
"Ya Tuhan, Alea kau sungguh payah sekali"
Raja menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli
"Iya kau juga harus belajar jadi Papa kucing dulu, agar nanti tau bagaimana terjun jadi Papa beneran" ledek Alea
Suara gelak tawa mereka yang keras diluar rumah, untung saja tak terdengar sampai kedalam , karena bisa kacau jika kedua Nenek-nenek berdua itu terbangun.
bisa-bisa Alea dan Raja disuruh bubar karena menganggu tidur mereka di tengah malam buta
"Aku Papa kucing dan kau mama kucing, lalu anak-anak kita semua adalah anak-anak kucing ya kan?"
Raja tertawa
"Miaw ..miaw..."
ucap Alea menirukan suara kucing
"Miaww.... meong...meong"
Raja pun mengikuti suaranya
Rupanya Nenek mereka yang sedang tidur mendengar suara kucing yang ditirukan oleh Alea dan Raja tersebut
"Besan, apa kau dengar suara itu besan?"
"Ya aku mendengarnya Besan, itu seperti suara seekor kuda besan"
Ibu Arya setengah sadar antara ngantuk dan juga sadar
"Bukan besan, itu bukan suara kuda tapi suara musang" jawab mama Siska sambil tertawa geli
"Tumben kucing-kucing malam ini bersuara, biasanya tak pernah aku dengar suara kucing sudah lama sekali malahan"
"Iya besan mungkin itu para kucing garong yang ingin mencari ikan asin, Sudahlah abaikan saja, sebaiknya kita lanjutkan saja tidur kita dulu, karena kita tidak akan bisa tidur lagi kalau sudah terbangun jam segini"
"Ayo Besan"
mereka berdua kembali tidur dengan nyenyak lagi
Raja dan Alea yang saat itu masih saja tertawa geli dikagetkan dengan suara , handphone milik Alea yang berbunyi,dengan nada dering yang sangat unik sekali bunyinya
"Ngookk....ngookk....ngook...."
"Suara apa itu?"
membuat Raja langsung terperanjat dan sangat kaget sekali ia sampai menaikkan kakinya keatas kursi
Alea langsung tertawa
"Tenang saja Mas Raja, ini hanya suara nada dering handphoneku saja"
tersenyum sambil menunjukkan handphone miliknya
"Astaga, selera musiknya sungguh sangat jelek sekali sih"
Menaikkan bibir atasnya, karena ia malu harus mengangkat kakinya naik keatas, karena ketakutan
Alea langsung mengangkat telponnya
"Arika? kenapa menelpon malam-malam begini"
Alea sedikit khawatir karena takut mendapatkan kabar yang mengejutkan nanti
"Halo iya saudaraku ada apa?"
Suara Arika terdengar berbisik dengan sangat cemas sekali
"Alea kau dimana?"
tanya Arika dengan berapi-api
"Aku di rumah, ada apa Arika?"
Alea membalas dengan berbisik juga
Raja menjadi sedikit aneh dengan sikap Alea tersebut,
Siapa yang meneleponnya? apa benar itu Arika yang menelponnya, atau ini adalah saat yang tepat untuk aku memergokinya sedang menelpon laki-laki yang itu
Rasa penasaran Raja kembali muncul rupanya, ia teringat lagi dengan Arya yang saat itu mengangkat telponnya
"Di rumah siapa, Lea?"
Terdengar suara Arika benar-benar sangat penasaran sekali
"Ya dirumahnya mama Siska lah, ada apa sih?"
Alea heran
"Apa itu Arika yang menelpon?"
Tanya Raja, karena mendengar Alea yang masih terus berbisik-bisik dari tadi
"Iya"
Alea menjawab dengan sekedarnya saja
"Sini berikan padaku, aku ingin bertanya padanya"
Raja benar-benar memaksa Alea
Didalam telpon tersebut Arika langsung heran karena mendengar ada suara Raja juga
"Halo, Alea ..."
Raja dan Alea sibuk memperebutkan handphonenya
"Tidak bisa, aku ingin menelponnya, ini bukan urusan laki-laki, tapi ini urusan aku dan Alea, Sudah menjauhlah Raja ..."
