Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 233


__ADS_3

Siska langsung berdiri dan memeluk Panji


"Kau tak boleh berbicara begitu Nak, ada mama yang juga akan selalu mendoakanmu, jangan berbicara seperti itu, kita semuanya akan selalu saling menyayangi satu sama lainnya,jangan khawatirkan itu"


"Iya, Ma. terimakasih"


ucap Panji dengan sangat terharu.


"Tidak perlu berterimakasih, karena seorang ibu akan selalu menyayangi anak-anaknya sampai kapanpun"


Siska mencium dahi Panji, benar-benar tampak ia begitu hangat sekali


Aku sangat bahagia sekali dengan perlakuan Mama Siska, ia benar-benar terlihat begitu tulus sekali, hmm andai saja mama tau, jika aku juga adalah anak kandung mama


Panji mencoba menyembunyikan kesedihannya


Silvi masih seperti seorang yang sangat depresi sekali, dari tatapan matanya, benar-benar terlihat sangat jelas jika ia jauh lebih terluka dari yang lainnya.


"Mbak ... jangan tinggalkan kami berdua ya, jangan anggap kami orang lain lagi, walaupun kenyataannya Mbak sudah menikah dan memiliki keluarga yang baru"


ucap Silvi dengan beruraian air mata.


Siska langsung memeluk Silvi


"Tentu saja, aku tak akan semudah itu untuk memutuskan hubungan baik ini, kita akan tetap menjadi keluarga sampai kapanpun,yang sabar Silvi, kamu pasti kuat menghadapi ini semua, Tuhan tau kita semua mampu untuk memikul ini semua,ingat ada Panji yang masih sangat membutuhkan kasih sayangmu"


"Mbak Siska ... "


Kalimat yang meluncur dari mulut Siska, langsung membuat Silvi meleleh, sudah lama sekali ia menginginkan pelukan hangat dari seorang saudari.


Silvi dan Siska saling berpelukan.


"Terimakasih Mbak, sudah sangat mengerti, dengan keadaan ini".


setelah sekian lama akhirnya Silvi berhasil membuat hati Siska melunak juga


"Tenang, kita semua milik Allah dan akan kembali padanya"


Siska tau serapuh-rapuhya dirinya, pasti lebih rapuh lagi Silvi yang menjadi janda dan juga baru saja kehilangan ibunya, dalam waktu bersamaan ia harus mengalami dua kehilangan sekaligus


"Ikhlaskan semuanya sayang ... "


Arya berusaha menenangkan Siska yang masih saja menyesali segalanya


Seorang suster langsung menghampiri jenazah Arjuna


"Maaf Nyonya, kami ingin menutup jenazahnya,


Selanjutnya pihak keluarga bisa langsung membawa jenazahnya pulang sekarang juga"


"Nak, cepatlah urus semuanya"


ucap Siska


"Iya Ma,"


Panji langsung berdiri dan menyuruh Arya untuk segera membawa Siska keluar terlebih dahulu


"Pa, ayo bawa mama pulang dulu, Panji tak mau mendengarkan ratapan dari mereka lebih banyak lagi, karena akan membuat semuanya menjadi beban Papa saja"


Arya tak bisa berbuat apa-apa. karena di posisi Siska saat ini, pastilah ia ingin sekali untuk berada di samping jasad Arjuna.


"Tidak Panji, mama akan tetap disamping Papamu sampai ia dikuburkan, karena hanya didunia ini saja mama bisa melihat wajahnya, karena Mama dan papa bukanlah suami istri lagi, tidak ada pertemuan lagi nanti bagi kami, selain pertemuan hari ini, karena Mama dan Papa bukan suami istri lagi"


Panji langsung tertunduk sedih mendengar ucapan dari Siska, karena apa yang dikatakan Siska itu memang benar adanya, tak mungkin semudah itu nanti di hari akhir, karena Arya adalah imamnya saat ini


Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya masing-masing terhadap orang lain, begitu juga dengan Arya, Arjuna dan Silvi, karena kita tidak bisa mengatur isi hati dan pikiran setiap orang sesuai keinginan kita, setiap orang memiliki cara pandang tersendiri dalam setiap melihat masalah satu sama lainnya.meski akhirnya Arjuna harus pergi dengan membawa luka, yah itulah takdir hidupnya yang sebenarnya, karena kita bukan Tuhan yang bisa menentukan jalan hidup orang lain, tidak ada yang ingin akhir hidup yang sedih, semuanya ingin akhir yang bahagia, namun pada kenyataannya kehidupan memang tak selamanya sesuai kemauan kita


karena Tuhan lebih tau skenario terbaik dalam hidup kita.


