
"Arika jelas-jelas ya Mama dan Tante Ana melihat semuanya dengan mata kepala,kalau kalian itu sedang berduaan didalam mobil, dan semua bukti yang ada didepan mata ini juga sudah cukup, sudahlah jangan berbohong lagi sayang..., lagi pula kenapa kamu pulang tidak menelpon Mama atau mas Raja untuk dijemput, kenapa malah minta di jemput dengan Bian,kalian mau kemana memangnya sayang"
mengelus kepala Arika, dengan ucapan yang sangat lembut sekali agar ia mau jujur.
Tapi perlakuan Ana berbeda dengan Siska ia masih saja meradang dengan kelakuan Bian
"Sungguh Mama juga sangat kecewa denganmu Bian, mama sangat kecewa sekali, bayangkan saja anak laki-laki yang Mama banggakan bisa melakukan hal itu, astaga sungguh sangat memalukan sekali, mama tak habis pikir, apa yang ada dipikiran kalian berdua, apa kalian akan mencari hotel tadi?"
Bian tak bisa berkata apapun lagi karena percuma saja apapun yang akan mereka katakan tak akan mungkin bisa dipercaya, karena apa yang dikatakan oleh Mamanya itu memang benar, sesuatu yang jelas-jelas terlihat didepan mata, maka orang akan lebih percaya dengan apa.yang dilihat, walaupun belum tentu kebenarannya
"Aku tak habis pikir bagaimana lagi ini"
menempelkan tubuhnya didinding mobil
Aditya langsung menenangkan Ana yang masih berapi-api ia tahu jika Ana sangat kecewa dengan kelakuan Bian, meskipun ia juga kecewa. cuma apa yang mau dikatakan semuanya sudah terlanjur terjadi.
"Sudah sayang,tenangkan dirimu, kita akan segera menikahkan mereka berdua ya, sabar sayang"
Arika dan Bian langsung tertunduk dengan lemas
"Tapi kan Ma, pernikahan itu butuh waktu berbulan-bulan untuk menyiapkan semuanya"
ucap Bian masih ingin menggoyang pikiran Ana.
"Kata siapa? semuanya bisa siap dalam waktu beberapa jam, kalian menikah saja dulu, setelah sah baru kita pikirkan resepsinya lagi, berhentilah mencoba untuk menggoyang pikiran Mama Bian, mama akan marah besar kalau kau terus-menerus berbicara"
"Bian ... jangan banyak bicara lagi Nak, nanti kamu sendiri yang repot, seperti tidak tau bagaimana mamamu saja, sudah jangan banyak berbicara lagi dengarkan saja"
"Baik Papa"
"Mama ..."
ucap Arika
"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja"
Argggh bukan itu mama, tapi dunia tidak akan baik-baik saja, kalau aku dan Bian menikah Mama. mama tau tidak jika ia adalah laki-laki yang Arika ceritakan itu, laki-laki menyebalkan itu Ma ....
Didalam mobil Ana sudah sibuk untuk menelpon EO acara untuk dapat melaksanakan pernikahan mereka berdua siang ini juga, setelah sholat Jumat kebetulan hari ini adalah hari Jumat, merupakan hari yang baik untuk sebuah pernikahan menurut pandangan agama mereka masing-masing
"Aman dan tenang semuanya sudah aku urus dengan baik, kalian tinggal tunggu saja semuanya"
Siska dan Ana saling berpandangan satu sama lainnya
Mobil pun langsung memasuki rumah kediaman keluarga Aditya
"Baiklah sekarang aku akan membawa Arika pulang dulu, semua persiapan sudah langsung disiapkan di rumah, jangan khawatir untuk persiapan pernikahan Tim EO sudah berada di rumahmu itu"
"Ya ampun Ana sudah aku katakan padamu, akhirnya kita akan menjadi besan juga"
"Kita akan menjadi keluarga juga yang tak terpisahkan"
berpelukan
Bian melirik kearah Arika saat hendak turun dari mobil "Semua gara-gara kau!"
berbicara tanpa suara. Tapi Arika paham gerakan bibirnya
"Baiklah, aku akan pulang dulu"
ucap Siska
Ana langsung menarik tangan Bian
"Sudahlah Bian jangan kau pandangi Arika terus nanti kalian akan bersama lagi, ayo cepat"
Siska juga langsung menoleh kearah Arika
"Arika tundukkan pandanganmu. nanti saja kalau mau lihat-lihatan, sekarang belum sah"
Arya, Siska dan Arika sampai lupa jika mereka sedang berada didalam mobil Aditya
"Siska apa kita akan membawa mobil milik Aditya ini ha?"