Alea berusaha mengelak dari Raja yang terus-menerus membuat ia semakin kewalahan saja,apa lagi tubuhnya yang lebih besar dibandingkan Alea
"Tidak, bisa. aku ingin tau siapa yang meneleponmu, mana suaranya?"
"Ini Arika, kau ini kenapa sih Raja,.kok jadi pemaksaan begini"
Lagi-lagi kedua nenek mereka didalam kembali terbangun karena mendengar suara ribut-ribut diluar
"Besan apa kucing garong didepan itu masih ada?"
Sambil memejamkan matanya
"Iya besan masih ada sepertinya, aku mendengar suaranya sungguh benar-benar sangat ribut sekali, sebaiknya kita kembali tidur saja besan, ini sudah malam. palingan juga mereka sedang berebut ikan"
Karena diluar rumah mereka tersebut memang ada kolam ikan kecil yang berisi ikan-ikan lucu peliharaan neneknya Arika.
"Nanti nenek bangun, jangan seperti ini Raja, ini namanya pemaksaan kau tau, kau telah memaksa nya!"
"Kau ini yang pelit sekali, aku kan cuma mau mendengarkannya saja"
Arika yang mendengar ocehan Raja dan Alea semakin pusing dibuatnya,
"astaga, kalian ini sedang apa sih? kenapa sangat repot sekali untukku bertanya,hei Alea ...."
Arika sungguh benar-benar semakin penasaran saja, apa lagi
Tapi Raja tetap memaksa, hingga akhirnya terjadilah perebutan handphone milik Alea tersebut, karena sebenarnya Raja tidak percaya jika Alea sedang ditelpon oleh Arika
"Apa-apaan ini, jangan Raja, ini sudah malam, atau aku akan berteriak dengan keras ya!"
Raja langsung emosi dengan sangat keras ia mengatakan "Aku akan memaksamu"
Arika cemas karena mendengar keributan tersebut, pikirannya sudah jauh melayang keudara, apa lagi rekam jejak Raja yang jelas-jelas begitu negatif
"Ya Tuhan apa yang terjadi dengan Alea? Jangan-jangan Mas Raja?"
pikiran Arika sudah kemana-mana saja
hingga ia tak sadar berteriak dengan sangat keras sekali hingga membangunkan seisi rumah
"Kak Arika?"
Panji langsung berlari keluar kamarnya dan menggedor-gedor pintu kamar Arika
Tok...
Tok....
"Kak, kakak, ada apa cepat buka pintunya"
Arika langsung menutup mulutnya,
__ADS_1
"Astaga Arika, apa yang kau lakukan berteriak-teriak seperti orang gila itu"
ia langsung membuka pintu kamarnya karena Panji masih saja berteriak-teriak terus didepan pintu kamarnya
"Kak, cepatlah buka pintunya! atau Panji dobrak saja ya?"
"Eee, jangan dek, tidak usah, kakak sedang menonton film horor ini , jangan khawatir. maafkan kak Arika ya, ayo lanjutkan tidurmu dek"
"Iya kak Panji khawatir saja, takut kalau terjadi sesuatu pada kak Arika"
"Iya santai saja,dek. kakak baik-baik saja"
"Baiklah kak, kalau begitu Raja langsung saja pergi kak ya"
"Baiklah adikku yang tampan"
Handphone milik Alea tak secanggih handpone-handpone milik Arika dan Raja yang selalu update saat keluaran terbaru datang lagi.
jadi suaranya tak terlalu besar hanya saja orang yang menelpon yang mendengar suaranya secara seksama
"Baiklah Raja sudah pergi"
Arika langsung kembali memanggil Alea
"Halo ... halo Alea ..."
Arika berteriak lagi dengan lantang berkali-kali
Panji yang baru saja berjalan beberapa langkah langsung terdiam, saat mendengarkan suara Arika yang sedang berteriak dengan keras, tapi syukurlah tadi Arika sudah mengetahuinya
kalau ia sedang menonton film horor.
"Cepat berikan padaku handponenya, Alea!"
"Tidak bisa!"