Bunyi ambulance terdengar begitu kuat sekali, memecahkan kesunyian disore itu,


"Jenazahnya akan dimakamkan sore ini juga"


"Apa kau sudah menelepon Tantemu Nak?"


"Iya Ma, sudah. tadi Tante Kirana menyerahkan semuanya pada kita,ia tak bisa pulang mendadak karena akan menghabiskan waktu seharian juga didalam pesawat, kasihan jenazahnya Papa, bukankah itu akan menyiksanya saja,bila dibiarkan lama"


"Benar yang dikatakan Kirana"


"Ya Mbak, Kirana juga sudah mengucapkan ikhlas, karena mayat lama-lama di rumah juga tidak baik juga,justru ia akan semakin tersiksa"


"Jadi, pihak keluarga semuanya, sepakat untuk langsung dimakamkan saat ini juga?"


"Tentu saja, tapi balik lagi, semua keputusan ada ditangan Panji, boleh atau tidak, karena kita semua memilih untuk mengikuti ucapan dari Panji saja"


Panji langsung mengangguk "Langsung dimakamkan saja, karena tak baik membiarkan jasad Papa ini berlama-lama"


Panji langsung menelpon keluarganya, karena Arjuna akan segera dimakamkan, di tempat pemakaman keluarga, yang jelas-jelas nanti akan diletakkan bersama keluarga besar nya


"Persiapan sudah selesai semua, setelah disholatkan Papa akan segera dimakamkan"


"Tapi Papamu belum dimandikan Nak,"


"Disana saja sekalian Ma, semuanya sudah disiapkan"


Mereka semua pun langsung menuju tempat pemakaman keluarga tersebut


"Mas, selamat jalan ya"


Silvi menangis terus, menerus didalam mobil


"Sudah ikhlaskan, karena kita semua pasti akan menyusul kesana juga, sudah tak ada yang perlu dipikirkan lagi, Arjuna sudah tenang dan bahagia


Siska, Panji dan Arika. naik didalam mobil ambulance, sedangkan Arya ia pulang dengan mobil yang lainnya,


sebuah pembuktian cinta yang telah dewasa, tau menempatkan empati nya saat ini, itulah Arya, sosok laki-laki yang penuh dengan kontroversi sikapnya.


Tibalah saat pemakaman, semuanya nampak sangat hanyut dengan kesedihan


Pemakaman Arjuna pun sudah selesai, para kerabat pun langsung berpamitan pulang, Arjuna tepat dimakamkan tepat disamping ibu dan ayahnya, berdampingan sebagai generasi penerus keluarga Suroso, dan selanjutnya semua kekuasaan dan tanggung jawab jatuh ke tangan Panji

__ADS_1


"Ayo kita pulang, malam ini kita akan mengadakan pembacaan doa bersama"


"Sebentar, arika ingin berpamitan dengan Papa dulu, ayo Panji"


Arya langsung mengajak Siska untuk menunggu didalam mobil saja


"Sebaiknya kita menunggu didalam mobil saja"


"Baiklah, ayo Silvi"


Siska juga merangkul Silvi,yang masih terlihat begitu terluka sekali.


Panji dan Arika kembali menangis


"Aslammmualaikum Papa, Arika pulang dulu ya, Arika sudah ikhlas melepaskankan Papa, Arika Dan Panji akan saling menjaga satu sama lainnya Pa"


"Iya Pa, kita akan saling menjaga satu sama lainnya"


Menangis dengan saling berpelukan satu sama lainnya


"Ya sudah kak, ayo kita pulang. tak baik-baik lama-lama meratapi kepergian Papa, ayo kak"


"Baiklah"


Arika dan Panji pun langsung berdiri untuk segera pulang kerumah mereka, meninggalkan tempat pemakaman yang sunyi yang menjadi tempat peristirahatan terakhir manusia,tak ada yang dibawa. hanya selembar kain putih dibadan saja yang dibawa, harta,tahta dan yang lainnya hanya tinggal didunia, yang dapat menolong hanya amal dan ibadah masing-masing, selamat jalan Arjuna, dan berbahagialah di alam sana.


