Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 239


__ADS_3

"Sayang, kita kenapa harus menginap di hotel yang jauh ini sih, apa tidak ada hotel yang lainnya?"


tanya Rima pada Dimas.


"Oh, i-itu, karena Aditya yang memintanya secara langsung sayangku, ntah aku juga tak mengerti Aditya mau membuat kejutan apa, tapi katanya mau mengadakan makan malam bersama dengan Arya dan Siska"


Dimas sedikit gugup menjawab pertanyaan Rima karena memang letak hotel tempat Arya dan Siska menginap memang berada dipinggiran kota


"Oh jadi ada Kak Arya dan Siska juga ya Kak Dimas?"


"Aku sih kurang tau juga, tapi itulah yang dikatakan oleh Aditya" Jawaban yang diberikan oleh Dimas adalah jawaban yang sama saat Ana menanyakan pertanyaan yang sama pada Aditya.


"Tapi kenapa jauh sekali sih Pa,kita menginapnya, bukannya banyak hotel berbintang disekitar kita, bahkan hotel kita juga banyak disekitar sini, uh ..."


Aditya langsung terdiam, berpikir untuk mencari alasan untuk menjawabnya


"Iya Ma, Papa kan hanya mengikuti keinginan Dimas, yang mengatakan jika Arya mengajak kita bertiga untuk makan malam bersama"


"Oh ya Pa, tapi kenapa Siska tak memberitahukan ya, aneh sekali Siska ya ,atau sebaiknya Mama telepon saja dulu Siska nya Pa, biar ganti hotel saja sih,ini kan jauh bangett"


Aditya langsung kaget saat mendengar Ana ingin menghubungi Siska


"Eh, Mama jangan begitu, jangan diganggu ya Siskanya,. namanya juga pengantin baru, mungkin mereka menyukai letaknya karena jauh dari keramaian kota dan polusi udaranya agar lebih khidmat dalam melaksanakan kewajiban yang telah digariskan"


menaikkan kedua alisnya


Ana terdiam


Duh, semoga saja Ana mengerti, bisa panjang ceritanya kalau sampai ia menghubungi Siska


Ana langsung mangut-mangut mengerti


"Oh iya benar yang Papa katakan namanya juga pengantin baru, pasti butuh tempat yang sepi untuk merasakan sensasi berbeda,ya kan Pa?"


Ana langsung memeluk lengan Aditya


"Nah itu mama mengerti"


Aditya langsung menarik nafasnya dalam-dalam "Huh .... untunglah dia bisa aku Kendalikan dengan satu jurusan yang sudah aku rancang dengan baik" ucapnya dengan lega


Tak berapa lama, mobil Aditya dan Dimas memasuki kawasan hotel tempat Arya menginap dengan Siska


"Wah, tak disangka ya sayang hotelnya bagus sekali bentuknya, pantas saja Siska dan Arya memilih tempat ini untuk menjadi tempat menginap, padahal jauh juga ya dari tempat tinggal kita"


Rima tak menyadari jika ia saat ini ia sedang berbicara sendiri karena


Pikiran Dimas saat ini sedang memikirkan bagaimana caranya menganggu Arya yang sedang berbulan madu, apa lagi Arya sudah lama tidak bertarung di arena empuk itu.


Ahahah aku tak bisa membayangkan bagaimana wajah Arya saat ia mendapatkan gangguan dari kiri dan kanan kamarnya


Dimas keceplosan tertawa sendiri.


Rima yang duduk disampingnya langsung heran dan buru-buru menepuk pundaknya


"Kak Dimas Kenapa? jangan horor deh"


Dimas langsung sadar, ia tak mau jika sampai Rima curiga jika tujuan mereka kemari memang khusus untuk mengganggu Arya


"Oh, tidak aku hanya lucu saja melihat tempat ini"


"Lucu? lucu dari mananya? tak ada badut yang terlihat"


Rima melihat sekelilingnya


Dimas terdiam kembali, "Lucu itu tak perlu ada badut sayangku karena kehadiranmu disisiku selalu menggelitik setiap tubuh agar bisa tertawa sepanjang hidupku"


mencolek dagu Rima sekaligus membujuknya


Wajah Rima langsung seketika memerah


"Bisa ae, gombal nya ..."


memukul Dimas sambil malu-malu kucing


"Ayo cepat kita naik, untuk check-in dulu"


Aditya dan Dimas nampak sangat puas sekali apa lagi kamar yang mereka pesan tepat sekali mengapit kamar Arya,


"Kita mulai"


saling memberikan kode satu sama lainnya


Saat naik keatas, Rima dan Siska heran kenapa kamar mereka tak bersebelahan saja


"Lah, ini kenapa kamarnya nggak bersebelahan saja?"


