
"Hai apa kabar "
Dimas langsung menyapa Rima dengan sangat sedih matanya nampak berkaca-kaca sekali dengan sebuah map besar yang ia bawa
seperti sebuah hasil ronsen
"Kak Dimas kenapa datang kesini mendadak sekali sih ,malah membuat suasana menjadi tegang begini , merusak suasana saja "
Siska terdengar begitu sewot sekali melihat Dimas
"Siska jangan begitu "
ucap Ana
"Maklum ibu hamil bawaannya sensitif terus menerus "
"Lah Siska hamil nggak hamil memang dia sensitif banget orangnya "
Jawab Dimas
"Ah kak Dimas pulang saja sana lihat ini Rima jadi nggak mood berada disini , kakak pulang aja sana "
Siska mendorong Dimas
"Siska sudah biarkan saja kak Dimas disini"
ucap Rima dengan lembut
"Apa kau nggak ingin muntah melihat wajah kak Dimas yang berada disini Rima aku saja mendadak mual masa iya kau sama sekali tak merasakan mual ?"
"Hahaa kau bisa saja mungkin pembawaan ibu hamil memang begitu Siska mau muntah terus "
"Tapi mual yang aku rasakan ini beda ,rasa -rasa ingin mencekik leher seseorang "
Dimas paham betul perasaan Siska karena Rima adalah sahabatnya lagi pula Rima juga merupakan seorang perempuan yang baik lagi pula tak ada alasan untuk Dimas memarahinya
"Sudahlah kenapa memangnya jika kak Dimas disini sudah biarkan saja lah malah justru masa lalu itu nggak harus dihindari justru harus kita hadapi jika kak Dimas hari itu tidak berbuat seperti itu mungkin aku tak akan bisa menjadi wanita paling bahagia seperti ini, menjadipm perempuan yang beruntung seperti Ana ,dan kau juga akhirnya kita tetap bisa menjadi nyonya besar semua "
Wajah Dimas berubah sambil mengangkat hasil ronsen ditangannya ia sebenarnya ingin menjelaskan sesuatu namun balik lagi Siska sudah terlanjur emosi
"Kakak sudah sana pulang saja , pergilah sana "
Plak...
kertas tersebut langsung jatuh dan membuat Ana mengambilnya
" Hasil ronsen dari rumah sakit mitra sehat ?"
"Kak Dimas ini milik kakak ?"
Siska langsung mengambilnya dari tangan Ana
Seketika suasana mendadak hening sekali tanpa ada yang berbicara
Siska langsung memegang dadanya ia sangat takut dengan hasil yang berada didalam kertas Ronsen Tersebut
"Kak Dimas cepat jelaskan apa ini dan milik siapa?"
Siska kembali cemas
"Tadi kau menyuruh kakak untuk pulang lalu sekarang kau menyuruh Kakak untuk menjelaskan ini , sebenarnya untuk apa sih ?"
"Kak Dimas ! jangan membuat aku penasaran ?!"
Siska yang keras kepala selalu saja begitu ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan semua kemauannya harus segera dituruti jika tidak maka siap-siap sajalah ia akan marah besar
"Ah Kakak pulang sajalah kasihan soalnya nanti kalian semua mau muntah !"
__ADS_1
"Kak Dimas jangan begitu cepat ceritakan kakak kenapa? dan kenapa kakak kemari ?"
Seketika Siska ketakutan jika kakaknya mengidap penyakit yang mematikan .karena biar bagaimanapun Dimas selalu memberikan yang terbaik untuk hidupnya belum lagi saudara kandungnya satu-satunya hanya Dimas saja air matanya langsung mengalir saat melihat hasil ronsen tersebut , tapi karena mereka bertiga tak ada basic ilmu kedokteran mereka tak bisa membaca hasilnya
Siska terus menangis dan memeluk Dimas akhirnya ia pun mulai menyerah
"Baik..baiklah kakak tidak jadi pulang kakak akan menjelaskan semuanya ,jangan menangis lagi Kakak tidak mau rumah ini nanti banjir karena air matamu membasahi setiap sudut ruangan dirumah ini "
Ana dan Rima saling berpegangan mereka juga cemas apa yang sebenarnya terjadi dengan Dimas
"Ana apa kak Dimas menderita penyakit yang parah ?"
