Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 184


__ADS_3

Sesampainya dikampus


Arika dan Raja langsung memarkirkan mobilnya disamping mobil Alea


"Alea ?"


panggil Arika


"Arika ya ampun kau tumben pagi-pagi sekali "


Alea berusaha untuk tidak tertawa karena mengingat kejadian kemarin


Arika langsung memberikan kode jangan berbicara


rupanya Raja turun dari samping mobilnya


wajah Alea langsung berubah menjadi merah muda


Raja turun dari mobil dan sama sekali tak memperdulikan mereka berdua , karena ia sama seperti Alea ia gugup juga , berbeda saat ia bertemu Dengan perempuan lainnya ,saat ia melihat Alea mendadak Raja tak bisa berkata apapun padahal didalam mobil tadi saat mengobrol bersama Arika ia seperti seorang Don Juan yang sangat berani, seakan-akan akan menerkam mangsanya


"Ada mas Raja jangan berbicara apapun juga "


"Kenapa memangnya apa mas Raja tidak tau ?"


Arika mengangguk "Bahaha kok bisa tidak tau apa kau tidak memberi tahunya ya ?"


"Sudahlah nanti saja ayo kita masuk kelas ,nanti terlambat lagi"


Mereka pun berjalan menuju ruangan kelas karena terlalu terburu-buru Arika menabrak Sosok laki-laki yang sangat ia benci siapa lagi jika bukan.Bian


"Awww maaf..maaf aku tidak sengaja "


Alea langsung melirik ke arah Arika


"Cepat buka matamu dan lihatlah siapa yang kau tabrak "


bisik Alea


Arika membuka matanya dan ia melihat Bian berdiri dengan melipat kedua tangannya


"Kau ?"


tapi Bian cuek saja ia malah tak memperdulikan Arika , sampai-sampai Bejo heran


"Bian ,tak apa-apa ,kau dan dia ?"


"Sudah tak usah ditanggapi , bukan urusan ku juga hanya buang-buang waktu saja, tidak terlalu penting juga , sudah lah ayo kita pergi mengurus persiapan nilai untuk sidang "


Pembicaraan tersebut didengar oleh Arika


ia langsung menggenggam kedua tangannya


"Dasar keterlaluan ia bahkan sama sekali sok ganteng sekali"


Alea langsung menenangkan Arika


"Arika sudah ayo biarkan saja calon suamimu itu dia kan lagi sibuk mengurus kuliahnya biar cepat-cepat wisuda dan menikah dengan mu "


Arika langsung menoleh kearah Alea


"Stop hentikan Alea aku sama sekali tak ingin mendengar apapun yang ia ucapkan kau dengar aku sama sekali tidak tertarik dengannya kau dengar ,aku muak !"


"Sabar Alea sabar jangan begitu ya aku mohon kau tidak boleh berpikir buruk ,biar bagaimanapun dia adalah laki-laki istimewa yang kau idam-idamkan bukan?"


Alea tertawa terbahak-bahak


Arika langsung saja berjalan "Sudah Alea hentikan ini tidak lucu aku sangat jijik mendengar dan membayangkannya andai saja aku tau jika ia adalah orang yang sama kau tau aku tidak akan pernah mau memujinya titik , benar-benar tidak penting sama sekali "


"Bahahaaha tapi suaranya waktu mengaji. benar-benar menenangkan hati kan ya ?"


Alea masih tak berhenti tertawa


"Alea hentikan ,aku sangat muak "


Seperti biasa mereka masuk kedalam kelas, dan beberapa teman sekelasnya tentu saja memandanginya dengan sinis


*Kau lihat itu adalah musuh kak Bian


Iya katanya dia juga kaya sama seperti kak Bian tapi aku tak percaya


ya dia berani sekali melawan kak Bian tampan dan kaya itu


kasihan sekali dia berani bermusuhan dengan orang paling kaya dan tampan di kampus ini*


Arika hanya diam saja ,Alea langsung berbisik pada Arika


"Aku akan mengurus nya kau tenang saja!"