Didalam perjalanan pulang, tak ada satupun yang bersuara, mereka semuanya memilih untuk diam. Mereka semua sedang terhanyut dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing. tak ada yang ingin mengungkapkan perasaannya saat ini yang ada


pasti mereka semuanya sedang berduka dengan memendam perasaan.


Sesampainya di rumah.


"Semuanya sudah siap, ayo kita turun dulu Ma"


Panji nampak sangat tegar sekali.


ia berjalan membantu Silvi. begitu juga Arika


karena Siska sudah lebih dulu dibantu oleh Arya untuk turun.


Lagi pula mereka juga iba melihat Silvi yang tak punya tempat bersandar lagi dihatinya.jika bukan anak-anak lalu dengan siapa ia akan mencurahkan isi hatinya.


"Sebaiknya Mama dan Arika, mandilah dulu dan ganti baju, pembacaan doa akan segera dimulai malam ini"


.....


Axara doa bersama sudah siap terlaksana dan


setelah acara selesai pun mereka semuanya berkumpul disudut ruangan untuk segera berkomunikasi satu sama lainnya.


"Bagaimana sayang, apa kau sudah baik-baik saja?"


tanya Arya pada Siska


"Lumayanlah kak, sudah lebih baik dari sebelumnya"


Mereka berdua saling menguatkan satu sama lainnya


Arya memegang tangan Siska.


"Permisi, sebentar ya"


ia sudah nampak tegar karena sudah mandi dan juga selesai beribadah, pikirannya nampak tenang tak begitu risau seperti tadi, mungkin juga karena banyak dukungan dari yang lainnya yang terus berdatangan.


"Terima kasih sudah mau datang kembali Mbak"


ucap Silvi sambil memegang tangan Siska


"Astaga silvi, iya sama-sama,tak usah sungkan"


"Kak Arya juga, terimakasih banyak atas semuanya"


"Iya sama-sama"


ucap Arya


Melihat ketenangan Silvi, Siska pun tak ingin membuang-buang waktunya. rasa penasaran yang sudah ia simpan didalam hatinya dari tadi membuat ia langsung berdiri dan mengajak Silvi untuk berbicara empat mata.


ia benar-benar sudah tak tahan dengan apa yang mereka sembunyikan selama ini, dengan cepat ia langsung memanggil Arika dan juga Panji.


"Arika, Panji. kesini sebentar"


Dengan berbisik perlahan


"Ada apa Ma?"


Panji dan Arika yang kebetulan sedang berdiri bersama pun langsung menjawab dengan serentak.


"Mama ingin berbicara"


Mereka berdua pun langsung datang menghampiri Siska


"Ma, ada apa?"


"Sebentar"


Arya masih mengobrol hangat dengan beberapa kerabat yang masih berada ditempat itu, Siska tak lupa untuk berpamitan sebentar.


"Kak aku tinggalkan sebentar ya?"


"Iya pergilah"


Arya sungguh sangat mengerti sekali dengan keadaan tersebut apa lagi Arjuna sudah tidak ada lagi didunia ini.


Arika dan Panji saling berpandangan mereka penasaran apa yang ingin dikatakan oleh Siska


"Kak Mama mau mengatakan apa ya?"


"Kakak juga tidak tau Panji, tapi kelihatannya mama sangat serius sekali"


"Ya sudahlah kita dengarkan saja apa yang ingin dikatakan oleh Mama, kita menurut saja"

__ADS_1


"Ya kau benar, jika tidak begitu, bagaimana kit tau apa yang ingin dikatakan Mama"


"Iya kak, tapi Panji meresa sangat bahagia sekali, karena mama Siska sudah mau bersikap baik dengan Panji"


"Benarkah itu?"


"Iya benar Kak, tadi saja mama memeluk Panji sama seperti ia memeluk kakak"


Arika langsung tersenyum bahagia


"Baguslah, berarti mama sudah mulai bisa menerima kamu"


Silvi yang sengaja berjalan beriringan dengan Siska disebelahnya.


