Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir
Part 138


__ADS_3

Telpon pun ditutup perasaan ibunya menjadi semakin tenang dan senang bahkan ibunya mulai bersemangat lagi apa lagi jika seseorang sudah memasuki usia tua tentu saja perasaannya semakin sensitif dan tingkahnya mulai semakin menyebalkan saja ,lalu bagaimana sikap kita ?


Nikmatilah mengurusi orang tua saat ia masih ada ,karena itu tandanya Allah sedang memberikan mu banyak keberkahan didalam hidup, lalu bagaimana jika perasaan kita terhadap orang tua begitu kesal ? ucapkan istighfar dan memohon ampunan kepada Allah agar diberikan kesabaran seluas samudera


Arya sedang melakukan hal yang sangat beruntung ini , bertobat dengan meminta ampunan kepada Tuhannya atas segala khilafnya , dan meraih surga dengan cara berbakti pada ibunya


Ia pun langsung melanjutkan pekerjaannya namun ia baru teringat jika tadi ibunya mengatakan jika Alena tidak ada dirumah dan ia mengatakan akan pergi kekampus


"Tadi ibu mengatakan jika Alena akan kemari ? mmm dia tidak mengabariku atau meminta izin padaku saat keluar rumah , hmm apa dia lupa ya atau tidak mau mengangguku "Terdiam sejenak


"Ya mungkin saja ia tak mau membuatku banyak tanya Seperti tidak tau bagaimana Alena saja ia sama sekali tidak mau membebani orang lain"


Arya langsung mengambil ponselnya ia ingin menelpon Alena


"Aku akan menelponnya saja "


Tapi ia pikir untuk apa juga menelpon Alena


"Tidak usahlah paling sebentar lagi ia akan tiba juga jaraknya kan dekat juga dari rumah , biar nanti aku saja yang akan mengantarkan ia pulang "


Arya manggut-manggut menyetujui pikirannya


sendiri


sementara itu didalam taksi Alena mulai merasakan sakit yang amat dalam diparu-parunya ia merasa benar-benar sesak sekali namun sekali lagi ia mencoba untuk menahannya


"Pak bisa cepat sedikit kerumah sakitnya"


"Sabar ya neng jalanan nya macet "


Wajah Alena sudah sangat pucat sekali ia bahkan sampai harus menyandarkan tubuhnya kekursi


"Ya Tuhan aku mohon kuatkan aku sampai ini semua selesai jangan buat aku pergi tanpa meninggalkan sesuatu yang berharga dalam diriku ,jangan Tuhan aku mohon setidaknya jika aku melahirkan anak ini aku ingin kak Arya dapat mengingatku sebagai ibu dari anak kandungnya "


Perjalanan yang macet membuat Alena sampai mengeluarkan darah dari dalam hidungnya namun sekali lagi ia kembali mengelapnya


Sopir taksi tak menyadari hal itu ia sibuk memperhatikan arah jalan yang akhirnya dalam lima menit mereka sampai di rumah sakit yang dituju oleh Alena


"Ini pak terimakasih ambil saja kembaliannya "


"Neng tapi ini kebanyakan ,"Pak sopir menjadi tidak enak hati


"Tak apa-apa Pak ambil saja anggap saja ini sedekah dari suami saya untuk bapak dan keluarga "


Dengan menaruh tissue dihidungnya


"Aaamin kalau begitu terimakasih banyak ya Neng "


"Iya pak sama -sama "


Alena pun langsung berjalan menuju ruangan dokter kandungan yang kemarin memeriksa dirinya ,


tapi rupanya di parkiran rumah sakit itu ada juga Dimas yang sedang berdiri dari tadi mondar-mandir seperti orang kebingungan


"Aduh bagaimana ini apa yang harus aku lakukan ,apa aku harus berobat atau aku membiarkan semua ini berakhir begitu saja ha ?"


