Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 236


__ADS_3

Pesawatpun akhirnya turun kebawah untuk segera mendarat


Oh yeah aku sudah tak sabar lagi ingin melihat secara langsung bagaimana rasanya menjadi laki-laki pertama yang melihat secara langsung bagaimana rasanya uwaw ...


Arya semakin deg-degan saja karena ia akan melakukan pertempuran yang selama ini sudah ia idam-idamkan, dalam bayangannya saat ini hanya ada Siska yang tengah berbaring mesra disampingnya, tentu saja karena sudah belasan tahun lamanya ia menunggu momen ini, dan akhirnya hari ini akan segera tiba juga , siapa yang tak merasakan kebahagiaan sejati seperti ini. cinta lama yang belum kelar akhirnya bersemi kembali


"Kita sudah sampai"


Ucap Arya dengan berbunga-bunga,saat pesawat mendarat


"Iya Kak,. sudah sampai"


"Sampai didalam hatiku"


Arya langsung menempelkan kepalanya diatas bahu Siska


"Kak Arya jangan begitu, malu dilihat orang"


Siska merasa tak nyaman, karena tingkah Arya benar-benar kekanakan sekali


"Ya Tuhan, kak Arya!"


Siska menutup wajahnya karena merasa tak nyaman.apa lagi bukan masanya lagi untuk terlihat seperti remaja tersebut, mungkin Arya sedang mengalami puber kedua, hingga ia seperti itu sekali mendeklarasikan perasaannya


"Kenapa harus malu? santai saja, bukannya kita sudah resmi menjadi suami istri, biarkanlah mereka memandangnya paling juga mereka akan mengatakan jika kita sedang dimabuk asmara"


Arya sepertinya sengaja melakukan hal itu, karena selama ini ia sudah terkenal karena status jomblonya, terlebih ia juga digilai banyak perempuan dan sampai ada yang mengatakan jika ia adalah seorang pecinta sesama jeni*, mustahil sekali bukan, jika ada lelaki yang tergolong masih cukup muda dan tampan tapi belum juga menikah padahal ia juga tak mencintai mantan istrinya. mungkin maksudnya Arya ingin menunjukkan jika ia itu mau pamerlah, seperti itulah kira-kira, jika ia sekarang sudah memiliki Istri


"Iya, tapi kan ini tempat umum. nanti saja ya "


pinta Siska dengan sangat lembut, untung saja lah Siska banyak berubah,jika ia masih memakai label Siska yang lama, hmm Arya dari tadi pasti sudah terpental jauh karena tendangannya.


"Ahh baiklah ... sayang!"


Tapi tetap saja masih juga menempelkan kepalanya di bahu Siska sambil berjalan. mungkin memang sedikit menjijikkan sekali tapi itu lah adanya Arya benar-benar menjelma menjadi anak manja yang ingin bermesraan saja kerjanya


"Ayo sekarang kita segera kehotel saja, kalau ada yang lihat bisa heboh nanti jadinya"


Arya langsung tersenyum bahagia "Baiklah boss"


sambil menepuk bokong Siska.


Puk...


"Ya Tuhan kak Arya"


melotot kearah Arya


"Oke,baik"


mengangkat kedua tangannya dan kembali berjalan normal lagi.


Mereka berdua memang sengaja tidak memberitahukan Alea dan juga Ibunya,


karena memang kesempatan untuk berdua ini menjadi momen yang sangat langka sekali bagi mereka. apa lagi mereka berdua memiliki rutinitas masing-masing setelah ini, maksudnya berdua dalam artiannya, momen indah Bulan madu.


ditambah lagi Arya dengan pekerjaannya dan Siska dengan usahanya, apa lagi saat ini mereka juga memiliki tanggung jawab masing-masing sebagai orang tua yang sekarang sudah menjelma menjadi keluarga besar, kalau soal biaya tidak akan menjadi masalah dalam rumah tangga mereka.


yang jadi masalah adalah tujuan mereka untuk membina keluarga mereka agar menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah.