"Ya Tuhan hampir saja lupa, ayo kita turun"
"Aduh bawa saja dulu mobil ini"
"Jangan repot-repot lagi"
"Baiklah semuanya sudah siap kan, sekarang aku pulang dan nanti kau langsung kesana ya ..."
"Ya, nanti aku akan segera kesana setelah semuanya beres,kau jangan khawatir aku sudah menyiapkan semuanya, penghulu akan tiba di tempat setelah sholat Jumat, akad nikah akan segera dilaksanakan,kalian semua hanya tinggal duduk manis saja"
"Terimakasih Ana kau memang selalu bisa diandalkan" ucap Siska berpamitan
"Jangan khawatir karena aku sudah menyiapkan ini jauh hari sebelumnya"
"Menyiapkan sejak jauh hari?, astaga itu tandanya memang tanpa ada insiden ini kami akan tetap menikah"
Arika pun segera pulang bersama orang tuanya .jangan ditanyakan bagaimana suasana hatinya saat ini, pasti lah kacau balau
"Ini minum dulu, tenangkan dirimu m karena semuanya akan baik-baik saja"
Di dalam mobil pikirannya terus Kemana-mana,
ia tak sadar jika jaket yang ia pakai itu menyimpan wangi tubuhnya Bian yang sangat khas sekali, dan tanpa disadari Arika, ia menyukai wangi tubuhnya Bian
Aku tak tau jika aku akan menikah dengan cara begini, aku tak yakin pernikahan ini bisa bertahan seperti mama dan Papanya apa lagi tadi aku baru saja melihat Bian bersama gadis yang sangat cantik sekali,itu pasti kekasihnya yang ia cintai apa lagi Bian kan seperti bunglon didepan orang tuanya sok baik padahal aslinya benar-benar brengse*
Arika hanya bisa diam saja tak mengerti lagi harus membahas apa didalam mobil, ia juga tak bisa mendengarkan pembicaraan Siska dan Arya karena pikirannya sudah sangat kalut sekali.
........
Di kediaman Siska
Ibu Arya dan Maminya Siska yang sedang bersenda gurau kaget saat beberapa rombongan mobil datang kerumahnya
"Ya ampun besan kau juga suka sekali ya dengan makanan khas daerah itu"
"Sungguh aku suka sekali besan memang enak tidak ada tandingannya
mereka asik bercerita dan bersenda gurau, duduk didepan teras dengan secangkir teh hangat dan sepiring rebusan ubi yang dibuat langsung oleh ibunya Arya
"Bahkan ubi ini lebih enak dari keju yang sering aku makan"
"Ah besan, terlalu berlebih-lebihan sekali" tertawa.
saat bersamaan mereka langsung kaget karena beberapa buah mobil masuk kedalam halaman rumah itu suasana obrolan hangat itu pun langsung terhenti
"Besan Mobil apa itu kenapa banyak sekali?"
"Aku juga tidak tahu besan mobil -mobil itu kenapa masuk disini"
"Atau mungkin salah alamat ya besan?"
"Kita tanyakan langsung ayo besan"
Mereka langsung berdiri heran
salah seorang keluar dari dalam mobil menghampiri dua orang perempuan manula itu
"Maaf Nyonya menganggu kami dari even organizer apa benar ini rumah Nyonya Siska?"
"Ya benar, ini rumahnya ada apa ya?"
"Baiklah ini benar" teriaknya pada yang lainnya dengan menggerakkan kedua tangannya. untuk memberikan aba-aba pada yang lainnya
"Tunggu dulu memangnya siapa yang suruh kalian, ini ada acara apa ya?"