Suara pertengkaran Alea dan Raja kembali terdengar
"Sedikit saja, aku mohon hanya sedikit saja"
Pikiran negatif Arika kembali muncul,
"Astaga Mas Raja,Alea?..."
karena Raja yang terus-menerus memaksa akhirnya handphone milik Alea tersebut jatuh dilantai dan berserakan
Raja dan Alea sama-sama kaget
"Astaga handphoneku"
Alea berdiri dengan mulut yang ternganga
melihat handphone miliknya terjatuh, itu adalah handpone pertama yang dibelikan Papanya untuknya
Raja langsung sangat cemas sekali,apa lagi melihat wajah Alea yang sudah berubah menjadi sangat marah sekali, mendadak nyalinya langsung ciut melihat wajah Alea.
"Alea, maafkan aku, sungguh aku tak bermaksud untuk menghancurkan handphone milikmu ini, aku benar-benar tidak .."
"Diam!, sekarang cepat pergi dari hadapanku!"
Menunjuk kearah keluar
"Tenang saja, jangan khawatir aku bisa mengganti dengan yang lebih bagus dari itu, jangan khawatir Alea"
"Aku katakan sekali lagi, cepat pergiii!"
teriak Alea dengan keras sekali
"Alea aku bisa membelikan sebanyak apapun handphone yang kau butuhkan, aku sangat ingin sekali menggantinya jangan khawatir, aku adalah pria yang bertanggung jawab itu"
"Pergi dari hadapanku saat ini juga!"
"Iya .. iya .. baiklah"ucap Raja yang langsung berlari sekuat mungkin meninggalkan tempat itu
Alea langsung terduduk dengan sangat sedih sekali wajar saja banyak sekali kenangan ia dan handponenya itu, apa lagi sepertinya hidup ini sangat tak mudah untuknya mendapatkan sesuatu, karena Arya mendidik anak-anakmya sejak kecil kalau ingin mendapatkan sesuatu harus bekerja keras, seperti handphone yang berada ditangannya Alea tersebut ia dapatkan pada saat ia mendapatkan ranking satu,
"Ya Tuhan, handphone yang selama ini menemaniku disaat susah dan senang bersama akhirnya hancur berantakan,kerena laki-laki itu, argghhhhhhhh"
Alea langsung memungut dan mengumpulkan handphonenya yang sudah jatuh berserakan itu lalu membawanya masuk kedalam rumah
dengan wajah yang sangat sedih sekali
"Aku tau dia adalah laki-laki yang aku suka tapi kelakuannya barusan membuat aku sangat emosi sekali"
"Dia pikir semua kenangan yang ada didalam handpone ini bisa terbayar dengan uang apa ya? mentang-mentang ia kaya raya bisa seenaknya saja mengganti barang-barang kesayanganku"
Alea masuk kedalam rumah dengan penuh kekesalan, malam ini. dan ia memilih untuk tidur dikamarnya Arika.
Sedangkan Arika langsung heran karena handphone Alea tak bisa dihubungi lagi,ia sangat cemas jika sesuatu yang buruk terjadi pada Alea
"Ya ampun, kenapa lagi handphonenya alea tidak aktif, kemana lagi anak ini hadeh, aku harap Mas Raja, punya otak untuk tidak melakukan apapun pada Alea, sebaiknya aku coba telpon lagi"
Arika langsung menelpon Alea kembali
"Baiklah aku akan mencoba menelponnya lagi"
Arika menelpon berkali-kali, tapi tak juga mendapatkan jawaban
"Aduh, kenapa tak aktif ya,?
kalau aku menelpon Kerumah, nanti nenek bisa terjaga, ah, sebaiknya aku menelpon Mas Raja sajalah, aku juga barusan mendengar suaranya ada disampingnya Alea , pasti ia masih bersama mas Raja juga ya"
Berpikir sejenak
"Sebaiknya aku hubungi Mas Raja saja".
