
"Arika bagaimana ini?"
Bian panik ia nampak mengangkat pakaiannya
membuat Arika menjadi semakin kaget saja
"Hei Bian, kenapa kau angkat pakaianmu itu?"
"Astaga, aku lupa!" buru-buru menurunkan pakaiannya.
"Ya sudaha angkat saja?kan tinggal diangkat juga?"
ucap Arika
"Apa kau tidak lihat mereka kompak menelpon kita berdua?"
Arika langsung menghampiri Bian,"Tinggal angkat saja, mereka kan juga ingin tahu apa saja yang sedang dilakukan oleh putra dan putrinya"
"Arika, apa kau tidak malu, jika mereka melihat kita?"
"Sudah serahkan padaku"
Aku tau mereka memang ingin melihat apa yang sedang kita lakukan hah, baiklah jika itu yang diinginkan oleh mereka berdua, para mama-mama yang kebelet banget ingin cucu itu
"Arika apa kau tidak malu?"
Bian yang nampak sangat khawatir sekali
"Jangan khawatir, tidak ada yang perlu ditakutkan, ayo kemari"
Arika langsung menarik tangan Bian hingga mereka terlihat seperti sedang berpelukan
"Baiklah Para mama, sepertinya kalian benar-benar sungguh memaksa sekali ya?"
Arika pun langsung mengangkat telponnya
"Angkat telpon mu juga"
secara bersamaan mereka berdua mengangkat telpon dan sudah di duga ternyata Ana dan Siska sedang duduk berdua
__ADS_1
"Oh sayang, apa kami mengganggu kalian?
Tatapan mata Ana tertuju pada Arika dan Bian
"Hmm menurut Mama?"
ternyata Siska dan Ana sedang duduk bersebelahan
.Hah sudah aku duga mereka akan melakukan hal ini
Menarik nafasnya dalam-dalam
"Bian apa kau baik-baik saja Nak?"
tanya Siska
"Para mama sebaiknya tidak usah bertanya seperti itu, karena Arika dan kak Bian mau istirahat dulu?"
"Apa? istirahat pagi-pagi?"
lagi-lagi Siska dan Ana saling berpandangan didalam video call tersebut dengan wajah yang bahagia sekali
"Sebaiknya kita matikan saja telponnya Ana, aku sudah tak sabar menantikan kehadiran cucu kita"
"Kau benar Siska, aku juga sudah tak sabar lagi,"
Menyebalkan sekali, uh....
"Baiklah sayang selamat bersenang-senang, kami sudah tak sabar menunggu kalian pulang,
Telpon pun segera dimatikan
"Kau dengar itu Bian?"
"Ya aku dengar?dan aku semakin semangat untuk menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tua"
Bian tersenyum lebar
"Maksudnya apa?"
__ADS_1
"Ya, maksudnya sesuai permintaan mereka lah, aku ingin menjadi anaknya yang berbakti didunia dan akhirat"
"Jangan mimpi, Bian ini sama sekali tidak lucu!"
Arika langsung melemparkan bantal pada wajah Bian
"Empuk sekali"
Arika pun langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur "Aku ingin makan es krim bisakah kau mengambilnya untukku?"
"Es krim? baiklah apapun yang kau pinta akan aku berikan, asal kau memberikan kewajibanmu padaku"
"Baiklah tentu saja, aku akan melakukan apapun untukmu?"
ucap Arika tersenyum
"Yes" Bian melompat kegirangan
ia tak sadar jika ia keluar hanya menggunakan ****** ***** saja, karena tadi tak sengaja tertarik turun saat hendak berdiri
"Ya cepatlah berikan aku es krim dulu"
"Baik Bos, siap, mau rasa apa?"
"Rasa muak di dada kalau ada?"
ucap Arika dengan kesal
"Oh tidak ada rasa itu, yang ada sepertinya rasa gelora asmara di dadaku"
"Enyah kau dari hidupku".Arika ingin muntah mendengarkan ucapan rayuan gombal yang di ucapkan oleh Bian
"Tunggu sebentar ya..."
Bian kembali menutup pintu,
Arika pun langsung bernafas lega, lalu tak sengaja ia melihat celana boxer Bian yang berada di lantai
"Itu bukannya celana Bian?, lalu..ia keluar menggunakan apa?"
__ADS_1