Dimas nampak kebingungan sekali ia bahkan duduk berdiri ,maju mundur cantik didepan IGD rumah sakit tersebut , sampai-sampai petugas jaga igd merasa pusing melihat Dimas yang dari tadi hanya mondar-mandir saja


"Kalian lihat laki-laki tampan itu ?"menunjuk kearah Dimas


"Yang mana ? "


"itu yang pake baju garis-garis putih "


"Oh iya kenapa dia memangnya ,apa kau suka padanya ya "


"Sialan , sembarangan saja kau berbicara !"


"Sudah jangan malu-malu Jono kalau kau suka kan itu hak asasi manusia santai saja "


Plak...


ia memukul tenannya tersebut


"Bukan itu masalahnya ,kau pikir aku suka pedang aku masih normal !"


"Awww jangan marah dong mas Jono kan aku hanya bercanda saja ,"


memegang dagu laki-laki itu ,dua orang perawat jaga yang berjenis kelamin laki-laki itu nampak terus bercanda saja dari tadi menghilangkan kepenatan yang terjadi diruang jaga


"Sudah sekarang langsung saja pada inti masalahnya ada apa ?"


kali ini temannya nampak serius


"Baiklah aku akan menjelaskan padamu , kau tau kepalaku mendadak sakit sekali karena melihat laki-laki itu yang terus mondar-mandir seperti sedang menunggu tuyulnya keluar"

__ADS_1


"Ah kau ini terlalu berlebihan mana ada orang melepaskan tuyul dirumah sakit emangnya tuyul mau nyolong obat apa ,Jono ..Jono "


"Aku serius coba saja kau lihat aku perhatikan ada sekitar tiga puluh menit ia seperti itu dari tadi dan jujur saja kepalaku sangat pusing sekali "


"Ya sudahlah aku ada ide dari pada kepalamu terus-menerus pusing sebaiknya kau lepaskan kepalamu dulu lalu kau pasang kembali "


Plak...


lagi-lagi ia memukul temannya


"Dimana-mana kalau orang memberi saran ,itu tandanya ia pernah mencobanya ,coba kau contohkan dulu padaku jika kau berhasil maka aku akan mencobanya "


"Hahaha Moh aku ..."


"Makanya kalau memberikan nasehat tanpa memberikan contoh hanya sia-sia saja "


"Sudahlah kau keluar dan tanyakan saja keperluannya apa jika kau hanya duduk dah memperhatikan gerak-gerik nya saja kau bisa mati penasaran nanti Jono , cepat tanyakan jangan-jangan ia sedang sangat membutuhkan pertolongan medis mungkin saja saraf kakinya sedang terlepas atau putus makanya ia tak berhenti mondar-mandir kan ,hayoo cepatlah kau segera keluar "


ia pun terdiam sepertinya otaknya mulai berfikir


"Baiklah aku akan menemui laki-laki itu "


Ia langsung mengamati gerak-gerik Dimas mungkin karena terlalu banyak mondar-mandir


lemak ditubuh Dimas juga ikut rontok juga


Karena kelihatan dari keringat yang bercucuran dari dahinya


"Permisi Mas ,maaf apa saya bisa bantu Mas ?"


Dimas yang terlalu banyak pikiran sampai tak menyadari kehadiran perawat yang bernama Jono itu


"Apa mungkin ia tuli ?"


Ia langsung menepuk pundak Dimas dan barulah Dimas tersadar dari rasa cemasnya


memang begitulah adanya jika seseorang yang sedang banyak pikiran maka ia akan berubah menjadi manusia yang tidak memiliki pikiran apapun karena ia fokus dengan apa yang ada dipikirannya


"Eh iya Mas ada apa?"


"Seharusnya saya yang bertanya pada Mas sendiri kenapa dari tadi mas mondar mandir ,maju mundur cantik didepan IGD ini,saya yang bertugas menjaga hari ini merasa pusing Mas bahkan mata saya menjadi berkunang-kunang sekali , lihatkan mata saya "


Menunjukkan kedua matanya pada Dimas


"Mas maaf itu matanya ada belekan dan ada upil juga yang dari tadi keluar masuk diujung bulu hidung Mas ,maaf Mas kalau tidak percaya silahkan Mas berkaca di Spion motor saya "


menunjuk arah motornya


"Tidak usah Mas ini adalah seni ,mas saya suka mengoleksi ini "


Ia merasa tidak enak ,Karena malu ia membiarkannya saja


"Jadi mas ini sebenarnya mau apa berdiri disini ?"


kembali bertanya pada Dimas


Dimas menarik nafasnya dalam-dalam .