Arika langsung bersiap-siap untuk menghubungi Raja
Raja yang cemas karena di usir oleh Alea langsung berlari pulang dan kembali langsung cemas
"Ya Tuhan bagaimana ini Alea pasti akan marah besar padaku, tapi apa benar itu Arika yang menelponnya? atau cuma alasannya saja untuk membohongiku"
Ia langsung berlari masuk kedalam kamarnya,
dengan perlahan-lahan, karena takut jika kedua orang tuanya terbangun atas kepulangannya.
rupanya Dimas dan Rima masih terjaga untuk menonton acara bola pavorit mereka.
Rajapun langsung masuk kedalam kamar dengan terburu-buru sekali, melewati Dimas dan Rima yang sedang menonton televisi
seperti sekelabat bayangan yang sedang lewat
dihadapan mereka.
"Raja, kenapa terburu-buru sekali?"
"Biasalah Pa, mungkin saja Raja sedang kebelet pipis".jawab Rima
"Oh, benar juga"
Dimas pun langsung kembali melanjutkan menonton televisi.
Baru saja ia masuk kedalam kamar, handponenya langsung berbunyi
tentu saja dengan nada dering yang berkelas sekali, berbeda dengan nada dering milik Alea yang terdengar sangat kampungan sekali wkakakaka
"Siapa lagi yang menelpon malam-malam begini, sungguh tak ada adab sopan santun sekali" ucap Raja yang tak seperti biasanya membicarakan tentang adab, padahal ia sendiri masih sangat minus sekali adabnya
"Arika?"
matanya terbelalak,dan mengucek berkali-kali
Astaga kenapa Arika menelpon? jangan bilang jika ia sedang ...
Mengangkat telponnya "Halo, iya Arika. ada apa?"
langsung saja Arika berbicara dengan ngegas
"Mas,Mana Alea? kenapa handponenya tidak aktif, aku ingin berbicara dengannya!"
Terdengar terburu-buru sekali
Astaga, ternyata benar Arika yang menelponnya,aduh kacau bagaimana ini, Alea pasti marah besar denganku kalau begini ceritanya
"Arikaaaa tapi Mas sudah pulang, jadi bagaimana apa mas harus..."
"Oh, Mas raja ternyata s sudah pulang,
padahal Arika ingin berbicara penting pada Alea"
"Iya Arika, tapi tadi itu ada sedikit insiden yang membuat mas harus buru-buru pulang kerumah"
__ADS_1
Wajah Arika langsung berubah ia takut jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada Alea
"Ada apa Mas, kenapa mas harus cepat pulang? dan insiden? insiden apa yang terjadi Mas?"
Suara Arika terdengar sangat panik sekali
"Mas ingin kau pulang dulu, sebaiknya kau harus membantu Mas Arika"
Arika kembali menjadi sangat panik sekali
Deg
deg
Ya Tuhan tolonglah katakan apa yang terjadi pada Alea, aku sangat khawatir sekali, apa yang terjadi
Arika terdiam
"M-mas Raja, tolong katakan apa yang terjadi?"
"Pokonya kau harus pulang saja dulu, karena aku tidak mungkin bisa bertemu dengan Alea dalam keadaan marah begini"
Arika langsung menghela nafas panjang
"Ya Tuhan Mas Raja, hampir saja aku jantungan, hanya karena kau marahan dengan Alea rupanya. aku pikir...."
"Kau pikir apa ha?, pasti otakmu ini sedang memikirkan hal-hal yang tidak-tidak kan?"
Arika langsung tertawa "Nah itu dia, maafkan aku Mas, tapi aku ini hanya ingin bertanya mana Alea sekarang?"
"Pertanyaan yang sangat bodoh, mana mungkin Alea ada disini didalam kamar ini, sungguh sangat tak mungkin, aku mengajaknya untuk bobo bareng kan?"
canda Raja
"Halah, itu memang maunya mas Raja, Yee"
Raja langsung menarik nafasnya dalam-dalam
"Arika iya aku memang marahan dengan Alea, karena handponenya sampai jatuh kelantai, jadi sekarang bagaimana, aku akan meminta maaf padanya,ia sudah mengusirku tadi?"