"Aku juga tidak tau Rima tapi hasil ronsen itu memang membuat aku merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada Kak Dimas "
Rima langsung meneteskan air mata nya
dan menyentuh tangan Ana
"Rima kau menangis "
Rima mengangguk perlahan sambil berbisik
"Aku tak bisa membohongi perasaanku Ana ,memang benar butuh waktu untuk melupakan sesuatu yang kita sukai , bukan aku tak bersyukur dengan kehidupanku sekarang tapi jujur saja Ana , aku sama halnya seperti Siska aku ..."
"Stop aku paham , sudahlah jangan mengingat sesuatu yang menyakitimu kau sekarang fokus dengan suamimu dan kehidupan baru mu ,tak ada yang perlu kau pikirkan lagi , bahagiakan hidup mu dirimu ,Dimas bukan jodohmu dengar baik-baik jika lelaki yang baik akan mendapatkan perempuan yang baik juga ,suamimu baikkan ? tak ada yang perlu dipikirkan lagi ,kau adalah perempuan hebat "
Rima dan Ana saling berpelukan
"Cerita cepat kak jika tidak kau tak usah menemui aku lagi Disini , cepat jelaskan ini milik siapa dan kenapa ada nama kakak disini "
"Ya sabar dulu bagaimana aku mau bercerita jika kau terus bergantungan seperti ini cepatlah lepaskan Kakak dulu Siska, tolong Ana ,Rima bawa tedmon ini menyingkir dari ku ,haduh... aku tak menyangka jika ia sebesar ini sekali , cepat"
Dimas nampak kewalahan karena tubuh Siska yang besar itu
"Siska tenangkan dirimu ayo kita dengarkan dahulu cerita dari kak Dimas ayo .."
"Syukurlah akhirnya terbebas juga tak bisa dibayangkan jika Siska terus menempel bisa-bisa aku tak bisa bernafas dan kehilangan segalanya "
Dimas duduk lalu mulai bercerita
"Baiklah pasang telinga kalian baik-baik dan dengar , aku akan menceritakan semuanya dengan detail ,jangan sampai ada yang terlewati jika ada yang terlewati aku tidak mau mengulang untuk menjelaskannya lagi !"
Semuanya duduk berjejer dan siap untuk mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh Dimas
"Kejadian ini sudah terjadi cukup lama mungkin seumuran pernikahan kalian Siska , awalnya kakak terjatuh dan dibawa berobat ke puskesmas ,di puskesmas kakak dikatakan dokter mengidap penyakit serius tentu saja kakak panik apa lagi yang kakak tau Dokter adalah orang yang selalu bisa menyelamatkan orang lain, dan disinilah semua pemikiran terjadi apa lagi waktu itu kau sedang berlibur kedesa bersama dengan Ana juga dan..."
Siska menoleh kearah Rima dan Ana "Lalu apa hubungannya dengan ronsen itu?"
"Dengar dulu kakak akan melanjutkan ceritanya jangan banyak protes dulu "
"Siska diam saja dulu jangan banyak bicara lagi kalau banyak bicara justru akan membuat kau pusing sendiri nantinya "
"Iya jangan ribut nanti kak Dimas tidak mau bercerita sudah diam saja "
"Baiklah "
Siska langsung berpura-pura mengunci mulutnya
"Oke baiklah lalu bagaimana kak?"