"Jangan ,kau tak perlu melakukan apapun ,jika kita benar kita cukup diam saja , seseorang yang mengklarifikasinya sesuatu itu tandanya ia yang bersalah ingat jangan lakukan apapun itu


Alea langsung mengikuti apa yang dikatakan oleh Arika


selama pelajaran berlangsung pikiran Arika kemana-mana ,lebih tepatnya ia memikirkan Bian yang sudah membuatnya kesal dengan ucapan yang ia sebutkan tadi


"Arika sekarang giliran mu ayo maju kedepan "


Untunglah untuk kedua gadis cerdas itu apa saja yang disuruh dosen kerjakan pasti lah berhasil , buktinya saja saat ini Arika bisa menyelesaikan semua soal yang di tulis oleh dosen dengan segala penjelasan didepan kelas sedangkan dari tadi ia tak fokus


"Sudah Bu "


Dosen berkali-kali memperhatikan jawaban dari Arika


"Dia benar-benar cerdas sekali "


Alea Tersenyum-senyum geli melihat wajah dosen mereka yang keheranan sampai beberapa kali melepaskan kacamatanya


jam kelas pun berakhir


untuk mata kuliah pertama Arika pun langsung keluar kelas bersama Alea , mereka duduk dikantin berdua karena kantin kampus penuh mereka terpaksa berpindah tempat duduk dihadapan Bian


Alea menyenggol tubuh Arika


"Lihatlah dia lagi dia lagi suami idaman mu "


Alea menahan tawanya


"Hentikan Alea kalau bukan karena perutku yang lapar aku sama sekali tidak mau duduk disini"


Sementara itu Bejo heran sekali kenapa Bian sama sekali tak memperdulikan Arika


"Bian kau tak mau mengerjainya ?"


"Sudah lah tidak penting sama sekali "


"Seriusan Bian ?"


"Iya serius tidak penting "


Bejo langsung merapikan rambutnya


"Baiklah kalau begitu jika ia tidak penting bagimu maka aku yang akan membuatnya penting bagiku "


Bejo berdiri dan hendak menghampiri Alea dan Arika "Kau mau kemana ?"


"Aku ingin menjadi sesuatu yang penting dihatinya "


Bian langsung menarik baju Bejo


"Duduk aku tak mau kau mendekatinya kau tidak tau jika dia itu jangan didekati ada masalah di otaknya ?"


"Oh ya masa?"


Bejo tak percaya


"Iya ia memang tak terlihat oleh kedua mata kita tapi nanti kau akan melihat sendiri bagaimana dia jika marah maka aku tak mau lagi berurusan dengannya "


Bian sengaja menakuti Bejo


"Kau serius Bian? padahal ia sangat cantik tapi kenapa dia tidak bisa didekati ?"


"Jika aku bilang jangan tidak usah !"


Bejo tak habis pikir ia pun kembali melirik Alea


"Kalau begitu aku mau mendekati temannya saja lah karena ia tak kalah cantik juga "


"Nah apa lagi temannya itu jangan coba-coba kau dekati papanya lebih galak dari monster aku bahkan melihat dengan kedua mataku bagaimana papanya melemparkan tubuh laki-laki yang mendekatinya "


Bian sengaja menganttakan hal itu karena mamanya mengatakan jika Alea akan menikah dengan anak Tante Rima dan om Dimas


"Waduh kok bisa dua gadis itu mengerikan sekali "


"Ya aku hanya sekedar mengingatkanmu saja jangan sampai kau mendekatinya ,jangan tertipu dengan apa yang kau lihat ia memang cantik tapi mengerikan aauammmmm"


Bian tertawa mengejek


Melihat Bian yang tertawa geli dihadapan mereka Arika langsung naik darah apa lagi posisinya ia sedang datang bulan


"Mereka berdua sedang tertawa pasti mereka sedang membicarakan kita berdua Alea"

__ADS_1


Alea mulai cemas biar bagaimanapun ia tau bagaimana sepak terjang mamanya Arika


sedikit banyak pasti ia juga mewarisi keberanian Siska


Arika berdiri dan langsung menghampiri Bian


"Arika apa yang kau lakukan ha?"


