
Ternyata yang terjadi pada Raja dan Alea tak hanya menarik hati Dimas dan Rima saja tapi juga kedua nenek -nenek tua itu
dengan saling bertatapan penuh keheranan mereka akhirnya buka suara
"Jadi itu yang namanya Raja ya Besan?"
"Iya besan dia anaknya Dimas kakaknya Siska"
Ibu Arya langsung memegang dadanya, karena ternyata selera cucunya tidak main-main ganteng dan mempesona
"Sungguh sangat tampan sekali dia".
"Dia memang sangat tampan besan, tapi sepertinya Arya sangat marah sekali padanya"
"Iya memang aku juga melihat bahwa Arya sangat marah besar sekali padanya"
Ibu Arya langsung menolehkan kearah Raja karena ia juga tau bagaimana perasaan Raja saat ini yang memang salah, karena sudah membuat putranya sampai begitu marah sekali apa lagi, ibunya sangat paham sekali bagaimana karakter Arya. di tambah pula situasi seperti ini yang sedang panas-panasnya .
"Aku juga tak mengerti besan, kenapa anak itu bisa melakukan hal seperti itu, masa iya bisa-bisanya ia memukuli Arya tanpa permisi. tapi sepertinya Raja dan Arya sudah pernah saling bertemu sebelumnya"
"Iya itu yang aku pikirkan juga, mana mungkin Arya bisa marah sampai begitunya kan, jika tak ada api yang menyulut emosinya"
Dimas dan Rima tampak sedih mendengar ucapan kedua perempuan tua tersebut
Rima langsung memeluk Dimas
"Aku rasa tidak ada kesempatan untuk Raja kak Dimas, aku sangat sedih sekali karena harapan kita pupus sudah, aku sangat berharap bisa menimang cucu juga sama seperti Ana dan kak Aditya"
Rima tertunduk dengan lesu sekali, wajahnya benar-benar seperti kerupuk yang tersiram air kecut dan tak berkembang
"Sudahlah tenang kan dirimu dulu sayang, nanti saja kita bicarakan hal ini lagi. karena banyak tamu yang penting sekarang kita fokus dulu dengan pernikahan Arika,. setelah itu kita pasti akan mendapatkan solusi yang terbaik jangan khawatirkan itu ya"
mengelus punggung Rima.
"Baiklah kak Dimas, aku mengerti"
Mengangkat kepalanya dan mencoba menahan air matanya agar tak tumpah. sesungguhnya ia adalah seorang ibu yang akan melakukan segalanya untuk kebahagiaan anak-anaknya terlebih Raja adalah putranya satu-satunya.
"Dengar baik-baik Sayang ya, Raja memang salah. tapi semuanya masih bisa diperbaiki kok, karena Alea juga menyukai Raja, tak ada yang mustahil di dunia ini. jika Tuhan sudah berkehendak segala sesuatunya akan menjadi mudah"
Dimas berusaha untuk menenangkan sang istri yang tampak sangat terpukul sekali.
apa lagi Raja adalah putra mereka satu-satunya
"Tapi tetap saja semua keputusan ada ditangan Kak Arya, kak Dimas ..."
Dimas tau jika istrinya itu benar-benar sangat galau sekali tapi apa yang mau dikatakan jika saat ini bukan saat yang tepat untuk membahas hubungan Raja dan Alea.
"Sayang aku mohon tolonglah dengarkan aku dulu, Arya itu hanya perantara saja tapi Tuhan yang menentukan akhirnya, jangan berprasangka buruk pada takdir, ingatlah smua yang terjadi didunia ini adalah rahasia yang maha kuasa kita tak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya semua rahasia Allah, sudahlah jangan pikirkan hal-hal yang buruk lagi ya..."
"Bagaimana jika mereka memang tak di takdirkan bersama kak Dimas, bagaimana jika yang aku khawatirkan itu akan terjadi, dan jika ini akan menjadi hukum karma karena sikapmu dulu kak Arya"
Rima berbicara dengan terbata-bata ia nampak sangat ketakutan sekali.
