
Mami dan Dimas tertawa dengan sangat bahagia
"Tak ada usaha yang sia-sia Mi "
"Benar sayang"
Tidak ada usaha yang sia-sia ?
mereka tak tau jika aku yang akan membuat usaha kalian menjadi sia-sia lihat saja nanti
Rima tersenyum sinis
Berkedok untuk kebaikan tapi kalian mengorbankan banyak hati , apa itu yang di namakan baik , itu sebuah pemaksaan .
Jalanan yang macet membuat mobil bergerak lambat menuju rumah sakit
Berada di samping Dimas Memang sungguh menenangkan ,namun Rima berpikir dengan otak nya , percuma saja berada di samping orang yang sama sekali tak memiliki perasaan yang sama dengan nya apa bedanya ia dan Siska ,
Aku tak mau seperti Siska .
Rima mematikan rekaman nya ,dan menyimpan nya ,ia akan mengirimkan rekaman tersebut kepada Siska , tapi nanti ia akan membuat semuanya bahagia dengan seharusnya ,Sama hal nya Ana dan Aditya yang saling mencintai maka Arya dan Siska juga harus bersatu meski
Siska tengah mengandung anak Arjuna
Rima berpikir kasihan pada Anak yang di kandung Siska ia akan terlahir karena keterpaksaan bukan karena cinta kedua orang tua nya
"Kita sudah sampai ayo kita turun"
Dimas langsung membukakan pintu untuk maminya ,dan berjalan menggandeng perempuan yang melahirkan nya itu dengan rasa bahagia sekali
Dahulu Rima tak mempermasalahkan hal itu karena ia berpikir jika seseorang lelaki yang memperlakukan ibunya saja dengan sangat baik pastilah ia juga akan memperlakukan istrinya dengan sangat baik
Tapi semakin kesini ia semakin sadar saja
jika Dimas saja bisa beralibi melakukan semuanya demi kebahagiaan Siska
lalu bagaimana nanti jika setelah ia menikah dengan Dimas , ucapan maminya membuat ia berpikir-pikir lagi untuk menikah dengan Dimas
Pernikahan itu sakral siapa yang ingin gagal
tapi jika masih bisa memilih sebaiknya Rima harus berpikir baik-baik kembali .
Pemikiran manusia itu berbeda -beda tapi jika takdir mengatakan garis nasib seseorang harus berpisah dengan pasangan nya , manusia hanya bisa apa
"Itu kamarnya "
Rima berjalan di belakang mereka berdua.
baru kali ini ia merasa kan seperti orang asing
Dari tadi maminya dan Dimas asik mengobrol berdua , padahal selama ini ia tak pernah berpikir seperti itu , mungkin karena apa yang telah di doktrin oleh mamanya .benar-benar masuk ke otak nya
"Halo sayang "
Maminya langsung memeluk Siska begitu pula Dimas yang langsung memeluk Arjuna
"Selamat ya calon papa muda "
__ADS_1
"Terimakasih kak Dimas , aku sangat bahagia "
Dimas menepuk punggung Arjuna berkali-kali
"Setelah ini Kak Dimas dan calon kakak ipar ku itu yang akan memberikan kami keponakan juga "
Dimas tersenyum saja
"Rima kemariah "
Dari tatapan Siska saja .Rima langsung paham apa yang terjadi di dalam hati Siska
namun ia tak tau apa perasaan Siska yang sebenarnya terhadap Arjuna apa dia benar-benar sudah melupakan Arya ? atau sudah berpindah pada Arjuna
"Siska selamat ya aku turut bahagia "
Siska mengangguk
"Jangan banyak bicara , kondisi kandungan nya lemah .Dokter menyarankan agar Siska banyak beristirahat dan aku sengaja menyuruh nya untuk mengajukan cuti kuliah dulu sampai ia melahirkan "
"Tidak mau aku tak mau mejadi mahasiswa abadi "
Siska berteriak
Arjuna langsung buru-buru menghampiri Siska
"Jangan marah-marah tahan emosi mu , ingat lah , aku tak mau kau dan bayi kita kenapa-kenapa"
Rima melihat Arjuna begitu mengkhawatirkan Siska ,berbeda sekali dengan sikap Dimas terhadap nya
Tak ada tanda-tanda Dimas memperhatikan nya seperti itu
Aku tak akan mungkin membuat Siska menderita, Dimas yang salah Siska itu sahabat baikku , ada baiknya aku memikirkan kembali apa yang di ucapkan mama
Arjuna begitu perhatian padanya , setelah lama mengobrol akhir nya mereka segera pergi
"Aku percaya kan semua nya padamu "
Dimas menepuk pundak Arjuna
"Nak ,mami dan Rima pulang dulu ya..kau cepat pulih karena pernikahan kau dan kakakmu akan segera di laksanakan "
Siska berusaha tersenyum .
