
Siska keluar dan tinggallah arika dan Alea saja "Kau dengarkan itu Arika, calon menantu Mama?"
Alea tersenyum menggoda dengan menyenggol bahunya Arika
"Hentikan Alea, ini tidak lucu". menunjukkan wajah yang jutek
"Lucu sih tidak, tapi kau akan segera sold out"
"Alea apa kau ingin sold out, sebaiknya kau buat keributan saja di acara pernikahanku agar semuanya semakin seru, bagaimana?"
"Lah kok jadi aku,sih. tadi katanya suruh aku ceria untuk hari ini saja, kalau begitu ceritanya aku lebih baik diam sajalah tak usah banyak cerita lagi"
Arika langsung memeluk Alea "We jangan marah ya. saudaraku yang cantik, tapi aku sungguh benar-benar sedang tidak baik-baik saja Alea"
Alea langsung memegang tangan Arika
"Yang tabah ya Arika karena aku juga tak bisa melakukan apa-apa untukmu sungguh aku benar-benar tak bisa melakukan apapun"
Suara ribut-ribut terdengar di luar kamar
"Alea ramai sekali sepertinya di luar?"
wajah arika terlihat benar-benar cemas sekali
"Tenangkan dirimu anggap ini semua mimpi yang akan dilewati sebentar saja"
"Tapi Alea aku sungguh sangat takut menghadapi ini semua"
"Tak ada daya dan kekuatan selain kekuatan dari Tuhan jangan khawatirkan itu, karena aku yakin restu yang diberikan oleh kedua orang tua saat anak-anaknya menikah akan berpengaruh pada keharmonisan dan kehidupan anak-anaknya, percayalah"
"Tapi Alea, aku tidak mencintainya, dan dia pun sama"
Alea benar-benar sok dewasa sekali saat memberikan nasehat pada Arika
"Cinta akan datang seiring waktu yang terpenting restu orang tua"
Arika langsung memukuli Alea
"Dasar sok dewasa"
mereka berdua pun saling tertawa geli melihat tingkah satu sama lainnya
"Arika dan Bian akan menikah dan merasakan indahnya hidup berumah tangga"
lagi-lagi Alea menggodanya
"Sudahlah jangan membuat aku marah"
"Hahahaah "
Alea benar-benar geli Sendiri padahal hatinya sedang hancur lebur berantakan karena ulah Raja yang berani sekali main hakim sendiri pada Papanya.
"Sepertinya acara akan segera di mulai"
Alea mengintip dari luar jendela
"Ya ampun padahal hanya beberapa jam saja persiapannya tapi sungguh sangat sempurna sekali dekorasinya ya ampun"
Mata Alea langsung tertuju pada sosok laki-laki yang sedang duduk disamping meja akad nikah
"Wah kak Bian ganteng sekali"
mata Alea sampai terbelalak
"Berhentilah memujinya Alea, aku sungguh sangat jijik sekali mendengarnya"
"Dia memakai pakaian yang warnanya sama denganmu, lihatlah itu Arika, kalian akan benar-benar menjadi Raja dan Ratu hari ini"
"Hei ini baru pernikahan saja, bukan resepsinya"
"Hah ini pernikahan saja ya? tapi sangat megah sekali, waw...."
Bian benar-benar tampak sangat tampan sekali menggunakan kopiah dengan pakaian serba putih, begitu juga kedua orangtuanya dan adiknya Karin mereka terlihat sudah tak sabar lagi menunggu acaranya.
"Ma Karin sudah tak sabar punya kakak perempuan"
Ana memeluk Karin "Iya Nak, nanti kak Arika akan tinggal bersama kita"
"Mama, apa nanti kak Bian nanti akan memiliki anak ya kan Ma?"
"Iya tenang saja, mereka akan memiliki anak yang banyak nantinya"
tersenyum bahagia tanpa memikirkan perasaan Bian yang berada di sampingnya
Bian benar-benar risih sekali dengan pembicaraan Karin dan mamanya
"Sungguh aku tak mengerti lagi pikiran mereka, menikahkan aku dan perempuan itu secara paksa, dan sekarang seenaknya saja mengatur berapa banyak anak yang akan aku lahiran, sungguh terlalu sekali, mereka tak pernah memikirkan bagaimana kehidupanku selanjutnya nanti, bertemu di kampus dengan teman-temanku, dan ah ...."