"Maksudnya?"
Dimas terdiam ia teringat akan kisahnya Siska dan Arya dulu, yang mati-matian ia halangi karena tak setuju dengan Arya pada saat itu , Sebenarnya itu adalah hal yang sangat wajar saja bukan jika kekhwatiran Rima itu beralasan adanya.
"Jangan khawatir sayang, tidak ada istilah hukum karma ini semua hanya sebuah kebetulan saja, kau harus mengerti itu"
Dimas menenangkan Rima dengan mengelus-elus punggungnya kembali"
"Aku takut saja anak kita akan depresi, karena Raja tak pernah begitu mencintai perempuan seperti Alea, aku sebagai seorang ibu pasti akan melakukan segalanya untuk membuat putraku bahagia, apapun caranya"
"Jangan khawatirkan itu karena Raja tak seperti yang kau pikirkan ingat Rima, putra kita itu namanya Raja, artinya ia bisa menjadi pemimpin yang baik bagaikan seorang Raja yang gagah dan perkasa, tak mungkin seorang Raja sangat lemah, percaya sajalah"
Rima memeluk pinggang Dimas,
"Semuanya akan baik-baik saja"
Meski sebenarnya Dimas juga takut jika terjadi sesuatu pada Raja dan Alea, ia juga takut jika perbuatannya pada Siska dulu akan dibalas oleh Tuhan melalui Raja itu akan sangat menyakitkan sekali, dan ia tak akan sanggup melihat Raja dan Rima menderita"
Matahari mulai merangkak naik keatas dan saat ini mereka berdua sedang menunggu keluarga Bian tiba, karena mereka adalah keluarga inti yang harus menyambut kedatangan calon besan didepan, apa lagi Dimas adalah yang termasuk di tuakan di rumah ini"
Sedangkan didalam kamarnya Arika.
Alea benar-benar nampak sangat uring-uringan sekali.
"Ayo lah Alea cepatlah ganti pakaianmu itu"
ucap Arika memohon dengan penuh harap karena melihat Alea yang masih saja tak bergerak ia malah menangis
Sambil berguling-guling di lantai, Alea masih nampak sangat sedih sekali karena ia benar-benar dilema, antara harus memilih dua orang laki-laki yang amat ia cintai.
"Aku tau kau sedang bahagia Arika, aku tak selera untuk mengganti pakaianku , biarkanlah aku sendirian dengan pakaian yang seperti ini, untuk apa juga aku berdandan dengan rapi tapi hatiku lagi berantakan seperti ini, biarkanlah aku seperti ini jangan perdulikan aku lagi..."
__ADS_1
Arika turun dan berbisik di telinganya Alea
"Eh mbaknya mau kemana? jangan kemana-mana dulu, nanti pakaiannya jadi berantakan lagi"
"Sudah Mbak santai saja jangan khawatirkan itu karena semuanya akan baik-baik saja,jangan khawatir ya lihatkan aku akan tetap cantik"
sambil tersenyum manis menunjukkan jika ia baik-baik saja.
Arika langsung duduk disamping Alea.