Dimas dan Aditya saling berpandangan


"Iya di tangah ini sudah dipesan orang, ayo masuk dulu ,mau lihat bagaimana pemandangannya dari atas sini bagus apa enggak?"


"Aku setuju Dit, lihatlah waw ada sungai kecil sepertinya?"


Dimas kembali mengalihkan perhatian Ana dan Rima, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Aditya


"Wah benar aku juga melihat ada suara riakan air"


Benar-benar sangat mustahil sekali kata-kata tersebut, tapi bisa membuat Rima dan Ana percaya, mereka sudah siap didepan pintu masing-masing untuk masuk kedalam


"Ayo Ma,.mau lihat nggak?"


"Eh, iya. jadi penasaran"


Ana langsung masuk, begitu juga Rima juga ikut penasaran


Aditya langsung mulai meraba-raba dinding untuk mendengarkan apa yang terjadi didalam kamar sebelah,ia menempelkan tubuhnya tepat di dinding kamarnya, sedangkan Ana sibuk melihat pemandangan yang dimaksud oleh Aditya


"Itu sungainya? Empang itu kan?"


Ana melihat pasat-pasat dari atas lalu...


"Aih.... ada yang lagi nangkring diatas j*mban, edan, uwekkksssssss"


Ana langsung menutup kembali gordennya


Aditya yang masih tertawa cekikikan langsung menelpon Dimas,


"Bagaimana apa kau mendengar suaranya?"


Ucap Aditya sambil memegang handphone dan menempelkan tubuhnya didinding


"Aku tak mendengar suara apapun Dit!, kau sekarang bagaimana apa ada suara yang kau dengar?"


Rima yang dari tadi sibuk mencari sumber suara air yang gemericik langsung menjawab ucapan Dimas


"Aku hanya mendengarkan suara AC ini saja dari tadi"


Dimas tak terlalu memperdulikan Rima, karena tujuan mereka hanya satu menganggu Arya


"Tapi Dimas Sepertinya posisi kamarmu lebih dekat dengan kamar mereka, aku akan ke kamarmu sebentar lagi tunggu aku ya "


"Cepatlah Dit jangan lama-lama,kau taulah bagaimana pengantin tua itu akan menyerang siang ini, aku yakin mereka tak akan menunggu matahari tenggelam hahaahha"


terdengar Dimas tertawa dengan sangat keras


"Tapi aku tak mungkin bisa kesana, jika Ana seorang diri saja disini,bisa pusing kepalaku nanti jika ia terus-menerus bertanya aku mau kemana, sebaiknya kau saja yang segera kemari dulu"


"Baiklah kalau begitu aku akan menyuruh Rima untuk ke kamarmu sebentar ya"


"Ya ide bagus itu, cepatlah aku akan segera keluar"


Dimas pun langsung memanggil Rima,


"Sayang, bisakah kau pergi kekamar Ana, ia sedang menunggumu di sana, karena aku dan Aditya sedang ada urusan Sebentar untuk membicarakan bisnis kami kedepannya"


"Oke sayang, kalau begitu aku akan segera pergi kekamar Ana"


Secara bersamaan Aditya juga berpamitan dengan Ana untuk pergi sebentar


"Sayang aku keluar sebentar ya"


"Mau kemana sayang?"