Raja benar-benar sangat kacau sekali karena Alea, lebih tepatnya Raja sedang galau malam ini
"Jadi sekarang mas Raja maunya gimana?, aku juga pusing Mas, aku ini ingin berbicara dengan Alea karena ini sangat penting sekali"
Paling juga hal yang tidak penting yang akan kau bicarakan padanya, lebih penting masalahku ini Arika, aku tak akan bisa hidup tanpa Alea"
"Hah Mas Raja, kau pikir kau saja yang punya masalah di rumah ini, cepat katakan saja Alea dimana?"
"Kan sudah aku katakan tadi, Alea di rumahnya nenek, kau telpon saja telepon rumah, aku mau tidur, dagh selamat malam"
Raja kembali menutup telponnya karena berbicara dengan Arika, tak menemukan solusi Sama sekali
"Halo ... halo ..., ya Tuhan! kenapa semua orang hanya bisa mematikan telpon dariku seenaknya saja sih!"
"Mas Raja, argghhhhhhhh ....,kalian semua awas saja jika kalian nanti butuh sesuatu padaku aku tak akan mau membantu kalian satu persatu ,hah..."
ia menarik nafasnya dalam-dalam, karena hany tinggal beberapa hari saja ia akan segera pulang kembali, lalu ia pulang nanti ia sudah disambut dengan status sebagai seorang istri, itu benar-benar sangat tidak masuk akal sekali
Arika sungguh benar-benar dibuat tak karuan malam ini
"Aku sungguh sangat pusing sekali, tapi jika aku tak buru-buru pulang, aku tak tau apa yang terjadi, apa benar aku akan segera menikah dengan Bian itu, hadeh ...."
Arika tak mungkin menelpon Kerumah, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu "Aku bisa kena marah Nenek kalau menelpon jam segini, dan ini sama sekali bukan hal yang bagus sekali bagiku"
"Jadi Arika kau harus bagaimana ya?"
Arika langsung berguling-guling di atas kasur
Sementara itu Alea yang sangat kesal sekali terus-menerus memperhatikan handponenya yang telah rusak itu
"Handphonenya rusak, layarnya pecah dan dan semuanya hancur berantakan,ntah kenapa Raja menjadi seseorang yang sangat menjijikkan sekali bagiku, aku benar-benar sudah sangat eneg sekali padanya"
Alea marah-marah tengah malam begini
"Aku ingin sekali menghajar wajahnya Raja,tapi aku suka padanya, tapi kenapa ia malah membuat aku semakin susah begini sih, huhuhu "
Alea malam ini tak bisa tidur "Mana besok kekampus lagi, sebaiknya aku harus tidur saja dulu, besok mau dibawa kemana lagi handpone ini, kalau sudah retak begini, pasti butuh waktu agak lama untuk memperbaikinya, hadeh...."
Alea berguling-guling dilantai, karena kesal sekali, apa lagi Arya tipe orang tua yang tak segampang itu mengabulkan keinginan anak, harus ada alasan yang jelas
"Bisa kacau kalau nanti Papa, banyak bertanya, kenapa bisa pecah? karena apa? terus kenapa bisa hancur, tak mungkin aku mengatakan karena berduaan dengan Raja mengobrol hingga larut malam kan? bisa habislah aku kena marahin Papa, aku tak mau itu terjadi, ya Tuhan, bagaimana lagi ini, aku sungguh sangat pusing sekali, ini semua karena Raja. ntah apa lah maksudnya, kenapa sampai begitu sekali padaku"
Alea menutup wajahnya
Sama halnya dengan Raja saat ini, ia juga sama sekali tak bisa tidur nyenyak malam ini, karena memikirkan kemarahan Alea padanya, apa lagi Alea marah padanya karena ulahnya yang selalu saja berpikiran negatif padanya,
"Ia bukanlah type perempuan penggila harta,ia tak perduli dengan banyaknya uangku, yang ia tau aku sudah menghancurkan handpone jeleknya itu, sungguh aku benar-benar merasa bersalah sekali pada calon istri masa depanku itu, ini semua murni kesalahanku, ya Tuhan aku mohon tolonglah aku"
Raja nampak sangat uring-uringan sekali, ia tak bisa jika terus berdiam diri begini
masih terdengar suara Dimas dan Rima yang masih mengobrol diluar, ruangan , terdengar sepasang suami istri itu sangat antusias sekali dengan pertandingan bola yang sedang berlangsung
"Atau aku minta pendapat Papa dan Mama saja ya" Raja masih berpikir dengan keras sekali
"Baiklah, setidaknya aku nanti akan tau apa yang harus aku lakukan untuk meluluhkan hati Alea, karena perempuan ini berbeda, tak sama dengan perempuan yang biasa aku temui, kalau marah aku belikan berlian, mobil dan rumah maka semuanya akan baik-baik saja, tapi Alea ia tak semudah itu untuk ditaklukkan, padahal aku melihat handphonenya sudah sangat jelek sekali , tidak up-to-date"
Raja sebenarnya malas untuk keluar dari kamar nya, tapi demi Alea, ia akan memberanikan diri untuk bercerita pada mama dan papanya.
