
Arika langsung tertawa geli membayangkan ide yang ia susun sendiri itu
"Kak Arika jangan mengatakan ideku ini konyol kak ini semua sengaja Panji lakukan demi ingin bertemu Mama"
Arika langsung bertanya kembali
"Tapi kau yakin Dek akan melakukan ini, ini benar-benar konyol sekali "
"Sekarang kakak coba cari dulu ada nggak bajunya yang sama ?"
"Ada dek ada ,tapi ..."
"Sudahlah kakak jangan berpikir yang aneh-aneh lagi yang terpenting saat ini kakak ikuti saja permintaan Panji bisa kan ?"
Arika terdiam
Sebenarnya kakak tak tega menyuruhmu melakukan hal ini, tapi kau terus memaksa ya sudahlah ini satu-satunya jalan untuk kau bisa bertemu Mama , walaupun banyak hal aneh yang ingin kakak tanyakan ya sudahlah kak besok masih bisa bertanya
"Baiklah Kakak tunggu besok ya pagi-pagi sekali kau sudah berada dirumahnya mama ,nanti kakak kirimkan alamatnya , jangan lupa berikan pada sopir taksi"
"Tapi kak kan ada mobil kita disini "
"Emangnya kamu paham jalan dikota ini"
Panji langsung tertawa dengan menggaruk-garuk kepalanya "Iya kak Panji tidak tau "
"Makanya telpon taksi saja nanti dia yang akan mengantarkanmu , mengerti ?"
"Baiklah Kakak kalau begitu Panji mau istirahat dulu "
"Ya sama kakak juga capek sekali hari ini "
Arika langsung mematikan ponselnya
"Sama Panji kakak juga lelah , lelah hati pikiran dan semuanya yang ada didunia ini memang benar-benar terasa melelahkan sekali , benar yang dikatakan didalam pepatah 'Jika kau mengejar dunia dan isinya maka tak akan habisnya tapi jika kau mengejar akhirat maka dunia akan mengejarmu ', ya ya ..tapi aku tak ingin terlalu dikejar dunia aku ingin ketenangan batin ,jiwa dan raga ku tentram "
Arika kembali berbaring dengan menenggelamkan wajahnya kedalam bantal
"Selamat malam Arika , selamat malam semuanya , hoammmm"
Arika pun langsung tertidur dengan lelap sekali
Keesokan harinya
Arika sudah bangun seperti biasa setelah selesai sholat subuh ia langsung bergegas untuk segera mandi, kebiasaan seorang gadis cantik memang yang selalu mandi pagi
"Hari ini adalah hari yang spesial untuk mama semoga saja mama benar-benar bahagia dalam hidupnya, dengan om Arya mama bisa merasakan semuanya "
Terdengar suara Beberapa orang yang sibuk diluar kamarnya
Para panitia sudah bergerak dari subuh hari
untuk memastikan semua persiapan sudah rampung
", Mereka semua sudah datang sepagi ini? atau memang mereka tidak tidur semalaman "
Arika mengintip keluar dan ia kaget saat melihat banyak sekali orang "
"Ya ampun benar mereka ramai sekali "
Menutup pintu kamarnya kembali
Tapi rupanya subuh-subuh begitu Panji sudah stand by dari tadi sebelum orang-orang azan subuh ia sudah bangun , karena memang itu sudah menjadi kebiasaan dari keluarga besar mereka dari dulu ,
"Kak Arika yang menghubungi duluan atau Panji ya ? "
Karena ia telah lama berdiri diluar ia pun sudah tak sabar lagi untuk bisa masuk kedalam rumah Arika,
"Aku akan menelpon Kak Arika saja , tunggu sebentar
kebetulan sekali Arika juga akan melakukan hal yang sama untuk menelpon Panji
"Nah pas sekali aku juga akan menelponnya tapi ia malah menelponku duluan terkadang aku merasa sudah seperti sedang melakukan telepati saja "
Arika langsung mengangkat handphonenya
"Halo Dek , iya bagaimana dek ?"
"Kak bagaimana caranya agar bisa masuk, Panji sudah didepan ini ?"