"Apa aku beri tau dia atau bagaimana ya ,sekali aku memberitaukan padanya tentu saja sebagai petugas medis ia akan segera memberikan pertolongan pertama padaku tapi jika aku tidak memberi tahunya ia akan terus-menerus bertanya apa yang sedang aku lakukan disini "


Menarik nafas dalam-dalam


Kenapa aku merasa sedang berada diposisi Arya , yaa simalakama ,dan ini benar-benar sebuah pilihan yang terkesan konyol sekali , sebuah keputusan yang sangat sulit antara pasrah dengan kematian atau berperang melawan kehidupan dengan skor imbang Fifty-Fifty


"Mas jadi bagaimana Mas ini mau berobat atau mau jalan-jalan saja ?"


Dimas masih berpikir untuk menjawabnya ,karena posisi rumah sakit lagi sepi untuk pasien yang masuk keruangan IGD maka perawat laki-laki itupun memberikan waktu pada Dimas


"Baiklah Karena aku sedang tidak ada kerjaan aku akan menunggu Mas nya untuk berpikir mau menjawab apa "


Sementara itu Alena sudah duduk diruang tunggu dokter kandungan tersebut .karena ia tak meminta jadwal khusus sebelumnya maka ia terpaksa harus ikut mengantri bersama pasien lainnya


Alena nampak cemas saat mengantri berkali-kali ia melihat kearah jam tangannya ia takut jika ia terlalu lama pulang maka ibu mertuanya akan cemas karena ia terlalu lama sekali berada diluar


Bagaimana jika ibu merasa pusing lalu terjatuh sedangkan dirumah tidak ada orang , padahal aku mengatakan pada ibu akan pergi sebentar saja , bagaimana ini Ya Tuhan


Rima benar-benar dibuat pusing oleh antrian panjang ini , akhirnya tibalah gilirannya


namun ada seorang ibu yang nampaknya dalam keadaan darurat yang lebih butuh pertolongan dari pada dia.


"Suster tolong istri saya ,dari malam tadi bayinya tidak bergerak karena saya jauh dari desa maka saya baru tiba sekarang bisakah suster mendahulukan kami "


Namun sesuai prosedur pasien yang datang harus mengantri lagipula posisi pasien itu terlihat baik-baik saja


Alena tak tega melihat ibu tersebut lalu ia berdiri dan memberikan nomor antriannya

__ADS_1


"Bagaimana kalau kalian memakai nomor antrian saya saja ,ini ambillah "


Belum sempat pasangan suami istri itu mengambilnya para ibu-ibu yang mengantri protes pada Alena


"Tidak bisa begitu dong mbak ,posisi pasien baik-baik saja ,jika dikatakan urgent kita semua disini juga urgen dan punya kepentingan masing-masing "


"Benar mbak jangan seenaknya budayakan antri "


Karena tak mau berdebat Alena pun memilih untuk mengalah saja


"Baiklah tidak apa-apa kalau begitu ambillah ini kita akan bertukaran posisi saya mengambil nomor antrian anda saja,"


Suster merasa tidak enak namun akhirnya Alena mengalah


"Ya sudah Suster suruh mereka masuk saja duluan saya tak apa-apa paling terakhir "


"Terimakasih mbak terimakasih banyak "


Ucap mereka berdua .