Alea menutup wajahnya karena cemas


"Bian dia kemari "


"Biarkan saja tidak penting "


gubrak...


Arika yang lemah lembut tak pernah marah sama sekali tapi kali ini ia benar-benar marah pada Bian


"Hei apa yang kau lakukan "


ucap Bian dengan berdiri


Arika langsung Berteriak


"Kau dari tadi sedang menertawakan aku kan? ayo kataakan saja, mengakulah !"


Bejo tampak ketakutan melihat kemarahan Arika


"Bian kau benar ia sungguh mengerikan untung saja dia cantik , jika jelek aku rasa tak ada satupun yang mau menjadi temannya "


"Sudah kau tenang saja aku bisa mengatasi ini ia hanya seorang perempuan santailah !"


Rupanya Raja baru masuk kedalam kantin tersebut dan melihat Arika sedang mendatangi Bian , ia melihat Alea berdiri dihadapan Arika dengan ketakutan ,dan menghampiri Alea


"Jangan lakukan apapun tetaplah disini "


"Tapi aku tak bisa membiarkan Arika seorang diri dia adalah teman baikku"


"Aku tau aku juga kakaknya namun aku Harus bersikap jantan sesuai kesepakatan jika aku kalah maka aku tak boleh melakukan apapun "


Alea tak bisa berkata apapun lagi hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjalan mendekati Arika namun Raja menahannya dan menggenggam tangan Alea dengan erat sekali


"Sudah aku katakan tetap disini jangan kemana-mana lihat saja , percayakan semuanya pada Arika ia bukan gadis yang lemah dan sembarangan ia bisa melakukan apapun jangan khawatir ,aku mengenal Arika bagaimana sikapnya "


Kedua tangan tersebut saling bersentuhan dada Alea berdetak kencang tak beraturan lagi


tangannya yang digenggam Raja mendadak basah oleh keringat


Ya Tuhan apa Raja merasakan jika tanganku basah karena gugup ,ya ampun papa maafkan aku , tangan ku di genggaman laki-laki yang bukan muhrim ini papa tapi aku mencintainya


Sebenarnya Alea tak menyadari jika yang basah itu bukan tangannya tapi tangan raja yang juga gugup ,sama halnya seperti Alea ia juga baru pertama kali merasakan perasaan aneh saat mengenggam tangan Alea


Tatapan Raja menghadap kedepan , sedangkan pikirannya sama saja seperti alea lebih fokus kepada orang yang berada disampingnya


"Ya Tuhan ia tampan sekali ternyata apa aku benar-benar jatuh cinta padanya ,oh Tuhan"


mereka berdua tidak fokus lagi dengan pertengkaran Arika yang berada dihadapannya


Bian yang mendapatkan amarah dari Arika langsung mendekatkan wajahnya pada Arika


"Memangnya kenapa kalau kami menertawakanmu dan membicarakannya ha ? apa menurutmu tidak boleh sama sekali ?"


Arika merasa tak nyaman karena sekarang jarak antara hidung mereka hanya satu senti saja


bahkan nafas mereka berdua terasa sangat hangat sekali


Bian menatap mata Arika dengan sangat dalam


"Kenapa kau takut karena aku berbicara sedekat ini padamu ha ? katakan saja ?"


Arika masih bertahan meski ia sebenarnya tak pernah sama sekali berdekatan dengan seorang laki-laki sampai sedekat ini


Ya Tuhan kenapa aku menjadi takut begini ya


bagaimana ,apa yang harus aku lakukan apa aku harus mundur kebelakang atau bagaimana selanjutnya ?


Bian berbisik ditelinganya Arika


"Kau itu seperti badut yang mukanya sekarang berwarna merah padam "


Orang-orang dikantin memilih untuk berpura-pura tidak Melihat apa yang terjadi pada mereka berdua karena tak mau berurusan dengan Bian


Arika sebenarnya ingin mundur kebelakang tapi jika ia mundur Bian akan merasa menang dan menginjak-nginjak harga dirinya


"Maafkan aku jika aku badut maka kau adalah ondel-ondel kau tak lihat bukan hanya wajah mu saja yang merah tapi di gigimu itu ada cabe yang tertinggal seharusnya sebelum berangkat kekampus kau pastikan dulu menggosok gigi dengan benar ,atau kau memang tak pernah sama sekali bersentuhan dengan air ha ?"