Arjuna langsung duduk dan memegang tangan Siska
"Lepaskan ..."
"Baik "
Arjuna menundukkan kepalanya
"Aku minta maaf pada mu atas semua yang telah aku lakukan , tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk membuktikan padamu jika aku bisa merebut hati mu , aku tak memiliki perasaan apapun dengan Silvi ,aku mohon Siska demi anak kita ,aku mohon beri aku kesempatan untuk mencintai mu , beri aku jalan di hatimu jika aku juga pantas berada di hati mu ,kau belum mencoba untuk memberikan aku kesempatan ,aku mohon "
Siska terdiam , Arjuna benar memang sudah sepantasnya ia mencoba terlebih dahulu untuk meyakinkan hatinya 'Sudahlah '
"Tapi apa Silvi itu cantik ? jika kau berbohong lagi aku tau "
__ADS_1
Bagaikan simalakama jika ia menjawab nya
jujur salah , apa lagi salah .namanya juga wanita tak ada yang tau isi otak nya
"Baik aku akan menjawabnya cantik itu relatif selera orang berbeda-beda , sama halnya dengan pandangan mata perempuan ,belum tentu cantik bagi perempuan sama cantik di bandingkan laki-laki "
"Jadi kesimpulannya ia lebih cantik dari aku atau tidak ?"
"Iya kau yang lebih cantik dari dia menurut selera ku "
Arjuna terdiam
"Lalu bagaimana dengan permintaan ku ,bisakah kau memberikan aku kesempatan untuk masuk kedalam hatimu ?"
Siska tersenyum "Bukankah kau sudah menang , semuanya sudah kau dapat kan ,status yang sah , dan hak atas diriku yang sah , jadi untuk apa lagi kau permisi lagi"
"Benar aku menang selangkah , tapi aku masih menginginkan hati dan jiwa mu untuk ku , apa itu salah menurut mu?"
"Baik aku berikan waktu mu hanya satu bulan saja , untuk merebut hatiku"
"Ya aku setuju , jika aku berhasil membuat mu jatuh cinta padaku maka aku akan bertahan untuk.mu, jika tidak maka aku akan pergi meninggalkan mu, hidup hanya sekali dan cinta adalah nafas kehidupan "
Pernyataan Arjuna tersebut membuat hati Siska terhenyak , ungkapan yang selama ini ia tunggu-tunggu namun kenapa baru saat ini ia utarakan
"Oke baiklah aku setuju "
Siska dan Arjuna saling berjabat tangan
"Aku mencintaimu "
"He saat ini aku tidak mencintaimu "
Arjuna berkali -laki mengecup tangan Siska
"Hentikan jangan di cium terus "
"Tak.apa aku bahkan rela menaruhnya di dadaku sepanjang hari"
"Kau yakin ?"
Arjuna mengangguk
"Ya sudahlah ini cium lah "
"Bagaimana baunya ?"
"Agak aneh ".
ungkap Arjuna
Siska langsung tertawa "Ya jelas lah barusan aku menggaruk bokon*ku karena gatal "
"Sial"
Arjuna tertawa
"Tak.masalah bagiku , besok-besok jangan beri aromanya saja tapi langsung tempat nya taruh di muka ku"
__ADS_1
"Dasar...."
Siska menepuk wajah Arjuna