
"Namanya juga nggak sengaja !"
ungkap Arika dengan sangat ramah sekali karena ia tau ia yang salah tak sengaja main tabrak saja, karena buru-buru ingin keluar
"Makanya jalan pakai mata bukan pakai dengkul itu aja kok repot sekali "
Bian memang begitu jika tak ada orang yang tak mengenalinya maka ia akan bersikap dengan arogan sekali kepada siapa saja yang dianggap menganggunya
Dari suaranya Arika seperti sangat mengenalnya
"Suara itu ?"
Arika menoleh keatas lalu ia benar-benar sangat kaget karena lelaki yang ia tabrak adalah seorang Bian , menyadari itu Bian dia langsung sangat cemas sekali
"Astaga Bian ,ya ampun"
Arika langsung buru-buru kabur dari hadapannya
"Hei tidak sopan sekali ya , sudah menabrak langsung kabur"
sama halnya dengan Arika Bian pun langsung sadar jika ia seperti mengenal wajah perempuan yang baru saja menabraknya itu
"Astaga itu kan Arika !"
menunjuk perempuan yang berlari meninggalkannya itu dan langsung menunjuk kearah toilet
"Arika ,atau m.."
Namun ia buru-buru mengusap wajahnya sambil tertawa "Astaga Bian , sungguh lucu sekali ya , bisa-bisanya kau melakukan hal ini ,apa didalam otakmu saat ini hanya ada Clara saja , sehingga kau tak memberikan ruang untuk wajah orang lain , kenapa aku malah melihat wajah perempuan tadi seperti Arika , Astaga sesuatu yang aneh terjadi padaku sepertinya "
Bian pun langsung kembali masuk kedalam kamar mandi untuk mengusap wajahnya kembali , sementara itu didalam toilet tersebut Arya masih berada didalamnya dengan konsentrasi penuh
Dorrr ...duar...prepettt...pet.....
"Ya Tuhan sakit sekali , apa begini yang dirasakan perempuan saat ia ingin melahirkan anak kedunia ya , sungguh aku sangat kesakitan sekali , haduh...apa efek kebanyakan cabe tadi sampai parah begini ya ..."
puk...
puk...
Menepuk perutnya berkali-kali
Bian yang sedang cuci muka langsung menutup hidungnya ,satu ruangan toilet tersebut dipenuhi aroma terapi alami dari tubuh Arya
"Uwekkkssss... uwekkkssss"
Bian langsung muntah-muntah dan keluar dari kamar mandi tersebut
"Sungguh didalam toilet itu bisa membuat aku pusing , mungkin ini yang dirasakan orang saat mabuk "
Bian yang memang sama sekali tak pernah menyentuh alkohol jadi ia tak pernah tau bagaimana rasanya mabuk
Arya yang mendengar suara ribut-ribut diluar tak memperdulikannya "Dasar Tolo*, apa ia tak pernah tau bagaimana rasanya sakit perut lagi pula ini toilet bukannya sebuah taman jadi sah-sah saja untuk orang -orang mau mengeluarkan suara apapun terkadang memang orang-orang ini tak bisa sekali menempatkan dirinya , dimana ia berada "
Arya benar-benar tak memperdulikan siapa yang baru saja muntah-muntah barusan yang jelas ia sekarang sudah resmi menikah dan menjadi suami Siska ,bukan masalah yang besar baginya lagi
Bian pun langsung kembali ketempat acara kembali , sampai-sampai ia lupa dengan tujuan awalnya untuk membuntuti Arika
"Gila ya om Arya ,haduh pantas tadi pas acara akad semuanya langsung menutup hidungnya , baru aroma saja sudah membuat gaduh apa lagi ini beserta ampasnya , sungguh aku mau pingsan rasanya "
"Semoga dia tak mengejarku ,ya Tuhan jangan sampai ini gagal bisa bahaya kalau sampai gagal lagi ,aku sungguh tak mau jika ketahuan akan merepotkan aku saja lagi"
Arika mempercepat langkah kakinya ,tanpa menoleh kebelakang ia pun langsung masuk kedalam kamarnya "Ah untunglah tak ada siapapun yang melihatku masuk kedalam kamar "
Namun yang dipikirkan Arika tak ada siapapun Itu salah karena dari dalam kamar mami Siska ,Rima baru saja keluar karena ingin mengambil sesuatu yang disuruh oleh maminya
"Arika , kenapa ia memakai pakaian yang berbeda perasaan tadi tidak memakai pakaian itu"
Rima pun langsung mendekati pintu kamarnya Arika , namun diluar ia mendengar Alea yang berteriak-teriak memanggil nama Arika
"Arika ..ayo cepat,lama sekali kau dari toilet apa perutmu juga sakit seperti papa ha ?"