"Sebentar saja bye"


Aditya langsung keluar dari dalam kamarnya


dan dengan cepat berlari menuju kamarnya Dimas, ia sengaja tidak memberitahukan pada Ana begitu juga Dimas, jika ditengah-tengah kamar mereka itu adalah kamarnya Siska dan Arya, alasan mereka nanti akan makan malam bersama triple date, bersama Arya dan Siska, padahal niat mereka sebenarnya adalah ingin mengerjai Arya


Rima nampak berjalan kearahnya, Aditya pun langsung bersembunyi sampai Rima melewatinya


"Oke baiklah aman"


Aditya langsung berlari dan buru-buru masuk kedalam kamar Dimas, namun ia yang iseng malah menggedor-gedor pintu kamar Arya dengan keras sebelum masuk kekamar Dimas


Tok...


Tok...


"Hah siapa itu sayang?"


Arya langsung buru-buru mengambil handuk

__ADS_1


"Haduh ada saja yang menganggu, apa mereka tidak tau jika ini adalah kamar yang disewakan khusus pengantin baru"


Siska langsung menarik selimutnya, baru saja pemanasan sudah ada yang mulai menganggu,ucapnya dalam hati


masih dalam keadaan tegangan tinggi, ia pun langsung membuka pintu


Cekrek...


Pintu kamar terbuka tapi Arya tak menemukan siapapun juga


"Tak ada orang?"


Arya langsung keluar untuk memastikannya , tapi tak menemukan siapapun juga.


namun ia mulai merasakan sesuatu yang tidak asing ia mengendus-endus bau yang sangat sering ia cium


"Tapi kenapa aku mencium bau-bau parfum ..."


ia kemudian berusaha untuk mengusap wajahnya agar segera sadar jika ia hanya tersugesti saja .


"Baiklah aku ini cuma sedang bermimpi,hah mana mungkin dia bisa berada disini, apa lagi jam segini pasti lah ia sedang sibuk di kantor"


Arya menenangkan dirinya dan berusaha meyakinkan dirinya jika ia aman-aman saja


Aditya yang masih berdiri didepan pintu kamarnya Dimas, langsung membuka pintu kamar tersebut dan dari dalam kamar ia langsung tertawa cekikikan melihat Arya yang keluar dengan handuk yang berada di pinggangnya. belum lagi wajahnya Arya sepertinya kesal sekali


"Bahaahahahahaha"


Dimas langsung heran dan segera menghampiri Aditya


"Dit, kau kenapa?"


"Coba kau lihat itu ?"


sambil menunjuk kearah luar, melalui kaca pintu kamar tersebut


Mereka melihat Arya yang sedang melihat sekeliling


"Kau apakan dia sampai bisa keluar begitu Dit?"


Dimas nampak sangat heran sekali.


"Aku mengetuk pintu kamarnya, dan aku tau dia kan sangat penakut sekali orangnya"


Dimas langsung mengerti maksudnya Aditya dan langsung ikut tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


"Kau sungguh keterlaluan sekali Dit"


Arya yang masih berdiri masih memerhatikan sekelilingnya tapi memang benar tak ada orang sama sekali.


"Tak ada orang sama sekali, tapi aku tadi mendengar ada yang mengetuk pintu kamar ini? atau aku salah dengar ya?"


Arya mulai merinding apa lagi ia orang yang sangat penakut sekali, meski siang hari tetap saja jalanan di lorong hotel tersebut sepi


ditambah pula ia berada dilantai paling atas hotel tersebut.


"Dit, Arya kenapa? bagaimana kau bisa membuatnya keluar dari dalam kamar itu?"


Aditya masih saja tertawa cekikikan


"Kau lihat wajahnya aku tau ia kaget dan marah tapi melihat sekeliling tak ada orang, ia kan penakut sekali"


"Dit berhentilah tertawa, aku ingin tau apa yang kau lakukan padanya"


Dimas masih saja melihat Arya secara bergantian dengan Aditya


Ternyata Dimas tak mendengar apa yang dikatakan oleh Aditya dari tadi


" Ah kau ini kan tadi sudah aku katakan.Aku tadi menggedor pintu kamarnya dan ia langsung keluar dalam keadaan seperti itu Dimas"


"Oh iya aku lupa". menggaruk kepalanya


"Lalu apa yang kau tertawakan kalau kau tidak tau apa yang aku maksud ha?