Sang Mua pun tak bisa memaksa lebih banyak lagi karena Arika
"Sudahlah Arika tak usah membujukku lagi tak penting sama sekali karena tak akan merubah apapun yang terjadi di dunia ini, kau tau aku ini sedang broken heart, dan rasanya sakit sungguh sangat sakit sekali, kau tak mengerti bagaimana perasaanku ini arika sungguh aku sedang tercabik-cabik sekali"
"Ya Tuhan Alea, apa kau pikir aku ini robot, seharusnya kau bahagia karena bisa merasakan bagaimana rasanya patah hati terdalam, kau bayangkan bagaimana jadinya aku ini ha? apa Kau pikir aku bahagia, hah! kalau saja bisa kau dan Raja yang menggantikan pernikahan ini aku pasti sangat bahagia sekali, andai saja... ya Tuhan"
Arika langsung berdiri"
"Kau tau lah aku dan Bian seperti apa ya kan? tak ada angin tak ada hujan tau-tau menikah, bayangkan saja bagaimana jika dirimu menjadi aku tak semudah itu justru aku sangat iri pada kalian berdua yang bisa dengan sangat mudah sekali merasakan jatuh cinta, masalahnya kalian hanya tinggal menunggu restu saja sedangkan aku harus menikah tanpa perasaan, apa kau pikir aku ini baik-baik saja"
Alea terdiam "Bagaimana caranya agar aku bisa bersyukur, sementara hatiku sama sekali tak bisa melakukan hal itu, apa aku harus tersenyum bahagia atau aku harus merasakan penderitaan yang lebih dalam lagi"
Alea pun masih sangat bersyukur karena ia dan Raja saling mencintai. sedangkan dirinya sudah tak tahan ingin segera pergi dari tempat ini
ia ingin melarikan diri tapi tak tahu harus lari kemana
Arika kembali duduk
Alea tak tahu bagaimana rasanya menjadi aku, sungguh aku tak mengerti lagi.bagaimana takdir mempermainkan kami, aku seharusnya iri pada Alea dan mas Raja karena mereka bisa saling mencintai satu sama lainnya
Alea masih menatap dinding kamarnya Arika, ia membayangkan semua ucapan Raja yang tadi akan melamarnya tapi rupanya malah Arika dan Bian yang menikah.
Ia pun langsung menutup wajahnya
"Ini bukan kesalahan Papa, tapi Raja lah yang ceroboh tak pernah memikirkan bagaimana bersikap dengan orang lain akibat terlalu tergesa-gesa, jadi begini jadinya kan, kenapa ia bisa kurang atitude begini sih apa dia tidak tau bagaimana ganasnya Papa, kalau ia lagi tak suka pada orang lain apa lagi untuk menjadi calon pendamping hidupku ini merupakan sesuatu hal yang sangat merepotkan bagiku, ya Tuhan" mengusap wajahnya berkali-kali
Dari luar jendela kamar, terdengar suara mobil memasuki perkarangan rumah mereka
"Astaga, suara mobil didepan ramai sekali. apa itu artinya mereka sudah berada didepan ya?" ucap Arika didalam hatinya, jangan ditanya bagaimana perasaan Arika saat ini, sudah pasti jantungnya sudah ingin melompat-lompat keluar karena deg-degan, bukan karena bahagia tapi karena yang akan menikah dengannya adalah laki-laki yang selama ini tidak ia suka bahkan bisa dikatakan musuhnya juga yang sangat menyebalkan sekali
Deg
deg ..
Arika menjadi sangat panik sekali keringat dingin mulai bercucuran, hanya dalam hitungan menit saja lagi itutandanya ia akan segera menjadi istri orang lain, Arika menggenggam tangannya dengan sangat erat sekali.
Alea masih saja berguling-guling seperti ulat nangka dilantai ia benar-benar tak bersemangat sekali dalam hidup ini
"Aku benar-benar tak bersemangat untuk bangun Arika, kau tak lihat bagaimana aku sekarang ini, coba kau lihat... kau saja yang berdiri untuk melihatnya"
benar-benar ia seperti seekor ular yang sangat malas sekali.
"Ayolah Alea please, tolong lihat.kau tak tahu bagaimana proses terjadinya pernikahan ini,kan aku mohon saudaraku ya .. jika bukan padamu lalu pada siapa lagi aku akan memohon lagi"
Mua yang berada didalam ruangan tersebut nampak tak enak mendengar obrolan mereka berdua itu. ia pun memilih pura-pura tidak mendengar obrolan mereka dari tadi, apalagi masalahnya Mua tersebut adalah teman baiknya Siska dan Ana, yang memang ditugaskan untuk menyelidiki apa yang mereka bicarakan didalam kamar
"Alea, cepatlah kau ini!"
