
"Makanlah yang banyak, setelah ini kau mau jalan-jalan tidak? atau masih mau diam saja di dalam kamar"
"Ya bagaimana aku mau keluar, kalau ini masih perih, apa kau mau aku harus seperti ini terus sakit ...tau tidak sakit'...."
"Iya, aku tau sekarang jadinya mau bagaimana lagi, Arika mau apa biar kak Bian kabulkan semua permintaannya"
"Tidak lucu..."
Arika membuang mukanya
"Kalau mau lucu, biar aku jadi badut saja apa kau mau?"
Arika nampak sangat marah sekali, tiba-tiba air matanya menetes
Bian langsung panik
"Arika... Arika... hei kau kenapa?"
Bian yang sama sekali tak pernah bisa melihat air mata seorang perempuan menangis langsung panik
"Arika ...kau jangan menangis begitu dong, aku mohon ya...aku mohon..."
Tapi tangisannya semakin menjadi-jadi
bahkan terdengar begitu terisak-isak sekali
"Jangan menangis aku mohon, baiklah aku minta maaf jika aku ada salah padamu, katakan apapun yang kau mau pasti akan aku kabulkan, ayo katakan saja apa yang kau mau"
Arika menutup wajahnya karena benar-benar kesal karena Bian berhasil membobol gawangnya
__ADS_1
Aku benar-benar benci sekali padanya, aku sungguh sangat benci, apa yang dia katakan padaku ha? kenapa dia sama sekali tak merasa bersalah atas segala sikapnya
"Baiklah aku tidak akan menganggu mu lagi"
Bian langsung berpura-pura pergi dan menutup pintunya, padahal ia sama sekali tidak pergi kemana-mana
Arika yang menutup wajahnya langsung tersenyum bahagia
akhirnya dia pergi juga
Arika membuka tangannya dan ia langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya
"Ternyata cara ini cukup ampuh untuk mengusirnya dari hadapanku, aku sangat kesal karena ia terus-menerus bertanya yang tidak penting, memaksaku untuk makan dan pergi bersamanya, dia pikir dia itu siapa? seenaknya saja"
Bian langsung tersenyum dan menepuk pundak Arika
Puk...
Arika menoleh "Kau?"
Bian melambaikan tangannya
"Iya kenapa memangnya? aku memang dari tadi ada dibelakangmu, aku hanya ingin tau ternyata kau juga pandai berbohong ya, aku pikir tak ada buaya betina, rupanya nyata sekali ada buaya betina"
Arika yang emosional langsung menjambak rambut Bian
"Kau!, sudah dari tadi aku bersabar karena sikapmu, tapi sekarang semuanya tak bisa aku kendalikan lagi, kau sungguh sudah membuat aku benar-benar sangat emosional sekali, kau harus membayar semuanya"
Bian bukannya kesakitan tapi malah tertawa bahagia "Awwww, sudah Arika hentikan, aku bisa membalasmu nanti kau juga yang repot"
__ADS_1
Karena terlalu kuat tarikan Arika hingga membuat Bian jatuh tertindih diatas tubuhnya
"Awww, Bian. jangan seperti itu,kau sudah membuat aku sangat marah sekali, lihatlah aku tak bisa bernafas"
teriak Arika dengan sangat keras sekali
"Jangan macam-macam, jika kau ..."
"Apa? memangnya kau mau apa?"
"Bian..."
Dalam beberapa menit kemudian Bian sudah kembali berlayar lagi,
Arika benar-benar kelelahan sekali tak bisa berkata apapun lagi,
"Hah... kau yang duluan memancingku"
Telpon berdering,
"Siapa lagi yang menelpon"
Bian berdiri dan kaget sekali karena Mamanya yang menelpon, dengan menggunakan panggilan video
"Hah, mama?, aduh kenapa lagi sih Mama, panggilan video segala"
Tak hanya handponenya saja yang berbunyi, handponenya Arika juga berbunyi
"Nah handponenya Arika itu"
__ADS_1
ia mengambilnya dan kaget saat mama mertuanya juga kompak menelpon mereka
"Astaga, sudah aku duga ini akan terjadi"