Panji hanya diam saja , Sekarang Rima yang mendadak tak karuan bulu kuduknya langsung berdiri ,ia yang telah lama hidup diluar negeri terpaksa harus kembali merasakan hal mistis yang biasa terjadi didalam kehidupan orang-orang Indonesia pada umumnya , meskipun didalam agama yang diyakininya percaya pada hal gaib itu adalah bagian dari rukun iman
"Kenapa jadi merinding begini ya , jika itu adalah Arika ? maka yang baru saja aku lihat itu Siapa? mana mungkin Arika menjadi dua ia kan tak punya kembaran sama sekali "
Wajah Rima langsung berubah pucat dengan langkah yang lambat ia pun langsung berjalan miring , menggeser tubuhnya sampai keluar rumah
"Aku harap aku salah lihat tapi mataku belum minus sama sekali "
Dimas yang kebetulan juga hendak masuk langsung kaget karena menemukan istrinya dalam keadaan berjalan miring seperti itu
"Sayang kau kenapa "
Rima tak bisa berkata apapun lagi namun ia juga tak bisa untuk tidak menceritakan apapun pada Dimas karena dalam rumah tangga mereka berdua menganut sistem keterbukaan , tidak ada yang disembunyikan dan semuanya harus selalu dibuka dengan lebar
Rima menarik tangan Dimas "Kak Dimas aku ingin tanya sudah berapa lama Arika berdiri didepan sana ?"
"Memangnya kenapa ?"
__ADS_1
"Cepat katakan saja ?"
Tangan Rima sangat dingin sekali
"Kau seperti sedang melihat hantu saja , cepatlah katakan saja ?"
Dimas langsung menebaknya "Apa kau barusan melihat Arika dalam bentuk yang berbeda ?"
Rima langsung syok "Bagaimana kau bisa tau kak ?"
Sekarang Dimas dan Rima langsung menyingkir dari orang-orang yang sedang berpose itu
"Dari mana kau tau kak?"
"Jika kau juga melihatnya maka apa yang aku alami dari tadi pagi itu benar adanya aku pikir aku yang sudah jompo ternyata kau juga mengalaminya , aku tau kau tak mungkin bisa berbohong , sekarang yang ingin aku katakan adalah bagaimana rupanya Arika yang kau lihat tadi "
Rima kembali memegang tengkuknya
"Baru membicarakannya saja bulu kudukku semuanya berdiri , padahal waktu papanya Raja meninggal aku sama sekali tak pernah merasakan ketakutan seperti ini "
Dimas pun langsung duduk disampingnya Rima yang awalnya mereka saling berhadapan sekarang sudah bertukar posisi
"Jangankan tengkuk kau lihat seluruh bulu yang ada padaku berdiri semua "
Dimas menarik celananya keatas
"Kau lihat "
Benar saja seluruh bulu kakinya Dimas yang keriting langsung berdiri dengan mode smooting
"Astaga "
Rima kaget
"Apa kau mau lihat yang lainnya lagi "
Dimas langsung membuka Ikat pinggangnya
"Jangan nanti malam saja"
ucap Rima dengan lembut
Rupanya apa yang sedang dilakukan oleh mereka berdua dilihat oleh Aditya , kejahilan Aditya pun muncul dengan diam-diam ia langsung mengagetkan Dimas dan Rima alhasil mereka berdua langsung berteriak dan lari tunggang langgang meninggalkan acara tersebut
"Setannn......setan..."