Alea duduk dan termenung sambil memandangi kearah pintu, dengan tatapan yang kosong


"Nenek, kenapa Papa dan mama belum pulang ya? Alea mau pulang sebentar besok mau kuliah "


Tanya Alea dengan sangat polos sekali, karena ia terlalu mengerti apa saja sebenarnya yang dilakukan oleh sepasang pengantin baru.


yang ada dipikiran Alea itu hanya satu.


jika seorang laki-laki dan perempuan menikah mereka akan hidup bahagia, itu saja. karena Alea memang tak pernah diberitahukan bagaimana kehidupan setelah pernikahan sesungguhnya,apa lagi ia juga tak terlalu paham bagaimana proses terjadinya seorang bayi.


Kedua neneknya pun langsung saling berpandangan nampak mereka terlihat sangat sulit untuk menjelaskannya pada Alea.


"Besan bagaimana mau menjelaskan padanya,aku dan Arya memang tak pernah menjelaskan padanya tentang apa yang terjadi pada hubungan rumah tangga, Papanya mengatakan ia terlalu kecil untuk mengetahui hal itu"


"Ya sudah Besan kalau begitu biarkanlah Alea Pulang sebentar"


Ibunda Arya terdiam ia bingung


tak mungkin juga ia ikut menemani Alea pulang dan meninggalkan maminya Siska seorang diri, karena Dimas dan Rima juga tak serumah dengan maminya Siska. apa lagi di rumah sudah mulai sepi


"Ehemm...Sayang, Mama dan papamu itu lagi bersenang-senang karena setelah lama tidak merasakan kebahagiaan",ucap ibunda Arya menjelaskan dengan tersenyum, berharap tak ada lagi pertanyaan setelah ini


"Mmm ... baiklah.


tapi memangnya kebahagiaan seperti apa sih, yang membuat mereka tak pernah merasakannya nenek? Alea jadi penasaran.apa selama ini Papa dan Mama tak bahagia ya?"


menghela nafas yang panjang


Kedua perempuan paruh baya itupun langsung tertawa geli mendengar ucapan dari Alea,


"Ini salahku besan, tak menjelaskan terlalu spesifik mengenai pernikahan padanya"


ibunda Arya menjadi malu sendiri


tapi neneknya Arika itu mengerti jika Alea tumbuh tanpa sosok seorang ibu, Karena yang berkewajiban untuk menjelaskan hal itu secara detail adalah seorang ibu, jadi tak mungkin sekali baginya untuk mendapatkan penjelasan

__ADS_1


terlalu detail, tak mungkin juga Arya yang menjelaskan padanya


"Tidak apa-apa besan, nanti ada siska yang akan menjelaskan tentang pernikahan padanya, lagi pula sebentar lagi usiaku sudah benar-benar senja, aku hanya ingin melihat Arika menikah, setelah itu aku rasa tugasku didunia ini sudah selesai"


"Ah besan, tidak baik berbicara seperti itu, kita akan sama-sama melihat cucu kita menikah setelah itu baru kita akan pergi masing-masing ketempat kedamaian dengan penuh ketenangan"


mereka berduapun langsung tersenyum bersama


Tidak ada harapan bagi kedua orang yang telah senja selain pergi dengan tenang itu saja, mereka sudah tak memikirkan lagi hal-hal yang berbau dunia karena itu sama sekali sudah menjadi hal yang tidak penting bagi mereka lagi


"Hah, baiklah kalau begitu Alea pergi dulu ya Nek"


Alea langsung mencium tangan keduanya untuk berpamitan


"Alea, kenapa tidak pakai baju Arika saja, kan dilemarinya banyak itu"


"Buku-buku tugas banyak nenek, nanti Alea akan segera kembali"


"Baiklah sayang, hati-hati ya"


Alea langsung pergi dengan menggunakan mobilnya. tapi rupanya ia tak menemukan dimana letak kunci mobilnya "Hadeh, dimana lagi kunci mobilku ini"


Alea mencari-cari tapi tak menemukan juga


"Tak ada juga, aduh dimana sih ..."


Lalu ia teringat jika Arika lah yang meminjamnya terakhir kali "Sepertinya masih dengan Arika kunci mobilku ini"


Alea langsung menghubungi Arika


"Halo Arika, kau dimana?"