tanya Ana
"Setelah Siska dan Arjuna menikah kakak memberanikan diri untuk memeriksa keadaan kakak kembali dan hasilnya semuanya sehat tidak ada masalah sama sekali
dan itu sangat melegakan sekali hingga akhirnya aku benar-benar merasa sudah layaknya juga untuk membina rumah tangga seperti kalian , namun disamping itu ada beberapa misi untuk membuat orang-orang disekitar kakak bahagia
Tapi setelah beberapa bulan pemeriksaan itu keluar ternyata sesuatu terjadi kembali ,dari dalam hidung kakak keluar darah segar , kakak langsung panik dan kembali memeriksakan diri di rumah sakit tempat ibu Arya dan Alena dirawat dan hasilnya mengejutkan sekali aku mengidap kanker paru-paru stadium tiga , tentu saja aku panik"
__ADS_1
Siska dan Rima langsung menangis terisak-isak dan sekarang satu persatu terbuka kenapa ia melakukan hal itu pada Rima
"Dalam hidup ini aku sama sekali tak ingin menyakiti siapapun apa lagi mempermainkan perasaan ,karena aku memang selalu tulus soal hati rupanya sesuatu terjadi , sesuatu yang membuat aku merasa sangat sedih sekali yaitu merelakan kebahagiaan orang lain meskipun aku sendiri merasa sakit yang amat dalam "
"Maksud kakak ?"
Siska kembali bersuara
Ana dan Rima kembali memarahi Siska
"Sttttt"
"Oke baik "Jawab Siska dengan berbisik
"Tak perlu dijelaskan pasti kalian paham kan ?"
Rima mengangguk dengan perlahan nampak jelas diwajahnya jika ia merasa sangat sedih sekali , tak mudah baginya untuk menjadi Dimas ia tau sekarang perasaannya hancur berkeping-keping saat ini ia tak mungkin bisa menjadikan dirinya sebagai korban karena posisi yang sebenarnya adalah Dimas yang rela berkorban Melakukan apapun untuk kebahagiaannya
"Darah yang keluar dari hidung itu kembali muncul sesekali dan aku sudah mulai galau kembali apa lagi dokter memvonis jika umurku hanya tinggal beberapa bulan saja , tentu saja aku mulai cemas dan mulai frustasi sendiri aku membuang obat-obatan yang diberikan dokter karena menurutku tak ada gunanya juga mengobati penyakit ini aku memilih pasrah dengan penyakit yang aku derita ini , dan akhirnya setelah beberapa bulan aku mendiami semuanya aku menunggu detik-detik penghabisan masa vonis yang ditetapkan oleh dokter aku mengurungkan diri Didalam kamar menunggu malaikat maut untuk menjemputku
aku berdiam didalam kamar, seharian dan sudah mempersiapkan semuanya secara detail termasuk menyiapkan kain kafan untukku sendiri namun siang berganti malam dan berganti pagi lagi tak ada yang terjadi aku masih juga menunggu sampai beberapa hari tak ada juga yang terjadi ,aku menjadi kesal dan aku langsung pergi menemui Dokter dengan membawa hasil ronsen yang lama ,tak sampai disitu saja aku langsung bertanya kenapa aku masih hidup sedangkan jatah hidupku sudah lewat satu Minggu lama nya
Dengan tersenyum-senyum dokter tersebut menyarankan aku untuk ronsen kembali untuk memeriksa hasilnya
setelah itu Dokter terkejut dengan hasilnya karena tidak ditemukan sel kanker setitik pun dokter lalu memeriksa semuanya dengan teliti dan benar saja tidak ditemukan , setelah diusut hasil ronsen tersebut tertukar dengan hasil seorang perempuan yang hendak melakukan operasi malam itu tapi tidak tau siapa perempuan yang hasilnya tertukar dengan hasil ronsen milikku , rupanya aku tidak sakit apapun mimisan itu terjadi karena faktor kelelahan saja ,dan kini aku harus merana memulai kehidupan semuanya hubungan percintaan dari awak lagi "
Siska langsung memeluk Rima dengan erat Begitu juga Ana ,