"Wah cepat sekali datangnya , tupan, , baiklah Dek ,kakak keluar tunggu saja didepan ya"
"iya kak jangan lupa pakaian kakak untuk Panji "
Arika pun langsung keluar dan membawa kerudung untuk dipakai oleh Panji
" Hmm ya Untunglah ada jilbab mama , jadi Panji akan aman masuk kedalamnya "
Arika keluar dengan mengendap-endap karena para MUA sudah bersiap-siap untuk merias wajah Siska ,
"Aduh ramai sekali jam segini , ya ampun semoga saja rencana Panji aman sampai nanti acara selesai "
Pernikahan mereka yang awalnya akan diadakan jam 10 pagi akhirnya di majukan menjadi jam delapan , karena menyesuaikan dengan waktu dan tanggal yaitu tanggal delapan , pukul delapan , bulan delapan dan tahun Yang belakangnya juga delapan , konon juga katanya jika angka delapan dalam angka Tionghoa itu adalah angka keberuntungan , diharapkan tanggal yang dipilih hari ini membawakan keberuntungan untuk Siska dan Arya dalam pernikahannya ya begitulah kira-kira namanya juga mitos , boleh percaya apa tidak yang jelas setiap hari dan tanggal itu sangat lah baik tergantung bagaimana kita menyikapinya sebagai manusia
Arika pun berhasil keluar rumah
"Akhirnya berhasil juga aku mengendap-endap menjadi seorang penyusup didalam rumah sendiri "
__ADS_1
Panji berdiri tak jauh dari rumahnya Siska
"Kak Arika ,masih lama tidak ya ?"
Panji harap-harap cemas juga takut jika rencananya tak bisa berencana dengan mulus
Namun tak lama menunggu Siskapun akhirnya datang dan langsung memberikan Panji daster dan kerudung milik mamanya
"Ayo cepat dek pakailah , mumpung tidak ada orang ayo cepat !"
"Iya kak "
Arika melihat kekiri dan kekanan untuk melihat orang , sedangkan Panji dengan cepat memasang semua perlengkapannya
"Sudah kak "
"Ayo cepat masuk "
menarik tangan Panji
Saat panji buru-buru memakainya , dan selesai Arika langsung melihat kekiri dan terlihat Dimas habis pulang sholat berjamaah dan betapa kagetnya ia saat melihat Dimas berjalan Menuju kearah mereka
"Astagaaaaa om Dimas"
"Kak mau kemana ?"
"Berdiri saja disana jangan melakukan apapun kau dengar , itu ada kakaknya mama "
menunjuk Dimas dengan mulutnya
"Iya kak "
Panji juga tak mengerti namun dari gelagat kakaknya yang langsung bersembunyi pasti ada sesuatu yang tidak beres kalau begitu ceritanya
Arika langsung bersembunyi dibalik pohon
Panji sudah siap dengan pakaiannya dan juga kerudung yang ia kenakan , Dimas baru pulang dari sholat berjamaah di mesjid dan kaget say melihat seseorang yang ia kenal berada di hadapannya
"Itu Arika bukan ya? , tapi kenapa ia mengenakan pakaian dengan kerudung dengan lengkap sekali ya ?"