"Alea kenapa? aku masih di Jogja dan satu Minggu lagi akan pulang, nanti aku ceritakan ya semuanya, papaku baru saja meninggal"


"Astaga apakah itu benar? ya ampun maafkan aku Arika, aku turut berdukacita padamu, kamu yang tabah ya Arika, ya sudah aku matikan saja telpon mu ini"


"Sudah santai saja, aku baik-baik saja, karena ini yang terbaik untuk papaku, kau jangan khawatir aku akan baik-baik saja kok, kau jaga nenek dulu ya .."


"Iya jangay khawatir"


Arika pun langsung menutup telponnya


Alea merasa tak Enak sendiri


"Ya ampun Arika, aku turut berdukacita padamu, huhu, tapi aku lupa bertanya padanya dimana kunci mobil milkku, ya Tuhan Alea"


Alea terdiam


"Apa aku naik taksi saja ya?"


berpikir keras


"Alea .., ada apa sendirian disini Nak?"


Suara Rima malah mengangetkannya


"Tante!"


"Iya sayang. Alea kenapa sendirian disini, mana Nenek?"


Rima membawa bungkusan ditangannya seperti sebuah makanan ringan


"Nenek didalam Tante, Alea mau pulang tapi tak menemukan kunci mobil ini"


Wajahnya nampak murung


"Kenapa harus pulang sayang, inikan sekarang rumah Alea juga, sebaiknya jangan pulang dulu ya, nanti Alea dengan siapa dirumah coba?"


Rima membelai rambut Siska dengan sangat lembut sekali


Astaga Mama mertua, kenapa aku jadi sangat malu saat kau membelai rambutku


seperti ini sih, kira-kira rambutku wangi nggak ya? aku cemas nanti Tante Rima malah menolak aku menjadi calon menantunya lagi karena aroma rambutku ini.


"Buku kuliah Alea ketinggalan dirumah Tante, lagi pula juga ada tugas yang harus dikumpulkan besok, makannya harus dikerjakan hari ini juga"


"Hmm ya sudah. tunggu sebentar ya, Tante mau mengantarkan oleh-oleh ini dulu untuk kedua surga didalam itu, jangan kemana-mana ya, Tante segera kembali"


"Iya Tante ... "


Alea semakin bingung , ia tak tau apa yang akan dilakukan Rima padanya


Hmm Tante Rima mau apa ya? kenapa sampai begitu sekali


Alea selalu saja deg-degan sendiri jika sudah bertemu dengan Rima, ia tak tau jika kehidupan setelah menikah itu akan banyak sekali tantangannya, bukan hanya hal-hal yang indah saja, terutama lima tahun pertama pernikahan.


Lima menit kemudian Rima keluar dari dalam rumah tersebut


"Ayo sayang" menggandeng tangan Alea


"Tante kita mau kemana?"


tanya Alea ragu-ragu.


"Kita kerumahnya Tante saja, nanti biar mas Raja saja yang mengantarkan kamu, dia baru pulang dari Jogja, baru saja sampai"

__ADS_1


Mata Alea langsung berbinar saat mendengar nama Raja


"Tante tidak usah, nanti malah merepotkan Mas Raja saja"


"Tidak apa-apa, tenaganya itu kuat tak pakai rasa capek santai ..."


Hati Alea kembali berbunga-bunga sekali


jika bunga tersebut diibaratkan bunga deposito mungkin Alea hari ini adalah orang yang paling kaya, Karena mendengar ucapan dari Rima tersebut.


Ya Tuhan mudah sekali bagi Tuhan untuk menyatukan dua insan anak manusia, dan aku adalah salah satu manusia yang beruntung itu


Rima langsung menarik tangan Alea seperti seorang anak kecil


"Sungguh Tante Rima benar-benar sangat keibuan sekali ya"


Mereka berjalan cukup cepat, kebetulan sekali Raja sedang mencuci motornya, dan ada mobil Arika juga didepan rumahnya


"Raja ..."


ucap Alea dengan berbunga-bunga sekali saat melihat wajah Raja


"Raja sayang, perkenalkan ini anaknya om Arya, tolong sekalian antarkan ia pulang kerumahnya ya Nak, karena ia tak ada teman dirumah nenek, ia mau mengambil buku-bukunya di rumah"


Tanpa tau Raja setuju atau tidak Rima langsung saja pergi meninggalkan mereka


"Alea, Tante tinggal dulu ya Nak, ini Mas Raja yang akan mengantarkan Alea pulang nanti"


Rima langsung meninggalkan mereka berdua dengan sengaja, apa lagi Raja sama sekali tak pernah bisa menolak permintaan ibunya itu.


