Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 129


__ADS_3

Alena berbaring disampingnya dan Arya merasa sangat tenang sekali , Meski suara dengkuran yang terjadi diluar sana menganggu pikirannya


"Tapi lumayanlah dari pada terus -menerus ia berada disini akan membuat ku menjadi pusing "


"Uhuk... uhukk..."


Alena terbatuk-batuk beberapa kali ia pun mengambil tissue untuk mengelap mulutnya


lalu membuang tissue tersebut kedalam tong sampah , namun Alena tak menyadari jika tissue tersebut ada darahnya yang keluar dari dalam mulutnya


"Tidurlah Alena ,kau harus banyak istirahat kandunganmu masih sangat muda "


"Iya Kak "


Tak lama Alena pun tertidur tinggal dirinya saja yang sama sekali belum bisa memejamkan kedua matanya


Arya melihat jam yang terus berputar didinding kamarnya biasanya , suara jam berdetak tersebut Terdengar sampai ke telinganya


tapi malam ini tak terdengar mungkin akibat alunan suara indah yang di hasilkan dari hidung sang tenggorokan suster gempal tersebut


"Sesungguhnya aku sudah sangat lelah sekali , mataku sudah ingin menyerah tapi tak bisa dipejamkan , sungguh miris sekali "


Arya melihat Kesampingnya dan Alena sudah tertidur dengan lelap


Ia pun kembali berusaha memejamkan matanya namun tetap tidak bisa


mencoba untuk menghitung Domba agar bisa tertidur tapi tetap tak bisa juga


"Lima ratus satu Domba, lima ratus dua domba , lima ratus tiga kuda "


Semua jenis hewan sudah dihitungnya namun tetap tak bisa juga , akhirnya ia pasrah karena jam sudah menunjukkan pukul tiga juga


"Baiklah Ya Tuhan aku sudah sangat mengantuk sekali ,aku mohon bantu aku untuk istirahat malam ini jika aku kau izinkan untuk beristirahat malam ini maka tolong perkecilkaan suara kuda Nil itu "


Sepertinya Tuhan masih sayang dengannya apa lagi kondisi ia sedang sakit dan teraniaya maka Tuhan pun langsung turun tangan melalui tangan ibunya


Cekrek...


Terdengar suara pintu kamar terbuka,ibunya terlihat memakai koyo di dahinya


"Sungguh aku merasa sangat pusing sekali tidak bisa tidur, aku rasa suster ini malam membuat masalah saja "


Ibunya langsung mengambil garam dan menaruh di mulut suster tersebut "Semoga saja ia bisa diam untuk beberapa saat "


Tak terdengar lagi suara suster tersebut


"Ya ampun ibu terimakasih kau adalah penyelamatku aku sungguh beruntung sekali memiliki malaikat tak bersayap Sepertimu ibu ku "


Arya langsung menutupkan Matanya , untuk beberapa jam kedepan .


Keesokan paginya


Terdengar suara orang-orang yang sangat ramai di telinganya ,ia mencoba membukakan matanya ,ia melihat Dokter dan suster tersebut sedang membuka kain pembalut bekas operasinya

__ADS_1


"Memang beda ya Dok kalau obat yang mahal ,bisa membuat bagus sekali hasilnya seperti asli , apa lagi ini tekstur kulitnya malah terlihat begitu rata sekali "


"Benar , suster aku rasa dua hari lagi pasien sudah bisa kembali berjalan seperti biasa hanya saja ia harus berusaha menggerakkan tubuhnya agar tak kaku "


"Dokter malam tadi pasien ini sudah bisa duduk dengan sendirinya tapi saat ia sadar ia kembali duduk lagi , dan ini membuat saya sebagai Suster menjadi cemas sekali "


"Benarkah , mungkin itu spontan ia lakukan ,tapi tak apa semoga saja semuanya baik-baik saja"


Arya langsung melihat bagaimana kakinya diangkat dan tangannya juga namun ia sama sekali tak bisa berbicara mungkin karena faktor obat bius yang disuntikkan padanya


"Baiklah , semoga besok sudah normal dan anda sudah bisa kembali kerumah sakit untuk bekerja seperti biasanya ya Suster "


"Terimakasih Dokter "


Alena terlihat masih berada dikamar mandi ia masih mual-mual dan mengeluarkan batuk yang bercampur darah


"Astaga aku sungguh tak mengerti apa yang terjadi kenapa ada darah "


Alena langsung berdiri dan memperhatikan dengan seksama


lalu kembali memegang kepalanya


"Ya Tuhan sebanyak ini lagi yang rontok "


Alena berusaha menenangkan dirinya dengan tak berpikir yang tidak-tidak


"Tenang ini biasa terjadi saat perempuan sedang hamil mungkin karena pembawaan perempuan hamil itu berbeda-beda "


Tok..