Satu kata pamungkas yang memaksa membuat Bian terpental mundur


mendengar ucapan dari Arika ia langsung mundur dan segera berlari mencari toilet untuk memastikan apa yang diucapkan oleh Arika itu benar atau tidak


"Bian tunggu"


Bejo berlari mengejar Bian yang nampak panik sekali.


"Astaga apa benar ada cabe digigiku dan tadi aku sudah berbicara dengan banyak orang apa mereka juga diam-diam membicarakan aku didalam diam ,ya ampun ini sungguh memalukan sekali ,dan Bejo ia sama sekali tak memberi tau ku jika ada cabe digigiku apa maksudnya !"


Arika Tersenyum puas ia langsung mengangkat kepalanya dan orang-orang yang berada disampingnya langsung memberikan hormat dan kagum padanya tak menyangka jika ia mampu mengalahkan Bian


dengan bangga ia langsung tersenyum


"Aku menang ,itu yang paling penting"


Ia pun membalikkan badannya dan melihat pemandangan bak sinetron Alea dan Raja yang saling bergandengan


"Wah sepertinya aku tau sesutu "


Arika langsung mendekati mereka.


"Ehemmmm"


Raja langsung melepaskan genggaman tangannya


"Wah rupanya diam-diam ada yang sedang bermain hati"


"Arika aku mau kembali ke kelas dulu ada jam pelajaran Dosen sudah menunggu"


"Hmm hebat sekali ya kalian saat aku membutuhkan pertolongan tak ada satu orangpun yang menolongku ,aku berusaha seorang diri ,ya kalian sungguh luar biasa sekali "


Alea langsung salah tingkah ia menggaruk kepalanya "Hmm sekarang aku tau Seperti nya "


"Arika apa yang ada dipikiran mu aku dan Raja tidak ada apa-apa "


"Ya..ya aku tau tapi aku sudah mengerti sekarang ,kau rupanya "


"Arika ayo cepat pergi dari tempat ini , lihatkan semua orang sedang menatap kita ?"


"Kau tidak tau ya jika aku tadi baru saja mengalahkan Bian ?"Alea tampak bengong


Arika tak mendapatkan jawaban dari Alea dan menoleh kesebelah , ternyata lagi-lagi ia menemukan Alea yang sedang tersenyum-senyum sendiri


"Baiklah Alea aku rasa kau benar-benar tidak Bisa diajak bicara saat ini sebaiknya aku membiarkanmu menenangkan diri dulu saja "


Alea langsung menyenggol bahu Arika


"Aku bukan tak mau mendengarkanmu tapi aku juga ingin menikah muda seperti mu ?"


"Hah kau yakin Alea dengan ucapanmu itu ?"


Arika memegang dahi Alea


"Ya aku yakin tapi setelah papaku menikah dengan mamamu ,aku baru bisa menikah "


"Hmm baiklah kalau begitu kita akan membuat rencana baru ,nanti kau akan menjadi saudaraku sekaligus sepupu ku "


"Arika kita akan menjadi saudara dan juga sepupu"


Alea terlihat bahagia sekali


"Aku yakin papamu akan sangat setuju sekali jika kau menikah dengan anak om Dimas secara kan mereka adalah sahabat dekat biasanya antara sahabat satu dengan yang lainnya akan sangat senang jika anak-anak mereka saling menikah ya kan ?"


"Sama sepertimu dan kak Bian kan Arika ?"


"Berhentilah mengejekku Alea , berbeda aku dan Dia itu sama sekali tak memiliki rasa suka dan tak tertarik satu sama yang lainnya , jika kau dan mas Raja kan saling suka ?"


"Benarkah ? dari mana kau tau jika ia juga menyukai ku apa dia menceritakan aku padamu "


Arika tersenyum nakal dan melirik kearah Alea


"Hmm kasih tau nggak ya..."