Siska yang lama menunggu menjadi bertanya-tanya apa yang sedang di lakukan oleh Arya diluar sana


Terdengar suaranya Siska memanggil dari dalam.


"Kak Arya, kenapa lama sekali berdiri diluar, ada apa?, ayo cepat masuk"


Mendadak bulu kuduk Arya langsung merinding


saat mendapatkan tak ada siapapun di luar kamarnya


"Kenapa siang-siang gini jadi seram sekali ya, Hiii" memegang tengkuknya


Tapi ia tak mungkin menunjukkan rasa takutnya di hadapan Siska


"Ya sayang sebentar iam coming"Arya berusaha bersikap biasa-biasa saja


"Ada apa sayang diluar sana?"


"Tidak ada apa-apa, hanya tetangga kamar sebelah rupanya, santai saja"


menenangkan dirinya


"Oh baiklah kalau begitu"


Siska langsung membuka selimutnya kembali


"Segera selesaikan apa yang sudah kau mulai" ucap Siska dengan manja sekali


"Ayo mari kita lanjutkan kembali"


Arya langsung membuka handuknya, dan kali ini ia langsung menyerang dengan serangan awal, satu tendangan pertama langsung tepat sasaran


"awuwooooooooooo gollll"


Akhirnya gol juga, tapi rupanya Aditya dan Dimas tak bisa diam saja, mereka langsung bergegas untuk kembali berulah, dan kali ini dengan lebih ganas lagi


"Ayo sekarang bagaimana apa lagi Dit"


"Tenang, aku sudah memikirkannya"


"Sekarang, kau segera keluar dan mengetuk pintu kamarnya Arya dengan sangat keras sekali dan aku akan mengambil selimut lalu muncul dari samping nanti ya"


"Waahhaha brilian, ayo cepat sekarang"


Ternyata ide mereka tak jauh-jauh dari menakut-nakuti Arya saja, karena hal itu yang paling membuat nyalinya ciut,


Arya berkata" aku tak pernah takut dengan makhluk manapun di dunia ini, namun jika sudah berurusan dengan yang tak kasat mata aku tak berani karena tak bisa melihat siapa lawannya"


dan Aditya memanfaatkan umpan Arya tersebut untuk mengerjainya


"Ayo eksekusi segera"


Aditia dan Dimas saling TOS


Baru saja Arya bahagia menerobos pertahanan gawang, tiba-tiba ia dikagetkan lagi dengan bunyi ketukan pintu yang lebih keras lagi


tok...tokk.


dengan sangat kencang sekali


"Haduh siapa lagi yang menganggu ini, tak ada yang bisa mengerti jika kita lagi berbulan madu, aku pikir dengan menyewa hotel yang tidak diketahui Aditya membuat hidupku lebih bahagia, rupanya sama saja"


ibarat teh baru satu celupan belum terlihat warnanya Arya harus terpaksa berhenti


Siska langsung panik karena ia juga sedang menikmati terobosan baru itu


"Kak coba dilihat dulu kak,siapa yang disana, kok dari tadi tak sopan sekali, menganggu terus


ucap Siska


"Hah, iya menganggu saja, aku yakin ini pasti kerjaan orang iseng, atau jangan-jangan ada orang yang sengaja disuruh oleh Aditya ya"


Arya sudah mulai curiga,tapi balik lagi, aditya pasti jam segini masih sibuk bekerja, ia tak akan mungkin sampai mengurusi hal-hal yang tidak penting seperti ini


"Aduh, berhentilah memikirkan Aditya lagi kak Arya, karena mereka tak tau kita menginap disini berhentilah berpikiran seperti itu ya"


Rasa takut Arya langsung menghilang karena,satu cetakan gol pertama kepertahanan lawan yang sangat sulit sekali untuk di terobos akhirnya ....


"Aku akan segera keluar, jangan khawatir"


Arya sebenarnya agak cemas ia takut jika benar-benar tak ada orang , ia keluar masih dengan memakai handuk di pinggangnya


Cekrek....


Pintu kamar terbuka kembali, tapi Arya belum muncul, ia masih bersembunyi dibalik pintu kamarnya, untuk melihat ada siapa diluar


Aditya memberikan kode


"Ia belum keluar"


sambil berbisik


"Sabar"


Dimas langsung bersembunyi dibalik tembok sebelah. dan akhirnya Arya mengeluarkan kepalanya kembali di pintu "Siapa itu?"