"Arika kau saja yang lihat"
Arika tak mau melihatnya karena ia akan sangat jijik jika nanti melihat wajah Bian yang sedang berjalan.
"Bagaimana kalau aku saja yang melihatnya tawar sang Mua padanya"
Belum sempat Arika menjawabnya, terdengar suara ketukan pintu dari luar
Tok
tok
Cekrek ..
lalu pintu terbuka
"Bagaimana apa semuanya sudah siap?"
tanya Siska yang sudah selesai berdandan dan nampak sangat anggun sekali.
Arika nampak sangat kaku tapi ia tak mau membuat Siska menjadi banyak pikiran.
"Sudah siap Ma"jawab arika perlahan sedangkan Alea masih berguling-guling di lantai karena tak bersemangat.
"Wah anak mama sudah sangat cantik sekali rupanya, mama sangat senang sekali melihatnya, akhirnya putri cantik mama akan segera melepaskan masa lajangnya"
Hah mama bisakah aku tak menikah hari ini Ma, asal mama tau saja aku sangat khawatir dengan masa depanku, jika mama masih menganggapku sebagai anak mama
__ADS_1
Hanyalah sekedar ungkapan hati Arika saja didalam hatinya, yang tak berani ia curahkan apa lagi dihadapan Siska
Siska masih berdiri didepan pintu dan kaget saat melihat Alea yang berada dibawah kakinya
"Masuk saja Nyonya, lihatlah dulu bagaimana menurut anda?"
Siska masuk kedalam kamar dan melihat Arika menggunakan maka up yang tipis
"Make up Arika memang begini ya?" tanya siska heran karena tak mencerminkan seperti make up pernikahan.
Arika langsung menjawab " Natural Ma, lebih baik"
tegasnya dengan tersenyum
"Natural?"
Siska tau jika Arika berbohong. hanya saja ia tak mau menambah keributan lagi. karena belum reda masalah Arika saat ini sudah tumbuh masalah baru yaitu antara Arya dan Raja
Saat bersamaan itu juga Siska langsung menghampiri Alea
"Alea sayang, ayo bangun Nak...."
Siska membelai lembut rambut Alea,ia paham betul bagaimana keadaan Alea seperti apa. apa lagi ia pernah muda dan mengalami hal yang sama soal cinta. hal yang membuat ia pernah sangat sakit sekali dan terluka, meski masalahnya berbeda Arya sama sekali tak pernah memperlakukan Dimas atau maminya dengan tidak sopan, sungguh sangat berbeda sekali dengan Raja yang main hajar wajah Arya didepan Alea, belum lagi sikapnya sebelum ini sungguh sangat buruk sekali kelakuannya Raja ini
"Mama Alea tapi ...."
"Nak, ayo bangun. nanti saja Mama bantu bicara dengan Papamu, tapi Alea ganti baju dulu ya, ini momen berharga untuk Arika. dan kita harus tampil rapi dan cantik meskipun acara ini mendadak "
Alea tak kuasa menolak bujukan rayu dari ibu sambungnya itu
Arika menahan amarahnya
Mama tak tahu ceritanya, hah .... ya Tuhan! hidupku sungguh malang sekali, seandainya aku tak pulang hari ini maka tak akan terjadi pernikahan sialan ini huh!
Arika nampak memohon pada Alea, agar mau ganti pakaian tapi disisi lain ia sangat berharap Alea seperti itu saja terus sampai pernikahan ia dan Bian nanti dibatalkan
"Mama tapi Alea masih sangat sedih sekali, mama bayangkan saja bagaimana perasaannya Alea, baru saja Alea mengenal cinta tapi ternyata laki-laki itu sama sekali tak di sukai oleh Papa"
"Iya Nak mama tau itu, nanti saja ya kita bahas ayo anak mama yang cantik ini segera ganti baju dulu, agar kecantikannya semakin paripurna manjalita, ayo sayang"
Alea masih bergerak maju mundur persis seperti ulat daun "Ayo cepat katakan pada pada Mama siapa laki-laki yang Alea cintai didunia ini sebelum kenal dengan Raja?"
