruangan IGD
"Bukankah itu kak Dimas ? sedang apa dia disini ?!"
Alena langsung berjalan menghampirinya
"Kak Dimas apa yang sedang kakak lakukan disini ?"
__ADS_1
Dimas langsung kaget sekali ia tak menyangka jika ia akan bertemu dengan Alena disina
"Alena apa yang sedang kau lakukan disini "
sama halnya dengan Dimas ia pun gugup untung saja Dimas melihat kearah perutnya
"Wah pastinya kau sedang memeriksa calon keponakan ku ya ? hmm bagaimana hasilnya apa dia seorang perempuan cantik atau dia seorang laki-laki yang tampan "
Mendengar pertanyaan dari Dimas itu membuat Alena langsung tertawa geli
"Astaga kak Dimas kandunganku baru berumur satu bulan belum bisa tau apa jenis kelaminnya kak ,kak Dimas ini ada-ada saja "
Dimas langsung menepuk dahinya mungkin Karena ia juga panik karena betemu dengan Alena disana ia khawatir jika sampai orang-orang tau perihal penyakitnya itu apa lagi jika sampai terdengar ditelinga Arya ia tak mau Semua orang akan bersikap berlebihan padanya
"Aduh iya aku lupa maklumlah aku terlalu bersemangat menunggu kelahirannya anak fenomenal ini nantinya akan membuat ayah dan ibunya menjadi sangat bangga sekali "
Dimas Tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya
Namun ia baru sadar jika Alena sudah memiliki tampilan berbeda ia sudah menggunakan hijab
dan terlihat begitu anggun sekali dengan penampilannya yang baru ini
"Kau sendirian saja kemari Alena ?"
ia mencari Arya disekelilingnya
"Benar kak,aku bisa sendiri jika aku meminta kak Arya menemaniku pada malam hari itu sama saja bohong soalnya aku tak tega melihat ia kelelahan seharian bekerja dan menemaniku untuk kedokter ".
Dimas mendapatkan wajah Alena yang tak seperti biasanya
"Baguslah kalau begitu ,tapi apa kau baik-baik saja Alena ,aku merasa wajahmu sedikit berbeda "
"Hmm iya kak maklumlah aku kelelahan karena
mungkin ini juga pengaruh kehamilanku ,aku juga merasa tak bisa lagi selincah dulu karena faktor kelelahan"
Alena menggenggam tangannya dengan erat karena ia cemas jika Dimas melihat banyak hal.yang aneh pada dirinya
....
Mau crazy up.lagi ah....
bagi vote nya dong Reader
__ADS_1