Raja kaget saat melihat Alea sudah berdiri dihadapannya "Alea?"


"Hai Mas Raja ..."


ucapnya dengan sopan, padahal biasanya ia hanya memanggil Raja dengan namanya saja mungkin karena faktor ada mamanya Raja itu saja sih


Raja tak membalas sapaannya, karena ia masih sedikit kesal soal laki-laki yang mengangkat telponnya kamarin. siapa laki-laki yang telah menjawab telponnya tersebut itulah yang ada didalam benaknya Raja.


"Aku ganti baju dulu, tunggu sebentar ya?"


ucap Raja. karena pakaiannya basah habis mencuci motor.


Rima dan Dimas yang didalam rumah nampak senyum-senyum bahagia melihat keduanya yang sedang berbicara


"Aku sudah tak sabar ingin menjadi seorang nenek"


mengintip dari balik jendela


"Sama saja sayang, pokoknya setelah ini mereka berdua juga harus naik pelaminan sama seperti Siska dan Arya"


Raja kaget saat menemukan Keduanya sedang berdiri didepan jendela


"Mama dan Papa sedang melihat apa sih?"


Raja heran,lalu ia berjalan mendekati keduanya


"Apa sih yang sedang Papa dan Mama lihat?"


Rima dan Dimas langsung menjawab dengan kompak "Tentu saja sedang melihat calon menantu kami"


Mereka berdua langsung berpandangan


"Raja!"


"Hadeh, Mama dan Papa, selalu saja seperti itu,"


"Kenapa masih berdiri disini, ayo cepat kesana, jangan pernah membiarkan seorang perempuan menunggu, karena perempuan tidak suka untuk menunggu,apa lagi jika didepannya ada yang lebih baik untuk menunggunya, maka kau sedang berada didalam masalah yang besar, jika telah membuat perempuan menunggu Nak ..."


ucap Dimas memberikan wejangan karena cerita ia dan Rima adalah salah satu contohnya


"Papa, menunggu apa, dia itu kan sedang menunggu aku mengantarkannya, tentu saja ia harus menunggu, kalau tidak mau ya sudah naik taksi saja"


Ucap Raja bercanda


"Apa yang kau katakan barusan ha, dasar anak nakal"


Rima menjewer telinga Raja


"Ampun Ma, Raja hanya bercanda saja Ma, jangan khawatir Raja itu sangat mengerti sekali bagaimana perasaan perempuan, ya tak mungkin lah membuat perempuan menunggu"


Dimas tertawa saja "Ingat Nak, jangan coba-coba bercanda dengan perempuan karena candaan kita itu serius baginya, apa lagi Papa lihat Nak Alea itu tak pernah sama sekali dekat dengan kaum lelaki kecuali Papanya, biasanya perempuan yang seperti itu,saat ia menyerahkan hatinya ia akan benar-benar tulus,tapi saat ia dikecewakan maka siap-siap juga kita untuk merasakan sakit hati yang mendalam"


"Stop, hentikan semuanya, Mama dan Papa berhentilah curhat, karena kisah kita berbeda, Raja dan Alea itu akan menjadi simbol cinta yang sempurna nanti, santai saja Pa, Ma"


"Baiklah, sekarang cepat pergi sana .."


mendorong Raja


"Santai saja Ma, Raja yakin tak ada yang bisa


menolak ketampanan anak mama ini"


Raja tertawa


Dimas dan Rima langsung tertawa

__ADS_1


"Hah, memang sudah saatnya untuk Raja membina rumah tangga ya Kak, apa lagi sepertinya mereka memang saling suka"


tertawa geli


__ADS_2