
Siska melempar kan tubuhnya di atas kasur ia yang kelihatan begitu kuat dan tegar dan tak terkalahkan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar ia tak tau jika ia akhirnya rapuh juga jika sudah berurusan dengan maminya , ia tak terlalu perduli dengan Dimas yang akan terancam batal nikah jika tak ada biaya ,tapi ia lebih memikirkan perasaan Rima sahabat nya itu
"Huhu apa yang harus aku lakukan jika kondisi keuangan mami seperti ini , tak mungkin aku harus menghubungi Daddy di Belanda , apa lagi istri bule nya itu sangat pelit sekali "
Siska mengatur alarm agar bisa bangun jam empat pagi lebih pagi dari Arjuna ,karena ia sama sekali tak mau bertatap muka langsung dengan Arjuna ,
Siska membuka lemarinya kebetulan ia masih punya perhiasan yang diberikan oleh ibu Arjuna saat menikah dahulu , ia berencana akan menjualnya , untuk uang saku nya
"Yap aku akan menjual benda ini besok setelah pulang kuliah , untuk sementara aku akan memasak saja dulu jika lapar ,aku akan berhemat untuk tidak jajan di luar dulu "
Wajah Siska terlihat benar-benar pasrah ia tak percaya jika ia akan berada di posisi Ana , tapi yang lebih menyedihkan ia adalah makhluk manja yang tak bisa apa -apa di bandingkan Ana
Arjuna tampak beristirahat dengan tenang di kamat sebelah karena memang sesuai permintaan Siska jika ia tak mau sekamar dengan Arjuna meski semua pakaiannya berada di kamar Siska ,tapi Arjuna sudah mengambil beberapa pakaian setiap hari nya jika ingin berganti pakaian , soalnya ya tau lah Siska tak akan mungkin bisa bangun pagi
"Aku harus bangun pagi , good night "
Siska yang kelelahan pun segera tidur
jam dinding berdetak dan malam itu pun segera berlalu ,
tak lama tepat pukul empat subuh alarmnya pun hidup , dan bersuara keras sekali ,tapi memang dasar Siska tukang tidur , mungkin ibaratnya gempa pun terjadi ia tak akan terbangun , justru Arjuna yang malah terbangun
"Astaga kenapa alarm ponsel nya hidup jam segini , apa alarmnya rusak "
Arjuna langsung berdiri dengan bertelanjang dada ,ia menggedor-gedor pintu kamar Siska tapi tak mendapatkan jawaban justru dengkuran Siska tak kalah keras dengan suara Alarm tersebut
Terpaksa Arjuna langsung membuka pintu kamar Siska
"Astagaaaaa aku sungguh heran melihat nya , bisa-bisanya ia menghidupkan alarm sepagi ini
hah "
Arjuna mematikan alarm nya lalu kembali masuk kedalam kamar
Matahari kembali muncul dan cahaya nya masuk kedalam kamar Siska , membuat matanya merasa silau karena cahayanya
Siska mengucek matanya "Sial siapa yang menghidupkan lampu !"
Siska bermaksud mematikan lampu nya ,lalu tak sengaja menoleh kearah jendela
"Astagaaaaa sudah siang ?!"
__ADS_1
Siska berlari melihat Alarm jam nya
"Sialan apa jam ini rusak , Sekarang sudah jam delapan ,aduh aku kesiangan lagi , bagaimana ini , selalu saja planning ku gagal "
Siska buru-buru mandi dan berlari kedepan untuk naik angkutan umum
step awal ia sudah mulai terbiasa untuk naik angkutan umum, tinggal mengubah banyak hal lainnya
Sesampainya di kampus ternyata ia sudah telat ,
"aduh bagaimana ini "
Tapi Siska kembali menanamkan di dirinya mulai saat ini ia akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada dirinya
menarik nafas dalam-dalam lalu memberanikan diri mengetuk pintu
"Selamat pagi pak , bolehkah saya masuk !"