Bian tampak benar-benar sungguh tak karuan hatinya. tapi siapa yang memperdulikan masalah hati mereka saat ini, yang mereka tau adalah bagaimana caranya Bian dan Arika menikah dan semuanya selesai.
Persiapan pernikahan sudah selesai semua, dalam waktu yang singkat.
Siska juga sudah menyampaikan kabar pada Panji dan juga Silvi,
dan mereka pun sudah berada dikota itu langsung dengan menggunakan pesawat pribadi untuk menghadiri pernikahan Arika yang sangat Mendadak tersebut, apa lagi Panji adalah wali nikah yang sah untuk Arika
"Arika ayo cepat keluar,Bian sudah datang. pernikahan harus segera dilaksanakan hari ini juga"
Alea memegang tangan Arika
"Ayo ..."
kali ini ia tak tertawa sama sekali tapi lebih menguatkan perasaan Arika yang sungguh nampak tertekan sekali
Dengan sangat berat Arika melangkah keluar kamar dengan bergandengan tangan bersama Alea yang sudah berganti pakaian dengan cantik sekali seperti permintaan Siska
"Aku tau kau sedang hancur sekali saat ini Arika, tapi aku juga sedang tak baik-baik saja, kau tau itu kan?"
ucap Alea lirih, tapi ucapan Siska yang menenangkannya membuat ia harus tegar demi pernikahan Arika yang sebentar lagi akan segera terlaksana.
Arika sangat cantik sekali dengan make up-nya yang tipis, dan lembut. sama halnya seperti Arika mereka berdua sungguh sangat cantik dan sempurna dengan pesona keduanya yang kharismatik.
Perjalanan Arika menuju meja akad nikah membuat Bian langsung tertuju padanya
"Astaga, sungguh kau sangat cantik sekali"
ucap Bian dalam hatinya
Arika pun langsung melotot kearahnya
"Gara-gara dia yang tergesa-gesa aku harus menikah dengannya.sungguh sangat menyedihkan sekali hidupmu Arika,oh...."
"Wah kak Bian tampan sekali ya ..."
ucap Alea lagi-lagi keceplosan
dengan cepat Arika langsung menatap kearahnya
"Iya aku mengerti"
Alea langsung menundukkan kepalanya
Lagi-lagi Alea di buat kaget saat melihat seseorang yang mirip dengan Arika
__ADS_1
"Astaga, siapa laki-laki itu Arika, wajahnya mirip sekali denganmu!"
Alea yang tadinya lemah lembut langsung terbelalak melotot, namun yang lebih membuat ia melotot adalah tatapan Arya yang melihatnya dengan sangat mengerikan sekali
Papaa kenapa bola matanya seperti mau keluar gitu!
Alea langsung menundukkan kepalanya
"Alea aku belum sempat menceritakan padamu ya, jika aku memiliki adik laki-laki nah itu adik kandungku"
"Maksudnya laki-laki itu kembaranmu?"
"Haduh, bukan itu adik kandungku yang,, nantilah aku ceritakan, yang jelas kau itu memiliki saudara laki-laki juga sekarang"
"Baiklah aku mengerti , dan perempuan yang berada disebelahnya itu siapa Arika?"
"Oh itu, Ya dia Mama Silvi, istrinya Papaku"
"Sungguh sangat cantik ya"
puji Alea
Arika tersenyum "ia tak hanya cantik wajah tapi juga hatinya" tak biasanya ada seorang anak tiri yang memuji madu ibunya, tapi itulah kenyataannya karena memang Silvi memiliki hati yang cantik luar dalam.
"Kok bisa Arika?"
Alea masih saja ingin tahu
"Ya bisalah, Alea. nanti akan aku ceritakan semuanya, sekarang ini aku ingin kabur dari tempat duduk itu, apa kau mau menggantikan posisiku disampingnya?"