Berkali-kali Dimas memperhatikan gerak-gerik Arika yang berada dihadapannya
Ia langsung kaget saat melihat Panji didepan rumah "Arika kenapa, kau berdiri disini Nak "
Dimas menghampirinya, Arika pun langsung panik jika sampai Panji bersuara maka habislah segala rencana mereka itu
Astagaaaaa kacau jika Panji bersuara nanti ketahuan , bagaimana ini , aku takut sekali jika sampai ketahuan maka semuanya akan Gatot gagal total, dan semuanya akan berjalan dengan sangat buruk , Panji maafkan Kakak ini diluar kendali kita sebagai manusia , seharusnya kau tak perlu melakukan ini Dek
Namun Arika lupa jika adiknya tersebut sangatlah cerdas ia tak perlu mengkhawatirkan Panji , jika dia memikirkan segala sesuatu dengan sangat panjang sekali saat ia ingin melakukan sesuatu ,pasti sudah melalui banyak pertimbangan sekali , Panji sangat lah cerdas ia langsung mengeluarkan handponenya dan menulis ditulisannya
justru Arika yang semakin panik
Panji langsung menyodorkan handphonenya pada Dimas
"Ada apa Arika "
Dimas pun jadi heran juga dengan kelakuan keponakannya itu
"Om aku sedang tidak boleh berbicara karena sedang memakai masker dari putih telur yang sudah dibuatkan langsung oleh MUA mama, lalu aku disuruh untuk keluar menghirup udara subuh agar aura kecantikanku semakin terpancar besok pagi , karena seorang gadis harus tampak cantik "
tulis Panji sambil diucapkan oleh Dimas
Arika langsung tersenyum geli mendengarkan Dimas membacanya apa lagi wajahnya Dimas nampak sangat heran
"Yes adikku kau memang sangat terbaik sekalipun ,aku saja sampai tak terpikirkan sejauh itu apa lagi dalam kondisi mendesak bisa-bisa malah ide konyol yang keluar ,namun , kakak sangat bangga padamu ,kau memang adikku yang sangat cerdas , kau bisa dengan tenang melakukan semuanya "
Arika langsung bernafas lega
Sedangkan Dimas pun langsung tertawa geli membacanya "Astagaaaaa ada-ada saja Mua mamamu , kepercayaan apa itu hadeh tahun sudah modern seperti ini masih juga , ya ampun Arika kalau dasarnya cantik ya nggak perlu pakai embun-embun segala tetap akan cantik , tapi pada dasarnya setiap anak gadis yang selalu bangun pagi itu dia memang akan terlihat cantik dari pada gadis yang bangunny siang saat matahari sudah terbit dengan tinggi sekali. , sudahlah ayo cepat masuk , Om mau melihat mamamu didalam bagaimana persiapannya apa sudah selesai atau bagaimana "
Panji pun langsung masuk kedalam mengikuti Dimas , yang berjalan dibelakangnya agar tak kelihatan mencurigakan ,meski tanpa disadari pakaian yang dikenakan oleh Panji tersebut terlihat menggantung di kaki Panji
Arika langsung cemas "Astagaaaaa kacau bagaimana kalau Panji tak tau mana kamarku ,bisa bahaya , kacau mana handponeku tinggal dikamar pula ,lagi pula Panji kenapa harus mengikuti om Dimas segala sih ini yang bakal membuat semuanya menjadi repot"
Arika mencoba memanggil Panji
"Panji...Panji..."
Dimas yang berjalan dihadapan Panji langsung berhenti dan melihat sekelilingnya
"Apa kamu mendengar suara yang berbisik seperti sedang memanggil nama seseorang ?"
Panji langsung melihat sekeliling karena ia yakin itu pasti suara Arika
Panji menggelengkan kepalanya tanda ia tak mendengar apapun
Arika langsung segera kembali bersembunyi "Aduh.om Dimas ini telinganya masih sangat tajam sekali rupanya "
Arika langsung menutup mulutnya
"Jadi kau tak mendengarkan apapun Arika , aduh kenapa jadi agak serem begini nya , padahal ini sudah hampir pagi"
memegang bulu kuduknya
Arika malah langsung tertawa geli
"Ya ampun om Dimas ternyata penakut juga "
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita masuk kedalam rumah "
Namun tak sampai disitu saja
Pada saat berjalan beriringan dan hendak masuk kedalam rumah ,Dimas melihat ke arah samping Panji yang berdiri
"Kenapa perasaan Om kau lebih tinggi dari pada om ya "
tanya Panji ,kali ini ia tak akan mungkin bisa mengelak lagi kan ,atau menutupi dengan merendahkan tubuhnya , bisa ketahuan nanti
Panji langsung terdiam ,ia baru menyadari jika daster yang diberikan kakaknya Tersebut tak sampai mata kaki , jadi bulu-bulu di betisnya kelihatan sekali
"Ya ampun semoga saja orang ingin tak melihat kakiku ,aduh..kacau"
Panji tampak mulai gugup ia dan Arika juga tampak cemas
"Ya ampun kenapa lagi mereka berhenti ,dan itu om Dimas kenapa melirik Panji seperti itu ya ?"