"Rima tabahkan hatimu padahal jika kak Dimas tak setolol itu kalian akan segera menikah karena tinggal beberapa langkah lagi ,namun sepertinya kau dan kak Dimas memang bukan jodoh"
Air mata Rima menetes
"Ya Tuhan kenapa kisah cinta kita serumit ini tak seindah kisah cinta Ana yang mulus -mulus saja"
Dimas berdiri dan wajahnya nampak sangat sedih ia langsung meminta maaf pada Rima
"Maafkan aku Rima tapi percayalah tak ada hati yang aku permainkan tak ada cinta yang aku bohongi aku mencintai seseorang selalu dengan hatiku , mungkin memang kita bukan ditakdirkan untuk berjodoh "
"Puk..puk..sabar aku tau pasti ini sangat menyakitkan sekali bagimu ,sabar ya Rima sini kita berpelukan "
Mereka berpelukan bertiga ,Sama halnya Rima
Siska juga paham apa yang terjadi padanya karena kak Dimas mengira ia akan pergi untuk selamanya dan dia akan pergi dengan tenang jika melihat aku berada ditangan laki-laki yang tepat
"Kak Dimas melakukan ketololan yang hakiki aku membencinya"
Dimas hanya tertawa saja "Hmm andai saja aku memiliki mesin waktu aku pasti akan memperbaiki semuanya namun ya sudahlah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan jika tak diizinkan oleh Tuhan tak akan mungkin juga bisa terjadi semuanya karena pada dasarnya manusia berhak berencana tapi kembali lagi kepada Tuhan ,itu saja "
Dimas berdiri hendak pulang,tapi Siska kembali memanggilnya "Kak Dimas apa Dokter tau siapa perempuan yang hasilnya tertukar dengan mu itu ? "
"Aku tidak tau karena aku tidak mau menambah pikiranku itu bukan kesalahanku , Aku mau pulang dulu ingin melemaskan otot dan otakku sepertinya aku butuh liburan beberapa hari kedepan"
Dimas langsung pergi karena ia tak tahan mendengarkan tangisan Rima ,sudah jelas tangisan itu karena dirinya. jika ia berlama-lama berada disana ia takut nanti rumah tangga Rima justu dipertaruhkan kembali , karena sebenarnya tak semudah itu bagi seorang yang setia dan tulus untuk melupakan cintanya . apa lagi Dimas adalah cinta pertamanya
"Rima kuatkan hatimu aku mohon karena tak mudah memang menjadi dirimu , aku paham aku sangat paham tapi nanti seiring waktu pasti lambat laun kau akan bisa menerima semua kenyataan ini jangan khawatir ,memang tak mudah namun percayalah jika semuanya bisa kau lewati ,lihat saja aku sekarang bagaimana kan ?"
"Aku justru kasihan dengan perempuan yang hasil ronsen nya itu tertukar dengan Kak Dimas bagaimana jika ia tidak tau dengan sakitnya itu lalu bagaimana ia menjalani hidupnya "
ucap Ana
"Sudahlah Ana jangan menambahkan beban baru biarkan sajalah sudah jangan dipikirkan , sekarang ayo kita lanjutkan obrolan kita "
"Tidak segampang itu aku masih merasakan sakit yang amat dalam Teman-teman aku tak menyangka jika cinta yang tulus itu benar-benar ada dan tak semua orang bisa melakukannya aku merasa Dimas dan kak Arya adalah laki-laki pilihan didunia ini yang bisa mengikhlaskan hidupnya demi
orang lain , ketulusan yang sesungguhnya itu adalah ketika kita ikhlas dan rela saat orang yang kita cintai bisa hidup bahagia bersama orang lain meski kita tersiksa "
Air mata kembali berjatuhan antara Siska dan Rima hanya Ana saja yang masih berdiri dengan tegar tentu saja karena kisah cinta nya tak setragis mereka namun Ana kan berasal dari keluarga yang susah ,tentu saja cobaanya sudah diuji diawal
__ADS_1
"Heh jika kalian hanya menangis saja maka aku sungguh tak rela sekali berada disini hanya buang-buang waktu saja ,kita berkumpul untuk bahagia bukan untuk bergelimang air mata ,apa kalian mengerti ,haduh... kenapa kalian berdua sensitif sekali atau jangan-jangan Rima juga sedang berbadan dua ?"