"Arika aku serius ingat kita ini saudara tak ada satu hal pun yang kau sembunyikan dari ku ayo cepat katakan padaku ,Arika "


Alea menggelitik pinggang Arika


"Bahaahha ampun.. ampun Alea geli tau , hentikan cepat , jangan lakukan lagi ,ampun aku menyerah "


"Cepat katakan saja aku tidak akan menghentikannya "


"Hahaha aduh repot sekali berurusan dengan hati orang "

__ADS_1


Arika tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Alea .


Sedangkan Bian yang masuk kedalam toilet langsung mencari kaca untuk melihat giginya dan ia sangat kaget saat tak ada apa-apa didalam giginya


"Gila dia mengerjaiku , tidak ada apa-apa digigiku , kurang ajar lihatlah aku akan memberikan pelajaran untuk nya agar dia tau bagaimana kemarahan Bian yang sesungguhnya "


Bian langsung keluar dari dalam toilet tapi Bejo langsung mengejarnya


"Bian kau mau kemana ?"


"Aku ingin memberikan pelajaran pada perempuan sinting itu , tunggu saja lihatlah aao yang akan aku lakukan padanya ,ia sudah membuat aku kehilangan harga diri dihadapan Banyak orang barusan dan saat ini giliran aku untuk membalasnya tunggu saja !"


Bejo melihat bagaimana kemarahan Bian dari Wajahnya yang putih dan berubah menjadi merah ditambah lagi Bejo sudah lama sekali tak pernah melihat Bian semarah itu


"Bian tunggu..Bian.."


"Apa lagi Bejo hentikan "


"Kau mau kemana ha ?"


"Kau tak lihat aku ingin pergi memberikan pelajaran Langsung pada perempuan itu ,jangan tahan aku "


Bian berusaha melepaskan tubuhnya


"Iya aku ingin mengatakan itu padamu jika pakaianmu tersangkut di pintu ,lihat itu "


Bian langsung menoleh kebelakang untung saja tak ada orang jika tidak ia juga bisa malu karena ulahnya sendiri yang tergesa-gesa


"Cepat bantu aku untuk melepaskannya ,kau ini diam saja"


"Jika aku membantu melepaskannya saat kau berjalan bisa-bisanya nanti baju my robek apa kau mau ?"


"Hah ya sudah jangan banyak cerita lagi sekarang kau mau bantu aku atau tidak ?"


"Pertanyaan mu ini sedikit tolol ,tentu saja aku mau membantumu ,kalau bukan aku siapa lagi yang akan membantumu ,ayo cepat "


Bian yang terburu-buru membuat bajunya menjadi robek


"Bian kan sudah aku katakan tadi "


"Hah sialaan"


karena terlalu sering kesal Bian pun langsung membuka pakaiannya ,dan terlihatlah dengan jelas tubuhnya yang sangat diidam-idamkan oleh para gadis apa lagi saat Bian Lewat didepan mereka


*Ya ampun Bian uwuuu banget badannya


Kakak Bian peluk aku


Bian aku rela menjadi selir hatimu


Kak Bian kau sungguh sempurna sekali dengan bertelanjang dada begitu ,belum lagi jika ia awww .. membayangkannya saja aku sudah tidak tahan tolong aku ...


Kak Bian mau kemana ayo kita ikuti


Ayo*.


Bejo yang berjalan dibelakang Bian langsung berbisik padanya


"Bian kau lihat para gadis gila itu mengikutimu dari belakang , mereka seperti orang yang mau Demo "


"Baguslah itu lebih baik ,agar semua orang bisa melihat apa yang akan aku lakukan pada perempuan itu "


"Bian sebenarnya kau mau apa ?"


"Lihat saja jangan banyak tanya kaukan punya mata , tinggal lihat saja kok repot sekali !"


Bian masuk kembali kedalam Kantin tapi tak menemukan Alea ataupun Arika


namun para gadis dan ibu-ibu kantin malah semakin terpesona melihat tubuh keren Bian


*Ya ampun sempurna ,tampan sekali


benar sungguh seksi ,


Bian peluk aku* ...