Alena langsung tersenyum saja tak mengucapkan apapun lagi hanya saja wajah-wajah tidak senang ditunjukkan oleh mereka yang sedang mengantri bersama Alena


Alena menarik nafasnya dalam-dalam


ia kembali berpikir kenapa orang-orang seperti mereka sama sekali tak memiliki rasa empati pada sesama hanya karena merasa perempuan tadi baik-baik saja , padahal seharusnya sesama perempuan harus memiliki rasa peduli dan saling melindungi ,apa ini sudah zamannya tak saling perduli dengan sesama apa ini sudah zamannya antara manusia satu dan yang lainnya tak perduli dengan nasib sesama


Tak lama dua orang suster datang membawa tempat tidur pasien


Rupanya untung saja cepat dibawa jika tidak anak didalam kandungan perempuan itu tidak akan selamat , suaminya nampak begitu panik sekali ia bahkan meneteskan air mata mengetahui istrinya harus dioperasi saat ini juga jika tidak dua-duanya tidak akan selamat


"Jadi harus tetap dioperasi ya Sus"


"Benar pak sesuai instruksi dari Dokter harus segera dioperasi ,jika tidak dua -duanya beresiko untuk tidak dapat diselamatkan , silahkan bapak bayar dulu diadmind depan nanti jika sudah Dokter akan segera melakukan tindakan operasi , terimalah ,baik pasien selanjutnya "


Laki-laki tersebut langkahnya nampak sangat gontai sekali


Alena hanya bisa mengucapkan "Sabar ya Mas


semoga ibu dan bayinya selamat "


"Terimakasih Mbak"


Ia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut


sekarang giliran Alena yang membayangkan bagaimana posisi perempuan tersebut ,tapi perempuan itu jauh lebih beruntung darinya ia melihat bagaimana cintanya suaminya padanya berbeda sekali dengan dirinya Arya hanya peduli pada anaknya saja tapi tidak dengan dirinya


"Selanjutnya Nyonya Alena "


Tuba lah saatnya giliran ia masuk kedalam ruangan tersebut


Dokter langsung menyapanya


"Nyonya Alena , senang berjumpa dengan anda lagi , bagaimana keadaan anda ? "


Tersenyum dengan ramah


"Baik Dokter "


"Silahkan duduk Nyonya Alena "


"Terimakasih Dokter "


Alena langsung duduk dengan cemas menantikan hal apa lagi yang sedang bersarang di tubuhnya


"Bagaimana Nyonya apa anda sudah berubah pikiran ?"


Pertanyaan yang membuat Alena langsung merinding


"Maksudnya bagaimana Dokter ?"


"Iya maksudnya apa anda ingin mengubah pikiran anda untuk mempertahankan nyawa anda dan mengikhlaskan janin anda "


"Tidak dokter saya tidak akan merubah keputusan saya ,saya kembali karena saya ingin dokter memberikan saya obat untuk memperkuat janin saya ,dan juga obat yang lebih tinggi lagi dosisnya untuk mengurangi rasa sakit pada saya , setidaknya sampai usia kehamilan saya cukup agar anak ini bisa lahir dengan selamat "


Dokter tersebut sangat terkejut dengan kesungguhan hati Alena ia takjub, diluaran sana banyak perempuan-perempuan yang lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada anaknya tapi Alena ia mengorbankan dirinya untuk anaknya


"Sebelumnya saya minta maaf Nyonya ,saya bukannya tidak mau memberikan obat yang lebih tinggi dosisnya ,tapi disini saya lebih menekankan bahwa setiap obat memiliki efek masing-masing "


Alena menarik nafasnya dalam-dalam "Apapun itu dokter asal bisa memperkuat kandungan saya ,saya sudah siap dengan segala resiko yang akan terjadi pada tubuh saya "


Dokter yang memakai kacamata itu pun langsung melepaskan kacamatanya


ia iba melihat Alena yang nampak sangat antusias sekali mempertahankan kehamilannya


"Nyonya Alena saya baru pertama kali bertemu pasien yang rela melakukan segalanya untuk anak yang dikandungnya dalam posisi nyawa anda sendiri sebagai jaminannya , apa anda yakin Nyonya Alena ? , Anda pikirkan apa yang saya katakan ini , jika anda sehat anda masih bisa hamil lagi dan ands bisa hidup bahagia dengan suami Anda ,namun jika anda telah tiada suami anda akan menikah lagi dan hidup dengan perempuan lain ,apa anda tidak kasihan dengan nasib anak anda yang akan tinggal dengan ibu tirinya ? maaf Nyonya bukan saya menghasut anda tapi saya berbicara karena kita sama-sama sebagai seorang perempuan ".

__ADS_1


__ADS_2