Alea langsung melepaskan tangannya dari Arika, Karena ia takut sekali mendengar kalimat horor yang baru saja disebutkan oleh Arika itu "Sebaiknya aku segera duduk disampingnya Mama dan papa saja"
Arika langsung melotot "Tega sekali dia meninggalkan aku, Alea awas saja kau ya?"
Maafkan aku Arika, belum selesai masalahku kau malah menambah pertanyaan yang menambah beban hidupku saja
Arika langsung duduk disampingnya Bian
Dari bahasa tubuh keduanya sudah kelihatan jika mereka berdua sama-sama tertekan dengan apa yang terjadi saat ini
"Ini semua karena kau"
bisik Arika dengan tersenyum, agar tak kelihatan jika mereka sedang bersitegang
ia benar-benar sangat marah sekali, seandainya saja Bian tak memaksakan diri untuk mengajaknya naik kedalam mobil maka ini tak akan pernah terjadi
"Kau yang mulai duluan, kenapa kau harus kabur dari mobil, ha. jika saja kau bisa bersikap sabar dan tidak gegabah maka ini tak akan terjadi, kau yang ketakutan seperti aku akan menerkammu saja!"
Seluruh keluarga sudah berkumpul, Arika langsung menatap Panji dengan mengiba. tapi sepertinya ia berada dalam kekuasaan mamanya, ia sama sekali tak terpengaruh dengan Arika.
bahkan ia malah terkesan marah pada kakak perempuannya itu, akibat kelakuannya yang telah membuat kaget dirinya.
tapi lagi-lagi Panji tak seganas itu ia hanya melotot penuh tanya saja.
"Baik semuanya untuk mempersingkat waktu, kita akan langsung saja mulai acara akad nikahnya?" ucap pembawa acara, meski tampak sangat sederhana bagi ukuran mereka dan terkesan tertutup tapi pernikahan itu benar-benar sangat megah sekali.
Semuanya langsung mengangguk setuju
"Ya langsung saja, lakukan lebih cepat lebih baik"
"Baiklah kita mulai saja"
Keringat dingin mulai keluar bercucuran dari dahinya Bian, begitu juga Arika yang sudah tak karuan sekali perasaannya
Seenaknya saja mereka menyuruh untuk mempercepat acara ini, suruh mereka saja yang menikah, sungguh seenaknya saja mereka mengatakan hal-hal yang diluar keinginan mereka, kalian tau jika kami ini para pengantin yang terpaksa untuk menikah, apa kalian tahu?"
"Saya terima nikah dan kawinnya Arika binti Arjuna dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"Sah ..."
"Alhamdulillah "
Arika sungguh sangat lemah tak berdaya sekali
karena dalam beberapa menit saja sekarang ia sudah sah menjadi istri orang lain.
"Baiklah selanjutnya silahkan kepada kedua mempelai untuk menyematkan cincin di jari manis masing-masing pasangan"
Arika sama sekali tak berminat disentuh oleh Bian
sungguh aku tak rela tangannya menyentuh tanganku, aku benar-benar tak rela, dia adalah laki-laki mesum aku tak menyukainya dan tak akan pernah bisa suka apa kau mengerti!"
Alea menutup mulutnya karena ia tau apa yang ada didalam pikiran Arika
"Oow... Arika aku sangat paham sekali apa yang ada didalam pikiranmu, aku yakin sekali kau tak akan mungkin bisa, tali ini harus...."
Melihat Arika tak kunjung memberikan tangannya Siska langsung menarik tangan putrinya itu
"Ayo sayang cepat berikan tanganmu"
Siska berdiri dan menarik tangan Arika
Sungguh aku merasakan kali ini mama benar-benar seperti ibu tiri yang kejam
mama jangan .....
"Mamaaa"
Arika merengek
Ana langsung menarik tangan Bian "Ayo cepat pasangkan Cincin di jari manis istrimu itu"
Dengan cepat mereka pun saling bertukaran cincin
Semuanya langsung bertepuk tangan bahagia dan wajah Arika dan Bian nampak tak baik-baik saja
"Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami-istri, kalian bebas melakukan apapun sekarang ya..."