"Kemana mereka berdua itu ?"
"Sudah biarkanlah paling juga sedang main lari-larian "
Ucap Siska tak terlalu memperdulikan mereka berdua
dari dalam kamar Arika diam-diam mengintip dari celah jendela kamarnya, dan ia kaget saat melihat Dimas dan Rima yang lari dengan terbirit-birit itu "Kenapa om Dimas dan Tante Rima berlari dengan terbirit-birit begitu ya ?"
Arika sempat berpikir jika karena ada yang melihatnya namun sekali lagi ia tak perduli karena saat ini ia sangat ingin tau sekali apa yang dilakukan Panji diluar sana ia pun melihat dengan kedua bola matanya
proses mereka semua yang masih sibuk berpoto-poto dengan sangat meriah sekali nampak Alea yang paling bersemangat dibandingkan semuanya
"Alea kau begitu bersemangat sekali ya , andai saja kau tau aku yang sebenarnya ada disini huhuhu"
Namun hal tak terduga terjadi saat Panji ingin berpoto berdua dengan Siska ia langsung
memeluk Siska tak seperti biasanya
"Hah apa yang dilakukan Panji kenapa ia tiba-tiba memeluk mama , apa yang terjadi Kenapa matanya juga nampak sangat sedih sekali ya , heran !"
Jangankan Arika , Siska sendiri pun juga merasa aneh dengan kelakuan putrinya yang tak seperti biasanya itu
Kenapa dengan Arika , Kenapa pelukannya terasa sangat berbeda sekali meski aku merasa sangat nyaman dengan pelukannya namun ini sungguh benar-benar sangat aneh sekali, ada apa dengan putriku
Siska memandang wajah putrinya dengan tatapan yang sangat aneh sekali
"Arikaaaa kau kenapa Nak?"
Wajah Panji terlihat murung sekali ia ingin menangis nampak dari kelopak matanya yang sudah berair namun tak mungkin jika ia menangis pasti ia akan mengeluarkan suara dan ia tak mau sampai semuanya sia-sia pengorbanan yang telah dilakukan Arika dari subuh tadi hanya akan menjadi sia-sia saja
Siska tau jika ada yang berbeda saat Panji berada dihadapan , dan juga dari tinggi badannya Panji juga lebih tinggi darinya
"Aku merasakan sesuatu yang berbeda , kenapa aku merasa dia bukan Arika , sungguh aku merasakan sesuatu yang berbeda sekali tapi aku tak yakin , apa benar yang bersamaku saat ini bukan Arika lalu siapa ? jika bukan Arika
mustahil sekali aku beranggapan itu adalah Panji, tapi tak mungkin apa yang sedang ia lakukan ditempat ini kan ,lagi pula aku juga kenapa harus memikirkan ia yang tak ada sangkut pautnya dengan ku "
Siska merasa heran namun yang lebih mengagetkan lagi Panji sama sekali dari tadi tak bersuara
ia berfose disampingnya Siska ,dan sungguh sangat aneh pertanyaan yang dilontarkan oleh Siska dari tadi tak satupun yang ia jawab
Apa Arika marah dengan pernikahan ku ini , kenapa ia sama sekali tak menjawab pertanyaan dariku , sungguh aneh sekali bagiku
"Oke baiklah sudah selesai "
__ADS_1
ucap Alea dengan kegirangan sekali ,bisa dipastikan nanti saat Poto di cuci akan banyak sekali posenya nanti
Setelah selesai sesi pemotretan , Panji kembali memeluk Siska dan mengambil tangan Siska lalu menciumnya ,
setelah itu Panji segera pergi kembali masuk kedalam kamar Siska , untunglah Siska tak terlalu fokus karena tamu undangan yang hadir di acara pernikahannya sibuk mengajaknya untuk berpoto juga
Tok ..tokk ..
"Siapa?"