Tapi satu hal yang semakin aneh, untuk pertama kalinya Siska merangkul pundak Silvi saat berjalan.


"Coba kakak lihat Mama Siska, merangkul mama Silvi, ini kan sebuah kejutan yang sangat luar biasa kan kak?"


"Ya kau benar sekali, ini tandanya ada berkah atas kepergian Papa, hubungan mama Siska dan mama Silvi, kembali membaik setelah sekian lamanya"


Arika dan Panji langsung tersenyum bahagia satu sama lainnya.


"Mbak kita mau membicarakan apa?"


"Nanti saja, kita duduk disana saja dulu, agak jauh dari orang-orang itu"


"Baiklah Mbak"


disaat berjalan, berkali-kali Siska menepuk pundak Silvi


"Perempuan hebat. aku yakin tak akan mudah menjadi perempuan seperti mu Silvi"


Siska Tersenyum sambil meneteskan air matanya


"Mbak Siska ada apa? kenapa berbicara seperti itu? mbaklah perempuan yang hebat itu"


Langkah kaki mereka pun terhenti.


karena dirasa cukup jauh dari orang-orang yang datang itu .


Arika dan Panji pun langsung mendekati Siska untuk bertanya


"Ada apa Ma?"


"Ntah mama juga tak mengerti apa yang ada dipikiran Mama Siska Nak,"


Siska langsung mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tasnya dan menunjukkan pada Silvi


"Katakan apa ini??"


Siska langsung menangis sejadi-jadinya.


Panji dan Arika saling berpandangan satu sama lainnya


Astaga Mama, apa mama sudah tau jika Panji sebenarnya! itukan dokumen yang ada dikamar ku, astaga atau jangan-jangan, mama mendapatkannya dari sana, ya Tuhan aku sampai lupa mematikan laptop sebelum pergi tadi.


"Mbak ini apa?"


Silvi semakin tak mengerti, karena ia juga belum pernah melihat dokumen tersebut.


"Buka saja, dan lihatlah apa isinya"


"Ma ... "


Arika mencoba untuk memotong pembicaraan mamanya, namun ...


Silvi langsung membukanya.


Wajah Silvi langsung berubah seketika.


ia langsung menyadari jika Siska sudah mengetahui semuanya


Panji dan Arika saling berpegangan tangan, sepertinya mereka sedang berdoa agar tak terjadi keributan antara Silvi dan Siska malam ini.


"Mbak, bagaimana mbak mendapatkan dokumen ini?"


tangis Silvi kembali pecah


"Tidak perlu bagaimana aku tau tentang ini


sekarang yang menjadi pertanyaanku adalah


tolong, Katakan yang sebenarnya, Panji anak siapa Silvi? apa dia putraku dan Arjuna!"


tangis keduanya benar-benar tak bisa dihindari lagi


"Kak bagaimana ini kak, Mama Siska sudah tau ternyata?"


"Kakak juga tidak tau kalau akan terjadi hal ini, kakak sangat bingung sekali,Mama kalau marah pasti mengerikan"


"Kak, apa nanti mama akan mengambil Panji dari Mama Silvi"


"Tidak tau dek, tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi, karena mama lebih berhak atas kamu"


Keduanya sangat cemas sekali


Panji dan Arika pun langsung terdiam tak bisa berbuat banyak, mungkin ini sudah jalannya harus terungkap semuanya


"Silvi, tolong jawab dengan sejujurnya, karena ini aku temukan diatas tempat tidurnya Arika, jadi kalian semua sudah tau akan hal ini ha? dan menyembunyikan semuanya dariku!"


Ya ampun Arika, kau akan habis-habisan kena marah Mama, lihatlah mata mama benar-benar seram sekali kalau marah


Panji memegang tangan Arika lebih erat


"Kak, Panji benar-benar takut jika mama marah, dengan kita"


"Sudah diamlah, jangan banyak bicara."


Silvi langsung berucap dengan menarik nafas dalam-dalam.


"Mbak, maafkan aku"

__ADS_1


Silvi langsung bersujud di kaki Siska


"Aku tak bermaksud untuk merebut putramu"


__ADS_2