Ana mengedipkan matanya
"Dan mulai sekarang Bian panggil Tante, dengan panggilan Mama ya, begitu juga sebaliknya Arika tak ada om Tante lagi, tapi Mama Ana, Mama Siska, Papa Arya dan Papa Aditya"
Arika dan Bian nampak diam saja tak mengeluarkan sepatah katapun, apa lagi perasan mereka benar-benar nano-nano sekali rasanya
Mama, papa ,mama papa, apa kalian tau wahai orang tua bagaimana tersiksanya anak-anak kalian ini, oh sungguh benar-benar memalukan sekali, aku sekarang adalah istrinya dan ia sekarang adalah suamiku, apa ini nyata atau hanya mimpi buruk saja? oh Arika bangun lah ....
"Baiklah untuk para pengantin silahkan sungkeman dulu kepada ibu dan bapaknya, dan setelah itu baru kalian berdua saling memeluk satu sama lainnya"
canda sang MC yang membuat orang-orang yang berada di sana tertawa geli
Bian dan Arika pun langsung sungkeman, anehnya sesi sungkeman itu benar-benar tak ada rasa khidmatnya sama sekali, justru malah seperti sungkeman biasa,
"Siska akhirnya persahabatan kita bersatu dengan menjadi besan ya"
"Akhirnya tugas kita sebagai orang tua selesai, tinggal menunggu kehadiran cucu yang lucu-lucu lagi"
Wajah Arika dan Bian langsung saling berpandangan,dari tatapan mata mereka nampak pertarungan hati yang sangat kuat sekali, karena mereka sama -sama tak tertarik dengan pernikahan ini
"Jangan mimpi Bian!"
ucap Arika dalam tatapan matanya yang tajam
"Kau pikir aku berselera denganmu, jangan mimpi kau Arika, aku juga tak berminat untuk cocok tanam di ladangmu, jika ada yang lain lebih baik aku keladang itu saja"
__ADS_1
ungkap Bian
"Apa kau lihat-lihat?"
bisik Arika
"Jangan mimpi, aku tak berniat untuk melihatmu!"
"Kalau begitu, kenapa matamu terus-menerus melotot kearahku, ha? apa kau pikir ini lucu ?"
"Tidak ada yang lucu sama sekali, sekarang kita berdua ini adalah suami istri yang sah apa kau paham?"
"Tak usah kau jelaskan aku juga sudah tau"
terjadi pertengkaran kecil diantara mereka berdua saat para tamu dan beberapa kerabat menikmati hidangan yang telah disediakan
semuanya benar-benar terlihat sangat bahagia sekali, tapi hanya ada beberapa orang saja yang sedang gundah gulana,
Alea - Raja
Dimas-Rima
dan pasangan yang baru menikah Arika-Bian
"Selamat Arika" ucap Alea dalam hatinya
Alea masih menunduk lemas tepat disamping Arya
"Alea jangan macam-macam karena urusan kita belum selesai, Papa ingin berbicara nanti denganmu setelah acara ini apa kau paham?"
"Iya Pa, jangan khawatir Alea akan berbicara panjang lebar dengan Papa".
ucapnya pasrah
Sementara itu aetelah melakukan sungkeman bersama keluarga dan makan bersama mereka semuanya langsung menyuruh Arika dan Bian untuk segera pergi
"Baiklah kedua anak Papa yang tampan dan cantik, papa ingin mengatakan padamu,jika papa sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk kalian?"
"Hah martabak kali spesial"
ucap Bian dengan kesal
Arika langsung melirik kearahnya
Tak bisa aku bayangkan jika aku harus menghabiskan seumur hidupku bersama dia, ini adalah sebuah pembodohan dan siksaan batin yang amat dalam, ini sungguh sangat memuakkan sekali
Aditya langsung mengeluarkan tiket
"Ini tiket bulan madu Kalian berdua selama seminggu di kota X, itu mobil sudah papa siapkan, kalian akan langsung berangkat hari ini juga, dan jangan khawatir untuk masalah di kampus, Papa akan mengurus izinnya, kalian harus bisa fokus bersenang-senang ya..."
lagi-lagi Arika dan Bian langsung kaget
"Apa!"