Dosen tersebut terlihat garang sekali
Aduh muka bapaknya seram sekali udah kek ondel-ondel
"Kamu lagi ..kamu lagi , dari mana kamu sekarang alasan apa lagi yang akan kamu buat ha ,kamu ini sungguh berbeda sekali dengan Dimas kakakmu yang selalu disiplin dan cerdas dalam segala hal "
"Maafkan saya pak,saya kesiangan tapi saya janji jika ini adalah keterlambatan saya yang terakhir kali ,pak "
"Oke baiklah "
Dosen tersebut mengangguk
"Jadi apa saya boleh masuk pak ?"
Semua terdiam termasuk Siska yang harap-harap cemas
"Tidak boleh kamu harus belajar di luar kelas , dan untuk kali ini saya masih memaafkan kamu dengan mengizinkan kamu untuk bisa mengikuti jam pelajaran saya ,tapi jika kamu berani mengulangi nya lagi ,nilai kamu langsung gaga dan harus mengulang semester depan "
"Baik pak , terimakasih "
Untuk pertama kalinya ia meredam ego nya biasanya ia hobi sekali membantah apapun yang tidak ia suka termasuk dosen tersebut
Siska pun langsung duduk di depan kelas ,tapi sepertinya dosen tersebut masih punya hati
__ADS_1
"Ambil kursi mu dan bawa kedepan pintu "
"Baik Pak "
Ucap Siska dengan sopan , di dalam kelas juga ada Alena , ia adalah murid kesayangan dosen killer tersebut karena otak nya yang encer dan juga ia bisa mengambil hati dosen tersebut
Siska melirik muak kearahnya , tapi kali ini ia berhasil mengerjakan tugas yang di berikan oleh dosen tersebut meski dari sepuluh soal hanya satu saja yang bisa ia jawab , hmm lumayanlah ini sebuah kemajuan dari pada tidak bisa sama sekali
Siska tampak bahagia sekali karena ia berhasil menjawab satu soal dengan benar
"Ternyata tak sia-sia juga Silvi mengajar kan aku kemarin, yes Siska ini kemajuan yang sangat pesat "
Siska melompat kegirangan ia berjanji di dalam hatinya ,jika ia akan merubah semua sikap nya ,
jam menunjukkan pukul tiga sore , ia pun masih berada di kampus ,karena malas pulang cepat kerumahnya
Ia melihat Alena yang mengejar-ngejar Arya dengan makanan di tangannya
"Kak Arya ini aku bawakan makan untuk mu , kemarin aku melihat kau menghabiskan semua masakan ku "
Siska langsung menoleh kearah Arya
"Ternyata memang semua laki-laki sama saja , mengatakan cinta tapi segampang itu melupakan segalanya "
Arya melihat jelas tatapan Siska padanya ,dengan menarik nafas dalam-dalam ia pun langsung berpura-pura Mengambil makanan yang diberikan oleh Alena
"Ah gitu dong calon suamiku "
Uwekkkssss,aku ingin muntah Mendengar kannya , terbuat dari apa makhluk ini ha ,tapi ini semua demi kebaikan bersama , Maafkan aku Siska hanya dengan cara ini kau akan membenciku
Siska langsung badmood dengan memukul kan tangan nya keatas meja lalu ia segera berdiri "Menjijikkan sebaiknya aku segera pulang saja "
Siska langsung meninggalkan tempat itu ,
sadar jika Siska telah pergi ,Arya pun langsung memberikan kembali makanan tersebut
"Ini ambil aku tidak lapar sama sekali "
Alena langsung berpura-pura bersedih dan menangis
"Hei buaya buntung kau dengar ya , mau kau menangis hingga membuat lautan sekalipun aku sama sekali tak perduli paham !"
__ADS_1
Alena malah semakin menjadi-jadi menangis tapi kali ini dengan histeris hingga menimbulkan perhatian orang-orang di sekitarnya
"Hei lihat lah kenapa perempuan itu menangis !"