Arika tak berani membuka pintu kamarnya takut jika orang lain yang akan masuk kedalam kamarnya
"Ini Panji kak cepat buka pintunya "
jawab Panji dengan berbisik
Mendengar suara Panji . Arika pun langsung bahagia
"Yes akhirnya ia kembali juga sekarang saatnya giliranku pula untuk berpoto bersama keluarga besar ku "
Arika sudah tak sabar lagi
Saat pintu terbuka Panji pun langsung buru-buru masuk dan membuka pakaiannya
"Panji kenapa kau kelihatannya sedang terburu-buru sekali dek?"
"Kak ini aku sudah menemui mama, Panji harus , segera pergi sekarang kak "
melepaskan kaus kakinya
"Saat ini juga ?"
"Iya kak papa dan mama sendirian disana meski banyak orang tapi mereka butuh Panji , Panji sudah berjanji pada mama silvi untuk pergi hanya sebentar saja , kak "
"Baiklah kalau begitu "
Panji membuka pintunya
Namun Arika kembali menarik tangannya
"Tunggu dulu dek , kau melupakan sesuatu !"
"Apa itu kak ?"
Arika menarik nafasnya dalam-dalam
"Apa gang kau janjikan pada kakak kemarin ha sebuah Rahasia ? ayo cepat katakan rahasia itu apa , jangan sok lupa ,jangan juga mencoba untuk menyembunyikan apapun dari kakak !"
Panji kembali menutup pintu
Wajahnya nampak sangat sedih sekali
" Kakak yakin ingin tau rahasia ini ?"
"Tentu saja , kalau tidak ngapain kakak melakukan semuanya ini Panji "
"Iya tapi kakak jangan banyak tanya ya, karena Panji tak punya Bana waktu untuk menjelaskan secara detail dengan kakak ,Panji sudah memesan pesawat ini tiga puluh menit harus sampai dibandara , lagi pula jika kakak ingin labuh jelas lagi kakak pulang saja kejogja Panji akan menceritakan semuanya disana"
Arika langsung menghalanginya didepan pintu jangan sampai Panji kabur dengan membawa rahasia yang sudah ia tunggu dari tadi
"Tidak bisa dek harus dijelaskan dulu , jangn membuat kakak mati penasaran mau kamu ?"
Panji langsung mengusap wajahnya
"Baik kak , sekarang ni Panji tanya dengan kakak apa yang diberikan nenek sebelum meninggal dunia ?"
"Hah bagaimana kau tau kakak bertemu dengan nenek saat nenek mau meninggal ?"
Panji langsung berbicara dengan tegas "Kan tadi Panji sudah mengatakan kepada kakak ,Panji tak bisa menjawab semuanya secara detail , saat ini Panji hanya ingin mengatakan jika Panji sudah tau semuanya kak bagaimana proses terjadinya Panji hingga lahir kedunia ini "
Arika langsung syok wajah nya memerah dan terdiam tak berkutik sama sekali
"Panji "Arika tampak merasa bersalah sekali padanya
"kak ini bukan saatnya mengeluarkan air mata,mama sedang bahagia hari ini Kakakku pun juga harus merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh mama, Panji hanya ingin mengatakan jika kita adalah saudara kandung kak , kita samakan tercipta dari dua sel mama dan papa yang sama , tapi hanya cara Panji yang sulit dititipkan di rahim mama Silvi , dan mama Siska tak tau itu , Panji harap kakak harus bisa menyimpan rahasia besar ini jangankan kakak Panji juga bingung jadi Panji ini harus bagaimana posisi nya "
Arika langsung kaget "Apaaaa?"
"Kak buka saja semuanya yang diberikan nenek ia tak sempat menceritakan secara detail apa yang terjadi pada kakak karena terlalu sedih untuk diungkapkan semua, sebelum meninggal nenek mengatakan semuanya pada Panji pada saat detik-detik ia tak sadarkan diri itu "
Panji terlihat terburu-buru sekali , seperti sedang mengejar sesuatu
"Kak Panji pulang dulu kak "
"Panji tunggu !"
Bug...
pintu kamarnya langsung tertutup dan Panji pergi dari pandangan matanya
__ADS_1