Saling berpandangan
"Sepuluh hari Pa? itu lama sekali Pa, Bian kan mau mengurus skripsi Pa?
Dia pikir dia saja yang punya kesibukan ha? bagaimana dengan aku,
"Sudahlah jangan protes, sekarang kalian berdua sudah halal, tugas kami menikahkan kalian berdua sudah sangat tepat, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Papa dan Mama berharap setelah ini kalian berdua akan bisa lebih dewasa untuk menyikapi kehidupan, setelah pulang dari honeymoon kalian akan langsung tinggal di apartemen tempat Mama dan Papa tinggal dulu, biar kalian berdua belajar bagaimana menjadi pasangan suami istri yang baik"
"Lah bukannya nanti kak Bian dan kak Arika akan tinggal bersama kita Pa?"
rengek Karin
*Ye*s semoga saja kami bisa tinggal jauh dari orang tua, jadi aku bisa melakukan apapun sesuka hatiku
"Mana mobilnya sudah datang tidak?"
"Jangan khawatir aku sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik sekali"
menunjuk satu buah mobil dengan pita diatasnya
"Ini dia"
Wajah Bian dan Arika sudah tak karuan lagi
"Ayo Siska,"
mereka mengangguk
"Siap ..." tertawa geli
Ana langsung menarik tangan Arika, Siska pun juga langsung menarik tangan Bian, untuk masuk kedalam mobil
"Alea ..."
panggil Arika
Alea langsung melambaikan tangannya
"Maafkan aku Arika aku tak bisa membantumu saat ini,aku mohon kau yang kuat ya, karena setelah ini aku juga akan menghadapi ocehan papa yang akan sangat panjang sekali sepanjang jalan kenangan by aku rasa ini nanti"
Panji yang berdiri didekat Alea langsung berbicara juga "Kak Alea, apa kak Arika dan laki-laki yang menjadi suaminya itu memang benar saling mencintai ya?"
Panji curiga jika kakaknya tidak mencintai Nian Begitu juga sebaliknya, apa lagi Bian sama sekali tak menunjukkan rasa cintanya
Alea langsung menoleh kearah Panji yang juga sekarang menjadi saudaranya itu
"Entahlah Panji, kakak tidak tahu hati orang lain, semoga saja mereka akan saling mencintai, kita berdoa saja"
"Iya Kak, tapi kenapa kak Arika tak pernah cerita ya, kalau ia memiliki kekasih hati yang diam-diam mereka berdua saling mencintai satu sama lainnya"
Alea melirik kearah Panji
Aku rasa dia sedang menyelidiki hal ini dariku, yang tau jika Arika dan Bian itu tidak memiliki hubungan yang baik hanya aku dan Raja saja
jangan sampai aku keceplosan, karena aku tau dia akan dengan sekuat tenaga menolong kakaknya kalau tahu mereka tak saling mencintai
karena insting Panji itu sangatlah kuat pada kakaknya ia kenal bagaimana Arika, awalnya ia memang marah tapi sepanjang acara Panji aku yang dari tadi selalu memperhatikan gerak-geriknya termasuk juga gerakan bibir Arika
"Kakak rasa itu bukan hak kakak untuk menjawabnya dek, kau tanyakan langsung pada kak Arika ya..."
Alea langsung pergi untuk menghindari pertanyaan Panji yang lainnya.
Siska dan Ana melambaikan tangan saat mobil melaju meninggalkan rumah tersebut
"Dagh sayang"
"Setelah pulang berikan kami kabar bahagia ya"
Ana dan Siska saling berpelukan bahagia.
"Kita akan menjadi Oma"
Tertawa bahagia.
....
tolong vote yang kencang ya .... Sayang.....
author tambah satu bab lagi ini
__ADS_1