__ADS_1
"Maaf Nyonya, kami sedang terburu-buru. nanti saja kami jawab pertanyaan anda, kami haru segera memasang tenda ini.karena jam tiga nanti ada acara pernikahan di rumah ini, permisi."
"Hah, acara pernikahan? siapa yang akan menikah?"
Mereka berdua saling berpandangan satu sama lainnya,
"Bukankah Arya dan Siska sudah menikah? lalu siapa yang akan menikah?"
"Aku juga tak mengerti siapa yang akan menikah besan, atau mungkin ini resepsi pernikahan mereka ya?"
"Ntahlah mungkin juga Besan, tapi kenapa mereka berdua tak memberitahukan pada kita ya?"
Mereka berdua langsung duduk kembali memperhatikan orang-orang yang sedang mengerjakan tenda-tenda tersebut dengan sangat cepat sekali
"Mungkin mereka ingin memberikan kita kejutan besan"
"Kau benar besan, mereka mungkin sengaja agar kita tak terlalu kelelahan.kita tinggal menunggu saja besan ..."
"Ayo kita lanjutkan makan ubinya besan"
Mereka berdua seperti sedang menonton sebuah opera saja
Di sisi lain Dimas dan Rima yang juga sudah bersiap-siap untuk datang kerumah ibunya nampak sangat rapi sekali, begitu juga dengan Raja yang sudah sangat tampan
"Sebaiknya kita jalan kaki saja kerumahnya Mama karena dekat juga kan" sambil merapikan rambutnya
"Iya Kak, benar juga. karena kita hari ini kan hanya ingin menyampaikan maksud kita untuk melamar Alea sebagai menantu kita, Karena Raja dan Alea yang saling mencintai satu sama lainnya"
"Baiklah ayo ...."
"Tunggu dulu, bagaimana dengan penampilanku apa menurutmu aku sudah rapi?"
tanya Dimas
"Ya ampun kak Dimas, tentu saja kau sudah sangat tampan sekali, ayo .."mereka berdua saling tersipu malu
"Haduh... jadi deg-degan begini ya, padahal calon besannya teman sendiri juga"
"Beda kak, karena kita akan meminta anak gadisnya untuk jadi menantu kita"
Berpelukan dan saling berpandangan satu sama lainnya
"Ehemm...."
Raja berdehem dari dalam kamarnya
dengan cepat mereka melepaskan pelukannya
"Sayang ...."
"Good luck Mama dan papa"
Raja tersenyum bahagia
"Raja, Mama dan Papa sudah tak sabar lagi ingatlah tetap berdoa"
"Ayo Ma,kita berangkat jangan lama-lama lagi nanti keburu basi"
"Makanan kali basi"
tertawa dengan keras
Persiapan tenda dirumah Siska sudah hampir selesai, sungguh kerjasama tim yang sangat luar biasa sekali hanya dalam satu jam saja semuanya berjalan dengan sangat baik.
Saat mereka hendak berjalan masuk ke halaman rumah Mami Siska,. mereka kaget saat menemukan ada tenda besar dihalaman rumah itu
"Astaga, ada tenda?"
Dimas benar-benar sangat heran sekali
dan memandangi Raja
"Apa mereka sudah tahu ya jika Alea dan Raja akan segera menikah?"
Karena ia pikir Alea sudah mengatakan pada Siska dan juga Arya jika ia akan segera menikah saat ini juga.
Sepertinya pucuk di cinta ulam pun tiba
bayangkan saja Alea juga sudah mengatakan jika aku akan segera menikah dengannya hari ini, lihatlah persiapan mereka semua sudah sangat siap sekali
"Raja, apa Alea sudah memberi tahu Tante kamu soal ini ya?"