Panji yang tak bisa menjawab langsung buru-buru masuk kedalam rumah,
"Bagus Panji langsung masuk saja "
Ia masuk dan kaget saat menemukan banyak kamar didalam rumah tersebut dengan jarak yang sangat dekat sekali
"Aduh yang mana kamar kak Arika "
Ia langsung saja mencoba membuka pintunya satu persatu dimulai dari pintu pertama yaitu kamar maminya Siska
"Coba saja dulu yang ini "
Cekrek ... pintu pertama langsung tebuka dan ia kaget sekali saat melihat maminya Siska yang sedang Sholat Untungnya maminya Siska tak hilang konsentrasinya saat melihat Panji masuk kedalam kamarnya "Bukan ..."
"Baiklah mungkin kamar yang itu "
Panji mulai panik karena ia sama sekali tak pernah bersikap seperti seorang pencuri tersebut
"Haduh ... "
menarik nafas dalam-dalam lalu kembali
Membuka kamar kedua , pada saat sedang memegang gagang pintu kamar tersebut Panji melihat sebuah tulisan yang tertempel di pintu kamar yang lainnya dan rupanya kamar Arika itu ada namanya yang menempel didinding bertuliskan Arika ia langsung masuk kedalam kamar tersebut
"Itu dia kamar kak Arika "
dengan cepat ia langsung masuk kedalam kamar tersebut
Buru-buru berjalan masuk kedalam kamar tersebut
" HAh untunglah akhirnya sampai juga" ,Panji langsung mengunci pintu kamar tersebut takut jika ada orang yang masuk , dengan cepat ia melepaskan pakaian dan juga kerudung yang ia pakai
"Huh...kak Arika mana lagi ?"
melihat handponenya Arika diatas kasur
"Semoga kak Arika juga bisa segera masuk agar semuanya aman"
Sementara itu Arika yang merasa aman dan semuanya baik-baik saja langsung keluar dari persembunyiannya
"Oke sepertinya sudah aman "
melihat kekiri dan kekanan
Dan memastikan jika tak ada orang lagi
"Panji Semoga saja dia berada ditempat yang tepat "
Namun Arika tak tau jika Dimas masih penasaran dengan suara yang tadi ia dengar dengan membaca doa ia melihat sekelilingnya
"Aku yakin sekali tadi aku mendengar seperti suara Arika tapi memanggil nama lain , padahal Arika sendiri berada disampingku "
Dimas membacakan Doa , karena hari masih gelap dan imannya juga belum kuat-kuat sekali
membuat Dimas memilih untuk berdiri didepan pintu rumah tersebut, padahal orang-orang sudah banyak berkeliaran mempersiapkan semuanya
Namun baru hendak melangkah Arika kaget saat melihat Dimas yang sedang berdiri tepat didepan pintu
"Ya ampun om Dimas ngapain dia.berada disitu , apa dia tidak masuk saja atau pergi kemana gitu "
Namun ia melihat Dimas sedang berbicara sendiri
"Mungkin om Dimas sedang memikirkan sesuatu , sebaiknya aku langsung lewat saja dihadapannya tak usah memikirkan banyak hal , karena orang kalau lagi memikirkan hal lain biasanya tak terlalu perduli dengan orang-orang yang berada disekitarnya "
Saat itulah Arika langsung melintas di hadapannya dan menyapanya dengan sangat santai sekali
"Pagi Om ..."
Arika melewatinya tanpa dosa dan berharap jika Dimas tak menyadarinya
"Pagi Arika "
Jawab Dimas dengan sangat ramah sekali Arika pun berhasil melewati Dimas
"Oh untung lah berhasil "
mengelus dadanya dan tersenyum bahagia
Dimas awalnya bersikap cuek saja , namun setelah itu ia langsung kaget dan baru menyadarinya "Arika ? itu barusan yang lewat dari mana dia ? ,lalu yang tadi Arika juga , masker telur dan tadi, dan ....?
__ADS_1
Dimas bengong