Arya langsung berjalan keluar dan kelihatan jelas sekali dari handuknya sesuatu yang berbentuk telunjuk nampak masih berdiri tegak menyembul keluar, Dimas menutup mulutnya menahan tawa melihat Arya dan keadaannya

__ADS_1


"Pantas saja Aditya tertawa terbahak-bahak tadi"


Dimas menutup mulutnya sambil menahan perutnya yang sakit sekali itu.


"Hei siapa disana? aku akan melaporkan pada resepsionis jika kalian telah menganggu kenyamanan tamu tau!"


teriak Arya dengan lantang sekali


Dimas memberikan aba-aba melalui jarinya


Satu ..


dua ...


tiga ....


Aditya langsung melompat dari samping dengan selimut yang berwarna putih


Bug....


melompat kehadapan Arya


Tidak lupa sound hantu tertawa sudah di setel di handponenya juga dengan sangat keras sekali


Mendengar suara tersebut Arya langsung kaget sampai-sampai handuknya terlepas dan ia langsung masuk kedalam kamarnya lari pontang-panting


"Hantuuuuuu"


masuk kedalam selimut Siska


Sontak siska langsung kaget, melihat suaminya yang berlari tersebut


"Kak Arya kenapa?"


"Ada hantu diluar sana "


kaki Arya gemetaran dan dengan tertelungkup ia masih saja tak berani untuk menunjukkan wajahnya pada Siska


Siska langsung buru-buru memakai handuk yang berbentuk baju tersebut


sedangkan diluar kamar Dimas dan Aditya tertawa cekikikan sambil memegang perutnya


mereka berdua benar-benar terlihat sangat bahagia sekali


"Aku sangat menyukai momen ini"


"Apa kau tak lihat jagoan Arya ternyata masih gagah perkasa, meskipun aku lihat ada sedikit ubannya"


Aditya tertawa terpingkal-pingkal dengan mengeluarkan suara yang sangat keras sekali, untunglah satu lantai atas tersebut sudah disewa oleh Aditya semuanya.


Ribut-ribut diluar kamar juga membuat Rima dan Ana kaget, mereka yang sedang asik Mengobrol tentang anak-anak dan masa depannya dikagetkan dengan suara tersebut


"Suara siapa didepan kamar,ribut sekali Sepertinya?"


Ucap Ana penasaran


"Iya benar, tapi sepertinya suara kak Dimas "


"Masa iya sih, bukannya mereka didalam kamar?"


"Tapi kita lihat saja yuk Rima?"


"Ayok kita keluar saat ini juga"


Merekapun langsung keluar dari dalam kamarnya , berbarengan dengan Siska juga


betapa kagetnya mereka saat melihat Aditya dan Dimas yang sedang berguling-guling dilantai karena tertawa geli


"Kak Dimas?"


"Aditya?"


Rima dan Ana juga langsung kaget saat melihat Siska yang berdiri didepan kamar sebelahnya


"Siska ?"


"Kalian?"


Siska langsung menaruh tangannya di pinggang


"Hmm sekarang aku tau, apa yang terjadi barusan ya, ini pasti ulah kalian berdua! ya kan!"


Siska terlihat marah sekali apa lagi dari tatapan matanya ia ingin sekali menelan Aditya dan Dimas


Ana dan Rima langsung menjewer telinga suaminya masing-masing ia pun sama seperti Siska tak tau apa yang akan dilakukan oleh Aditya dan Dimas


"Ayo cepat bangun, ayo cepat!"


"Ternyata mereka berdua ini hebat sekali ya, katanya meeting untuk kerja tau-taunya malah ia yang mengerjai orang"


"Jadi kalian tak terlibat Sama sekali?".


tanya Siska


"Tentu saja Siska, mereka berdua ini mengatakan jika kau dan kak Arya yang mengundang kami kemari untuk makan malam bersama"


Siska menggelengkan kepalanya karena ia tau Ana dan Rima tak suka untuk mengerjai teman-temannya , yang selalu melakukan hal aneh itu ya siapa lagi jika bukan Aditya cs,


"Dan yang lebih parahnya lagi mereka mengatakan jika kamar ditengah ini sudah disewakan kepada pemilik yang lain, karena aku meminta agar kamar kami berdua bersebelahan saja"


"Astaga, jadi kalian berdua menginap di sini juga?"