Para gadis pun kembali mengikuti Bian dari belakang


Sekarang Bejo yang semakin cemas


"Bian kau mau kemana lagi lihatalah dibelakang mu ini sekarang , para gadis semakin lebih banyak lagi mengikuti mu "


"Sudah aku katakan aku sedang mencari dua orang perempuan itu ,dimana dia berada"


"Coba saja kau tanya dengan para gadis yang berada dibelakang kita ini mungkin mereka tau_


"Kau benar juga "


Bian pun memutar tubuhnya dan para gadis itu seperti ingin terjatuh karena tak tahan melihat pesona ketampanan Bian


"Baiklah hai ladies..."


"Hai tampan "


tanpa sengaja mereka kompak menjawabnya , mereka pun saling melirik satu sama lainnya dengan pandangan tidak suka


"Ya ampun Bian sungguh mengerikan sekali personamu aku bahkan tak menyangka kau begitu tampan ,padahal aku ini jauh lebih tampan "


"Sudahlah Bejo ini bukan waktunya untuk kita berdebat aku sedang berada dalam posisi yang sangat genting sekali "


"Baiklah cepat kau tanyakan mereka ?"


"Tapi aku tidak tau nama mereka ,kau saja yang bertanya "


"Baiklah "


Bejo pun langsung mengikuti gaya bicara seperti Bian barusan


"Hai Ladies ..."


tapi sayang sekali tak ada satupun yang menjawabnya


"Kami hanya mau menjawabnya jika Bian yang bertanya seperti itu"


"Menyebalkan sekali , mereka benar-benar meremehkan aku , untung saja mereka banyak Jika mereka cuma beberapa orang akan aku berikan sedotan maut ala Bejo , Bian kau saja yang tanya namanya Arika dan Alea "


Bian pun langsung membuka mulutnya untuk bertanya baru saja ia menganga para gadis langsung bertindak berlebihan


"Aroma mulutnya saja membuat aku ingin masuk kedalam mulutnya "


"Aku juga ingin mencicipinya "


Bejo menahan amarahnya didalam hati


"Bau nafas ku juga tak kalah wangi dengan Bian"


ia menghembuskan nafasnya melalui kedua telapak tangannya


"Baiklah Ladies aku sedang mencari keberadaan Arika dan Alea apa kalian semua tau dimana Keberadaan mereka sekarang ?"


Para gadis langsung memasang wajah tak suka


*hah mereka lagi mereka lagi ,apa tidak ada yang ia sukai dari kita semua


kau benar padahal soal wajah dan body aku Jauh lebih oke dari mereka*


"Kami tidak tau ,lagi pula apa untungnya bagi kami jika kami tau dan menunjukkan mereka padamu "


Bian langsung pusing"Oke baiklah siapa yang bisa menunjukkan mereka sekarang ada dimana ,dia akan berkencan dengan temanku yang tampan ini "


Bejo kaget "Apa aku ?"


Bian tertawa ,namun rencananya berhasil dari sekumpulan itu ada seorang perempuan yang sangat gendut sekali


ia langsung menunjukkan tangannya


"Aku tau dimana mereka "


Bejo langsung kaget


"astaga makhluk apa tedmondd itu besar sekali ,Bian apa kau sudah gila menyuruh aku berkencan dengannya "


"Sudahlah kau ini sekali-kali juga berkorban demi teman "


"Ya tapi tak begitu juga caranya , gila !"


Perempuan itu langsung berjalan didepan mereka


"Ikut aku,tadi aku melihat mereka berdua sedang duduk di taman "


"Taman ? baiklah pas sekali orang-orang sedang ramai disana jam segini "


Bian pun berjalan mengikutinya dan ternyata yang dikatakan gadis itu benar


"Itu mereka "


"Bagus sekali , baiklah sesuai janjiku ambil hadiahmu ,dia milikmu untuk berkencan dengan mu "


Dengan cepat perempuan itu langsung menggendong Bejo

__ADS_1


di bahunya


"Uwaaaaa,Bian..Bian..tolong aku apa kau sudah gila..."


__ADS_2