Tok..


ibu mertuanya menggedor pintu kamar mandi


"Iya ibu ada apa ?"


"Cepatlah keluar sayang , suamimu sebentar lagi akan segera kembali hidup normal semua yang menempel ditubuhnya sudah dilepas ?"


"Di lepas?"


Dalam pikiran Alena ,Arya dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang melekat ditubuhnya


" Iya ibu sebentar "


Buru-buru ia menyiram air di toilet agar tak seorangpun yang tau apa yang terjadi padanya


termasuk soal rambutnya yang banyak sekali rontok


"Nak kau lama sekali apa perutmu sakit?"


Alena menyembunyikan tangannya didalam genggamannya


"Iya Bu aku hanya sakit perut sedikit saja "

__ADS_1


Alena langsung berlari keluar untuk membuang rambutnya


dan kembali lagi menemui ibu mertuanya


"Jadi bagaimana Bu, bagusnya Seperti apa "


"Apanya sayang , tak seharusnya kau melakukan hal seperti ini kau lihat suamimu sedang beristirahat dokter mengatakan ia akan segera kembali berjalan dengan normal seperti biasanya dan ia siap menjadi seorang ayah untuk anakmu itu Nak,cucu ibu "


"Iya Bu ,aku juga merasa bahagia sekali mendengarnya "


Alena langsung bersiap-siap membersihkan rumah dan juga memasak untuk ibu mertuanya dan juga suaminya selain sabar Alena juga sangat cekatan dalam memasak


"Nak ibu ingin keluar sebentar membeli sesuatu "


"Astaga ibu mau kemana ?"


"Ibu mau keluar sebentar "


Alena langsung mengejar ibunya


"Ayo biar Alena temanin ibu dulu ,biar suster yang menjaga kak Arya "


"Baiklah sayang ayo "


Dengan cepat Alena langsung pergi meninggalkan rumah , mereka naik taksi


rupanya Arya sadar hanya saja ia tak mampu untuk membuka matanya


"Sialan mau kemana mereka berdua , kenapa aku harus ditinggalkan bersama kuda Nil yang dari tadi sibuk bernyanyi didalam kamar ini, awas kau Aditya ,kau sengaja ingin membunuhku secara perlahan ya , lihatlah nanti jika aku sudah bisa berjalan normal aku akan membalasmu !"


Suara suster terdengar begitu besar sekali hingga membuat ia menjadi semakin kesal


"Kenapa mataku susah sekali dibuka , padahal jiwaku sudah meronta-ronta apa lagi yang di suntikkan kedalam tubuhku barusan "


Tak lama dari luar terdengar suara seseorang mengetuk pintu


"Permisi... permisi...."


Karena suster itu terlalu berisik membuat lelaki tersebut langsung masuk saja


", Permisi ..."


Suster yang berada dikamar Arya langsung kaget saat melihat Dimas yang berdiri dengan gagahnya didepan pintu kamar


"Astaga "


Ucap Dimas


Ia menutup mulutnya karena tertawa ia tak menyangka jika Suster yang dikirimkan untuk merawat Arya sefrontal itu dengan headset ditelinganya ia menjadikan sapu sebagai gitar dan bernyanyi dengan keras sekali


"Aku yakin Arya akan cepat pulih karena tak tahan dengan suaranya, jangankan orang yang sedang sakit ,yang sehat saja bisa sakit karenanya , Aditya benar-benar paham betul cara menyembuhkan Arya "


ia tertawa geli

__ADS_1


Rupanya suster tersebut belum menyadari kedatangan Dimas yang ia tau dirumah itu hanya ada ia dan Arya saja


__ADS_2