Raja yang tertunduk malu-malu hanya mengangguk saja "Mungkin saja Ma, karena Raja tak tau apa yang sudah dikatakan Alea pada orangtuanya, karena tadi Alea hanya mengatakan jika serius padanya harus menemui orang tua nya"
Dimas dan Rima pun saling berpandangan dan menganggukkan kepalanya dengan mode slow motion, tentu saja dengan senyuman termanis Milik mereka berdua
"Sungguh aku tak menyangka jika semuanya akan seindah ini"
"kita melangkahkan kaki pada saat yang tepat di hari Jumat pula"
"Anak kita adalah laki-laki yang baik, pantas saja Tuhan memudahkan segala urusannya"
"Raja kau sungguh sangat beruntung sekali Nak ... "
memegang wajah Raja
Wajah Dimas dan Rima benar-benar sangat berseri-seri di tambah lagi Raja yang tak berhenti senyum-senyum sendiri
Udara panas yang terik hari ini pun tak terasa lagi bagi mereka semua karena hati mereka yang kini sedang adem dan berbunga-bunga
Kedua manula itu kaget saat melihat Dimas dan keluarga yang juga sudah sangat rapi sekali.
"Nah itu Rima dan Dimas, kenapa mereka juga berpenampilan rapi sekali ya?"
Kedua Nenek-nenek itu pun tampak sangat heran
"Aku juga heran besan, apa Siska yang tak memberitahukan kita, atau karena kita yang sudah tua jadi lupa dengan apa yang ia katakan ya?"
"Ntahlah Besan aku juga bingung jadinya"
"Lihatlah Raja Nenek sudah menunggu kita,ayo cepat sekarang kita langsung menemui mereka berdua"
Dimas dan Rima langsung mencium tangan kedua orang ibu tersebut, termasuk juga Raja
"Mami .. ibu..."
"Nenek, nenek Mami"
"Kalian berdua kenapa berpakaian rapi sekali ini?
Dimas dan Rima tampak malu-malu menjawabnya."Ini kehendak Raja"
mendengar nama Raja, neneknya Alea langsung berdiri dengan mimik wajah Neneknya Alea yang langsung berubah saat melihat sosok laki-laki yang berdiri dihadapannya itu "Jadi ini yang namanya Raja?"
Mendengar ucapan dari ibunya Arya, Raja langsung semakin percaya diri sekali
Wah Neneknya Alea sudah mengetahui aku rupanya, aku tak menyangka jika semuanya akan sangat mudah sekali, bagiku. aku tak mengerti lagi bagaimana Tuhan mengatur semuanya dengan sangat indah begini
ia tahu namaku, pasti Alea sudah mengatakan semuanya mengenai diriku yang sungguh mempesona ini
Rima dan Dimas pun langsung menjawab pertanyaan neneknya Alea itu
"Oh iya Bu, ini Raja. dia anak kami satu-satunya"
"Iya Alea pernah bercerita soal Raja"
Dimas dan Rima kembali saling berpandangan bahagia lagi-lagi mereka benar-benar terlihat sangat bahagia sekali
"Ya ampun kak Dimas ternyata Alea"
__ADS_1
"Anak sekarang ternyata lebih cepat gerakannya dibandingkan kita"
"Iya benar gercep kalau bahasa sekarang"
Tapi Raja yang gugup langsung ingin buang air
"Nek, Raja mau ketoilet dulu ya, tiba-tiba perut rasanya sakit"
"Ya sudah masuk saja, pakai acara permisi segala pula, ini kan rumah nenekmu.ada-ada saja, apa perlu nenek antarkan dimana lokasi toiletnya Raja?"
Raja langsung menggaruk kepalanya
"He, iya Nek"
"Sekalian saja nenek cebokin mau ya?"
tertawa dengan keras. karena Raja sejak dulu sudah akrab sekali dengan Maminya Siska bahkan jika mereka sesekali pulang ke Indonesia.Raja kecil kerap kali tidur dengan Maminya Siska berdua didalam kamar Maminya.
Rima dan Dimas saling berpandangan .
lalu berbisik "Raja gugup ya kak"
"Ya iyalah namanya juga calon pengantin, pasti sangat gugup sekali"
Raja masuk kedalam kamar mandi, duduk dan termenung
"Aku benar-benar merasakan gugup sekali bayangkan saja aku tak pernah merasakan salah tingkah begini, itu lagi neneknya Alea kenapa ia kaget sekali saat mendengar namaku ,apa saja yang sudah diceritakan Alea pada Neneknya ya, hingga membuat aku menjadi malu begini"
Raja duduk dengan wajah tersenyum-senyum.