"Ya tentu saja Papa Arya Ma"
Alea langsung kaget dengan pertanyaan dari Siska
"Memangnya kenapa Mama bertanya seperti itu Ma?"
"Tidak kenapa-kenapa sih, hanya saja mama ingin memberikan pandangan pada Alea jika Papa itu pasti ingin yang terbaik untuk putrinya, mama yakin Papa itu lebih banyak sekali pengalaman dan ia lebih tau mana yang terbaik untuk Alea, jadi Alea tak perlu khawatirkan itu"
mengusap kepalanya Alea dengan lembut sekaligus memberikan pengertian jika ia tak ingin Alea marah berlarut-larut pada suami Arya
"Alea lihat Mama dulu, mama mau tanya Alea sayang tidak dengan Mama dan Arika?"
"Kenapa Mama bertanya seperti itu Ma? Alea rasa Itu adalah pertanyaan yang sangat bodoh sekali, tentu saja tanpa harus ditanyakan Mama pasti taukan jawabannya?"
Arika langsung menelan air liurnya
"Alea kau tau Mama itu sedang menjebakmu karena ia akan menyuruh kita semua untuk berfoto keluarga dan kau pasti akan sangat bahagia nanti melihat hasilnya kalau mama memasang poto kita bersama-sama"
Alea benar-benar sangat bingung, orang-orang yang terkena penyakit hati ini biasanya akan terlihat sangat linglung sekali, apa lagi jika sudah malam tiba, pikiran mereka sedang berjalan kemana-mana, tapi dalam kasusnya Alea ia tak perlu kesunyian malam untuk membuat pikirannya melayang, Karena ditengah keramaian saja ia masih merasa sangat sepi sekali.
"Alea please sayang ganti baju ya Nak"
Siska langsung keluar untuk mengambilkan pakaian untuk Alea
"Alea ikuti saja permintaan Mama, kau tak tahu jika mama itu sangat cerewet sekali. pokoknya kau harus ikut apa yang dikatakan Mama, tinggal ganti pakaian saja kenapa sih, repot sekali"
Alea benar-benar sedih "Tapi aku ini sedang sedih sekali Arika, kau tak lihat mataku ini sembab karena menangis belum lagi aku sangat sedih membayangkan bagaimana nanti jika aku tak bisa menikah dengan Raja, apa lagi aku memakai pakaian yang bagus ini melihat kau dan kak Bian bersanding lalu bagaimana dengan nasibku, aku juga ingin menikah"
Arika tak habis pikir jika Alea sungguh bucin sekali, apa lagi dia benar-benar terlihat sangat terobsesi sekali untuk menikah muda
"Arika .. kenapa kau diam saja, coba kau berikan aku solusi yang bagus juga agar aku bisa merasakan bagaimana bahagianya duduk berdua menjadi pasangan suami istri"
"Cukup Alea, aku sudah tak tahan lagi"
Siska masuk dan mengambil pakaian yang berwarna senada dengan mereka semua
"Ayo sayang cepat pakailah ini , itu tamu undangan sudah pada datang, mama tak mau anak mama tak ada nanti saat kita berpoto keluarga, ayo cepat Nak, jangan biarkan wajah cantikmu ini bersembunyi di sini, ayo cepatlah ..."
Dengan sangat malas akhirnya Alea bangun dari tempat tidurnya
"Ini ya Ma"
"Iya cepatlah pakai bajunya dulu, nanti jangan lupa suruh mbak Mua nya kasih make up tipis diwajahnya kamu, mama mau keluar dulu melihat calon menantu Mama, dan calon ipar kamu nanti"
__ADS_1
Arika benar-benar jijik mendengarnya ucapan calon menantu Mama, "Uh.....cape deh"