"Lah iya, Siska kalau tidak mana mungkin kami berdua ada disini"


"Lalu kenapa kalian harus menginap disini kenapa tak hotel yang lain saja, bagaimana kalian tau hotel ini?"


"Ya dari mereka, katanya kau dan kak Arya menginap disini"


"Kak Dimas! "


Siska langsung melotot tajam kearahnya


"Ya ampun Dit, kita dalam bahaya kau lihat itu matanya sudah mau keluar, aku sangat mengenalnya, dan aku tau sekali maksudnya"


"Sekarang bagaimana ini Dimas"


"Kak Dimas! cepat katakan ini siapa yang punya ide "


"Dimas"


"Aditya"


Secara bersamaan


"Jangan banyak bicara, ayo mengaku sajalah, sekarang katakan siapa yang memiliki ide gila ini ha?"


Dimas dan Aditya saling melirik satu sama lainnya


"Papa, cepat katakan!"


tanya Ana dengan marah


"Bukan salah Mama Pa, ini memang hanya kebetulan saja"


masih mencoba membela dirinya


"Aku tidak butuh keterangan yang berbelit-belit,


aku hanya ingin tau bagaimana dan siapa yang memulainya itu saja".


"Ayo kak Dimas cepat jawab dengan jujur, kau tidak mengenal bagaimana Siska jika marah, karena kami sangat tau bagaimana ia kalau sedang marah!"


"Kau yang tak perlu menjelaskannya padaku aku lebih tau dia, dari lahir karena aku adalah kakaknya"


"Aku berikan kalian berdua waktu untuk berpikir, Ana, Rima lepaskan mereka berdua, aku ingin melihat mereka jujur , karena ini benar-benar sangat keterlaluan sekali, bayangkan saja aku ini seorang perempuan yang baru menikah bagaiy jadinya jika suamiku tiba-tiba terkena serangan jantung didalam sana, dan kalian katakan ini lelucon juga?"


Dimas dan Aditya masih diam saja


"Sekarang cepat katakan,siapa yang punya ide aneh ini?"


lagi-lagi Aditya dan Dimas saling menunjuk satu sama lainnya"


Sedangkan didalam kamar Arya masih bersembunyi dibalik selimut ia tak bisa mendengarkan dengan jelas keributan yang terjadi diluar sana.


"Aduh, mana lagi Siska. Kenapa aku ia biarkan tinggal sendirian disini"


Arya sama sekali tak berani untuk mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut


"Makhluk apa itu tadi kenapa ia bisa berdiri dan melompat-lompat disiang hari begini ya?"


Arya tak habis pikir bagaimana mungkin ia selalu mendapatkan gangguan baik dari manusia seperti Aditya dan Dimas juga para hantu


"Apa para hantu disini sangat suka menganggu pengunjung disiang hari? apa dia tidak beroperasi dimalam hari saja, kan lebih seram dari pada siang hari hii...."


Arya masih dalam keadaan tak memakai sehelai benang pun


"Aku sungguh tak menyangka hantu itu telah melihat semuanya aku bahkan sampai ketinggalan handuk diluar tadi, putih melompat didepan mataku, Ya Tuhan apa hantu itu hantu lokal? tapi jenis makhluk apa ya? Aku belum pernah melihatnya di televisi, dan cukup sekali saja aku melihatnya"


Siska yang masih berada diluar masih menunggu pengakuan dari keduanya, lalu ia melakukan jurus terakhir


."Ini lengan jangan ditanya keliatannya ,masih berfungsi dengan baik untuk mematahkan leher siapapun, yang jadi masalah adalah saat ia harus berbicara untuk sebuah pengakuan !"

__ADS_1


"Ini idenya Aditya, sumpah"


Dimas mengangkat kedua tangannya


__ADS_2