Sementara itu persiapan pernikahan Arika sudah hampir selesai, dengan menggunakan tenaga banyak orang untuk menghiasi tempat tersebut.
"Mamaa... yakin Arika akan menikah hari ini?"
Siska langsung menoleh kebelakang.dengan cepat
Arya langsung memberikan kepada Arika dengan menatapnya dari balik spion
"Diam jangan banyak bertanya"
Arika mengangguk mengerti
Dengan cepat Arya langsung mengalihkan perhatian Siska
"kau sudah menelepon Panji belum?"
"Kenapa harus menelpon Panji Kak Arya?"
"Lah dia itu adik kandung Arika, dia yang akan menjadi wali kakaknya"
"Astaga benar, hampir saja aku lupa"
melihat jam tangannya
"Masih sempat dia datang, apa lagi mereka punya pesawat pribadi, sebentar lagi juga sampai"
Arika kembali lemas
Ya Tuhan apa-apaan ini kenapa lagi harus menghubungi Panji, aku pasti tau bagaimana kecewa dan kagetnya mereka saat tau aku pulang dan akan segera menikah
"Ma, kalau Panji nggak bisa datang jangan di paksa Ma"
"Lah Panji anak Mama, gila apa kamu.kakaknya menikah adiknya nggak di kasih tau"
Siska benar-benar geram sekali dengan tingkah Arika
"Arika ...."
lagi-lagi Arya memberikan kode pada Arika agar ia diam
"Baik Pa ..."
tertunduk dengan lemas.
"Nah mana lagi nomor telepon Panji. ini dia"
Deg...
deg...
Pasti mama Silvi dan Panji kaget sekali mendengarkan berita ini, ya ampun Arika kau sudah benar-benar membuat malu Keluarga hadeh...
"Halo Panji"
"Iya Ma, ada apa?"
"Nak, bisakah kau ajak Mama Silvi saat ini juga untuk kerumah mama?"
Suara Panji terdengar heran sekali apa lagi suara handponenya Siska benar-benar besar sekali
"Kak Arika baik-baik saja kan Ma?"
Panji mulai khawatir, terdengar juga suara Silvi disampingnya
"Panji ada apa Nak?"
"Mama Siska menelpon Ma,nyuruh kita untuk ketempatnya Mama saat ini juga"
"Hah kenapa mendadak begini, ada apa memangnya"
"Ini coba mama saja yang berbicara dengan Mama Siska"
"Baiklah sayang, mana handponenya sini"
Arika terus berdoa didalam hatinya
Apapun yang dilihat oleh manusia tak akan pernah bisa mengubah semuanya di mata Tuhan, aku mohon ya Tuhan tolonglah aku
Terdengar Siska memanggil nama Silvi
"Silvi iya benar aku ingin kalian bisa segera datang saat ini juga karena Arika akan segera menikah"
"Menikah mbak?"
"Iya, menikah. aku harap Panji bisa datang karena ia akan menjadi walinya Arika. pokoknya nanti aku jelaskan ini masih terjebak macet parah, kalian harus bergegas sekarang karena pernikahan akan segera berlangsung beberapa jam lagi setelah sholat Jumat"
"Baiklah Mbak, kalau begitu aku dan Panji akan segera bersiap-siap untuk pergi saat ini juga"
Suara Panji terdengar dari belakang
"Ma ada apa?"
"Sudah nanti saja mama jelaskan ayo cepat siap-siap. kita akan segera berangkat saat ini juga"
"Ma, tapi kak Arika baik-baik saja kan Ma?"
"Iya Nak, ayo sudah"
Silvi langsung memberikan telponnya pada Panji "Ini katakan pada mama Siska,kita akan segera tiba"
"Ma, Panji dan Mama Silvi akan segera berangkat"
"Baik Nak, mama tunggu"
telpon dimatikan
"Oke semuanya sudah beres"
Siska tersenyum puas
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan sampai!
menoleh kearah Arika yang benar-benar sedang dalam keadaan tertekan sekali.