
Arika yang langsung panik langsung buru-buru berdiri, dengan menenteng tas yang ia miliki dan langsung buru-buru keluar dari kamarnya, untuk segera berangkat ia bahkan tak sempat untuk mandi
"Baiklah aku harus segera berangkat sekarang"
Arika keluar dari dalam kamarnya dan mendapatkan Panji dan silvi yang sedang sarapan pagi
"Nak, ayo sarapan dulu sini, duduk di samping Mama"
Arika langsung menyicip makanannya sedikit saja, kemudian ia langsung buru-buru untuk berpamitan pergi
"Ma, Arika harus segera pulang hari ini juga, karena ada sesuatu yang sangat penting sekali"
Panji langsung kaget "Mendadak begini kak?"
"Iya benar, harus pagi ini juga"menarik tangan silvi dan memeluknya
"Ma, Arika pulang dulu, nanti kalau liburan Arika balik lagi ya kemari, sekalian ziarah ke makamnya Papa"
Panji langsung berdiri " ya sudah kak ayo Panji antar, atau kakak mau Panji antar sampai kota, nanti sore Panji balik lagi"
"Oh tidak usah repot-repot adikku sayang, kakak bisa sendiri"
Arika langsung buru-buru lari keluar
"Ayo Panji cepatlah sedikit"
Panji langsung heran "kak kenapa kakak buru-buru sekali, memangnya ada apa kak?"
Arika terdiam
__ADS_1
Tak mungkin aku menceritakan semuanya pada Panji ia terlalu kecil untuk mengetahuinya hal-hal yang tidak penting ini, sebaiknya ia diam saja dan tak usah banyak tanya lagi
"Kampus, I-iya tugas kampus harus diselesaikan hari ini juga, jika tidak maka kakak harus mengulangnya semester depan, dan dosen ini sangat tidak suka dengan mahasiswa yang tidak disiplin"
Panji langsung paham "Ya. ampun kalau begitu memang urgent ini kak, karena dosen itu tidak bisa dibantah, baik kalau begitu kakak berpegangan lah"
Panji langsung tancap gas, dan sudah dipastikan dalam beberapa menit kemudian Arika sudah duduk didalam pesawat
"Terimakasih Panji, maafkan kakak telah berbohong, tapi sumpah jantung ku mau copot saat Panji membawa mobil tadi"
Arika langsung mengelus dadanya
Di dalam pesawat, seseorang pemuda yang tampan tepat duduk disebelahnya, ia langsung menunjuk kearah Arika
"Maaf rambutmu"
ia langsung mengeluarkan kaca dari dalam tasnya, kaca kecil "Ini lihatlah"
Arika langsung kaget saat melihat rambutnya sudah seperti singa,
"Astaga"
buru-buru langsung merapikan rambutnya
"Terimakasih"
"Lain kali jangan lupa pakai sisir ya, kasihan kan cantik tapi rambutnya seperti singa"
ia tertawa
__ADS_1
Arika sangat malu sekali
Haduh, aku ingin cepat-cepat sampai kalau begini, ini semua karena Bian yang membuat aku harus kembali dengan terburu-buru seperti ini sungguh ini sangat memalukan sekali aku ingin cepat-cepat sampai
Arika langsung menutup wajahnya dan berpura-pura untuk tidur, karena tak sanggup menahan malu
laki-laki yang seumuran Bian itupun langsung
menutup mulutnya menahan tawa
sambil menggelengkan kepalanya
Satu jam perjalanan akhirnya Arika sampai juga, ia pun langsung buru-buru keluar untuk pulang, yang ada didalam otaknya saat ini hanya rumah,rumah dan rumah saja
Tapi saat ia hendak memanggil taksi, perutnya tiba-tiba berbunyi
Kriuk...
kriuk...
ia baru menyadari jika ia belum sarapan pagi,
"Sebaiknya aku mencari sarapan disekitar sini dulu"
Ia pun memilih restoran yang tak jauh dari bandara
Setelah memilih makanan ia langsung duduk di meja dan menunggu, saat itu lah ia melihat pemandangan yang tak biasa, Bian yang sedang mengobrol dengan seorang wanita dihadapannya
"Hah dia ?"
__ADS_1