Raja pun langsung membuka pintu kamarnya , dan melihat saat ini kedua orang tuanya sedang duduk berdua dengan sangat seru sekali
"Ayo goll... astaga "
"Tolo* sekali, kekiri aduh ..."
"Iya kan sayang dia terlihat benar-benar sangat Tolo*"
"Aku setuju padamu kak, ini sungguh sangat memalukan sekali, lebih baik para pemainnya pakai daster saja, masa iya masukin itu aja nggak bisa"
Raja masih berdiri dibelakang mereka, memantau situasi ini, apa ia bisa masuk kedalam obrolan itu, atau sebaiknya ia segera mundur saja, karena dari apa yang ia rasakan saat ini kedua orang tuanya saat ini sama sekali tak bisa di ganggu
"Terkadang aku heran kepada penonton bola yang berada di seluruh dunia ini, mereka yang menonton seenaknya saja mengatakan para pemainnya, apa kalian tau jika menjadi pemain dan terjun langsung di lapangan hijau, kalian akan tau bagaimana rasanya menjadi laki-laki yang sesungguhnya, dasar Papa dan mama"
Raja yang awalnya ingin curhat dan minta Pendapat, malah ikut-ikutan mengomentari para pemainnya akibat, kedua orangtuanya yang sibuk sekali memantau
"Pa, Ma..."
Raja memanggil mereka berdua yang sibuk mengunyah pop corn di tangannya
"Apa?"
Raja langsung tak bersemangat lagi untuk cerita karena jawaban mamanya tidak seperti yang ia harapkan
"Pa?"
"Gooll....yes,"
Dimas melompat-lompat kegirangan dan langsung memeluk Raja yang sedang berdiri dibelakangnya
"Lihatlah Papa menang, itu yang klub sebelah itu klub pavoritnya om Aditya, dan kau lihatkan klub kesayangan Papa memang tak terkalahkan, yeeee....u yeee"
Dimas berteriak-teriak, dan lagi-lagi nyali Raja untuk bercerita kembali ciut
Astaga, sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat untuk meminta pendapat pada mereka berdua, aku saja sama sekali tak diperlukan saat ini
"Aku lebih baik kembali tidur saja sepertinya"
Raja membalikkan badannya
"Hei Nak, kau mau kemana, ayo duduklah disini, kita menonton bola bertiga"
.Dimas langsung menarik tangan Raja, dan menyuruhnya untuk duduk di tengah-tengah mereka
"Nah duduk di sini"
"Tunggu Mama ambilkan dulu pop corn biar makin seru"
"Ma... tapi.."
Dimas langsung merangkul Raja kembali
"Sudah jangan banyak cerita, fokuskan tatapan kedepan, lihatlah bagaimana pemain bola klub Papa mencetak gol"
Raja menghela nafas dalam-dalam
"Ya Tuhan aku sama sekali tak berniat padahal untuk menonton bola, aku ingin bercerita bagaimana baiknya aku besok membujuk Alea, tapi kenapa aku yang malah terjebak begini ya"
Raja terlihat begitu lesu sekali, wajahnya benar-benar terlihat sangat tertekan sekali.
"Nah ini nak ayo makan pop corn nya"
"Tapi Ma , Raja"
__ADS_1
"Sudah ayo makan"
memasukkan pop corn kedalam mulut Raja,hingga ia tak bisa berkata apa-apa lagi.